22/05/2026
Wardah Itu Lahir dari Pabrik yang Pernah Jadi Abu
Kalau kamu pernah merasa kerja keras kamu tidak dihargai, mungkin kamu perlu duduk sebentar dan dengarkan cerita perempuan ini.
Namanya Nurhayati Subakat. Lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat. Lulus sebagai lulusan terbaik Farmasi ITB tahun 1975. Bayangkan β lulusan terbaik dari kampus paling bergengsi di Indonesia, tapi jalan hidupnya setelah itu sama sekali tidak mulus.
Ia sempat mencoba melamar jadi dosen, tapi ditolak. Kemudian bekerja di apotek di Tasikmalaya, tapi ternyata tidak digaji. Akhirnya ia pulang kampung, bekerja sebagai apoteker honorer di rumah sakit umum dengan gaji Rp20.000 per bulan β di bawah UMR saat itu.
Katanya dalam sebuah wawancara, "Itu saya ingat honor saya cuma Rp20 ribu padahal seorang apoteker. Saya ingat itu dapat sekitar 80 buah nasi bungkus, sekarang sekitar Rp1,6 juta lah. Bagi saya enggak masalah, kerja aja yang baik."
Kalimat terakhir itu yang selalu bikin saya berhenti sejenak setiap kali membacanya. Kerja aja yang baik. Bukan mengeluh. Bukan menyalahkan keadaan. Dia terima, dia jalani, dan dia terus bergerak.
Beberapa waktu kemudian, ia hijrah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan kosmetik Wella sebagai staf pengendalian mutu. Kariernya mulai menanjak. Tapi setelah anak ketiga lahir, ia memilih keluar. Bukan karena menyerah β tapi karena ada sesuatu yang lebih besar yang ingin ia bangun sendiri.
Pada tahun 1985, Nurhayati memberanikan diri membuka usaha kosmetik sendiri dengan nama PT Pusaka Tradisi Ibu. Mulanya hanya produk sampo dengan merek Putri, dijual dari salon ke salon di pinggiran Tangerang. Pelan-pelan, bisnis kecil itu tumbuh.
Tapi kemudian datanglah ujian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pada suatu titik, pabrik kecil miliknya terbakar habis. Semua aset hilang, semua hasil kerja keras bertahun-tahun lenyap dalam semalam. Utang bank masih menggantung. Gaji karyawan belum dibayar.
Di titik itu, banyak orang mungkin akan menutup segalanya dan menyerah.
Tapi Bu Yati β begitu ia biasa dipanggil β tidak. Suaminya memberikan tabungan mereka sebagai modal untuk mulai lagi. Uang itu ia pakai pertama-tama untuk membayar gaji karyawannya, baru kemudian membangun pabrik dari awal.
Ada yang bilang keputusan terbesar seorang pemimpin bukan saat ia sukses β tapi saat ia memilih untuk tidak melarikan diri ketika segalanya runtuh.
Dan dari reruntuhan itulah, dengan pikiran yang lebih jernih dan hati yang sudah ditempa, pada tahun 1995 ia meluncurkan Wardah β kosmetik halal pertama di Indonesia, untuk perempuan muslimah yang ingin tampil cantik tanpa was-was soal kehalalan produk.
Ia memperkenalkan produk kecantikannya dari pintu ke pintu, masuk ke pesantren-pesantren, menggunakan skema pemasaran bertingkat. Tidak ada iklan besar-besaran di awal. Tidak ada modal miliaran. Hanya kaki yang terus melangkah dan keyakinan bahwa ada pasar yang selama ini diabaikan β perempuan berhijab yang ingin produk yang aman dan halal.
Ternyata pasar itu besar sekali.
Di tahun 2017, perusahaannya menguasai sekitar 30% pasar produk kecantikan di Indonesia. Di tahun 2015 saja, Wardah sudah mampu meraup omzet sekitar Rp200 miliar per bulan. Kini perusahaannya memiliki lebih dari 14.000 karyawan.
Ia dinobatkan Forbes sebagai salah satu dari 25 pebisnis wanita paling berpengaruh di Asia. Ia juga menjadi wanita pertama lulusan ITB yang menerima gelar Doktor Kehormatan dari almamaternya sendiri.
Dan yang paling saya s**a? Sampai sekarang, ia dikenal sebagai sosok yang jarang tampil glamor meskipun memiliki kekayaan yang sangat melimpah. Tidak ada flexing. Tidak ada pameran kemewahan. Hanya kerja, dan kerja, dan kerja.
Saya tidak tahu kondisimu hari ini seperti apa. Mungkin kamu lagi di titik lelah. Mungkin usahamu baru saja mengalami sesuatu yang terasa seperti kebakaran β bukan secara harfiah, tapi kamu tahu rasanya.
Tapi kalau perempuan dari Padang Panjang itu bisa bangkit dari pabrik yang benar-benar jadi abu, maka kita β dengan segala kondisi kita masing-masing β juga punya kesempatan yang sama.
Wardah itu bukan hanya soal lipstik halal. Wardah adalah bukti bahwa yang paling gelap sekalipun bisa jadi awal dari sesuatu yang paling indah.