Kjmbpp DMDI

Call Directions

Kjmbpp DMDI komunitas jamaah masjid

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 40-2026)**DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)https://seruanmasjid.com/*Versi Bahasa Indo...
02/10/2026

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 40-2026)*
*DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)
https://seruanmasjid.com/
*Versi Bahasa Indonesia*

*SANKSI HUKUM ISLAM:*
*ADIL DAN TERBAIK*

*KHUTBAH PERTAMA*

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: *اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ ۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَࣖ ۝٥٠ (اَلْمَائِدَةُ)*

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

*يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ*

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”_ *(QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).*

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Penjara yang seharusnya menjadi tempat menjalani hukuman dan pembinaan, justru bisa berubah menjadi tempat hidup nyaman bagi narapidana yang mampu membayar. Ombudsman menemukan sepuluh sel mewah di Lapas Cibinong, lengkap dengan barang-barang mewah dan minuman keras, serta indikasi sel tersebut dikomersialkan. Seorang napi bahkan mengaku membayar untuk menempatinya. Kasus ini bukan yang pertama. Pada 2018 Ombudsman menemukan sel mewah yang dihuni Setya Novanto di Lapas Sukamiskin. Pada 2017, BNN juga menemukan fasilitas mewah di Lapas Cipinang yang ditempati narapidana narkoba Hariyanto Chandra, termasuk AC, wifi, laptop, ponsel, dan makanan khusus. Terpidana korupsi Gayus Tambunan bahkan diketahui beberapa kali keluar penjara hingga berlibur ke Bali.

Berulangnya kasus tersebut menunjukkan persoalan serius dalam sistem pemasyarakatan. Narapidana tertentu bukan hanya memperoleh fasilitas istimewa, tetapi dalam sejumlah kasus masih dapat menjalankan kejahatan dari balik penjara, termasuk bisnis narkoba. Di sisi lain, residivis terus bermunculan meski telah menjalani hukuman. Kondisi ini menunjukkan bahwa tujuan pemidanaan untuk memberikan efek jera dan mencegah pengulangan kejahatan masih menghadapi persoalan. Masalahnya bukan hanya pada sistem hukum pidana, tetapi juga integritas aparat. Pada 2016, Menkumham Yasonna Laoly mengakui bahwa salah satu persoalan pengelolaan lapas dan rutan adalah adanya petugas yang mudah menerima suap dari narapidana atau tahanan.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Jika hukum pidana ditujukan untuk mencegah kejahatan, melindungi masyarakat, sekaligus memberikan keadilan kepada korban, Islam memiliki sistem sanksi _(nizhaam al-’uqubaat)_ yang mengatur pelanggaran terhadap ketentuan Allah Swt. sesuai jenis kejahatannya. Rasulullah saw. Bersabda:

*إِنَّ اللَّهَ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلَا تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلَا تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلَا تَنْتَهِكُوْهَا*

_“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kewajiban-kewajiban, maka jangan kalian sia-siakan; menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian terjang; dan mengharamkan beberapa perkara, maka jangan kalian langgar”_ *(HR. ad-Daraquthni).*

Sanksi juga berfungsi melindungi jiwa, harta, dan kehormatan manusia. Allah Swt. berfirman:

*وَلَكُمْ فِى الْقِصَاصِ حَيٰوةٌ يّٰٓــاُولِى الْاَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ*

_“Dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa”_ *(QS. al-Baqarah [2]: 179).*

Ada sejumlah keunggulan sistem hukuman atau sanksi dalam Islam dibandingkan dengan sistem pidana manapun di dunia:

*Pertama,* Sistem sanksi Islam berasal dari Allah Swt. yang Mahaadil, sehingga bersifat haq dan adil. Allah Swt. berfirman:

*اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَ ۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَࣖ*

_“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi kaum yang yakin?”_ *(QS. al-Mâidah [5]: 50).*

*Kedua,* Sistem sanksi dibangun di atas ketakwaan, sehingga seorang Muslim terdorong menjauhi kemaksiatan dan menerima hukuman sesuai syariah ketika melakukan kejahatan. Hal ini tercermin dari Maiz bin Malik al-Islami dan al-Ghamidiyah yang mendatangi Rasulullah saw. untuk meminta hukuman atas perzinaan yang mereka lakukan.

*Ketiga,* Sanksi yang tegas berfungsi sebagai zawaajir atau pencegah kejahatan, di antaranya sanksi bagi hirabah sebagaimana firman-Nya:

*اِنَّمَا جَزٰۤؤُا الَّذِيْنَ يُحَارِبُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَسْعَوْنَ فِى الْاَرْضِ فَسَادًا اَنْ يُّقَتَّلُوْٓا اَوْ يُصَلَّبُوْٓا اَوْ تُقَطَّعَ اَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ مِّنْ خِلَافٍ اَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْاَرْضِ ۗ ذٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِى الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ*

_“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi adalah dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal-balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian adalah sebagai suatu penghinaan untuk mereka di dunia, sementara di akhirat mereka mendapatkan siksaan yang besar”_ *(QS. al-Mâidah [5]: 33).*

Dan penetapan hukum qishaash bagi pembunuhan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178. Islam juga menetapkan sanksi bagi zina muhshan, homoseksual, dan korupsi sebagai bagian dari upaya mencegah kejahatan.

*Keempat,* Sanksi Islam memberikan rasa keadilan bagi korban dan keluarganya. Dalam kasus pembunuhan, keluarga korban diberi pilihan menuntut qishaash atau diyat, dengan ketentuan diyat sebesar 100 ekor unta, 40 di antaranya dalam keadaan bunting, atau senilai seribu dinar.

*Kelima,* Sanksi pidana syariah berfungsi sebagai jawaabir, yakni menghapus dosa pelaku setelah menjalani hukuman di dunia. Sebagaimana sabda Rasulullah setelah menjatuhkan sanksi rajam untuk perempuan dari Juhainah akibat perbuatan zina:

*لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَْةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ شَيْئًا أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ*

_”Sungguh, ia telah bertobat dengan tobat yang sekiranya dibagikan di antara tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya akan mencukupi mereka. Apakah engkau mendapati sesuatu yang lebih utama dari orang yang mempersembahkan dirinya untuk Allah?”_ *(HR. at-Tirmidzi)*

Sistem sanksi Islam juga bersifat praktis karena tidak semua kejahatan harus berujung pada pemenjaraan. Sejumlah tindak pidana seperti pencurian, zina, homoseksual, dan pembunuhan memiliki bentuk sanksi tertentu setelah putusan dijatuhkan. Dengan demikian, kebutuhan terhadap penjara dapat ditekan dan peluang kongkalikong antara petugas lapas dan terpidana dapat dipersempit. Pelaksanaan hukum juga menuntut ketakwaan dan integritas aparat penegak hukum agar sanksi diterapkan secara konsisten.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Wahai kaum Muslim! Hari ini kehormatan, harta bahkan jiwa Anda tidaklah aman dari kejahatan. Hukuman yang ditimpakan pun jauh dari rasa keadilan.
Bandingkan dengan sistem Islam. Tidak ada sistem sanksi atau hukuman yang adil dan terbaik kecuali sistem sanksi atau hukuman dalam Islam. Karena itu penerapan syariah Islam adalah sebuah kewajiban dan keniscayaan. Untuk itu dibutuhkan kepemimpinan Khilafah agar syariah Islam bisa diterapkan secara kaaffah. Yakinlah! Tidak ada aturan yang adil dan terbaik selain aturan Allah Swt. Andaikan aturan-aturan Allah Swt. diterapkan dalam sistem Khilafah, yang dijalankan oleh para pejabat dan aparatnya yang bertakwa, niscaya harta, kehormatan dan jiwa manusia akan terpelihara. _Wallâhu a‘lam bish-shawâb._ []

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*KHUTBAH KEDUA*

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 39-2026)**DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)https://seruanmasjid.com/*Versi Bahasa Indo...
25/09/2026

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 39-2026)*
*DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)
https://seruanmasjid.com/
*Versi Bahasa Indonesia*

*ULAMA WAJIB*
*MENGOREKSI PENGUASA*

*KHUTBAH PERTAMA*

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: *وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ۝١٠٤ (اٰلِ عِمْرَانَ)*

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

*يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ*

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”_ *(QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).*

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Kekuasaan tidak membuat seseorang menjadi ma’shum. Seorang penguasa tetap manusia yang bisa keliru, sehingga kekuasaan bukan alasan untuk kebal dari nasihat dan kritik. Pada Sabtu, 19 September 2026, dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH. Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan di hadapan Presiden Prabowo Subianto bahwa pemimpin harus hidup sederhana dan tidak membuka ruang bagi “cari muka” hingga “cari jabatan”. Beliau bahkan menegaskan, jika makanan, pakaian, kendaraan, atau rumahnya melebihi apa yang dimiliki para santri, dirinya boleh diprotes, dikritik, bahkan didemo. Pernyataan ini menegaskan prinsip kepemimpinan yang lebih luas: pemegang amanah, termasuk penguasa, tidak semestinya menutup pintu kritik dan koreksi.

Prinsip tersebut juga tercermin dalam pidato awal Kekhalifahan Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra.:

*فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِيْنُوْنِيْ وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُوْنِيْ*

_“Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku berbuat buruk, luruskanlah aku”_ *(M. Husain Haikal, Hayaah Muhammad saw., 1/97).*

Karena itu, penguasa tidak boleh menempatkan dirinya di atas kebenaran. Kritik yang benar semestinya diterima dengan lapang dada, sedangkan kritik yang keliru dapat dijawab dengan argumentasi.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Ulama tidak dimuliakan karena kedekatannya dengan kekuasaan, tetapi karena ilmu, ketakwaan, dan keberaniannya menyampaikan kebenaran. Karena itu, ulama bukanlah stempel kekuasaan yang membenarkan setiap kebijakan penguasa tanpa pemeriksaan. Jika penguasa terbukti menyimpang, ulama wajib mengoreksi dan meluruskannya. Allah Swt. berfirman:

*وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ*

_“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”_ *(QS. Âli ‘Imrân [3]: 104).*

Perintah amar makruf nahi mungkar mencakup penguasa. Rasulullah saw. juga bersabda,

*الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ*

_“Agama adalah nasihat”_

Ketika para Sahabat bertanya, _“Untuk siapa?”,_ beliau menjawab:

*لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ*

_“Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslim dan seluruh kaum Muslim”_ *(HR. Muslim).*

Nasihat kepada pemimpin dapat berupa bimbingan, peringatan, koreksi, dan ajakan menjalankan amanah sesuai syariah Allah Swt. *(An-Nawawi, _Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj,_ syarah Hadits No.55).*

Kewajiban mengingkari kemungkaran juga ditegaskan Rasulullah saw.:

*مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ*

_“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya. Yang demikian adalah selemah-lemahnya iman”_ *(HR. Muslim).*

Penguasa tidak dikecualikan dari kewajiban ini. Bahkan Rasulullah saw. bersabda:

*أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ*

_“Jihad yang paling utama adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim”_ *(HR. Ahmad).*

Hadits ini menunjukkan tingginya kedudukan keberanian menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang melakukan kezaliman.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Ulama yang takut kepada Allah tidak akan gentar menghadapi kekuasaan manusia. Sejarah Islam menunjukkan bahwa nasihat dan koreksi terhadap penguasa merupakan bagian dari tradisi ulama salaf, bahkan ketika syariah Islam diterapkan. Khalifah tetap manusia yang mungkin keliru sehingga membutuhkan pengawasan dan nasihat.

Diriwayatkan, seorang Muslimah pernah mengoreksi Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. terkait pembatasan mahar yang dinilainya keliru *(Al-Qurthubi, _Al-Jaami‘ li Ahkaam al-Qur’aan,_ 5/95; tafsir QS. an-Nisâ’ [4]: 20).*

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah juga dikenal berani mengkritik Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi yang zalim. Demikian p**a Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menentang Abu Ja‘far al-Manshur ketika menggunakan Baitul Mal untuk membiayai dirinya dan para pengikutnya menunaikan haji. Abu Muslim al-Khaulani bahkan pernah mengoreksi Khalifah Muawiyah karena menghentikan bantuan kepada kaum Muslim, dengan mengingatkan bahwa harta tersebut bukan milik pribadi penguasa *(Al-Badri, _Al-Islaam bayna al-‘Ulamaa' wa al-Hukkaam,_ hlm. 101).*

Ulama dan penguasa semestinya menjadi mitra dalam menegakkan keadilan, bukan mitra dalam membenarkan kezaliman. Penguasa membutuhkan ulama yang berilmu, jujur, dan berani menyampaikan kebenaran; sementara ulama membutuhkan ruang untuk menasihati dan mengoreksi tanpa kehilangan kebebasan menyampaikan perkara yang haq. Keduanya harus berorientasi pada ridha Allah Swt. dan menyadari bahwa amanah kekuasaan maupun ilmu akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Karena itu, kritik yang benar tidak seharusnya dianggap ancaman dan nasihat yang ikhlas tidak semestinya dibalas dengan penghinaan. Ulama tidak boleh meninggalkan amar makruf nahi mungkar hanya karena yang dinasihati adalah penguasa.

Imam al-Ghazali rahimahullah bahkan mengingatkan eratnya hubungan antara kerusakan rakyat, penguasa, dan ulama. Beliau berkata:

*فَفَسَادُ الرَّعَايَا بِفَسَادِ الْمُلُوْكِ وَفَسَادُ الْمُلُوْكِ بِفَسَادِ الْعُلَمَاءِ وَفَسَادُ الْعُلَمَاءِ بِاسْتِيْلاَءِ حُبِّ الْمَالِ وَاْلجَاهِ*

_“Kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasa. Kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan para ulama. Kerusakan ulama terjadi ketika mereka dikuasai oleh kecintaan terhadap harta dan kedudukan”_ *_(Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin,_ 2/357).* Karena itu, ukuran keteguhan ulama bukanlah kedekatannya dengan penguasa, melainkan keberaniannya tetap berpegang pada kebenaran; sementara kekuasaan harus digunakan sebagai amanah untuk menegakkan keadilan dan melindungi rakyat.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Dengan demikian, ulama memiliki tanggung jawab untuk menasihati dan mengoreksi penguasa ketika terjadi kezaliman. Salah satu bentuk kezaliman penguasa adalah ketika mereka tidak berhukum dengan hukum yang Allah Swt. turunkan, sebagaimana firman-Nya:

*وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ*

_“Siapa saja yang tidak berhukum menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah kaum yang zalim”_ *(QS. al-Mâ’idah [5]: 45).*

Karena itu, ulama berkewajiban menyampaikan nasihat dan mengingatkan penguasa agar menjalankan amanah sesuai syariah Islam. Sebab, sebagaimana peringatan Imam al-Ghazali, kerusakan ulama dapat menjadi sebab kerusakan penguasa ketika mereka dikuasai kecintaan terhadap harta dan kedudukan hingga enggan menyampaikan kebenaran. _Wallâhu a‘lam bish-shawâb._ []

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*KHUTBAH KEDUA*

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 38-2026)**DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)https://seruanmasjid.com/*Versi Bahasa Indo...
17/09/2026

*NASKAH KHUTBAH JUMAT (Edisi 38-2026)*
*DMDI* (DEWAN MASJID DIGITAL INDONESIA)
https://seruanmasjid.com/
*Versi Bahasa Indonesia*

*SOLUSI ISLAM*
*MENGATASI KEMISKINAN*

*KHUTBAH PERTAMA*

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: *وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ ۝١٩ (اَلذَّارِيَاتُ)*

Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad saw.

Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Allah Swt. berfirman:

*يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ*

_“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”_ *(QS. Âli ‘Imrân [3]: 102).*

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Ketika angka menentukan siapa yang berhak mendapat bantuan dan siapa yang tidak, kesalahan satu angka saja bisa mengubah nasib sebuah keluarga. Pemerintah membagi masyarakat menjadi 10 desil ekonomi. Desil 1–4 mendapat bantuan, sedangkan desil 5–10 dianggap mandiri. Namun, kekacauan data membuat warga miskin ada yang masuk desil atas sehingga bantuan dihentikan, sementara orang kaya, bahkan anggota DPR, ada yang masuk desil bawah. Desil ini juga direncanakan menjadi dasar pembatasan subsidi Pertalite dan LPG 3 kg bagi desil 9–10.

Jamaah Jum’at rahimakumullah, perbedaan juga terlihat pada angka kemiskinan. Pemerintah mencatat 23,85 juta orang miskin pada Maret 2025 dengan garis kemiskinan Rp609.160 per bulan atau Rp20.305 per hari. Sementara Bank Dunia menggunakan standar Rp52.500 per hari, sehingga menghasilkan angka sekitar 68,4% penduduk atau 194,6 juta jiwa. Begitu p**a pengangguran: pedagang kecil, pekerja serabutan, dan pekerja paruh waktu tetap dianggap bekerja meski penghasilannya tidak mencukupi. Inilah persoalannya: dalam sistem Kapitalisme, ukuran kemiskinan bersifat relatif dan angka statistik dapat berubah sesuai standar yang digunakan, bahkan berpotensi dipakai untuk menampilkan seolah-olah kondisi rakyat lebih baik daripada kenyataannya.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Kemiskinan rakyat bukan selalu karena mereka malas berusaha, tetapi bisa karena sistem yang membuat mereka sulit keluar dari kemiskinan. Rakyat miskin sulit mendapatkan pendidikan tinggi, modal usaha, dan pekerjaan layak, sementara kelompok kaya, terutama kapitalis-oligarki, lebih mudah memperoleh modal, menguasai sumber daya alam, serta mendapatkan akses kekuasaan. Akibatnya, ketimpangan semakin besar.

Pada 2025, INDEF mencatat 10% kelompok terkaya menguasai 60,2% kesejahteraan nasional, sementara pada 2026 kekayaan 50 orang terkaya mencapai Rp4.651 triliun, hampir dua kali lipat dibanding 2019 berdasarkan data Forbes yang diolah Celios. Kondisi ini merupakan dampak dari penerapan Kapitalisme dengan prinsip kebebasan kepemilikan, sementara rakyat dibiarkan bersaing dengan prinsip _survival of the fittest_ dan negara lebih banyak berperan sebagai regulator. Bahkan berbagai bantuan seperti BPJS dan beasiswa pada dasarnya juga bersumber dari pajak yang dibayar rakyat.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Jika kemiskinan adalah masalah kehidupan manusia, maka Islam tidak hanya menjelaskan siapa yang disebut miskin, tetapi juga menetapkan bagaimana kemiskinan itu harus diselesaikan.

Dalam Islam, ukuran kemiskinan bersifat jelas: seseorang disebut miskin ketika kebutuhan pokoknya—sandang, pangan, dan papan—tidak terpenuhi secara menyeluruh. Islam mewajibkan setiap laki-laki dewasa menafkahi dirinya dan keluarganya. Allah Swt. berfirman:

*وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ*

_“Kewajiban ayah menanggung makan dan pakaian mereka dengan cara yang patut”_ *(QS. al-Baqarah [2]: 233).*

Allah Swt. juga berfirman:

*اَسْكِنُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِّنْ وُّجْدِكُمْ*

_“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana saja kalian (para suami) bertempat tinggal menurut kemampuan kalian”_ *(QS. ath-Thalâq [65]: 6).*

Jika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, kewajiban berpindah kepada kerabat terdekat yang mampu. Jika tidak ada kerabat yang mampu, maka negara wajib menanggung kebutuhan pokoknya. Rasulullah saw. bersabda:

*مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ وَمَنْ تَرَكَ كَلًّا فَإِلَيْنَا*

_”Siapa saja yang mati meninggalkan harta maka hartanya untuk ahli warisnya. Siapa saja yang mati meninggalkan keluarga yang miskin maka mereka menjadi tanggungan kami.”_ *(HR. al-Bukhari).*

Dengan demikian, dalam Islam pemenuhan kebutuhan pokok rakyat miskin bukan sekadar bantuan sukarela, tetapi merupakan kewajiban yang harus dijamin.
Untuk menjalankan kewajiban tersebut, negara memiliki Baitul Mal yang mengelola berbagai sumber pemasukan, termasuk zakat dan pengelolaan kepemilikan umum seperti sumber daya alam. Jika dana tidak mencukupi, negara dapat mengenakan _dhariibah_ secara terbatas kepada Muslim yang mampu, dan dihentikan ketika kebutuhan telah terpenuhi. Rasulullah saw. mengingatkan:

*وَأَيُّمَا أَهْلُ عَرْصَة أَصْبَحَ فِيهِمْ امْرُؤٌ جَائِعٌ فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُمْ ذِمَّةُ الله تَعَالَى*

_“Penduduk negeri mana pun yang pada pagi hari di tengah-tengah mereka ada orang yang kelaparan, maka jaminan Allah telah lepas dari mereka.”_ *(HR Ahmad, al-Hakim dan Abu Ya’la).*

Ini menunjukkan bahwa Islam menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat sebagai tanggung jawab yang wajib diperhatikan oleh negara dan masyarakat.

_*Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,*_
Jika kita ingin mengentaskan kemiskinan sampai ke akar masalahnya, maka yang perlu dibenahi bukan hanya orang miskinnya, tetapi juga sistem yang mengatur kepemilikan dan distribusi kekayaan. Dalam konsep Khilafah dengan penerapan syariah secara kaaffah, harta milik umum seperti tambang dan hutan dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat, bukan dikuasai segelintir individu atau korporasi. Selain itu, Islam melarang penumpukan harta _(kanzul maal)_ sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS at-Taubah [9]: 34, sehingga harta tidak hanya berputar di kalangan orang kaya, tetapi didorong menjadi harta produktif melalui usaha, konsumsi, infak, hibah, dan wakaf.

Jama’ah Jumat rahimakumullah, inilah gambaran bagaimana Islam menangani kemiskinan bukan hanya pada gejalanya, tetapi hingga faktor penyebabnya. Namun, konsep tersebut membutuhkan penerapan syariah Islam secara _kaaffah_ melalui sistem pemerintahan Khilafah, sehingga tidak dapat diwujudkan secara utuh dalam sistem Kapitalisme yang berlaku saat ini. Semoga Allah Swt. memberi kita pemahaman terhadap syariat-Nya dan menunjukkan jalan yang diridai-Nya. _Wallâhu a‘lam bish-shawâb._ []

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*KHUTBAH KEDUA*

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

Address

Balikpapan

Telephone

+6287810871924

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kjmbpp DMDI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share