Syiar Pemuda Masjid

Syiar Pemuda Masjid Bersama Di Dalam Ketaatan
Bersatu Untuk Sebuah Perubahan

Setiap kita pasti punya kesibukan di luar jam kerja(penghidupan), yang membedakan adalah nilai dari kesibukannyaAda yang...
20/05/2023

Setiap kita pasti punya kesibukan di luar jam kerja(penghidupan), yang membedakan adalah nilai dari kesibukannya

Ada yang sibuk dakwah, ada yang sibuk ngaji(belajar), ada yang sibuk gosip, ada yang sibuk mancing, ada yang sibuk nongkrong untuk ketawa ketiwi, bahkan remaja yang introvet pun punya kesibukan main game

Maka pastikan kesibukan kita membawa kebaikan akhirat & dunia.

"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran"
(QS. Al-'Asr [103]: Ayat 1-3)

Copras CapresBelum kah macan asia yang dulu sampai menggebrak meja podium yang akhirnya mengeong seperti kucing itu menj...
14/05/2023

Copras Capres

Belum kah macan asia yang dulu sampai menggebrak meja podium yang akhirnya mengeong seperti kucing itu menjadi pelajaran..?

Kenapa kita terus saja sibuk memikirkan siapa petugas partai yang mau duduk di kursi RI 1

Di balik copras capres itu ada partai, di balik partai itu ada oligarki.


MENGOCEHLAH! AGAR INDONESIA TIDAK SEPERTI GRANADA________________________ Oleh : Satria Hadi LubisApa yang menyebabkan k...
05/09/2022

MENGOCEHLAH! AGAR INDONESIA TIDAK SEPERTI GRANADA
________________________
Oleh : Satria Hadi Lubis

Apa yang menyebabkan kerajaan Granada, sebagai salah satu kerajaan Islam terkuat di Eropa, akhirnya runtuh?

Jawaban pastinya adalah karena 'serangan musuh'.
Tapi serangan musuh tentu tidak serta merta dilakukan begitu saja. Banyak faktor yang harus diperhitungkan. Salah satunya adalah ‘timing’ yang pas.

Untuk mengetahui kapan ‘timing’ yang pas, raja Ferdinand dari Aragon perlu mengutus mata².

Yang dilakukan sang mata² cukup sederhana : pantau ‘ocehan’ masyarakat Granada.
Satu waktu ia melihat anak kecil menangis. Dihampirinya sang bocah dan bertanya tentang apa yang menyebabkannya menangis?.
“Aku menangis karena anak panahku tidak tepat sasaran”, jawab sang bocah.
“Bukankah kamu bisa mencobanya lagi?”, kata sang mata².
Jawaban sang bocah cukup mengejutkan. “Jika satu anak panah saya gagal mengenai musuh, apa mungkin musuh memberi saya kesempatan untuk memanahnya lagi?”. Mendengar ‘ocehan’ bocah tsb, sang mata2 menyarankan raja Ferdinand untuk tidak menyerang Granada saat ini. Anak kecilnya aja begitu, gimana orang-orang tuanya?

Beberapa tahun kemudian sang mata² kembali ke Granada dan dilihatnya seorang dewasa yang sedang menangis. “Mengapa kau menangis?” tanya si mata².
“Kekasihku (wanita yang dia cintai) pergi meninggalkanku”, jawab si orang dewasa tsb. Maka sang mata² merekomendasikan inilah ‘timing’ yang tepat untuk melakukan penyerangan.

Tidak butuh lama, Granada sebagai benteng terakhir kaum muslimin di Eropa, dapat dikuasai dengan mudah.

Puncak malapetaka bagi kaum muslimin Granada adalah dengan dibentuknya lembaga Inguisition (inkuisisi, pengadilan yang dibentuk oleh dewan gereja). Pilihannya hanya dua : menerima *ajaran Katholik* atau *diBantai*.

Maka tamatlah riwayat kaum muslimin di Andalusia, dan Eropa secara keseluruhan.

Mungkinkah tragedi Granada terulang di negeri kita? *Bisa iya, bisa tidak.* Tergantung apa ‘ocehan’ kita.

Saya teringat sebuah ceramah dari ‘Da’i Sejuta Ummat’, (alm) KH. Zainuddin MZ. Beliau katakan: “Allah memang menjamin bahwa Islam akan terus ada di muka bumi hingga akhir zaman; namun, Dia tidak menjamin bahwa Islam akan terus ada di Indonesia.”

Seperti mata² di Granada dulu, musuh² Islam saat ini juga sedang memata-matai kita. Menunggu ‘timing’ yang pas.

Bahkan kini mereka tak perlu repot² terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui isi ocehan dan obrolan kita. Cukup pantau Sosial Media dan menyimak tema² apa yg menjadi _concern_ Kaum Muslimin.

Untuk saat ini bolehlah kita bernafas lega. Namun tetap bersiaga. Bahwa disaat MU menang telak dari Chelsea, atau saat Indonesia Juara AFF kita masih ‘ngoceh’ soal penindasan saudara kita di Suriah dan Palestina.

Bahwa tatkala valentino Rossi terjatuh, kita masih ‘ngoceh’ ttg Al-Qur’an yang dinistakan.

Ini tanda dan menjadi pesan bagi musuh bhw Ghiroh Jihad itu belum luntur dari dada kaum muslimin.

Apalagi kemudian terbukti bahwa kita tidak sekedar besar ngoceh di sosial media, tapi juga wujud didunia nyata.

Maka jangan anggap remeh meski sekedar ‘mengoceh’ di dunia maya untuk Membela Islam. Karena bisa jadi inilah yang membuat mereka berpikir ulang untuk menyerang kita.

TERNYATA GADIS CILIK SHOLEHAH CANTIK ITU BERNAMA WAFA :: 😍Wafa adalah seorang gadis kecil berumur 7 tahun. Saat ini, dia...
05/09/2022

TERNYATA GADIS CILIK SHOLEHAH CANTIK ITU BERNAMA WAFA :: 😍

Wafa adalah seorang gadis kecil berumur 7 tahun. Saat ini, dia bersekolah di Albany Rise Primary School, Melbourne, Australia. Seperti anak-anak seusianya, Wafa juga masih didominasi sifat kekanak-kanakan. Namun di balik itu semua, ada yang istimewa pada gadis kecil ini.

Dia satu-satunya murid di sekolahnya yang mengenakan jilbab. Padahal Wafa bersekolah di public school, bukan di sekolah Islami. Gadis kecil ini tak pernah mau melepas jilbabnya meski saat ini tidak tinggal di Indonesia. Tak ada paksaan dari orang tuanya untuk mengenakan jilbab. Meski berada di lingkungan asing, dengan resiko akan ‘diasingkan’ oleh teman-temannya, dia tetap tidak peduli dan kokoh dengan pendiriannya.

Suatu hari, Australia sedang dilanda heatwave. Waktu itu suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Karena kasihan, guru Wafa memintanya untuk membuka jilbab agar tidak terlalu kepanasan. Namun dengan tenang Wafa menjawab, “Its okay, Miss. I’m alright,” Sang guru pun sampai menyampaikan kekaguman atas kegigihan Wafa.

Di kesempatan lain, Wafa ditanya oleh beberapa temannya. “Why do you wear that thing on your head?”

Dengan percaya diri sebagai seorang muslim, dia menjawab, “Because I’m muslim,”

Sang teman rupanya masih penasaran dan bertanya lagi, “But what you’re wearing that for?”

Kembali dengan kepercayaan diri yang tinggi, Wafa menjawab,”Well, because I’m muslim girl and all muslim girls are not allowed to show their hair to other people, besides their own family.”

Bisa kita bayangkan betapa takjubnya teman-teman Wafa ketika mendengar jawaban ini.

Entah bagaimana caranya gadis kecil ini memiliki kepercayaan diri dan kebanggaan sebagai seorang muslim. Biasanya anak seusianya sangat takut dianggap berbeda dari teman-temannya. Akan tetapi tidak untuk Wafa. Dia sangat percaya diri dan bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Tempat yang asing bagi dirinya pun semakin menempanya untuk tetap bangga sebagai seorang muslim.

Kegigihan Wafa ini rupanya juga diperhatikan oleh guru-gurunya. Dia pun terpilih sebagai student of the week di minggu pertama dia masuk ke sekolah tersebut. Kisah tentang Wafa yang dikutip dari buku Character Building, karangan Yudha Kurniawan SP dan Ir Tri Puji Hindarsih tersebut sungguh menginspirasi kita bahwa identitas sebagai seorang muslim adalah suatu kebanggaan.

Di negeri yang mayoritas non muslim, Wafa mampu menunjukkan kebanggan tersebut. Sungguh ironis jika di negeri yang mayoritas muslim ini, kita justru malu menunjukkan identitas diri kita sebagai seorang muslim. Wafa juga memberi pelajaran pada kita bahwa usia yang masih dini bukanlah halangan untuk menanamkan rasa bangga sebagai seorang muslim kepada anak.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Antara lain:
Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi muslim di dada mereka. Sejak awal, kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang muslim, sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar pada agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan penuh percaya diri. “Isyhadu bi anna muslimun.
Saksikan bahwa aku adalah seorang muslim!”

Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitas sebagai seorang muslim, baik yang bersifat fisik, mental, maupun cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam.

Bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, melainkan untuk menemukan apa yang sudah dilakukan generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al wala’ wal bara’ sehingga memperkuat percaya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah mereka untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi berpapasan dengan orang non muslim. Kita tidak bersikap arogan.

Kita hanya menunjukkan percaya diri kita sehingga tidak menyingkir karena gemetar. Semoga kita senantiasa istiqamah dan bangga dengan identitas sebagai seorang muslim. Seperti halnya Wafa dalam kisah di atas. Kebanggaannya sebagai seorang muslim bak sebuah mahkota yang bukan saja meningkatkan derajat di antara kerumunan orang lain, melainkan juga memancarkan cahaya yang membuat potensi dan kemampuannya semakin terlihat.

Sumber: dakwatuna.com

Kang Adkhilni M. Sidqi:BUTA HURUF DAN AKSARA ARAB DI KOIN INDONESIACoba perhatikan apa yang menarik dari koin Indonesia ...
03/09/2022

Kang Adkhilni M. Sidqi:

BUTA HURUF DAN AKSARA ARAB DI KOIN INDONESIA

Coba perhatikan apa yang menarik dari koin Indonesia 25 sen tahun 1952 yang saya temukan di Damaskus ini?

Bagi saya, koin ini menyibak banyak hal dari masa lalu. Selain karena ukuran dan materialnya sangat mirip dengan koin Rp500 "bunga melati" tahun 2003, yang paling menarik dari koin ini adalah penggunaan aksara Arab pada koin Indonesia. Ternyata Indonesia pernah mencetak koin dengan tulisan Arab, yakni 1 sen (1952), 5 sen (1951—1954), 10 sen (1951—1954), dan 25 sen (1952). Setelah itu aksara Arab dalam mata uang Indonesia lenyap dan digantikan seluruhnya dengan huruf latin.

"Mengapa Indonesia menggunakan aksara Arab?" si penjual koin malah bertanya ke saya.

"Hmmm... mungkin karena sebagian besar rakyat Indonesia saat itu lebih familiar dengan tulisan Arab," jawab saya sekenanya, tapi malah jawaban itu balik menyerang saya dengan lebih banyak pertanyaan dalam kepala.

Sejak lama kita selalu dijejali data bahwa pada masa awal kemerdekaan, tingkat buta huruf di Indonesia mencapai lebih dari 90%! Bayangkan suatu bangsa yang menuntut kemerdekaan padahal hanya kurang dari 10% penduduknya yang bisa baca tulis. Bagaimana bangsa merdeka itu kelak bisa menjalankan pemerintahannya dan mengurus negaranya jika baca tulis saja tidak becus? Tidak heran salah satu perdebatan sengit di BPUPKI adalah bangsa ini belum siap untuk merdeka karena masih bodoh dan belum bisa baca tulis.

Namun tunggu dulu… sebetulnya bangsa Indonesia saat itu "buta huruf" atau buta huruf latin? Bagaimana dengan aksara Arab yang sudah lebih dulu dikenal oleh umat Islam di Indonesia? Atau bagaimana dengan aksara-aksara lokal Nusantara? Apakah mereka juga dijebloskan ke dalam 90% penduduk yang buta huruf itu? Saya teringat almarhumah nenek yang lahir sebelum Indonesia merdeka. Beliau besar di lingkungan pesantren terbata-bata dan berat sekali membaca aksara latin, tapi sangat cepat dan ringan membaca tulisan Arab/Arab Melayu/Pegon. Apakah ia buta huruf?

Didorong oleh rasa penasaran, penemuan koin ini menuntun saya untuk menggali lebih dalam tentang sejarah aksara Arab Melayu/Jawi/Pegon. Sebelum masa kolonial, Arab Melayu/Jawi/Pegon ini luas digunakan sebagai bahasa sastra, bahasa pendidikan, dan bahasa resmi kerajaan se-Nusantara. Beberapa karya sastra ditulis dengan aksara ini, seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Amir Hamzah, Syair “Singapura Terbakar” karya Abdul Kadir Munsyi (1830), juga karya-karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan tafsir Qur’an karya Kyai Saleh Darat juga ditulis dengan Arab Pegon yang kini sudah banyak dilupakan.

Surat-surat raja Nusantara, stempel kerajaan, dan mata uang pun ditulis dalam aksara Arab Melayu/Jawi ini. Kesultanan Pasai Aceh, Kerajaan Johor dan Malaka, Kesultanan Pattani pada abad 17, secara resmi menggunakan Arab Melayu sebagai aksara kerajaan. Termasuk juga dalam hubungan diplomatik, kerajaan-kerajaan Nusantara menggunakan aksara Arab Melayu untuk membuat perjanjian perjanjian resmi baik dengan Inggris, Portugis, maupun Belanda. Konon, deklarasi kemerdekaan Malaysia 1957 sebagian juga ditulis dalam aksara Arab Melayu.

Akan tetapi, pengaruh kuat dominasi kolonial Belanda lambat laun menggeser kejayaan aksara Arab Melayu/Pegon. Terlebih lagi pada pergantian abad ke-19, media penerbitan secara besar-besaran mencetak huruf latin sebagai media komunikasi massa. Pun juga setelah merdeka, Pemerintah Indonesia lebih memilih untuk melestarikan aksara latin dengan menyebut orang-orang yang sehari-hari menggunakan aksara Arab Melayu atau aksara daerah, tapi tidak bisa membaca huruf latin, sebagai "buta huruf."

Akhirnya, aksara sebagai rekaan bahasa tidak hanya memberi tanda dan makna, tetapi juga merupakan representasi kekuasaan yang dominan di masyarakat itu. Dan uang koin 25 sen ini merekam ini dengan sangat jelas.

14/08/2022

Bahasa arab versi mana ini?

14/08/2022

Apa yang akan kita jawab di hadapan allah jika kita memilih berpangku tangan atas apa yang di alami saudara kita😭

KEWAJIBAN JILBAB TAK PANTAS DIPERSOALKANBuletin Kaffah No. 255 (14 Muharram 1444 H - 12 Agustus 2022)Jilbab kembali dipe...
12/08/2022

KEWAJIBAN JILBAB TAK PANTAS DIPERSOALKAN

Buletin Kaffah No. 255 (14 Muharram 1444 H - 12 Agustus 2022)

Jilbab kembali dipersoalkan. Kali ini terjadi di SMAN 1 Banguntapan Yogyakarta. Narasi dan opini yang dikembangkan di media adalah adanya “pemaksaan jilbab” oleh pihak sekolah kepada siswinya. Padahal tak ada pemaksaan sama sekali. Demikian hasil klarifikasi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY ke SMAN 1 Banguntapan Disdikpora. "Tidak ada pemaksaan dalam memakai jilbab itu," kata Wakil Kepala Disdikpora DIY, Suhirman, usai klarifikasi terhadap SMAN 1 Banguntapan di Kantor Disdikpora DIY, Senin (1/8/2022).

Jelas, kasus 'Paksa Jilbab' di SMAN Banguntapan Yogya yang sengaja diviralkan sudah tidak bisa dianggap kasus biasa. Ini adalah kasus yang mengkonfirmasi bahwa islamophobia itu nyata.

Di sisi lain, sekitar sebulan sebelumnya, sebagaimana diberitakan Kompas.com, ada siswi SD di Gunungsitoli Sumatera Utara menangis karena dilarang oleh pihak sekolah memakai jilbab di sekolah (Kompas.com, 14 Juli 2022). Terkait kasus ini kalangan islamophobia diam seribu bahasa.

*Kewajiban Menutup Aurat*

Di antara tuntunan syariah Islam adalah perintah kepada kaum Muslimah untuk menutup aurat dengan kerudung (yang menutup kepala dan dada mereka) serta jilbab (yang menutupi seluruh tubuh mereka kecuali wajah dan kedua telapak tangan). Bagi seorang Muslimah, menutup aurat dengan memakai kerudung dan berjilbab ini tentu saja menjadi salah satu pembuktian keimanannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebabnya jelas, karena berkerudung dan berjilbab memang merupakan salah satu dari ketentuan syariah Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا...

Katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) tampak pada diri mereka…” (TQS an-Nur [24]: 31).

Ibnu Abbas ra. menyatakan yang dimaksud dengan frasa illâ mâ zhahara minhâ dalam ayat di atas adalah muka dan telapak tangan. Imam ath-Thabari juga menyatakan, “Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa tampak (pada wanita) adalah muka dan telapak tangan.” (Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’ân, XVIII/94).

Menurut Imam an-Nasafi, yang dimaksud dengan "az-zînah" (perhiasan) di sini adalah "mawâdhi az-zînah" (tempat perhiasan). Artinya, ayat di atas bermakna, "Janganlah kalian menampakkan anggota tubuh yang biasa digunakan untuk mengenakan perhiasan, kecuali yang biasa tampak; yakni muka, kedua telapak tangan dan dua mata kaki.” (An-Nasafi, Madârik at-Tanzîl wa Haqâ’iq at-Ta’wîl, 2/411).

*Kewajiban Jilbab dan Kerudung*

Wanita Muslimah wajib berjilbab dan berkerudung manakala keluar dari rumah menuju kehidupan umum. Jilbab berbeda dengan kerudung (khimar).
Kewajiban mengenakan kerudung (khimar) didasarkan pada firman Allah SWT:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Katakanlah kepada kaum wanita Mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa tampak pada diri mereka, dan hendaklah mereka memakai kerudung (penutup kepala) hingga menutupi dada mereka (TQS an-Nur [24]: 31).

Menurut Imam Ibnu Mandzur di dalam kitab Lisân al-'Arab: Al-Khimar li al-mar’ah: an-nâshif (khimar [kerudung] bagi perempuan adalah an-nâshif [penutup kepala]). Menurut Imam Ali ash-Shabuni, khimar (kerudung) adalah ghitha' ar-ra'si 'ala shudur (penutup kepala hingga mencapai dada) agar leher dan dadanya tidak tampak.

Adapun kewajiban berjilbab bagi Muslimah ditetapkan berdasarkan firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ...

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri kaum Mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka…" (TQS al-Ahzab [33]: 59).

Di dalam Kamus Al-Muhîth dinyatakan, jilbab itu seperti sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi wanita selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung. Dalam Kamus Ash-Shahhah, al-Jauhari mengatakan, "Jilbab adalah kain panjang dan longgar (milhafah) yang sering disebut dengan mula'ah (baju kurung/gamis)."

Kewajiban berjilbab bagi Muslimah ini juga diperkuat oleh riwayat Ummu ‘Athiyah yang berkata: Pada dua hari raya kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum Muslim dan doa mereka. Namun, wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Lalu Rasul saw. bersabda, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Andaikan berjilbab bagi Muslimah tidak wajib, niscaya Nabi saw. akan mengizinkan kaum Muslimah keluar dari rumah mereka tanpa perlu berjilbab. Hadis ini pun menegaskan kewajiban berjilbab bagi para Muslimah.

*Tak Pantas Dipersoalkan*

Karena itu jelas, sebagai kewajiban syariah bagi Muslimah, jilbab tak layak dan tak pantas dipersoalkan. Apalagi, sebagai bagian dari hukum syariah, pastinya banyak hikmah dari pengamalan kewajiban berjilbab bagi Muslimah ini. Sebabnya, jelas seluruh hukum syariah pasti mendatangkan rahmat (maslahat) bagi manusia (Lihat: QS al-Anbiya‘ [21]: 107).

Karena itu tentu kita pun meyakini bahwa perintah Allah SWT kepada para wanita untuk berbusana Muslimah (memakai kerudung dan berjilbab) pasti mengandung banyak kebaikan/manfaat sekaligus menghindari banyak keburukan/madarat, khususnya bagi pemakainya dan umumnya bagi masyarakat.

Penggunaan jilbab dalam kehidupan umum akan mendatangkan kebaikan bagi semua pihak. Tidak hanya bagi kaum perempuan. Dengan tubuh yang tertutup jilbab, kehadiran wanita jelas tidak akan membangkitkan birahi lawan jenisnya. Berbeda halnya saat kaum wanita biasa terbuka auratnya. Sebabnya, naluri seksual tidak akan muncul dan menuntut pemenuhan jika tidak ada stimulus yang merangsangnya.

Dengan demikian kewajiban berjilbab telah menutup salah satu celah yang dapat mengantarkan manusia terjerumus ke dalam perzinaan atau pemerkosaan. Realitas ini membuktikan kebenaran ayat tentang kewajiban berjilbab di atas: Dzâlika adnâ an yu’rafna falâ yu’dzayn (Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu).

Karena itu jilbab bisa lebih melindungi wanita Muslimah, membuat mereka lebih merasa aman, menjaga diri mereka dari gangguan lelaki usil, menjaga mereka dari obyek pandangan lelaki yang hanya ingin ‘cuci mata’, menjaga diri mereka dari obyek syahwat lelaki, menghindarkan diri mereka dari zina mata dan zina hati, dll.

Bagi wanita, jilbab juga dapat mengangkat mereka pada derajat kemuliaan. Dengan aurat yang tertutup rapat, penilaian terhadap wanita lebih terfokus pada kepribadiannya, kecerdasannya, profesionalismenya serta ketakwaannya. Bukan pada fisik atau tubuhnya.

Ini berbeda jika wanita tampil ‘terbuka’ dan sensual. Penilaian terhadap wanita lebih tertuju pada fisik dan tubuhnya. Penampilan seperti itu juga hanya akan menjadikan wanita demikian rendah. Hanya dipandang sebagai onggokan daging yang memenuhi hawa nafsu kaum lelaki saja.

Dengan memakai kerudung dan berjilbab sesuai tuntunan syariah, seorang Muslimah sesungguhnya sedang memposisikan dirinya sebagai wanita terhormat. Sebab, dengan itu, penilaian dan penghormatan masyarakat kepada dirinya bukan lagi dari sisi fisik dan tubuhnya, tetapi dari sisi ketakwaannya, kecerdasannya, prestasinya dan segala hal yang menunjukkan kualitas pribadinya.

Bandingkan dengan para wanita Barat sekular yang rata-rata dianggap bernilai lebih karena faktor tubuh dan kecantikan fisiknya. Semakin cantik dan semakin seksi seorang wanita, ia akan dianggap semakin terhormat dan karenanya lebih dihargai, paling tidak secara materi. Padahal, sadar ataupun tidak, hal demikian hanya menjadikan wanita dieksploitasi tubuhnya demi kepuasan material segelintir orang.

Bagi seorang Muslimah, berkerudung dan berjilbab secara syar’i juga bisa menjadi pembuktian atas kesalihan dirinya—tentu jika keputusannya berkerudung dan berjilbab dilandaskan pada faktor keimanannya dan ketaatannya pada syariah Islam.

Selain itu, kerudung dan jilbab yang dia pakai berpotensi menjadi ‘benteng’ perilaku bagi dirinya sehingga ia akan berpikir seribu kali untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang yang bertentangan dengan citra kerudung dan jilbab sebagai pakaian takwa. Ia, misalnya, akan merasa malu jika akhlaknya buruk; sementara ia adalah wanita Muslimah yang kemana-mana berkerudung dan berjilbab.

Sebaliknya, dengan kerudung dan jilbab yang selalu melekat pada dirinya ia akan berusaha tampil dengan akhlak yang mulia.

Dengan memahami seluruh paparan di atas, sejatinya siapapun yang mengaku Muslim tak akan berani sedikit pun mempersoalkan kewajiban berjilbab bagi Muslimah.

WalLâhu a’lam bi ash-­shawwâb. []

---*---

*Hikmah:*

Rasulullah saw. bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ

Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, seseorang di antara kalian tidak beriman hingga hawa nafsunya mengikuti (risalah) yang aku bawa. (HR Muslim). []

---*---

Download Buletin Dakwah Kaffah versi PDF & simak versi audio di:
https://buletinkaffah.com

MENCETAK PEMUDA CERDAS DAN BERTAKWABULETIN DAKWAH KAFFAH – 2547 Muharram 1444 H/5 Agustus 2022 MFenomena _Citayam Fashio...
07/08/2022

MENCETAK PEMUDA CERDAS DAN BERTAKWA

BULETIN DAKWAH KAFFAH – 254
7 Muharram 1444 H/5 Agustus 2022 M

Fenomena _Citayam Fashion Week_ (CFW) benar-benar berhasil menarik perhatian dan viral di masyarakat. Pelakunya adalah para remaja yang terbiasa nongkrong di salah satu kawasan bisnis di Jakarta. Mereka melakukan peragaan busana di tempat umum seperti trotoar dan _zebra cross_.

Meski memakai fasilitas umum dan mengganggu ketertiban, banyak yang menyebut aksi mereka sebagai kreativitas. Ada menteri yang menawarkan beasiswa pendidikan penuh untuk mereka. Ada juga menteri yang menawarkan area depan kantornya sebagai ajang _fashion show_. Padahal sebagian mereka tidak bersekolah. Tidak pulang ke rumah. Sering tidur di trotoar. Entah ingat shalat atau tidak.

Sikap ini berkebalikan ketika ada sejumlah remaja melakukan _tilawah_ al-Quran di beberapa tempat umum. Tidak ada pejabat yang mendukung apalagi memuji. Bukannya diapresiasi, malah tidak sedikit yang mencaci.

*Potret Remaja Kita*

Negeri ini berlimpah penduduk usia muda dan produktif. Ada sekitar 60 juta lebih jumlah penduduk usia muda dengan rentang usia 15-34 tahun. Harusnya ini menjadi bonus demografi karena akan muncul generasi penerus berkualitas. Sayang, banyak anak muda Indonesia justru hidup dalam kondisi tidak beruntung. Mereka terjerat kemiskinan, putus sekolah, terlibat kriminalitas, hedonis dan tidak punya tujuan hidup.

Akibat pandemi selama dua tahun lebih, 40 persen penduduk miskin baru pada tahun 2020 adalah remaja dan anak di bawah usia 18 tahun. Selama pandemi, pada tahun 2022 UNICEF menyebutkan ada 4,3 juta pelajar putus sekolah di Indonesia. Laporan Statistik Pendidikan Tinggi tahun 2020 menunjukkan lebih dari satu juta anak muda di Indonesia _drop out_ dari bangku kuliah, baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Swasta (PTS).

Remaja Indonesia juga banyak teracuni budaya hedonisme; memburu kesenangan fisik, hiburan, mencari materi dan popularitas. Fenomena CFW adalah gambaran para remaja yang mencari kesenangan dan popularitas. Meski datang dari kelas ekonomi marjinal, para remaja itu ingin tenar di media sosial, seperti para pemuda dari keluarga kaya yang biasa hidup mewah.

Karena sikap hedonis yang mencari kesenangan fisik, sebagian anak muda Indonesia juga tidak takut berhubungan seks sebelum nikah. Penelitian Reckitt Benckiser Indonesia tahun 2019 terhadap 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan 33 persen remaja pernah berhubungan di luar nikah. Di antara mereka ada yang berzina karena semata-mata mencari kesenangan bahkan tanpa perlu kenal pasangan mereka. Sebagian lagi karena terjun ke dunia prostitusi, baik pria maupun wanita, dengan alasan mencari kemewahan atau kesenangan saja. Ini belum ditambah lagi remaja yang terlibat LGBT.

Sementara itu kondisi ibadah sebagian anak muda Indonesia memprihatinkan. Dewan Masjid Indonesia (DMI) pernah menyatakan bahwa 65% Muslim di Indonesia ternyata tidak bisa membaca al-Quran, termasuk di dalamnya penduduk usia muda. Tahun 2018, penelitian Departemen Kaderisasi Pemuda PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyebutkan hanya 33,6 persen anak muda rajin shalat ke masjid setiap hari. Masih banyak anak muda yang hidupnya jarang atau bahkan tidak pernah ke masjid sama sekali.

Kualitas agama anak muda makin terpuruk akibat kampanye kontra radikalisme dan terorisme, terutama di dunia pendidikan sekolah maupun kampus. Pada tahun 2012, sengaja dilontarkan tuduhan bahwa rohis sekolah adalah sarang perekrutan para teroris. Sejak itu kondisi pengajian-pengajian di sekolah – juga di kampus – semakin dijauhi anak-anak muda. Benar-benar ironi. Inikah yang diinginkan oleh kita saat ini? Sukses membuat anak-anak muda tersesat dari jalan Allah, malas beribadah dan rusak moralnya?

*Selamatkan Pemuda!*

Siapapun yang peduli dengan nasib umat dan negeri ini harus berpikir dan berusaha menyelamatkan para pemuda. Mereka adalah harapan umat pada masa depan. Jika ingin melihat kondisi umat pada masa depan, tengok saja keadaan para pemudanya hari ini. Syaikh Mustafa al-Ghalayaini, seorang pujangga Mesir, berkata, _“Sungguh di tangan-tangan pemudalah urusan umat dan pada kaki-kaki merekalah terdapat kehidupan umat.”_

Pemuda, menurut Prof. Rawwas Qal’ahji, adalah kelompok manusia yang berusia antara 15 sampai 40 tahun. Pada masa ini manusia berada dalam puncak kekuatannya, setelah masa kanak-kanak, dan sebelum lemah lagi di usia tua. Allah SWT berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

_Allah-lah Yang menciptakan kalian dari keadaan lemah. Lalu Dia menjadikan (kalian) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat. Kemudian Dia menjadikan (kalian) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui dan Mahakuasa_ (TQS ar-Rum [30]: 54).

Kaum muda juga adalah agen perubahan di tengah umat manusia. Tidak ada perubahan tanpa melibatkan dan tanpa dilakukan anak-anak muda. Itu karena mereka adalah kelompok manusia yang cerdas dan lebih mudah menerima petunjuk ketimbang orang yang sudah tua. Ketika menafsirkan QS al-Kahfi ayat 13 yang menceritakan para pemuda Kahfi, Imam Ibnu Katsir menerangkan: _“Allah menyebutkan bahwa mereka adalah segolongan kaum muda yang lebih bisa menerima kebenaran dan lebih mudah ditunjukkan ke jalan yang lurus dibandingkan orang-orang tua yang saat itu telah durhaka dan tenggelam dalam agama yang batil. Karena itulah kebanyakan orang yang menyambut baik seruan Allah dan Rasul-Nya adalah dari kalangan kaum muda. Adapun orang-orang tua Quraisy, sebagian besar dari mereka tetap berpegang pada agamanya dan tidak ada yang masuk Islam dari kalangan mereka kecuali sedikit.”_

Para nabi dan rasul juga adalah orang-orang berusia muda saat diangkat menjadi utusan Allah. Ibnu Abbas pernah menyatakan, _“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan pemuda. Seorang alim tidak diberi ilmu pengetahuan oleh Allah melainkan pada waktu masa mudanya.”_

Untuk itu ada sejumlah langkah yang harus dilakukan orangtua dan kaum Muslim untuk menyelamatkan para pemuda dari ideologi sesat dan rusak sekulerisme-kapitalisme, sekaligus mencetak mereka agar cerdas dan bermental pejuang.

_Pertama_: Mengokohkan akidah Islam sebagai landasan kehidupan dunia dan akhirat. Para pemuda disadarkan bahwa mereka adalah ciptaan Allah SWT dan kelak akan kembali kepada-Nya. Dengan kuatnya akidah, anak-anak muda akan sadar kalau hidup-mati mereka adalah semata untuk Allah SWT.

Dengan akidah Islam ini juga para pemuda akan dibuat yakin bahwa hanya Islam satu-satunya ideologi yang benar, sehingga mereka akan menolak ideologi lain seperti kapitalisme atau sosialisme-komunisme. Kedua ideologi itu terbukti batil dan jadi penyebab kerusakan umat manusia.

_Kedua_: Memahamkan para pemuda bahwa tujuan hidup yang tertinggi adalah mendapatkan ridha Allah SWT. Caranya dengan menaati aturan-aturan-Nya dan memperjuangkan agama-Nya. Sebaliknya, dunia bukan tujuan hidup. Dunia hanyalah sarana untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Itulah tujuan sekaligus kebahagiaan hakiki untuk seorang Muslim. Nabi saw. bersabda:

«ﺇنَّ اﻟسَّعَادَةَ كُلَّ السَّعَادَةِ طُوْلُ العُمْرِ فِيْ طَاعَةِ اللهِ»

_Sungguh kebahagiaan yang sebenarnya adalah menghabiskan umur untuk taat kepada Allah_ (HR ad-Dailami).

_Ketiga_: Membimbing para pemuda untuk membangun _habit_/kebiasaan islami sejak awal; menaati Allah SWT dan meninggalkan kemaksiatan. Para ulama mengatakan, _“Siapa saja yang membiasakan sesuatu (sejak dini) akan terbiasa hingga dewasa.”_

Mereka didorong agar giat beribadah, berbakti pada orangtua, rajin menuntut ilmu dan mengerjakan berbagai amal salih. Inilah pemuda yang dicintai Allah sebagaimana sabda Nabi saw.:

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ …وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ»

_Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:…pemuda yang tumbuh dalam ibadah pada Allah_ (HR al-Bukhari).

Selain itu, para pemuda harus ditempa agar tidak memperturutkan hawa nafsu seperti memakai narkoba, haus popularitas, bergaul bebas dengan lawan jenis, dll. Inilah para pemuda yang dicintai Allah sebagaimana sabda Nabi saw.:

«يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»

_Tuhanmu mengagumi pemuda yang tidak memiliki shabwah [tidak diperbudak oleh hawa nafsu]_ (HR Ahmad).

_Keempat_: Mendorong para pemuda memiliki kepedulian terhadap kondisi umat serta menjadikan mereka pengemban dakwah yang akan memperjuangkan tegaknya agama Allah SWT. Bukan pemuda yang egois; hanya memikirkan amalan pribadi dan tidak peduli pada nasib umat. Allah SWT jelas membutuhkan mereka yang mau berjuang dan membela agama-Nya (Lihat: QS ash-Shaff [61]: 14).

Wahai kaum Muslim! Selamatkanlah anak-anak kita dan para pemuda Muslim. Jangan biarkan mereka dihancurkan oleh ideologi sekulerisme-kapitalisme dan para pengusungnya. Jadikanlah mereka para pemuda cerdas dan bermental pejuang agama Allah. Jangan sampai kita meninggalkan generasi pengganti yang buruk akhlaknya, bodoh dan menjadi tersesat. Ingatlah firman Allah SWT:

فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٌ أَضَاعُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِۖ فَسَوۡفَ يَلۡقَوۡنَ غَيًّا

_Datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Lalu mereka kelak akan menemui kesesatan_ (TQS Maryam [19]: 59).

_WalLâhu a’lam._ []

*Hikmah:*

Imam Ibnu Rajab _rahimahulLâh_ berkata:

تَأْخِيْرُ التَّوْبَةِ فِي حَالِ الشَّبَابِ قَبِيْحٌ، فَفِي حَالِ اْلمَشيبِ أَقْبَحُ وَ أَقْبَحُ

_”Menunda-nunda tobat saat usia muda itu sangat buruk. Jauh lebih buruk lagi menunda-nunda tobat saat usia sudah tua.”_ (Ibnu Rajab, Lathâ'if al-Ma'ârif, 737). []

Address

Tegal

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Syiar Pemuda Masjid posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share