06/08/2025
Renungan untuk Kita, Para Wali Santri
Ketika Ustadz Menanam, Tapi Orangtua Tak Menyiram, Santri Akan Jadi Apa?
Pendidikan di pesantren adalah ladang subur untuk menanam nilai-nilai kehidupan. Para ustadz dan ustadzah menanamkan ilmu agama, akhlak, kedisiplinan, dan kemandirian. Tapi bagaimana jadinya jika semua benih itu tak pernah disiram dan dijaga saat anak pulang ke rumah?
Sebanyak apapun nilai yang ditanam di pesantren, tetap butuh peran orangtua sebagai βpenyiramβ utama. Menyiram bukan hanya dengan nasihat, tapi juga dengan sikap dan kebiasaan di rumah yang sejalan dengan apa yang diajarkan di dayah atau pesantren.
Sering kita dengar keluhan seperti ini: βDi pesantren anak rajin shalat berjamaah, tapi saat liburan di rumah malah sulit bangun subuh.β Atau, βDi dayah ia santun dan hormat kepada guru, tapi di rumah s**a membantah orangtua.β Mengapa bisa begitu? Karena apa yang ditanam di pesantren tidak disiram ketika anak berada di rumah.
Lebih menyedihkan lagi, jika orangtua justru menjadi "perusak tanaman" itu β dengan terlalu memanjakan, membiarkan anak lalai, atau bahkan menganggap enteng nilai-nilai yang selama ini ditanam di pesantren.
Jika ini terus dibiarkan, anak mungkin tahu banyak ayat dan hadis, tapi tidak terbiasa mengamalkannya. Ia paham batasan halal dan haram, tapi tidak punya kekuatan untuk menahan diri. Ia terlihat religius, tapi rapuh dalam menghadapi ujian hidup.
Maka pertanyaannya: santri akan jadi apa, jika yang menanam hanya ustadz, sementara orangtuanya diam?
Pendidikan di pesantren bukan solusi instan. Ia hanya akan berhasil jika dilanjutkan dan dikuatkan oleh orangtua di rumah. Maka mari bersinergi. Jadilah orangtua yang ikut menyiram dan menjaga apa yang telah ditanam di pesantren. Dengan begitu, insyaAllah anak kita tumbuh bukan hanya menjadi pribadi yang alim, tapi juga berakhlak mulia dan kokoh jiwanya.