24/09/2025
Terjemahan Lengkap Pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Majelis Umum PBB ke-80 (23 September 2025)
Ringkasan Poin Utama (Bahasa Indonesia)
Pesan utama: Pidato berjudul Indonesia’s Call for Hope menyampaikan seruan optimisme dan solidaritas global.
Sejarah dan nilai universal: Prabowo menekankan kesetaraan manusia, menghubungkannya dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia dan Deklarasi Universal HAM.
Pengalaman Indonesia: Menyebut penderitaan kolonialisme, kemiskinan, dan apartheid; juga solidaritas dan dukungan PBB pasca-kemerdekaan.
Palestina: Menegaskan dukungan kuat Indonesia terhadap Palestina; menawarkan kontribusi hingga 20.000 pasukan penjaga perdamaian jika diputuskan PBB; hanya solusi dua negara yang sah.
Krisis global: Mengkritik perang, ketidakadilan, dan genosida; menyerukan penolakan terhadap doktrin “yang kuat menindas yang lemah.”
Ketahanan pangan: Indonesia kini swasembada beras, membantu negara lain termasuk Palestina; investasi pada pertanian cerdas iklim.
Perubahan iklim: Komitmen net zero 2060 (optimis lebih cepat), reforestasi 12 juta hektar, transisi dari fosil ke energi terbarukan.
Kemanusiaan dan anak-anak: Mengingatkan bahwa generasi muda sedang belajar dari pilihan para pemimpin; Gaza menjadi contoh bencana kemanusiaan yang harus dihentikan.
Multilateralisme: Menyerukan penguatan PBB sebagai wadah keadilan, perdamaian, dan kemajuan bagi semua, bukan hanya segelintir.
Harapan universal: Menyeru pemimpin dunia untuk menunjukkan kenegarawanan, kebijaksanaan, dan meninggalkan kebencian.
Penutup: Reiterasi dukungan penuh Indonesia bagi Solusi Dua Negara, hidup berdampingan dalam damai dan harmoni.
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Shalom, Salve, Om swastiastu,
Salam kebajikan, Rahayu, rahayu.
Ibu Presiden, para delegasi terhormat, para yang mulia,
Merupakan kehormatan besar berdiri di Aula Majelis Umum yang agung ini, di antara para pemimpin yang mewakili hampir seluruh umat manusia.
Kita berbeda dalam ras, agama, dan kebangsaan, namun kita berkumpul bersama sebagai satu keluarga manusia.
Kita hadir pertama dan terutama sebagai sesama manusia — masing-masing diciptakan setara, dikaruniai hak yang tidak dapat dicabut atas hidup, kebebasan, dan pencarian kebahagiaan.
Kata-kata Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat telah menginspirasi gerakan demokrasi lintas benua — termasuk Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, Revolusi Tiongkok, dan perjalanan Indonesia menuju kebebasan.
Hal itu juga melahirkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang diadopsi PBB tahun 1948.
“Semua manusia diciptakan setara” adalah keyakinan yang membuka jalan bagi kemakmuran dan martabat global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun di era kita sendiri — era keberhasilan sains dan teknologi, era yang mampu mengakhiri kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan — kita masih menghadapi tantangan dan ketidakpastian besar.
Kebodohan manusia, dipicu oleh ketakutan, rasisme, kebencian, penindasan, dan apartheid, mengancam masa depan bersama kita.
Bangsa saya mengenal rasa sakit ini. Selama berabad-abad, rakyat Indonesia hidup di bawah penjajahan dan penindasan. Kami diperlakukan lebih hina dari anjing di tanah air kami sendiri.
Kami tahu artinya ditolak keadilan, hidup dalam apartheid, hidup dalam kemiskinan, dan ditolak kesempatan yang sama.
Kami juga tahu apa arti solidaritas.
Dalam perjuangan kami untuk merdeka, dan dalam melawan penyakit, kelaparan, dan kemiskinan, PBB berdiri bersama Indonesia dan memberi kami bantuan penting.
Keputusan yang diambil di sini berdasarkan solidaritas manusia — oleh Dewan Keamanan dan Majelis ini — memberikan legitimasi internasional kepada Indonesia, membuka pintu, dan mendukung pembangunan awal kami melalui UNICEF, FAO, WHO, dan banyak lembaga PBB lainnya.
Karena itu, hari ini Indonesia berdiri di ambang kemakmuran bersama dan kesetaraan yang lebih besar.
Ibu Presiden, para yang mulia,
Dunia kita dirundung konflik, ketidakadilan, dan ketidakpastian yang makin dalam.
Setiap hari kita menyaksikan penderitaan, genosida, dan pengabaian terang-terangan terhadap hukum internasional dan martabat manusia.
Menghadapi tantangan ini, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh kehilangan harapan dan cita-cita kita. Kita harus semakin mendekat, bukan semakin menjauh. Bersama kita harus berjuang mewujudkan harapan kita.
PBB lahir dari abu Perang Dunia II yang merenggut puluhan juta jiwa. Didirikan untuk mengamankan perdamaian, keamanan, keadilan, dan kebebasan bagi semua.
Kami tetap berkomitmen pada internasionalisme, multilateralisme, dan setiap upaya yang memperkuat lembaga besar ini.
Hari ini, Indonesia lebih dekat dari sebelumnya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan mengakhiri kemiskinan dan kelaparan ekstrem — karena 78 tahun lalu majelis ini memilih untuk mendengarkan dan menegakkan keadilan sosial dan ekonomi.
Kami tidak akan pernah lupa.
Dan kami tidak akan pernah diam sementara rakyat Palestina ditolak keadilan dan legitimasi yang sama di aula ini.
Thucydides memperingatkan: “Yang kuat melakukan apa yang mereka bisa, yang lemah menderita apa yang harus mereka tanggung.” Kita harus menolak doktrin ini. PBB ada untuk menolak doktrin ini.
Hari ini Indonesia adalah salah satu kontributor terbesar pasukan penjaga perdamaian PBB. Kami akan terus melayani di mana pun perdamaian membutuhkan penjaga — bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata di lapangan.
Jika dan ketika Dewan Keamanan dan Majelis ini memutuskan, kami siap mengerahkan 20.000 atau lebih putra dan putri kami untuk membantu mengamankan perdamaian di Gaza atau tempat lain di Palestina sebagai bagian dari pasukan multilateral bersatu — sehingga solusi dua negara, perdamaian di Palestina dan Israel, dapat menjadi nyata, bukan hanya dibayangkan.
Ibu Presiden, para yang mulia,
Saya mengajukan kepada majelis ini sebuah pesan harapan dan optimisme — yang didasarkan pada tindakan dan pelaksanaan nyata.
Populasi dunia terus bertambah. Planet kita berada dalam tekanan. Krisis pangan, energi, dan air menghantui banyak bangsa.
Kami memilih menjawab tantangan ini langsung di dalam negeri dan membantu ke luar negeri kapan pun kami bisa.
Tahun ini, kami mencatat produksi beras dan cadangan pangan tertinggi dalam sejarah kami. Kami kini swasembada beras dan telah mengekspor beras ke negara-negara yang membutuhkan, termasuk memberi beras kepada Palestina.
Kami membangun rantai pasok pangan yang tangguh, memperkuat produktivitas petani, dan berinvestasi pada pertanian cerdas iklim untuk menjamin ketahanan pangan bagi anak-anak kami dan tetangga kami.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kami sudah merasakan langsung konsekuensi perubahan iklim, khususnya ancaman kenaikan permukaan laut. Kenyataan ini memaksa kami bertindak dengan segera dan penuh tekad.
Karena itu kami memilih menghadapi perubahan iklim — bukan dengan slogan, melainkan dengan langkah nyata yang terukur dan segera. Kami berkomitmen memenuhi kewajiban kami dalam Perjanjian Paris 2015.
Kami menargetkan net zero tahun 2060, dan kami yakin bisa mencapainya jauh lebih awal.
Kami bertekad mereforestasi lebih dari 12 juta hektar lahan terdegradasi, mengurangi kerusakan hutan, dan memberdayakan komunitas lokal dengan ketahanan dan pekerjaan hijau berkualitas untuk masa depan.
Indonesia sedang beralih tegas dari pembangunan berbasis bahan bakar fosil menuju pembangunan berbasis energi terbarukan. Mulai tahun depan, sebagian besar kapasitas pembangkit listrik tambahan kami akan berasal dari energi terbarukan.
Tujuan kami jelas: Mengangkat seluruh warga kami keluar dari kemiskinan dan menjadikan Indonesia pusat solusi ketahanan pangan, energi, dan air.
Ibu Presiden, para yang mulia,
Kita hidup di masa ketika kebencian dan kekerasan tampak sebagai suara paling nyaring. Namun di balik teriakan itu ada kebenaran yang lebih sunyi: setiap orang merindukan rasa aman, dihormati, mencintai, dan meninggalkan dunia yang lebih baik bagi anak-anaknya.
Anak-anak kita sedang menyaksikan. Mereka belajar kepemimpinan bukan dari buku pelajaran, tetapi dari pilihan kita.
Hari ini, situasi bencana di Gaza masih berlangsung di hadapan kita. Orang-orang tak berdosa menangis meminta pertolongan. Saat ini, jutaan anak menghadapi bahaya, trauma, dan kerusakan tubuh yang tidak dapat diperbaiki.
Apakah kita akan mengajarkan kepada mereka bahwa perbedaan harus berakhir dengan kekerasan dan perang? Dapatkah kita tetap diam ketika bencana kemanusiaan di Gaza terus berlanjut?
Kekerasan tidak boleh digunakan untuk menjawab konflik politik apa pun, karena kekerasan hanya melahirkan lebih banyak kekerasan.
Komunitas bangsa-bangsa ini harus mengambil sikap tegas untuk menghentikan bencana ini, atau dunia akan memasuki situasi berbahaya penuh perang tiada henti dan kekerasan yang meningkat.
Ibu Presiden, para yang mulia,
Kita harus berdiri untuk tatanan multilateral di mana perdamaian, kemakmuran, dan kemajuan bukan hak istimewa segelintir orang, melainkan hak semua orang.
Dengan PBB yang kuat, kita dapat membangun dunia di mana yang lemah tidak lagi “menderita apa yang harus mereka tanggung,” tetapi hidup dalam keadilan yang layak mereka terima.
Mari kita lanjutkan perjalanan besar kemanusiaan akan cita-cita — aspirasi tanpa pamrih yang melahirkan PBB.
Mari gunakan sains untuk membangun, bukan menghancurkan. Biarlah bangsa-bangsa yang bangkit mengangkat yang lain ketika mereka bangkit.
Saya yakin para pemimpin peradaban besar dunia — Barat, Timur, Amerika, Eropa, India, Persia, Tiongkok, dan Islam — akan bangkit memenuhi peran mereka sebagaimana dituntut sejarah.
Kita semua berharap para pemimpin dunia akan menunjukkan kenegarawanan, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan kerendahan hati dalam memimpin dunia.
Kami terinspirasi oleh peristiwa beberapa hari terakhir di mana negara-negara besar memilih berpihak pada sejarah — jalur moral yang tinggi, jalan kebenaran, jalan keadilan, jalan kemanusiaan, dan meninggalkan kebencian serta kekerasan.
Sebagai penutup, saya ingin menegaskan kembali dukungan penuh Indonesia bagi Solusi Dua Negara. Baik Palestina maupun Israel harus merdeka dan berdaulat, aman dan terlindungi dari ancaman maupun terorisme.
Saya ulangi, satu-satunya solusi adalah dua bangsa, dua keturunan Ibrahim hidup dalam rekonsiliasi, damai dan harmoni. Arab, Yahudi, Muslim, dan Kristen hidup bersama.
Indonesia berkomitmen untuk menjadi bagian dalam mewujudkan visi ini.
Mari kita bekerja menuju tujuan mulia ini.
Mari kita lanjutkan perjalanan harapan kemanusiaan — perjalanan yang dimulai oleh para pendahulu kita. Perjalanan yang harus kita selesaikan.
Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Shalom, Salve, Om shanti shanti shanti om.
Semoga damai menyertai kita semua.
https://gadebate.un.org/sites/default/files/gastatements/80/id_en.pdf
https://gadebate.un.org/en/80/indonesia
His Excellency Prabowo Subianto spoke at the General Debate of the 80th Session of the General Assembly