Warung Nahdliyyin

Warung Nahdliyyin Pusat Informasi, Tempat Berkumpul, Wadah Diskusi Nahdliyyin Se Indonesia Raya. Mengusung nilai-nilai

Wes tau ping piro riko mrene lorr?Makam salah sijine murit kanjeng sunan bonang tuban iki.Seorang panglima perang kesult...
04/05/2026

Wes tau ping piro riko mrene lorr?
Makam salah sijine murit kanjeng sunan bonang tuban iki.
Seorang panglima perang kesultanan mataram sing ahire menetap nuk tuban, sing dikenal sebagai pangeran tundung musuh mergo suakti, kendel lan iso ngusir musuh sing ape nyerang tuban waktu semono.
Jengene raden gagar manik yoiku anak keduane sultan sedo krapyak mataram kancane empu supo sing jago nggawe keris sakti.
Makame iki manggon nuk desa tasikmadu kec.palang kab.tuban, beliau dianggap keramat oleh masyarakat setempat, lan saiki dadi nggon wisata religi.
Au wes tau munajat nuk njero pesarehane kene✌️

Airmataku mengalir
25/12/2025

Airmataku mengalir

Hasil Musyawarah Kubro Lirboyo “Meneguhkan Keutuhan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama”, di Kediri, 21 Desember 2025, sebagai ber...
21/12/2025

Hasil Musyawarah Kubro Lirboyo “Meneguhkan Keutuhan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama”, di Kediri, 21 Desember 2025, sebagai berikut :

1. Memberikan waktu 3 (tiga) hari kepada Rais 'Aam dan Ketum PBNU untuk menempuh Islah.

2. Apabila Islah tidak dipenuhi, diberikan waktu 1 (satu) hari untuk menyerahkan pelaksanaan Muktamar kepada Mustasyar.

3. Apabila poin 1 dan 2 tidak dipenuhi, maka mandat Muktamar dicabut kembali.

4. Menyelenggarakan Muktamar dengan menyerahkan kepada PWNU untuk menggalang surat permohonan Muktamar dari PCNU-PCNU.

5. Pelaksanaan Muktamar ditetapkan pada bulan Syawal, sebelum keberangkatan haji.

Once Upon a Time, Kiai-Kiai Sepuh Meng Absen Ketua Umum PBNU:"Hadir Kyai..."Di Lirboyo, 21 Desember 2025, ada pelajaran ...
21/12/2025

Once Upon a Time, Kiai-Kiai Sepuh Meng Absen Ketua Umum PBNU:

"Hadir Kyai..."

Di Lirboyo, 21 Desember 2025, ada pelajaran sunyi tentang adab, sanad, dan batas kekuasaan. Tentang bagaimana otoritas moral para kiai sepuh pernah berdiri di atas jabatan struktural.

Di ruang itulah, Ketua Umum PBNU bukan dipanggil sebagai penguasa, melainkan dihadirkan sebagai santri di hadapan para masyayikh.

Sejarah tidak selalu berteriak.
Kadang ia hanya berdehem,

lalu mencatat siapa yang paham diri… dan siapa yang lupa posisi.
____
Lirboyo | 21 Desember 2025

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menegaskan, Penjabat (PJ) Ketua Umum yang disebutkan bakal diumumkan dalam rapat ple...
10/12/2025

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menegaskan, Penjabat (PJ) Ketua Umum yang disebutkan bakal diumumkan dalam rapat pleno malam ini tidak sah. Pasalnya, pelaksanaan pleno itu sendiri sudah tidak sah menurut AD/ART PBNU.

“Kalau plenonya enggak sah itu. masa ya (PJ Ketum) bisa dianggap sah, gitu lho,” ujar Gus Yahya.

Ia menegaskan, dalam tubuh PBNU tidak mungkin ada dua Ketua Umum. Menurut dia, pleno tidak bisa hanya diadakan oleh jajaran Syuriyah secara mandiri. Tapi, harus melibatkan jajaran Tanfidziyah.

“Yang mengundang hanya Syuriyah, ini ndak bisa, karena harus, pleno itu harus diundang oleh Syuriyah dan Tanfidziyah,” lanjutnya.

10/12/2025
"Sampeyan kan sudah lama di NU, masak ndak tahu. Di NU ribut-ribut itu biasa, namanya orang banyak, kepentingannya juga ...
27/11/2025

"Sampeyan kan sudah lama di NU, masak ndak tahu. Di NU ribut-ribut itu biasa, namanya orang banyak, kepentingannya juga banyak," seloroh Gus Mus.

Lalu, "Sampeyan ndak usah cemas. Santai saja. NU itu milik Gusti Allah, sudah ada yang ngurus, ndak usah khawatir," kata Gus Mus ketika dimintai tanggapan oleh Gus Kikin terkait konflik yang terjadi di tubuh NU saat ini.

============================

Silakan kunjungi HWMI.or.id Untuk membaca postingan menarik.

PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta-10430 (Kontak dan Email tertera di pojok kanan atas)Judul...
26/11/2025

PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta-10430 (Kontak dan Email tertera di pojok kanan atas)

Judul Surat
SURAT EDARAN Nomor: 4795/PB.01/A.II.10.01/11/2025 (Nomor agak buram, estimasi pembacaan)

TENTANG TINDAK LANJUT KEPUTUSAN RAPAT HARIAN SYURIYAH PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA

Kepada Yang Terhormat,

Pengurus Besar Pleno

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama se-Indonesia

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se-Indonesia

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama

Isi Halaman 1
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Teriring doa serta salam, semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan pertolongan kepada kita. Amin.

Menindaklanjuti hasil keputusan Rapat Harian Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada tanggal 20 Jumadil Ula 1447 H / 20 November 2025 M di Jakarta sebagaimana Risalah Rapat terlampir, serta berdasarkan ketentuan Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama yang berlaku, serta Peraturan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Nomor 01/2023 tentang Pedoman Pemberhentian Pengurus, Pergantian Pengurus Antar Waktu, dan Pelimpahan Fungsi Jabatan Pada Perkumpulan Nahdlatul Ulama, melalui surat ini kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut:

Bahwa pada tanggal 21 November 2025, bertempat di Kamar 209 Hotel Mercure Ancol, Jakarta, KH. Afifuddin Muhajir selaku Wakil Rais Aam PBNU telah menyerahkan secara langsung kepada KH. Yahya Cholil Staquf dokumen Risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU tanggal 20 November 2025 yang telah ditandatangani oleh Rais Aam PBNU selaku Pimpinan Rapat. Namun demikian, KH. Yahya Cholil Staquf kemudian menyerahkan kembali Risalah Rapat tersebut kepada KH. Afifuddin Muhajir.

Bahwa pada tanggal 23 November 2025 pukul 00.45 WIB (sistem Digdaya Persuratan), KH. Yahya Cholil Staquf telah menerima dan membaca surat Nomor [Nomor Buram] tertanggal 01 Jumadil Akhir 1447 H / 22 November 2025 M perihal Penyampaian Hasil Keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU dengan Lampiran Risalah Rapat Harian Syuriyah (bukti terlampir). Dengan demikian, maka diktum kelima Kesimpulan Keputusan Rapat Harian Syuriyah sebagaimana dimaksud dinyatakan telah terpenuhi.

Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada butir 2 di atas, maka KH. Yahya Cholil Staquf tidak lagi berstatus sebagai Ketua Umum PBNU terhitung mulai tanggal 26 November 2025 pukul 00.45 WIB.

Bahwa berdasarkan butir 3 di atas, maka KH. Yahya Cholil Staquf tidak lagi memiliki wewenang dan hak untuk menggunakan atribut, fasilitas dan/atau hal-hal yang melekat kepada jabatan Ketua Umum PBNU maupun bertindak untuk dan atas nama Perkumpulan Nahdlatul Ulama terhitung mulai tanggal... (berlanjut ke halaman 2)

Isi Halaman 2.. 26 November 2025 pukul 00.45 WIB.

Bahwa untuk memenuhi ketentuan dan mekanisme yang diatur dalam Pasal 7 Ayat (4) Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 10 Tahun 2023 tentang Rapat, Pasal 6 huruf a dan b Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 13 Tahun 2023 tentang Pemberhentian Fungsionaris, Pergantian Antar Waktu dan Pelimpahan Fungsi Jabatan, serta Peraturan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Nomor 01/XII/2023 tentang Pedoman Pemberhentian Pengurus, Pergantian Pengurus Antar Waktu, dan Pelimpahan Fungsi Jabatan Pada Perkumpulan Nahdlatul Ulama, maka Pengurus Besar Nahdlatul Ulama akan segera menggelar Rapat Pleno.

Untuk selanjutnya, selama kekosongan jabatan Ketua Umum PBNU sebagaimana dimaksud, maka kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sepenuhnya berada di tangan Rais Aam selaku Pimpinan Tertinggi Nahdlatul Ulama.

Dalam hal KH. Yahya Cholil Staquf memiliki keberatan terhadap keputusan tersebut, maka dapat menggunakan hak untuk mengajukan permohonan kepada Majelis Tahkim Nahdlatul Ulama sesuai dengan mekanisme yang telah diatur dalam Peraturan Perkumpulan Nahdlatul Ulama Nomor 14 Tahun 2023 tentang Penyelesaian Perselisihan Internal.

Demikian surat edaran ini kami sampaikan untuk dijadikan pedoman.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Tharieq Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dikeluarkan di: Jakarta Pada tanggal: 04 Jumadil Akhirah 1447 H 25 November 2025 M

(Tanda Tangan Kiri) Dr. (HC). KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag Wakil Rais Aam

(Tanda Tangan Kanan) KH. Ahmad Tajul Mafakhir Katib

Tembusan:

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (sebagai laporan)

News Breaking
21/11/2025

News Breaking

Sejarah Tahlilan di NusantaraImam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata, “…dan aku membenci al-ma’tam, yaitu p...
02/11/2025

Sejarah Tahlilan di Nusantara

Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata,

“…dan aku membenci al-ma’tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat.” [al-Umm (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1393) juz I, hal 279]

Tapi ketika Islam datang ke tanah Jawa, menghadapi kuatnya adat istiadat yang telah mengakar. Masyarakat begitu berat untuk menerima islam. Mau masuk Islam tapi merasa merasa berat karena harus kehilangan adat istiadat seperti selamatan-selamatan, dll.. Hal ini mirip beratnya masyarakat Romawi ketika disuruh masuk Nasrani tapi tidak mau kehilangan perayaan kelahiran anak Dewa Matahari 25 Desember, yang mana sampe sekarang ritual Natal masih dipertahankan Nasrani padahal ia bukan ajaran Nabi Isa.

__

Dikutip dalam sebuah naskah kuno tentang jawa yang tersimpan di musium Leiden, Sunan Ampel memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan ritual selamatan tersebut :

Sunan Ampel berkata,

“Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk bid’ah”

Sunan Kalijogo menjawab,

“Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu.

__

Dalam buku Kisah dan Ajaran Wali Songo yang ditulis H. Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang Surabaya juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini. Dimana Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Muria (kaum yang mempertahankan tradisi) berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat (kaum yang berusaha menyebarkan Islam yang murni)

Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang, dan gamelan dimasuki rasa keislaman.

Sunan Ampel berpandangan lain :

“Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?”

Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada yang menyempurnakannya. (Lihat hal 41, 64)

----

Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni, baik tentang aqidah maupun ibadah. Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisme ajaran Hindu dan Budha.

Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga masih menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam. Sampai saat ini budaya itu masih ada di masyarakat kita, seperti sekatenan, ruwatan, shalawatan, tahlilan [selamatan kematian], upacara tujuh bulanan, dll..

Pendekatan Sosial budaya dipelopori oleh Sunan Kalijaga, putra Tumenggung Wilwatika, Adipati Majapahit Tuban. Pendekatan sosial budaya yang dilakukan oleh aliran Tuban memang cukup efektif, misalnya Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit untuk menarik masyarakat jawa yang waktu itu sangat menyenangi wayang kulit.

Dengan cara dan sikap Sunan Kalijaga yang sedemikian rupa, maka ia satu-satunya Wali dari Sembilan Wali di Jawa yang dianggap benar-benar wali oleh golongan kejawen (Islam Kejawen/abangan), karena Sunan Kalijaga adalah satu-satunya wali yang berasal dari penduduk asli Jawa (pribumi).

[Sumber : Abdul Qadir Jailani , Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, hal. 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu dan Muhammad Umar Jiau al Haq, M.Ag, Syahadatain Syarat Utama Tegaknya Syariat Islam, hal. 51-54, Kata Pengantar Muhammad Arifin Ilham (Pimpinan Majlis Adz Zikra), Penerbit Bina Biladi Press.]

----

Dari sekelumit gambaran sejarah diatas, terlihat jelas bahwa sebenarnya kegiatan selamatan, bersaji, sekatenan, ruwatan, tahlilan, dll tsb bukan berasal dari ajaran Islam, ia adalah bid'ah, para walisongo sendiri yang mengatakan demikian. Tapi, karena ingin agar Islam bisa lebih mudah diterima masyrakat pada masa itu, ahirnya para wali (khususnya Sunan Kalijaga) mengambil "kebijakan" lain.

Tentunya kita tetap menghargai perjuangan Sunan Kali Jaga dan para wali lainnya pada waktu itu, namun yang perlu dicatat bahwa para wali songo tsb sudah mengatakan dan mengingatkan akan bid'ahnya budaya dan tradisi-tradisi tsb, bahkan Sunan Kali Jaga sendiri yang mengatakan,

“Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu”

Jelas sekali para wali Songo sendiri yang menginginkan agar suatu saat budaya dan tradisi semisal tahlilan dihilangkan.

__

Sunan Bonang pernah berkata,

“Ee..mitraningsun! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“ (Lihat Het Book van Mbonang)

Artinya : "Wahai saudaraku! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan bid’ah"

Het Book van Mbonang adalah sebuah dokumen yang menjadi sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Dr. Da Rinkers tahun 1910, dan Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1935.

Semoga bermanfaat..

Wallahu Ta'ala A'lam Bish showaab..

Anti Syirik Bid'ah Churafat

“Saya masuk Barisan Hizbullah. Jumlah kami ribuan di setiap desa, yang kami punya untuk melawan Belanda hanyalah bambu r...
26/10/2025

“Saya masuk Barisan Hizbullah. Jumlah kami ribuan di setiap desa, yang kami punya untuk melawan Belanda hanyalah bambu runcing.” Kata Toto anak seorang petani. Demikian catatan Van Reybrouck, tanpa bambu tidak ada revolusi di Indonesia. Ia melihat bambu yang tumbuh di desa-desa, tak sekadar alat membunuh, tapi bisa dipakai untuk membuat rumah, mengangkut air dan memasak, alat musik hingga pakaian.

Jika kita mengenal Kiai Subkhi di Jawa Tengah, ada Kiai Manshur di Blitar. Bambu-bambu itu dimandikan di dalam kolam dengan bacaan Dalail Khoirot untuk dibawa ke Surabaya. Dan Mbah Hasyim dengan Reolusi Jihad-nya, para kiai yang lain seperti Mbah Wahab, menunggu “Singa dari Jawa Barat” Kiai Abbas sebelum meletus perang melawan sekutu 10 November.

Inggris, Belanda beserta NICA-nya kelelahan kalah. Ketulusan kiai mencintai tanah airnya telah berhasil memukul mundur sekutu. Pasukan terjun payung yang mengibarkan kembali bendera merah putih biru di Hotel Oranje sia-sia. Pasukan santri bergiliran merobek bagian bendera berwarna biru. Kedaulatan bangsa dalam genggaman.

Dan kini persekutuan tak melulu berbentuk fisik yang menjajah. Ia bisa menyelip dalam balutan transaksi ekonomi, informasi hingga sendi-sendi kehidupan lainnya. Propaganda yang mengkerdilkan dan mendistorsikan kian banyak nilai luhur, termasuk peran pesantren di dalamnya.

Resolusi Jihad yang mengakar pada agama, kecintaan pada tanah air dan dijulangkan batang bambu runcing, kudu tetap ada dalam sanubari untuk melawan persekutuan jahat lainnya yang berjubah penuh pesona, tapi menikam, mendistorsi, dan melucuti kearifan pesantren, santri dan kiai.

Address

Tegal
62272

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Warung Nahdliyyin posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share