Sarkub Mesir

Sarkub Mesir Sarkub Mesir, komunitas terbuka; berbagi informasi khazanah peninggalan aulia Mesir dan sekitarnya. [...] pada berbagai jenjang.

هذه صفحة رسمية لمجموعة من الطلاب الإندونيسين بالأزهر الشريف محبّي أهل بيت النبي والأولياء والعلماء والصالحين بأرض مصر المحروسة.

ننشر المعلومات عن مواقع الأضرحة بمصر أرض الأنبياء والأولياء وتراثهم من الوصايا والمسالك لأجل التقرّب والوصول إلى الله جلا وعلا.

ربنا اجعلنا من أهل العلم ومحبّيه واجعلنا من عبادك الصالحين.. آمين

--
SarKub Mesir, komunitas terbuka; berbagi informasi khazanah peninggalan

para aulia Mesir dan sekitarnya. Halaman dikelola oleh beberapa anggota aktif yang sedang menempuh studi di al-Azhar as-Syariif, Mesir. Pada halaman ini, kami mengangkat topik reportase petualangan ziarah kami di Negeri Seribu Menara ini.

Imam Zainuddin Al-'Iraqi........Saat membaca biografi Imam Zainuddin Al-'Iraqi, guru Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani, saya ...
21/04/2026

Imam Zainuddin Al-'Iraqi........
Saat membaca biografi Imam Zainuddin Al-'Iraqi, guru Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani, saya menemukan fakta menarik tentang beliau.

1. Tafa'ulan dengan nama Syekh Abdurrahim Al-Qinawi
Ayah Al-Hafizh Al-'Iraqi itu namanya Al-Husain. Nah beliau sebelum menikah itu itu berguru dan berkhidmah kepada seorang sayid, pengajar di khanqah bernama Syekh Taqiyuddin Muhammad Al-Qinawi Asy-Syafi'i, cicit Wali Kutub Qina Syekh Abdurrahim Al-Qinawi. Setelah Al-Husain menikah, ia diberi kabar gembira oleh gurunya, Syekh Taqiyuddin, bahwa ia akan segera dikaruniai momongan dan sang gurunya meminta agar putranya itu dinamai dengan nama buyutnya yang seorang wali besar: Syekh Abdurrahim Al-Qinawi. Hingga kemudian lahir Imam Zainuddin, Abdurrahim bin Al-Husain Al-'Iraqi yang kelak melahirkan tiga imam besar hadis: Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Waliyyuddin Al-'Iraqi, dan Nuruddin Al-Haitsami.

2. Ilmu Pertama yang Ditekuni Al-'Iraqi
Sebelum masuk ke ilmu hadis, ternyata Al-Hafizh Al-'Iraqi itu menekuni ilmu untuk pertama kalinya adalah qiraat. Walaupun di tengah jalan, 'Izzuddin Ibnu Jama'ah menegurnya: "Ilmu ini (qira'at) sangat melelahkan namun hasilnya sedikit (manfaatnya terbatas bagi orang sepertimu), sedangkan pikiranmu sangat cerdas. Alihkanlah semangatmu ke ilmu Hadis." Setelah mengalihkan perhatiannya ke hadis, Al-'Iraqi merasa jalan baginya seakan terbuka lebar dan sangat cepat dalam menghafal. Namun kendati sudah masuk di hadis, Al-'Iraqi tetap berhasil mengkhatamkan qiraat tujuh pada Taqiyuddin Al-Wasithi saat di Makkah. Fakta menariknya, Ibnu Hajar Al-'Asqalani, murid yang kelak ditunjuknya menggantikan kursi imam dalam ilmu hadis, juga mengalami hal sama. Dulu Ibnu Hajar juga menekuni ilmu qiraat dulu, sebelum akhirnya memilih terjun ke hadis hingga menjadi Amirul-Mukminin fil Hadis.

Dari keterangan ini, menurut saya dapat diambil hikmah:
1. Pengaruh para wali kutub di Mesir seperti Syekh Abdurrahim Al-Qinawi memang amat kuat. Keberkahan mereka semerbak harum hingga kini. Dan banyak mauqif ulama yang menunjukkan keagungan para wali kutub ini.

2. Ilmu qiraat di Mesir sudah menancap kuat di Mesir, bahkan para imam ahli hadis itu tidak langsung mengambil ilmu spesifik apapun kecuali yg terlintas awal adalah qiraat.

3. Tradisi tabarukan telah dipraktikkan ulama-ulama besar Mesir. Tradisi meng-ahbab-kan diri juga dipraktikkan oleh ayah Imam Al-'Iraqi.

Referensi: Syamsuddin As-Sakhawi, Ad-Dhau' Al-Lami'

✍🏻 Penulis: Ahmad Wildan

Syekh Musa Jarullah Ar-Rusi (Rusia)........Lewat di fyp saya bahwa Kedutaan Besar Rusia untuk Mesir menziarahi makam tok...
14/04/2026

Syekh Musa Jarullah Ar-Rusi (Rusia)........
Lewat di fyp saya bahwa Kedutaan Besar Rusia untuk Mesir menziarahi makam tokoh besar Rusia, seorang pemikir ulung Muslim yang dimakamkan di masih di kompleks Qarafah Mujawirin, dekat Makam Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri. Ini beritanya:
https://www.facebook.com/share/v/1ARzyUVnea/

Jadi di Kairo itu setidaknya ada tiga makam ulama Eropa: Syekh Musa Jarullah Ar-Rusi (Rusia), Syekh Abdulwahid Yahya Al-Faransi (Prancis), dan Syekh Al-Mahdi As-Suwaisri (Swiss). Sarkub Mesir sudah pernah mengadakan ziarah ke Makam Syekh Musa Jarullah ini.

Beliau punya karya terkenal berjudul Al-Wasyi'ah fi Naqd 'Aqa'id Asy-Syi'ah. Berikut saya cantumkan biografi ringkasnya.

1. Asal-usul dan Pendidikan Awal
Musa Bigiev lahir pada tanggal 24 September 1874 di desa Kikino, Provinsi Penza, Kekaisaran Rusia. Ia lahir dari keluarga ulama; ayahnya adalah seorang akhund (pemuka agama).
• Pendidikan Sekuler: Tidak seperti banyak ulama tradisional, Bigiev menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah teknis (Real Lyceum) di Rostov-on-Don, yang memberinya dasar ilmu pengetahuan alam dan matematika.
• Pendidikan Agama: Ia berkelana mencari ilmu ke berbagai pusat peradaban Islam:
— Kazan & Bukhara: Mempelajari bahasa Arab, Persia, filsafat, dan astronomi.
— Mesir (Universitas Al-Azhar): Berguru langsung pada pemikir reformis seperti Muhammad Abduh.
— India & Hijaz: Mengunjungi madrasah-madrasah besar di India (seperti Deoband) dan menghabiskan waktu di Mekkah serta Madinah.

2. Karier di Rusia (Hingga 1930)
Sekembalinya ke Rusia pada tahun 1904, ia menjadi tokoh sentral gerakan Jadidisme (pembaharuan Islam di Rusia).
• Imam & Aktivis: Ia menjabat sebagai Imam Masjid Agung Petrograd (St. Petersburg) dan aktif dalam politik melalui partai Ittifaq Al-Muslimin.
• Lawan Intelektual Komunisme: Pada tahun 1923, ia menerbitkan buku "Islam Milletlerine" (Kepada Bangsa-bangsa Muslim) di Berlin yang secara tajam mengkritik Marxisme sebagai ideologi yang memusuhi agama.
• Kaitan dengan Revolusi: Awalnya ia menyambut Revolusi Februari 1917 sebagai akhir dari penindasan Tsar, namun ia segera menjadi target rezim Bolshevik karena pandangan religiusnya yang kuat. Ia sempat ditahan oleh Cheka (polisi rahasia Soviet) pada tahun 1923 namun dibebaskan setelah adanya tekanan internasional dari komunitas Muslim (terutama dari India dan Turki).

3. Masa Pengasingan dan Kematian
Pada tahun 1930, karena tekanan politik rezim Stalin yang semakin berat terhadap agama, ia melarikan diri dari Uni Soviet secara rahasia melalui Turkistan Timur (Xinjiang), lalu menuju Afghanistan dan India.
• Perjalanan Global: Selama masa pengasingan, ia terus menulis dan melakukan perjalanan ke Finlandia, Jerman, Turki, hingga Jepang.
• Akhir Hayat: Ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di Mesir. Ia meninggal dunia pada 28 Oktober 1949 di Kairo dan dimakamkan di pemakaman keluarga kerajaan Khedive.

4. Pemikiran Utama yang Kontroversial
Dalam literatur Rusia, Bigiev sering dijuluki sebagai "Luther-nya Muslim" karena keberaniannya melakukan ijtihad. Dua pemikirannya yang paling fenomenal adalah:
1. Rahmat Allah yang Universal: Ia berargumen bahwa neraka tidaklah kekal dan rahmat Allah akan mencakup seluruh umat manusia pada akhirnya, termasuk mereka yang bukan Muslim (dalam kitabnya Rahmat-i Ilahiyye Burhanlari).
2. Reformasi Fikih: Ia sangat vokal mengenai hak-hak perempuan dalam Islam dan mendesak reinterpretasi hukum Islam agar relevan dengan tuntutan zaman modern.

5. Karya Utama (Bahasa Arab & Tatar)
Sumber Rusia mencatat puluhan karya tulisnya, beberapa yang paling menonjol:
• Tarikh al-Qur'an wa al-Mashahif (Sejarah Al-Qur'an dan Mushaf).
• Al-Wasyi'ah (Kritik terhadap doktrin Syiah).
• Qawa'id Fiqhiyyah (Kaidah-kaidah Fikih).

Musa Bigiev diakui oleh para sejarawan Rusia modern sebagai jembatan antara pemikiran Islam tradisional dan modernitas, serta simbol perlawanan intelektual Muslim terhadap ateisme militan Uni Soviet.

✍🏻 Penulis: Ahmad Wildan

Syekh Muhammad Abdul'aziz Hashshan..........Ekspedisi Thantha Maret 2026Sabtu, 28 Maret 2026Destinasi 3Makam Syekh Muham...
31/03/2026

Syekh Muhammad Abdul'aziz Hashshan..........
Ekspedisi Thantha Maret 2026
Sabtu, 28 Maret 2026

Destinasi 3
Makam Syekh Muhammad Abdul'aziz Hashshan, Kota Kafr Az-Zayyat, Provinsi Al-Gharbiyyah..........
Mengenal Sosok "Qari Kemenangan": Syekh Muhammad Abdul’aziz Hashshan 📖✨

1. Keterbatasan Bukan Penghalang
Lahir di Desa Al-Farastaq pada Agustus 1928, Syekh Hashshan mengalami kebutaan sejak kecil. Namun, hal ini justru menguatkan daya ingatnya. Bayangkan, di usia 7 tahun, beliau sudah hafal Al-Qur'an! Beliau rela berjalan kaki sejauh 4 km setiap hari demi belajar di kuttab, hingga akhirnya menguasai qira'at sab'ah hanya dalam waktu dua tahun.

2. Sang "Qari’ An-Nashr" (Qari Kemenangan)
Namanya abadi dalam sejarah saat beliau bertilawah pada fajar 6 Oktober 1973, bertepatan dengan momen kemenangan Mesir dalam perang. Karena keindahan suaranya yang luar biasa saat itu, beliau dijuluki Qari’ An-Nashr dan Qari’ Al-‘Ubur. Beliau juga dikenal sebagai pakar teknik berhenti dan memulai bacaan, hingga dijuluki Ustadz Al-Waqf wa Al-Ibtida’.

3. Integritas dan Janji di Atas Segalanya
Ada satu kisah mengharukan: Syekh Hashshan pernah menolak undangan Presiden Anwar As-Sadat untuk bertilawah di acara pemakaman ibunda Presiden. Alasannya? Karena beliau sudah berjanji lebih dulu untuk hadir di acara pemakaman seorang penjaga sekolah (farrash) miskin yang merupakan penggemarnya. Presiden Sadat pun sangat menghormati keputusan beliau ini.

4. Warisan yang Abadi
Kehebatan teknik tilawahnya bahkan menjadi objek penelitian disertasi doktor di Arab Saudi. Meskipun ada aturan yang melarang qari tunanetra tampil di TV nasional karena kendala teknis, Syekh Hashshan adalah satu-satunya pengecualian yang tetap diizinkan tampil karena kecintaan masyarakat yang luar biasa.

5. Akhir Hayat yang Menakjubkan
Syekh Hashshan wafat pada malam Jumat, 2 Mei 2003. Sesuai wasiatnya, beliau disalatkan di Masjid Al-Ahmadi, Thantha. Keajaiban terjadi, di hari yang sama pada waktu Asar, istri tercinta beliau pun turut berp**ang menyusulnya.

Beliau meninggalkan warisan berupa rekaman tilawah yang diperkirakan mencapai 10.000 jam. Beliau diangkat menjadi Qari Masjid Al-Ahmadi Thantha atas keputusan Presiden As-Sadat. Mari kita teladani semangat dan integritas beliau dalam menjaga kalamullah. 🤲💚
_______
Tim Ekspedisi: Ahmad Wildan, Ziyad Mubarak, Abdul Karim, Ahmad Sulaiman, Ribkhi Azka, Lalu Hafizi

Syekh Ibrahim Abdurrahman Khalifah.......Ekspedisi Thantha Maret 2026Ahad, 29 Maret 2026Destinasi 3Makam Syekh Ibrahim A...
30/03/2026

Syekh Ibrahim Abdurrahman Khalifah.......
Ekspedisi Thantha Maret 2026
Ahad, 29 Maret 2026

Destinasi 3
Makam Syekh Ibrahim Abdurrahman Khalifah, Kota Biyala, Provinsi Kafr Asy-Syaikh.......
Syekh Ibrahim Khalifah, seorang ulama besar Al-Azhar yang menjadi rujukan utama dalam bidang tafsir:

Data-Data Penting Biografi
• Nama Lengkap: Ibrahim bin Abdurrahman bin Muhammad Khalifah Al-Azhari.
• Kelahiran: Beliau lahir di Kota Biyala, Kafr Asy-Syaikh, Mesir, pada 17 Agustus 1940 (14 Rajab 1359 H).
• Pendidikan: Beliau hafal Al-Quran pada usia 12 tahun. Saat menamatkan jenjang Tsanawiyyah, beliau meraih peringkat keempat nasional di Mesir. Di tingkat universitas, beliau lulus dari Fakultas Usuludin Universitas Al-Azhar (1966) dengan predikat peringkat pertama serta nilai Mumtaz dan Martabah Asy-Syaraf Al-Ula.
• Karier Akademik: Beliau meraih gelar Doktor pada tahun 1973. Menjabat sebagai Kepala Jurusan Tafsir di Al-Azhar selama 14 tahun (1991–2005). Selain di Mesir, beliau juga menjadi guru besar di Arab Saudi (Universitas Ummul Qura), Aljazair, dan Yordania.
• Wafat: Beliau berp**ang pada 22 Juni 2013 (13 Syakban 1434 H) di Kairo pada usia 73 tahun.

Kontribusi yang Luar Biasa
• Guru Para Pakar: Beliau adalah rujukan bagi para guru besar tafsir di Universitas Al-Azhar; hampir seluruh pakar dan dosen di Fakultas Usuludin saat ini merupakan murid beliau.
• Metodologi Pengajaran: Syekh Ibrahim dikenal memiliki ketelitian dan metodologi yang khas dalam menelaah sumber pustaka. Beliau mampu mengurutkan kembali pembahasan kitab klasik (seperti Tafsir Imam Ar-Razi) dengan urutan dan metode tersendiri yang lebih sistematis.

Karya Tulis: Beliau meninggalkan lebih dari sepuluh karya ilmiah penting, di antaranya:
– Al-Muhkam wa Al-Mutasyabih fi Al-Quran Al-Karim.
– Ad-Dakhil fi At-Tafsir.
– Dirasat fi Manahij Al-Mufassirin.
– Al-Ihsan fi Mabahits min 'Ulum Al-Quran.

Julukan dari Para Ulama
Karena kedalaman ilmunya, para ulama memberikan julukan kehormatan kepada beliau, yaitu:
• Syaikhul-Mufassirin (Pemuka Para Mufasir).
• Pemuka Para Mufasir Al-Azhar, karena tidak ada karya ulama Al-Azhar setelah masa beliau kecuali menukil dari pendapat beliau.
• Sosok yang saleh dan ahli zikir, karena lisannya dikenal senantiasa basah dengan zikir kepada Allah dalam kondisi apa pun.

Biografi selengkapnya telah ditulis oleh Ust. Amirul Mukminin di Tawazun ID, silakan baca di sini:
https://tawazun.id/syekh-ibrahim-khalifah-pemuka-para-mufasir-al-azhar/
________
Keterangan:

Sarkub Mesir mengunjungi Makam Syaikhul-Mufassirin Syekh Ibrahim Khalifah di kampung halamannya, Biyala, Provinsi Kafr Asy-Syaikh. Kami disambut hangat oleh Bapak Hussam Khalifah (sepupu Syekh Khalifah), Dr. Ahmad Al-Far (dosen Akidah di Univ Al-Azhar Al-Manshurah), Syekh Abdunnashir (alumnus Al-Azhar tahun 2000-an).

Kami berbincang hangat di rumah Dr. Ahmad Al-Far. Kami mendapatkan banyak maklumat tentang tokoh-tokoh Desa Biyala dan terutama Syekh Ibrahim Khalifah.
• Desa Biyala mengeluarkan banyak tokoh besar yang terkenal: Syekh Ibrahim Khalifah dan Syekh Abu Al-'Aynayn Syu'aisya'.

Rute menuju makam beliau: dari Ramsis, Kairo — cari angkutan ke Kota Biyala langsung, bila tidak ketemu cari jurusan Al-Manshurah — di Al-Manshurah cari jurusan Desa Biyala — sampai di Desa Biyala, cari Permakaman Desa lorong nomor 17 — ikuti maps hingga ketemu Makam Syekh Ibrahim Khalifah

Tim Ekspedisi: Ahmad Wildan, Ziyad Mubarak, Abdul Karim, Ahmad Sulaiman, Ribkhi Azka, Lalu Hafizi, Riyadh, Wali Taba, Nanda Zulhikmah

Syekh Muhammad Farid As-Sindiyuni & Dr. Ali As-Samni......Ekspedisi Thantha Maret 2026Sabtu, 28 Maret 2026Destinasi 1Mak...
29/03/2026

Syekh Muhammad Farid As-Sindiyuni & Dr. Ali As-Samni......
Ekspedisi Thantha Maret 2026
Sabtu, 28 Maret 2026

Destinasi 1
Makam Keluarga As-Samni, Desa Sindiyun, Kota Qalyub, Provinsi Al-Qalyubiyyah
_______
1. Syekh Muhammad Farid As-Sindiyuni

Biografi Singkat:
Lahir dengan nama asli Abdul’azhim bin Hasan bin Ali As-Samni pada 16 September 1916 di Desa Sindiyun, Mesir. Ia menghafal Al-Qur'an dan menguasai qiraat sab’ah (tujuh variasi bacaan) sejak usia muda di bawah bimbingan Syekh Mahmud Abu Zaid dan Syekh Shalih Al-Bazirji. Setelah ayahnya wafat, ia pindah ke Kairo dan menempuh pendidikan di Sekolah Musik Kerajaan (1931-1934) untuk mendalami instrumen Oud dan ilmu nada (maqamat). Ia dijuluki sebagai An-Nayi Al-Hazin (Seruling Pilu) karena karakter suaranya yang sendu, serta disebut sebagai Malikul-Maqamat (Rajanya Ilmu Maqamat) karena penguasaannya yang luar biasa terhadap nada-nada sulit.

Kontribusi Terbesar:
• Kancah Nasional (Mesir): Beliau merupakan salah satu qari terkemuka di Radio Mesir pada era emas, bersanding dengan nama-nama besar seperti Syekh Muhammad Rif’at dan Syekh Mushthafa Ismail. Keunikan kontribusinya terletak pada kemampuannya memadukan kemurnian hukum tajwid dengan keindahan seni musik Arab secara sempurna. Selain sebagai qari, ia juga berkontribusi sebagai komposer lagu-lagu religi dan monolog. Di akhir hayatnya, ia dikenal karena integritasnya yang memilih membuka kedai kopi sebagai bentuk protes terhadap kebijakan baru ujian qari di radio yang ia anggap merendahkan qari senior.
• Kancah Internasional: Syekh As-Sindiyuni menjadi qari Mesir pertama yang memiliki reputasi besar di luar negeri hingga diundang oleh stasiun radio milik Inggris, Asy-Syarq Al-Adna di Jaffa, Palestina, untuk mengisi tilawah selama bulan Ramadhan antara tahun 1943 hingga 1948...........

2. Dr. Ali As-Samni

Biografi Singkat:
Lahir pada 13 Juni 1915, Dr. Ali adalah adik kandung dari Syekh As-Sindiyuni. Sama seperti kakaknya, ia adalah seorang penghafal Al-Qur'an dan memiliki suara yang merdu. Ia meraih gelar Doktoral dalam bidang Bahasa Arab dari Universitas ‘Ain Syams dan menjadi Guru Besar di Fakultas Sastra. Sebagian besar masa hidupnya dihabiskan di Jepang setelah dikirim sebagai delegasi Kementerian Pendidikan Mesir. Beliau wafat pada 29 Januari 1999.

Kontribusi Terbesar:
• Kancah Internasional (Jepang): Kontribusi terbesarnya terletak pada dakwah dan pendidikan Islam di Jepang. Ia adalah tokoh kunci yang memakmurkan dan menjadi imam di Masjid Tokyo (satu-satunya masjid di sana saat itu). Beliau mengajar di berbagai universitas di Jepang, menulis serta menerjemahkan banyak karya ilmiah, dan menjadi tokoh pemimpin komunitas Muslim di sana.
• Penghargaan dan Legenda: Atas sumbangsih besarnya dalam dunia pendidikan, ia menjadi orang Mesir pertama yang menerima Medali Kehormatan (Order of the Sacred Treasure) Tingkat I dari Kekaisaran Jepang. Secara kultural, ia juga meninggalkan warisan berupa rekaman mushaf murattal lengkap yang direkam di Masjid Tokyo.
• Kancah Nasional (Mesir): Ia berkontribusi sebagai representasi intelektual Mesir di luar negeri (delegasi resmi) dan menjaga standar keilmuan bahasa Arab di tingkat universitas sebelum menjalankan misi internasionalnya.

Kedua tokoh ini menunjukkan kontribusi yang berbeda namun saling melengkapi: Syekh Muhammad Farid mengharumkan nama Mesir melalui seni tilawah dan maqamat, sementara Dr. Ali mengharumkan nama Mesir melalui jalur akademik dan dakwah internasional.......
Keterangan:
• Syekh Muhammad Farid tidak menikah. Beliau di usia muda masih kepala tiga. Keturunan As-Samni dilanjutkan oleh adiknya, Dr. Ali As-Samni yang menikah dua kali: satu dengan perempuan Mesir, satu lagi dengan perempuan Jepang.
• Dr. Ali As-Samni tidak hanya punya murattal, beliau juga punya banyak karya baik dalam bahasa Arab maupun Jepang. Keturunan beliau yang sekarang masih bisa dihubungi adalah Dr. Ibrahim As-Samni. Alhamdulillah penulis sudah menghubungi beliau.
_____
✍🏻 Penulis: Ahmad Wildan

Tim Ekspedisi: Ahmad Wildan, Ziyad Mubarak, Abdul Karim, Ahmad Sulaiman, Ribkhi Azka, Hafizi

Kesabaran Syekh Abdul'aziz Ad-Dirini Terhadap Istri........Kisah & Ibrah  #1Dikisahkan bahwa Syekh Abdul’aziz Ad-Dirini ...
27/03/2026

Kesabaran Syekh Abdul'aziz Ad-Dirini Terhadap Istri........
Kisah & Ibrah #1

Dikisahkan bahwa Syekh Abdul’aziz Ad-Dirini ini memiliki seorang istri yang sering berkata buruk padanya. Istrinya tidak merasa puas kecuali jika ia meninggikan suara dan tangannya kepada Syekh, terutama di hadapan murid-muridnya. Syekh berkata kepadanya, “Kita sepanjang hari berdua, jika ada yang ingin kau katakan, katakanlah saat kita sendiri, aku akan bersabar. Namun, mengapa kau baru mulai melakukannya saat murid-muridku datang?”. Istrinya selalu mengejek suaminya di depan murid-muridnya, “Apakah kalian tidak menemukan orang lain selain orang gila (bodoh) ini?” Namun Syekh tetap bersabar. Para ulama menyebutkan bahwa banyak wali Allah yang memang diuji melalui pasangan mereka, sebagaimana Nabi Nuh dan Nabi Luth juga diuji dengan istri-istri mereka. Konon Imam Malik bin Dinar dan Syekh Ahmad Ad-Dardir juga mengalami hal yang sama.

Merasa sesak dadanya karena perlakuan sang istri, lalu Syekh Abdul’aziz memutuskan untuk keluar meninggalkan rumah. Syekh pergi ke padang pasir dan menemukan sebuah gua. Di dalamnya, ia bertemu dengan seorang syekh tua dan seorang pemuda yang sedang berpuasa. Syekh Abdul’aziz minta izin ingin bermukim bersama mereka sementara waktu.

Hari pertama: Saat waktu berbuka, syekh tua itu berdoa ke langit, dan Allah mengirimkan makanan untuk mereka.
Hari kedua: Pemuda itu berdoa, dan Allah kembali mengirimkan makanan.
Hari ketiga: Giliran Ad-Dirini yang diminta berdoa. Ia mengangkat tangannya dan berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya syekh ini berdoa kepada-Mu dan Engkau mengabulkannya, dan pemuda ini berdoa kepada-Mu dan Engkau mengabulkannya. Aku memohon kepada-Mu hari ini, janganlah Engkau mempermalukan aku di hadapan mereka berdua, dan berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi mereka.”

Tiba-tiba, Allah mengirimkan makanan dalam jumlah dua kali lipat dari biasanya. Syekh tua dan si pemuda sontak takjub dan heran, mereka lantas bertanya pada Ad-Dirini doa apa yang ia panjatkan? Ad-Dirini menjawab bahwa ia berdoa sebagaimana doa mereka berdua di mana dirinya sendiri tidak tahu doa apa yang mereka berdua panjatkan. Lalu Ad-Dirini bertanya kepada mereka, “Memangnya apa yang kalian baca dalam doa kalian?”. Mereka menjawab bahwa doa mereka sangat mudah: “Ya Allah, dengan keberkahan kesabaran Ad-Dirini terhadap istrinya, berilah kami rezeki.”

Mendengar hal itu, Syekh Abdul’aziz terkejut dan menyadari bahwa kesabarannya menghadapi istrinya justru merupakan sebab turunnya rezeki dan karomah, tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi orang lain. Ad-Dirini kemudian p**ang ke rumah. Sesampainya di rumah, istrinya melihat perubahan pada diri Syekh; beliau tampak lebih tenang dan bahkan tersenyum saat dimaki. Istrinya bertanya apa yang terjadi selama kepergiannya. “Apa yang terjadi padamu sejak kau pergi beberapa hari ini?”

Syekh menjawab, “Aku telah melihat orang-orang mendapatkan rezeki karena kesabaranku menghadapimu, maka aku tidak ingin Allah memutus rezeki mereka dengan kemarahanku.” Dalam satu versi cerita, Syekh memberikan sebuah ranting kecil kepada istrinya dan berkata dengan nada bercanda, “Pukullah aku dengan ini,” yang justru membuat istrinya luluh dan tersenyum. Menyadari kemuliaan suaminya di mata Allah, sang istri akhirnya bertaubat dan berjanji tidak akan pernah menyakiti hati suaminya lagi untuk selamanya. “Demi Allah, aku tidak akan menyakitimu lagi setelah ini untuk selamanya.”

Kisah ini diceritakan oleh banyak tokoh: Dr. Ali Jumu’ah, Dr. Asy-Syahhat Al-‘Azazi, dan Dr. Ahmad Al-Bushili dengan perbedaan rincian dalam setiap riwayat. Namun walaupun masyhur di kalangan masyarakat Mesir, sejauh penelusuran penulis kisah ini tidak memiliki landasan rujukan dari kitab-kitab biografi. Tapi tetap tidak menutup kemungkinan bahwa cerita ini benar karena ada riwayat istri Syekh Abdul’aziz memang berperangai tidak sabaran dan mudah emosi. Anda bisa menilik kembali kisah Persahabatan Syekh Abdul’aziz dan Syekh Ali Al-Maliji, di mana saat Syekh Abdul’aziz menyembelih ayam untuk Syekh Ali, istrinya menggerutu. Namun Syekh Ali Jumu'ah kembali menekankan bahwa kisah ini hanya untuk ibrah atau mengambil pelajaran, tanpa memandang fakta atau fiksinya.

✍🏻 Penulis: Ahmad Wildan

Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa'i: Maha Guru, Musnid, Mutafannin[Syekhul-Maqari' Mesir  #2]........Seringkali kita mengenal t...
07/03/2026

Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa'i: Maha Guru, Musnid, Mutafannin
[Syekhul-Maqari' Mesir #2]........
Seringkali kita mengenal tokoh-tokoh besar seperti Syekh Muhammad Abduh atau Syekh Muhammad Bakhit Al-Muthi’i, namun jarang yang mengenal sosok "Maha Guru" di balik kebesaran mereka. Beliau adalah seorang Syekhul-Maqari', samudra ilmu yang menghabiskan 53 tahun hidupnya di serambi Al-Azhar, mendidik ribuan ulama dari berbagai penjuru dunia, termasuk ulama Nusantara.
Mari sejenak mengenal sosok mutafannin (pakar berbagai disiplin ilmu) yang ketelitiannya diakui oleh para ahli hadis dunia: Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa’i.

Nama & Nisbah
Namanya adalah Syihabuddin, Abu Al-'Abbas, Ahmad bin Mahjub Al-Fayyumi Al-Maliki Ar-Rifa’i Al-Azhari. Ia masyhur dikenal Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa'i.

Berikut penjelasan nisbahnya:
• Al-Fayyumi merujuk pada tempak lahirnya yaitu Provinsi Al-Fayyum.
• Al-Maliki merujuk mazhab fikih Imam Malik bin Anas.
• Ar-Rifa'i merujuk pada Tarekat Wali Kutub Sayid Ahmad Ar-Rifa'i. Kemudian nama tarekatnya Rifa'iyyah. Namun menurut Aiman Abdul'azhim Ruhayyim, nisbah Ar-Rifa'i tidak pasti merujuk pada tarekat yang masyhur itu, sebab dalam sumber biografinya tidak disebutkan satupun tentang kaitan Ahmad Mahjub dengan tarekat sedari kecil. Apalagi sebagian kecil penulis menyebut bahwa nisbah Ar-Rifa'i karena silsilahnya merujuk kepada sahabat Nabi bernama Rifa'ah bin Zaid bin Judzamah.
• Al-Azhari merujuk pada Masjid Al-Azhar, tempatnya belajar dan mengajar.

Kelahiran dan Masa Muda
Ia lahir di Desa Ash-Shawafnah, salah satu desa di Provinsi Al-Fayyum (sekarang masuk Kota Ithsa) sekitar tahun 1250 H (1834 M). Namun Ibrahim Ramzi menyebutkan bahwa Syekh Ahmad Mahjub berasal dari Desa Ma'sharih 'Arafah di Al-Fayyum. Kemudian saat kecil migrasi bersama bibinya (dari ayah) ke Kairo.

Ia tumbuh besar di Kairo, belajar Al-Qur'an di Masjid Al-Mu'ayyad, dan menetap (nyantri) di Masjid Al-Azhar.

Guru-Guru
Ketika di Al-Azhar ia berguru kepada para ulama besar Al-Azhar pada masanya, di antaranya:
• Syekh Muhammad 'Illisy
• Syekh Muhammad Al-Qalmawi
• Syekh Ibrahim As-Saqqa
• Syekh Mushthafa Al-Muballith
• Syekh Ahmad Al-Isma'ili
• Syekh Ahmad Minnatullah Al-Maliki, darinya jalur utama periwayatan hadis Ahmad Ar-Rifa'i
• Syekh Muhammad Al-Usymuni
• Syekh Muhammad Ad-Damanhuri
• Syekh Manshur Kassab Al-'Adawi
• Syekh Ahmad Kabuh Al-'Adawi

Dan tentunya masih banyak lagi masyayikh Al-Azhar lain.

Kepribadian
Ia mahir dalam mayoritas disiplin ilmu hingga layak menyandang maha guru para guru. Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa’i adalah seorang alim yang teliti (muhaqqiq), bertakwa, lagi saleh. Beliau senantiasa menjaga salat berjemaah, tekun dalam mengajar dan menasihati manusia, dan tidak mengenal rasa malas maupun bosan.

Beliau senantiasa mendawamkan membaca kitab-kitab hadis seperti Al-Muwaththa', Al-Shahihain (Bukhari & Muslim), dan Al-Kutub As-Sittah. Kemudian tidak luput juga cabang ilmu naqliyah (agama) maupun aqliyah (rasional).

Beliau sosok yang fasih ucapannya, mudah dalam memberi pemahaman, menjelaskan masalah-masalah dengan penjelasan terbaik. Beliau senantiasa menjauhi pengakuan manusia, kepura-puraan, dan kesombongan. Menghiasi diri dengan akhlak mulia, serta memegang teguh ketegasan dan kesungguhan dalam setiap urusannya. Secara fisik, beliau digambarkan bertubuh pendek dan lincah gerakannya.

Muhammad Al-Basyir Zhafir dalam Al-Yawaqit Ats-Tsaminah memberikan kesaksian:
Dan sungguh aku telah mendampingi beliau —semoga Allah merahmatinya— dalam pelajaran Tafsir Al-Khatib Asy-Syirbini, dan aku menghadiri pelajaran beliau pada Hasyiyah Syekh Muhammad Ad-Damanhuri 'ala Matn Al-Kafi dalam ilmu Arudh dan Qawafi.

Berikut sanad Syekh Ar-Rifa'i yang bersambung pada pemilik sanad agung.
• Shahih Al-Bukhari dari Syekh Mushthafa Al-Muballith, dari Syekh Muhammad bin Ali Asy-Syanawani pemilik tsabat.
• Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Syekh Muhammad 'Illisy, dari Syekh Al-Amir Ash-Shaghir, dari Syekh Al-Amir Al-Kabir pemilik tsabat.
• Sunan At-Tirmidzi dari Syekh Ibrahim As-Saqqa, dari Syekh Al-Amir Ash-Shaghir, dari Syekh Al-Amir Al-Kabir pemilik tsabat.

Bahkan Syekh Usamah Al-Azhari menyebutkan dalam Asanid Al-Mishriyyin bahwa Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa'i mempunyai naskah Sunan At-Tirmidzi dari cetakan Bulaq. Kemudian naskah itu ia tahkik, beri cara pelafalan yang benar, dan catatan pinggir. Naskah itu menurut Muhaddits Syekh Ahmad Syakir adalah naskah sumber versi cetakan yang paling kredibel. Ia menggunakan naskah versi Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa'i ini untuk men-takhrij Sunan At-Tirmidzi.

Jabatan
Syekh Ahmad Mahjub selama hidup pernah menempati posisi-posisi besar:
• Syekhur-Riwaq Al-Fayyumiyyah,
• Syekhul-Maqari' (dalam waktu lama),
• Anggota Majlis Idarah Masjid Al-Azhar

Beliau mengajar di Al-Azhar selama kurang lebih 53 tahun. Syekh Ahmad Mahjub setidaknya telah membacakan mengajarkan Mazhab Maliki di Al-Azhar berulang kali, kitab-kitab hadis utama berulang kali. Bahkan beliau tidak akan meninggalkan mengajar kecuali karena sakit.

Syekhul-Maqari' Pada Masanya
Zaki Mujahid dalam Al-A'lam Asy-Syarqiyyah menyebut:
Karena penguasaan mendalam Syekh Ahmad Mahjub Al-Rifa'i terhadap ilmu tajwid dan qira'at, ia dijuluki sebagai Syaikhul-Muqri’in (Guru Besar Ahli Qira'at). Namanya terus dikenang lama setelah wafatnya sebagai pemimpin lembaga pendidikan Al-Qur'an (maqra'ah) di Mesir alias Syekhul-Maqari' Al-Mishriyyah.

Bahkan, pernah terjadi sebuah perdebatan intelektual di kalangan ahli qiraat mengenai hukum menjamak qiraat (al-jam’u baina al-qira’at). Dalam perdebatan itu, salah seorang ahli qiraat menyerukan kepada Syekhul-Maqari' kala itu agar mencontoh dan meneladani Syekh Ahmad Ar-Rifa'i, mantan Syekhul-Maqari'.

Syekh Ahmad Mahjub dikenal tidak terlalu memedulikan dunia luar, ia sibuk dan tenggelam dalam ilmu dan mengajar. Hal ini menjadikannya mahir dalam banyak cabang ilmu. Bahkan menurut Muhammad Al-Basyir Zhafir, menjelaskan kitab Syarh Al-Sa’ad (kitab tingkat tinggi ilmu balagah) baginya terasa mudah seperti menjelaskan Syarh Al-Kafrawi (kitab nahwu tingkat pemula) jika dibandingkan dengan ulama lain.

Sang Maha Guru
Syekh Ahmad Mahjub saat itu merupakan maha guru Al-Azhar. Muhammad Al-Basyir Zhafir mengungkapkan, "Bagaimanapun kamu melemparkan pandanganmu pada ulama-ulama Al-Azhar, kamu tidak akan mendapati kecuali mereka berguru darinya (Syekh Ahmad Mahjub) atau dari salah satu muridnya. Kamu bisa saja mengecualikan Syekh Abdurrahman Asy-Syirbini dan Syekh Salim Al-Bisyri, lalu kamu katakan bahwa seluruh ulama Al-Azhar (saat itu) adalah murid-murid yang berhutang budi kepadanya dalam hal ilmu."

Murid Masyhur
Di antara murid Syekh Ahmad Mahjub yang terbesar dan termasyhur adalah:
• M***i Agung Syekh Muhammad Abduh,
• M***i Agung Syekh Muhammad Bakhit Al-Muthi'i,
• Syekhul-Azhar Muhammad Abu Al-Fadhl Al-Jizawi,
• Wakilul-Azhar Syekh Muhammad Hasanain Makhluf Al-'Adawi,
• Syekh Muhammad An-Najdi Asy-Syarqawi (Hai'ah Kibar Ulama),
• Syekh Muhammad Al-Basyir Zhafir
• Syekh Ahmad bin Syarqawi
• Syekh Yusuf Ad-Dijwi
• Syekh Thaha bin Yusuf Asy-Sya'bini Asy-Syafi'i
• Syekh Ahmad Nashr Al-'Adawi Al-Maliki
• Syekh Ahmad Nuwair Jad Al-Akhmimi Al-Maliki
• Syekh Muhammad Imam As-Saqqa
• Syekh Muhammad Muhammad Al-Halabi Asy-Syafi'i
• Syekh Abdurrahim As-Suyuthi Al-Jirjawi
• Syekh Ahmad Ad-Dilibsyani (Hai'ah Kibar Ulama)
• Syekh Yusuf Syalabi Asy-Syubrabukhumi
• Syekh Muhammad Ismail Farraj Al-Jiddawi
• Syekh Mushthafa bin Usman At-Thabba'

Murid Luar Mesir
Data menarik diungkapkan oleh Syekh Usamah Al-Azhari dalam Asanid Al-Mishriyyin. Di antara murid-murid Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa'i terdapat nama-nama besar luar Mesir berikut ini:
• Syekh Muhammad bin Ja'far Al-Kattani (ulama besar Maroko)
• Syekh Abdulhayy Al-Kattani (ulama besar Maroko)
• Syekh Abu Syu'aib Ad-Dukkali (Muhaddits Maroko)
• Syekh Abdulqadir Al-Qashshab Ad-Dir'athani (ulama besar Suriah)
• Syekh Muhammad bin Umar bin Bakran bin Silm Al-Hadhrami (ulama besar Hadhramaut)
• Syekh Mukhtar Asy-Syaksyuki At-Tharabulsi
• Syekh Abdulhamid Kudus (Indonesia)

Kandidat Syekhul-Azhar
Sebagian sumber menyebutkan bahwa Syekh Ar-Rifa'i sempat masuk bursa kandidat Syekhul-Azhar, menggantikan Syaikh Salim Al-Bisyri ketika pengunduran dirinya yang pertama. Pencalonannya bahkan mendahului pencalonan Syekh Ali Al-Biblawi, Naqibul-Asyraf (Ketua Persatuan Keturunan Nabi).

Namun, salah satu sahabat terdekat Khedive (penguasa Mesir), sangat mendukung pencalonan Syekh Ali Al-Biblawi agar jabatan Naqibul-Asyraf kosong. Dengan begitu, jabatan tersebut bisa diisi orang lain. Dan memang itulah yang kemudian terjadi. Syekh Ahmad Ar-Rifa'i akhirnya tidak jadi diangkat Syekhul-Azhar, dan Syekh Ali Al-Biblawi yang menduduki kursi itu.

Karya Tulis
Di tengah sibuknya mengajar kitab dan menyemak Al-Qur'an dari para muridnya, Syekh Ahmad Mahjub masih sempat menyusun karya-karya, di antaranya:
1. Hasyiyah 'ala Syarh Bahraq Al-Yamani 'ala Lamiyah Al-Af’al li Ibni Malik,
2. Taqrir 'ala Al-Muthawwal li Sa'duddin At-Taftazani,
3. Taqrir 'ala As-Sa’d,
4. Taqrir 'ala Al-Usymuni,
5. Taqrir 'ala Jam’il Jawami’,
6. Hasyiyah 'ala Manzhumah Ash-Shabban fi Al-'Arudh,
7. Taqrir 'ala Al-Maqulat,
8. Majmu' Khuthab wa Aurad

Dari uraian di atas, kita paham bahwa Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa'i bukan hanya seorang Syekhul-Maqari', tapi dikenal p**a fakih, muhaddits, musnid, pakar nahwu, sharaf, balagah, arudh, qawafi, dan ilmu-ilmu aqliyyat.

Yang paling utama di antara karyanya adalah partisipasi Syekh Ahmad Mahjub dalam memverifikasi dan menyunting Cetakan As-Sulthaniyyah (Edisi Sultan) kitab Al-Jami' As-Shahih karya Imam Al-Bukhari. Projek besar ini diperintahkan langsung oleh Sultan Abdulhamid II dan dikerjakan oleh Percetakan Al-Amiriyyah Mesir pada tahun 1313 H. Nama beliau tercantum dalam kata pengantar cetakan ini sebagai perwakilan dari ulama mazhab Maliki, di antara enam belas ulama besar Al-Azhar yang bertugas. Cetakan ini dianggap sebagai cetakan yang paling akurat serta paling teliti proses penyuntingannya, dan menjadi rujukan utama bagi cetakan-cetakan setelahnya hingga hari ini.

Wafat
Syekhul-Maqari' Ahmad Mahjub Ar-Rifa'i menghembuskan napas terakhir pada Senin, 18 Shafar 1325 H (1 April 1907 M). Beliau hidup selama kurang lebih 75 tahun (qamariah). Syekh Usamah Al-Azhari dalam Asanid Al-Mishriyyin menyebutkan pendapat lain yang diklaim dari salah satu murid Syekh Ahmad Mahjub Ar-Rifa'i. Wafatnya pada Zuhur hari Selasa, 11 hari tersisa dari bulan Shafar tahun 1325 H bertepatan pada 7 April 1907 M.

✍️ Penulis: Ahmad Wildan (Peneliti Sarkub Mesir)

[IKUTI KAMI]
Ingin tahu lebih banyak tentang Sejarah Mesir dan ulamanya? Pantau terus media Sarkub Mesir. Kami menyajikan fakta sejarah dari kitab-kitab turats untuk Anda.

Facebook Sarkub Mesir bisa diakses di bio kami.

Address

Cairo

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sarkub Mesir posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share