Kjmbpp DMDI

Kjmbpp DMDI komunitas jamaah masjid

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 35-2026)**DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)https://seruanmasjid.com/*Versi Bahasa Indo...
27/08/2026

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 35-2026)*
*DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)
https://seruanmasjid.com/
*Versi Bahasa Indonesia*

*NEGARA WAJIB*
*MELINDUNGI RAKYAT DARI BENCANA*

*KHUTBAH PERTAMA*

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: *كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ ۝٣٥ (اَلْأَنْبِيَاءُ)*

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

*يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ*

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”_ *(QS. Âli Imrân [3]: 102).*

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Hari-hari ini sebagian negeri kita terbakar. Kalimantan, Papua bahkan di Jawa, api menghanguskan apapun di atasnya. Ribuan hektar hutan dan lahan lenyap, tersisa abu.

Sementara di Bumi Flores pada 15 Agustus 2026 diguncang gempa dengan magnitudo 7,7 T. Rumah dan bangunan hancur. Ribuan orang terpaksa mengungsi.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, longsor dan kebakaran merupakan musibah. Musibah tersebut adalah ujian dari Allah Swt. bagi umat manusia. Allah Swt. berfirman:

*كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ*

_“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”_ *(QS. al-Anbiyâ’ [21]: 35).*

Islam mewajibkan kita mengimani bahwa semua musibah adalah ketetapan Allah Swt. Islam juga menuntut kita agar senantiasa ridha dan bersabar terhadap ketetapan tersebut. Dengan kesabaran tersebut Allah Swt. akan menggugurkan dosa-dosa pada diri mereka. Sabda Nabi saw.:

*مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ*

_”Tidaklah seorang Muslim ditimpa kepayahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan dan kesusahan hingga duri yang menusuk dirinya melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan sebab itu.”_ *(HR. Muttafaq ’alayh).*

Akan tetapi, bersabar bukan berarti berdiam diri. Kaum Muslim dituntut untuk berikhtiar guna mengubah keadaan menuju kondisi yang lebih baik. Allah Swt. berfirman:

*اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ*

_“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”_ *(QS. ar-Ra’du [13]: 11).*

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Negeri kita memang berada di kawasan bencana. Karenanya, mestinya persiapan menghadapi hal itu menjadi suatu keharusan. Termasuk menyiapkan anggaran yang cukup. Namun faktanya, anggaran kebencanaan malah dipangkas. Wajar jika kita lihat bagaimana pasca bencana di berbagai daerah, penanganannya tidak tuntas. Inilah ironi yang terjadi negeri ini.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Jika kita kembali kepada ajaran Islam, Islam menetapkan Negara adalah penanggung jawab urusan masyarakat, termasuk dalam pencegahan dan penanggulangan pasca bencana. Rasulullah saw. bersabda:

*فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ*

_”Pemimpin yang mengurus banyak orang itu ibarat penggembala; ia akan ditanya tentang urusan mereka.”_ *(HR Muttafaq ’alayh).*

Negara juga harus melakukan mitigasi bencana secara menyeluruh. Melalaikan potensi bencana adalah haram karena sama dengan menghadapkan rakyat pada situasi berbahaya. Rasulullah saw. bersabda:

*لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ، مَنْ ضَارَّ ضَرَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ شَاقَّ شَقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ*

_”Janganlah membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain. Siapa saja yang membahayakan orang lain, niscaya Allah akan menimpakan bahaya kepada dirinya. Siapa saja yang mempersulit orang lain, niscaya Allah akan mempersulit dirinya.”_ *(HR. al-Baihaqi, al-Hakim dan ad-Daruquthni).*

Langkah yang wajib dilakukan oleh Negara dalam menghadapi berbagai potensi bencana adalah sebagai berikut:

*Pertama,* Negara wajib membangun sistem peringatan dini seperti memasang dan memelihara sistem pemantauan gempa, tsunami, aktivitas gunung api, cuaca ekstrem, dan banjir. Dengan itu masyarakat memperoleh informasi secepat mungkin ketika ancaman muncul.

*Kedua,* Negara wajib menata tata ruang berbasis risiko bencana. Negara harus mencegah pembangunan pemukiman, sekolah, rumah sakit, atau fasilitas vital di kawasan yang sangat rawan bencana. Pengendalian tata ruang merupakan kunci mengurangi korban dan kerugian

*Ketiga,* Negara wajib membangun infrastruktur mitigasi seperti merancang bangunan tahan gempa, tanggul dan sistem drainase pengendali banjir, normalisasi sungai, sabo dam (semacam bendungan) untuk menahan lahar gunung berapi, juga membangun jalur dan tempat evakuasi yang memadai.

*Keempat,* Negara wajib mencegah pengrusakan lingkungan seperti pembalakan hutan secara liar, termasuk pembakaran hutan. Hal ini telah diharamkan berdasarkan sabda Nabi saw.:

*مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً فِي فَلَاةٍ يَسْتَظِلُّ بِهَا ابْنُ السَّبِيلِ وَالْبَهَائِمُ عَبَثًا وَظُلْمًا بِغَيْرِ حَقٍّ يَكُونُ لَهُ فِيهَا صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ*

_”Siapa saja yang menebang pohon bidara yang menaungi ibnu sabil dan hewan-hewan ternak secara serampangan, zalim dan dengan cara yang tidak dibenarkan, maka Allah akan menuangkan air panas pada kepalanya di neraka.”_ *(HR. Abu Dawud).*

*Kelima,* Negara wajib mengedukasi dan simulasi kebencanaan kepada masyarakat. Dengan itu masyarakat terlatih dalam menghadapi berbagai bencana sehingga dapat melakukan penyelamatan diri.

*Keenam,* Negara wajib memastikan pemulihan pasca bencana berjalan sampai tuntas. Berbagai infrastruktur yang vital harus segera dibangun agar kehidupan masyarakat dapat kembali normal. Negara juga harus menjamin pemenuhan kebutuhan hidup warga terdampak bencana seperti sandang, pangan dan hunian. Termasuk menjamin pencaharian warganya.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Inilah pandangan Islam. Sangat berbeda dengan sistem yang berlaku kapitalis-sekuler dalam penanganan bencana.

Dalam Islam, nyawa manusia bukanlah angka statistik. Ia amat berharga di mata Allah Swt. Itulah sebabnya para khalifah bekerja keras melindungi rakyatnya saat tertimpa bencana. Saat Madinah dilanda kelaparan hebat, Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. memerintahkan para gubernur di Irak, Syam dan Mesir untuk menyuplai bantuan pangan ke Madinah. Akhirnya, krisis pangan itu dapat diselesaikan oleh Khalifah Umar ra. dan para pejabatnya.

Walhasil, kebutuhan umat akan penegakkan syariah Islam dan Khilafah sudah amat mendesak. Ini adalah kewajiban agama yang wajib ditunaikan dengan segera. Hanya dengan syariah Islam dan keberadaan Khilafah rakyat akan terjaga dan terlindungi dengan nyata. _Wallâhu a‘lam bish-shawâb._ []

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*KHUTBAH KEDUA*

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 34-2026)**DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)https://seruanmasjid.com/*Versi Bahasa Indo...
20/08/2026

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 34-2026)*
*DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)
https://seruanmasjid.com/
*Versi Bahasa Indonesia*

*MENELADANI PERJUANGAN DAN KEPEMIMPINAN RASULULLAH ﷺ*

*KHUTBAH PERTAMA*

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: *قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝٣١ (آلِ عِمْرَانَ)*

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

*اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ*

_“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”_ *(HR. Tirmidzi).*

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Bulan Rabi’ul Awwal dikenal sebagai bulan Maulid, bulan yang bagi sebagian umat Islam menjadi momentum untuk menumbuhkan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Namun, mari kita renungkan: apakah cinta kepada Rasulullah ﷺ cukup dengan mengenang kelahiran beliau dan memperbanyak shalawat, atau harus diwujudkan dalam kehidupan? Kelahiran beliau adalah datangnya cahaya petunjuk dan agama yang Allah Swt. janjikan untuk dimenangkan atas seluruh agama (QS. at-Taubah [9]: 33). Karena itu, cinta kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan mengikuti sunnah dan menaati ajarannya. Allah Swt. berfirman:

*قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ*

_“Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”_ *(QS. Âli 'Imrân [3]: 31).*

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya juga harus lebih utama daripada cinta kepada keluarga, harta, dan kenikmatan dunia (QS. at-Taubah [9]: 24). Rasulullah ﷺ bersabda:

*لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ*

_“Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia”_ *(HR. al-Bukhari dan Muslim).*

Beliau juga bersabda:

*اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ*

_“Seseorang akan bersama dengan orang yang dia cintai”_ *(HR. al-Bukhari dan Muslim).*

Maka, mencintai Rasulullah ﷺ adalah bagian dari kesempurnaan iman, jalan mendapatkan cinta dan ampunan Allah, serta jalan untuk berharap dikumpulkan bersama beliau di akhirat.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Ketika kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, sudahkah kita menjadikan beliau sebagai teladan dalam kehidupan dan perjuangan kita? Allah Swt. menegaskan:

*لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ*

_“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian”_ *(QS. al-Ahzâb [33]: 21).*

Selama 23 tahun berdakwah, Rasulullah ﷺ tidak memperjuangkan kepentingan pribadi atau golongan, tetapi menyampaikan risalah Islam. Ketika ditawari harta, kekuasaan dan kedudukan agar menghentikan dakwah, Beliau tetap teguh. Sabda Beliau:

*وَاللهِ، لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فِي يَمِيْنِى وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِى عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا اْلأَمْرَ - حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ أَوْ أَهْلِكُ فِيْهِ - مَا تَرَكْتُهُ*

_“Demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya”_ *(Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiiq al-Makhtuum, 1/69).*

Keteguhan Rasulullah ﷺ juga disertai kesabaran dan tawakal. Beliau menghadapi caci-maki, pemboikotan, penyiksaan, pengusiran hingga peperangan, tetapi tidak pernah kehilangan keyakinan kepada pertolongan Allah. Allah Swt. berfirman:

*فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ*

_“Bersabarlah kamu seperti para rasul sebelumnya yang mempunyai keteguhan hati”_ *(QS. al-Ahqâf [46]: 35),* dan,

*اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ*

_“Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian”_ *(QS. Muhammad [47]: 7).* Rasulullah ﷺ bersabda,

*إِنَّ النَّصْرَ مَعَ الصّبْرِ وَإِنَّ الْفَرَجِ مَعَ الْكَرْبِ وَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا*

_“Sesungguhnya pertolongan itu datang bersama kesabaran, jalan keluar datang bersama kesulitan dan bersama kesukaran ada kemudahan”_ *(HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).*

Maka, meneladani Rasulullah ﷺ berarti istiqamah dalam memperjuangkan kebenaran, tidak mudah tunduk pada tekanan, godaan, maupun kompromi yang bertentangan dengan syariah. Kita harus menjadikan iman sebagai kompas, kesabaran sebagai bekal, dan keyakinan kepada pertolongan Allah sebagai sumber optimisme dalam menjalani perjuangan.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Ketika Rasulullah ﷺ menjadi pemimpin di Madinah, bagaimana beliau menjalankan kekuasaan? Beliau menjadikan wahyu Allah sebagai landasan hukum, menegakkan keadilan tanpa membedakan status, serta memilih pejabat berdasarkan amanah dan kemampuan. Allah Swt. berfirman:

*وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَهُمْ*

_”Hendaklah kamu (Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka”_ *(QS. al-Mâidah [5]: 49).*

Rasulullah ﷺ juga bersabda,

*وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ فَاطِمَةُ فَعَلَتْ ذَلِكَ لَقَطَعْتُ يَدَهَا*

_“Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad melakukan demikian, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya”_ *(HR. al-Bukhari dan Muslim).*

Dalam memilih orang untuk menjalankan amanah, Allah Swt. berfirman:

*اِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ*

_“Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”_ *(QS. al-Qashshash [28]: 26),* serta firman-Nya:

*اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَا*

_“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu memberikan amanah kepada yang berhak menerimanya”_ *(QS. an-Nisâ’ [4]: 58).*

Karena itu, keteladanan Rasulullah ﷺ tidak boleh dipahami hanya dalam urusan ibadah dan akhlak pribadi. Beliau adalah hamba Allah, pendidik, da’i, kepala keluarga, hakim, panglima, pemimpin masyarakat dan kepala pemerintahan. Beliau mengajarkan shalat dan puasa, sekaligus membangun masyarakat yang adil, menegakkan hukum, bermusyawarah, mengangkat pejabat yang amanah dan kompeten, membuat perjanjian, serta menjaga keamanan dan kesejahteraan masyarakat. Inilah keteladanan yang menyeluruh (kaaffah), sebagaimana Allah Swt. memerintahkan,

*يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً*

_“Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan”_ *(QS. al-Baqarah [2]: 208).*

Maka, jangan sampai pemisahan agama dari kehidupan membuat kita hanya mengambil sebagian keteladanan Rasulullah ﷺ dan meninggalkan sebagian yang lain. Meneladani beliau berarti berusaha menerapkan ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat hingga pemerintahan. Dalam perjuangan Islam, penerapan syariah secara kaaffah memerlukan sistem pemerintahan Islam atau Khilafah, sebagaimana sistem pemerintahan yang pernah dipraktikkan Rasulullah ﷺ di Madinah. Inilah bentuk kesungguhan kita dalam menjadikan Rasulullah ﷺ bukan sekadar tokoh yang kita cintai, tetapi teladan yang kita ikuti dalam seluruh aspek kehidupan. _Wallâhu a‘lam bish-shawâb._ []

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*KHUTBAH KEDUA*

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 33-2026)**DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)https://seruanmasjid.com/*Versi Bahasa Indo...
13/08/2026

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 33-2026)*
*DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)
https://seruanmasjid.com/
*Versi Bahasa Indonesia*

*MEWUJUDKAN*
*KEMERDEKAAN HAKIKI*

*KHUTBAH PERTAMA*

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: *وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ۝٥٦ (اَلذَّارِيَاتُ)*

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Muhammad saw.;

*اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ*

_“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”_ *(HR. Tirmidzi).*

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Setiap 17 Agustus, rakyat Indonesia menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Merah Putih dikibarkan, lagu-lagu perjuangan dinyanyikan, dan berbagai perlombaan digelar. Namun, di tengah kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang layak direnungkan: _”Setelah 81 tahun merdeka, sudahkah rakyat Indonesia benar-benar merdeka?”._ Sebab, dalam pandangan Islam, kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah Swt. Sementara hari ini, Indonesia masih menghadapi ketergantungan pada modal dan utang, impor, serta sistem kehidupan yang banyak dipengaruhi Kapitalisme dan belum sepenuhnya bersumber dari wahyu Allah Swt. Karena itu, kemerdekaan hakiki bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi ketika bangsa ini mampu berdiri mandiri, sejahtera, dan mengatur kehidupannya berdasarkan petunjuk Allah Swt.

Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan alam, penduduk, wilayah, dan sumber daya manusia yang besar. Namun, ekonomi hanya tumbuh 5,11% pada 2025, sementara kemiskinan masih 8,25% dan pengangguran 4,68%. Utang luar negeri Februari 2026 mencapai US$437,9 miliar, impor Januari–Mei 2026 US$111,33 miliar atau naik 15,24%, dan PMA 2025 mencapai Rp900,9 triliun (46,6% dari total investasi). Maka setelah 81 tahun merdeka, kita perlu bertanya: _”Mengapa negeri yang kaya ini masih bergantung pada utang, modal asing, impor, dan mekanisme ekonomi global?”._ Ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi persoalan mendasar tentang arah kehidupan bangsa.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Meski Indonesia telah merdeka 81 tahun, sebagian besar sumber daya alam seperti minyak, gas, tambang, emas, nikel, dan hutan masih banyak dikuasai swasta dan asing, sementara manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan rakyat. Ironisnya, sekitar 85% pendapatan APBN berasal dari pajak rakyat, bukan dari kekayaan alam yang melimpah. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya individu atau kebijakan, tetapi juga sistem yang digunakan. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam _Nizhaam al-Islaam_ menjelaskan bahwa kehidupan dibangun di atas sebuah asas: sekularisme melahirkan Kapitalisme, sedangkan akidah Islam melahirkan aturan kehidupan berdasarkan Islam.

Karena itu jika ingin mengubah keadaan ini, yang harus diubah bukan hanya orangnya, tetapi juga asas dan sistem yang mengatur kehidupan. Perubahan dari sekularisme menuju akidah Islam, dan dari sistem Kapitalisme menuju sistem yang berlandaskan Islam. Sebab Islam, sebagaimana dijelaskan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, bukan hanya menjelaskan urusan ibadah pribadi, tetapi memiliki _fikrah_ (pemikiran) dan _thariiqah_ (metode) untuk menerapkan, menjaga, dan menyebarkan pemikiran tersebut dalam kehidupan.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Islam mengajarkan bahwa manusia yang benar-benar merdeka adalah manusia yang hanya menghambakan dirinya kepada Allah Swt. Allah Swt. berfirman:

*وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ*

_“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah (menghambakan diri) kepada-Ku”_ *(QS. adz-Dzâriyât [51]: 56).*

Penghambaan kepada Allah berarti tunduk kepada syariah-Nya, karena Allah adalah _Al-Khaaliq,_ Pencipta manusia dan alam semesta. Allah berfirman:

*اَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُ*

_“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak-Nya”_ *(QS. al-A'râf [7]: 54).*

Karena itu, ketika manusia menyerahkan penentuan halal-haram dan aturan kehidupan kepada manusia secara mutlak, ia sebenarnya belum merdeka, tetapi masih tunduk kepada manusia dan hawa nafsunya. Allah menegaskan:

*إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ*

_“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah”_ *(QS. Yûsuf [12]: 40).*

Inilah kemerdekaan hakiki dalam Islam: manusia bebas dari penghambaan kepada sesama manusia dan hanya menjadi hamba Allah Swt. Inilah pembebasan yang dibawa Islam. Hal ini pernah ditegaskan Rib'i bin Amir ra. kepada Panglima Persia, Rustum:

*اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ*

_“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan kepada Allah.”_

Maka, inilah inti misi Islam: membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt. Inilah kemerdekaan yang hakiki.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Kemerdekaan dari penjajahan fisik adalah nikmat yang wajib kita syukuri. Namun, sebagai umat Islam, kita perlu menyadari bahwa masih ada kemerdekaan yang lebih tinggi, yaitu kemerdekaan ideologis: membebaskan manusia dari penghambaan kepada materi menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt., dari sekularisme dan Kapitalisme menuju kehidupan yang berlandaskan akidah dan syariah Islam. Allah Swt. berfirman:

*إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ*

_“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah”_ *(QS. Yûsuf [12]: 40).*

Karena itu, penerapan Islam secara kaaffah bukan hanya dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam ekonomi, kepemilikan, pendidikan, peradilan, politik, dan pengelolaan kekayaan umat. Dalam perspektif perjuangan politik Islam yang dikembangkan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, penerapan syariah secara _kaaffah_ membutuhkan institusi politik, yaitu Khilafah, yang berfungsi menerapkan hukum-hukum Islam dan mengurus urusan umat.

Maka, jamaah Jum’at rahimakumullah, inilah makna kemerdekaan hakiki: dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt.; dari sekularisme menuju akidah Islam; dari Kapitalisme menuju ideologi Islam; dari pengelolaan kekayaan yang eksploitatif menuju pengelolaan sesuai syariah; dan dari kemiskinan menuju kesejahteraan yang dijamin oleh negara. Mari kita syukuri kemerdekaan Indonesia, sekaligus terus berusaha menghadirkan kehidupan yang tunduk kepada Allah Swt. secara _kaaffah._ Semoga Allah Swt. memberi kita kekuatan untuk memahami, mengamalkan, dan memperjuangkan Islam dalam kehidupan. _Allaahumma aamiin. Wallâhu a‘lam bish-shawâb._ []

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Address

Balikpapan

Telephone

+6287810871924

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kjmbpp DMDI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share