28/04/2026
BALIEXPRESS.ID – Kabar pilu menyentak publik setelah kisah mantan atlet nasional Pino Bahari beredar luas di media sosial. Sosok yang dulu mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, kini harus berjuang melawan rasa sakit dan keterbatasan di ranjang rumah sakit.
Pino, petinju kelas menengah peraih emas di Asian Games 1990 serta peserta Olimpiade Barcelona 1992 dan Olimpiade Atlanta 1996, mengalami kecelakaan pada 13 April 2026 di Denpasar. Insiden tersebut membuatnya menderita patah engkel kaki kiri dan retak tulang rusuk di beberapa bagian.
Di balik prestasi gemilang yang pernah diraih, kini tersimpan realita pahit. Putra dari pelatih legendaris Daniel Bahari itu harus bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan, mulai dari pengemudi ojek online hingga membantu kegiatan tinju lokal demi menyambung hidup.
Kondisinya semakin memprihatinkan karena biaya operasi yang diperkirakan mencapai Rp200 juta. Angka tersebut menjadi beban berat bagi Pino dan keluarganya, yang bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun harus berjuang keras.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian yang diharapkan justru belum terlihat. Nama Erick Thohir hingga Taufik Hidayat ikut disorot publik karena dinilai belum memberikan respons. Begitu p**a dengan Indonesian Olympian Association yang dipimpin Yayuk Basuki, turut menjadi sorotan terkait kepedulian terhadap nasib mantan atlet.
Kisah Pino menjadi potret nyata bagaimana kejayaan seorang atlet bisa memudar seiring waktu. Mereka yang pernah mengibarkan Merah Putih di pentas dunia, kini harus berjuang sendiri menghadapi masa sulit.
Harapan pun mengalir dari berbagai pihak agar pemerintah, termasuk Prabowo Subianto, dapat memberi perhatian lebih terhadap kesejahteraan para atlet, baik saat berjaya maupun setelah pensiun.
Kini, di sebuah ruang rumah sakit, Pino Bahari hanya bisa menahan sakit—menunggu, apakah masih ada kepedulian untuknya.