11/03/2017
Alun-Alun Bakal Direhab Seperti Alun-Alun Bandung ??
--
Revitalisssi alun-alun Purbalingga batal dilakukan tahun ini. Pemkab beralasan masih membutuhkan referensi model alun-alun yang representatif. Jika akan direvitalisasi maka harus maksimal. Bupati Purbalingga H Tasdi SH MM mengatakan, penundaan dilakukan karena tidak ingin tanggung-tanggung dalam merevitalisasi alun-alun Purbalingga. “Rencananya alun-alun Purbalingga akan kami bangun dengan dilengkapi basement seperti di Bandung. Lantai di bawah akan digunakan untuk relokasi PKL dan areal parkir. Sedangkan lantai atasnya digunakan sebagai tempat terbuka hijau,” jelasnya, kemarin (9/3).
Menurutnya, dengan konsep tersebut maka anggaran Rp 3,5 miliar yang sudah sempat dialokasikan sebelumnya tidak akan cukup. “Untuk merevitalisai alun-alun seperti konsep baru membutuhkan anggaran Rp 10 miliar hingga Rp 15 miliar. Jadi rencana revitalisasi alun-alun tahun ini akan kami tunda dulu. Kami akan mematangkan konsepnya terlebih dahulu,” lanjutnya. Tasdi menambahkan, rencananya revitalisasi alun-alun dengan konsep baru nantinya akan seperti alun-alun di Kota Bandung.
“Nanti akan dilengkapi air mancur dan fasilitas lainnya,” tambahnya. Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Purbalingga Setiyadi menambahkan, rencana awal memang akan direvitalisasi tahun ini. Namun bupati mengatakan akan melihat alun-alun kota Bandung sebagai referensi. “Kalau saat ini tetap direvitalisasi, dikhawatirkan tanggung dan hanya membuang waktu dan biaya saja,” ujarnya.
Ketua Komisi IV DPRD Purbalingga Sugimin mengatakan, tidak terlalu mempermasalahkan ditundanya revitalisasi alun-alun Purbalingga yang rencananya akan dilakukan tahun ini. Menurut Sugimin, sejak rencana revitalisasi alun-alun digulirkan, pihak dewan tidak mengetahui secara rinci detail anggaran akan digunakan untuk apa.
Diakui Sugimin, ada beberapa proyek yang semua dominan dari eksekutif. Sehingga DPRD yang ikut membahas APBD seakan tidak diberitahu secara detail. “Kami berharap proyek apapun atau misalnya akan ada revitalisasi alun-alun, dewan digandeng dalam teknis dan detail anggarannya,” tuturnya. Terkait dengan ditundanya revitalisasi alun-alun yang sudah dianggarkan di APBD 2017, Sugimin mengatakan, dewan akan segera memanggil DPUPR untuk menjelaskan beberapa proyek yang dilaksanakan tahun ini. Termasuk soal batalnya revitalisasi alun-alun.
Taman Alun-alun Bandung Kini Mulai Kumuh dan Bau Kaki
Keindahan Taman Alun-alun Bandung perlahan pudar. Kerusakan dan kekumuhan di beberapa sudut mulai terlihat. Bahkan, lantai taman yang terbuat dari rumput sintetis mulai mengeluarkan bau tak sedap dari kaki orang yang datang ke situ.
Kondisi itu dibenarkan Zulkarnain (39), salah seorang pegawai kebersihan Taman Alun-alun Bandung. Dia mengakatakan, bau kaki kerap muncul ketika kawasan alun-alun saat diguyur hujan.
"Biasanya bau itu muncul ketika karpet (rumput sintetis) terguyur hujan kemudian terpapar sinari matahari. Jadi baunya itu menguap," ucapnya.
Dia menjelaskan, para pegawai kebersihan sering menyemprotkan cuka dicampur air untuk membersihkan dan meghilangkan bau.
Namun, kondisi itu sulit dihindari, lantaran cuaca saat ini tak menentu.
"Biasanya disemprot sebulan sekali atau dua bulan sekali. Itu pun hanya di bagian samping atau pada bagian sambungan karpet. Ya tetap saja bau, susah sih," ujar Zulkarnain.
"Ini kan ruang publik, tiap hari banyak orang jadi cara membersihakannya hanya memungut sampah berserakan saja, kalau karpetnya ya dibiarkan saja," kata dia.
Lantaran bayaknya warga yang datang, rumput sintetis yang semula berwarna hijau, kini mulai kusam. Karpet pun mulai berdebu dan berpotensi menjadi sarang penyakit.
"Memang kotor sih, ada yang buang sampah, buang ludah sampai kotoran kucing ada. Biasanya kalau sudah disemprot pakai air cuka, s**a keluar binatang seperti serangga gitu," ujar Zulkarnain.
Sikap masyarakat yang abai dengan kebersihan pun turut menjadi pemicu mulai kumuhnya Taman Alun-alun.
"Justru sekarang banyak yang melanggar aturan. Kebanyakan yang buang sampah seperti tisu, bungkus nasi, tulang daging, tusuk sate, tusuk gigi. Kalau pas pertama memang sadar, tapi sekarang malah makin banyak yang melanggar," ucap Zul.
“Semua kegiatan ini harus diawasi dan dipantau agar semua tepat sasaran dan mutu. Imbasnya akan ke masyarakat. Jadi sejak dini harus dilakukan koordinasi intensif soal proyek yang akan direaalisasikan tahun ini,” tegasnya. (tya/amr/sus)
Radarbanyumas