23/03/2026
๐๐๐๐๐ก ๐๐๐ง๐จ๐ฅ๐๐ง๐ก๐ข ๐ฆ๐๐๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐๐
Mudik membelah jalan Baturetno sudah berabad lebih dilakoni barisan perantau asal Wonogiri. Tengok gambar awal abad XX ini, jalan Baturetno tampak mulus. Berdiri p**a pejabat pangreh praja serta opas polisi. Mobil berplat nomor AD 2124 bertengger gagah (FOTO).
Jangankan mudik, orang plesiran atawa piknik juga memanfaatkan jalur ini. Tercatat rombongan siswa dari Surakarta menuju Pacitan. Novel sejarah Solo Petheng (1939) memotret kenyataan itu secara eksplisit. Berikut ini Solo Societeit cukilkan fakta: โSawidjining dina Minggoe watara djam sanga esoek ing Wanagiri ana montor bus merk San Goei pinoedjoe mandheg, kang noenggangi botjah-botjah moerid Mulo-Goepermen kang padha arep darmawisata (schoolwandelin) menjang Patjitan. Tjatjahe akeh sak bus kebakโ.
Raga pemudik dan pelancong Wonogiri diusung bus San Goei dikelola kaum Tionghoa. Ia melayani jurusan Wonogiri, Klaten, Yogya, Boyolali, hingga Salatiga. Setiap jurusan dibagi dalam sejumlah trayek demi menjaring penumpang sebanyak mungkin hingga wilayah padesan yang jaraknya agak jauh dari kutharaja. Sebut saja (1) jurusan Solo -Wonogiri- Baturetno- Glonggong, (2) Baturetno- Girimarto, (3) Wonogiri- Wuryantoro- Pracimantoro, (4) Wonogiri- Manyaran- Sukoharjo- Ngawen, dan masih beberapa lagi.
Ah, ternyata Kota Gaplek sisi selatan yg digambarkan laksana denok deblong itu tak luput "terperawani" oleh arus modernisasi. Tiada lagi keterpencilan yg sejati. Berkat sepur klutuk berikut rel-stasiun, juga kehadiran bus dng jalanan yg memadai, wong ndรฉsa kluthuk berkesempatan menjadi warga kota lewat bebara menyang kutharaja...