17/10/2025
Syaikhah Khaulah Nakata Kaori: Ulama Perempuan Pertama Jepang
Syaikhah Nakata Kaori, yang juga dikenal dengan nama Islamnya Ustadzah Khaulah, memegang posisi terhormat dalam sejarah Islam di Jepang. Lahir di Jepang pada pertengahan abad ke-20, ia memeluk Islam dan muncul sebagai ulama wanita pertama di negara tersebut ('alimah), mendedikasikan hidupnya untuk menjembatani pengetahuan Islam dengan budaya Jepang.
Karyanya tidak hanya memperkaya kehidupan spiritual umat Muslim Jepang tetapi juga membuat teks agama yang mendalam dapat diakses oleh audiens yang tidak berbahasa Arab, memupuk pemahaman yang lebih dalam dan pertumbuhan komunitas. Ia wafat pada tahun 2008 di usia 40 tahun, meninggalkan warisan yang terus menginspirasi generasi.
Perjalanan Kaori menuju Islam dimulai di tengah lanskap Jepang pasca-Perang Dunia II, di mana paparan terhadap agama ini sangat terbatas. Ia memeluk Islam saat masih muda, tertarik pada kedalaman intelektual dan spiritualnya.
Suaminya, Dr. Hassan Ko Nakata—seorang sarjana Muslim Jepang terkemuka dengan gelar PhD dalam Filsafat Islam dari Universitas Kairo—memainkan peran penting dalam perkembangan keilmuannya. Bersama-sama, mereka membentuk kemitraan intelektual yang dinamis, belajar di bawah bimbingan ulama Mesir dan mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam masyarakat Jepang.
Kisah masuknya islamnya Kaori, yang dirinci dalam tulisannya sendiri, mencerminkan transformasi pribadi yang mendalam, yang kemudian ia bagikan untuk mendorong wanita lain. Pengaruh Kaori terletak pada terjemahan dan upaya pendidikannya, yang mendemokratisasi keilmuan Islam bagi pembaca Jepang.
Ia memprioritaskan bahasa yang jelas dan mudah diakses untuk mengakomodasi latar belakang yang beragam, memastikan konsep kompleks disampaikan dalam bahasa Jepang sederhana tanpa kehilangan nuansa teologis.
1. Terjemahan Tafsir al-Jalalayn
Di bawah pengawasan suaminya, Kaori menghasilkan terjemahan lengkap pertama ke dalam bahasa Jepang dari tafsir Al-Qur'an seminal ini, yang ditulis oleh Jalal al-Din al-Mahalli dan Jalal al-Din al-Suyuti pada abad ke-15. Diterbitkan oleh Japan-Saudi Friendship Association, karya ini—yang mencakup seluruh Al-Qur'an—tetap menjadi pondasi bagi umat Muslim Jepang yang mempelajari tafsir (penafsiran Al-Qur'an). Ini membuka pintu bagi pembaca awam, siswa, dan sarjana, membuat penafsiran tersedia dalam bahasa ibu mereka untuk pertama kalinya.
2. Karya Klasik dan Pengantar Lainnya
Selain tafsir, ia menerjemahkan berbagai teks dasar, termasuk karya tentang aqidah (keyakinan), fiqh (hukum Islam), dan tauhid (keesaan Tuhan).
Buku Terakhir: Pengantar menuju Allah, adalah komentar Jepang atas Risala fi al-Tauhid karya Arslan al-Dimashqi, menjelaskan keesaan Tuhan dengan cara sederhana dan relatable.
Ia juga menulis buku pengantar tentang praktik Islam dasar, ibadah, dan isu wanita, yang disesuaikan untuk muallaf Jepang. Pendekatannya menekankan ekspresi vernakular, mempertahankan kemurnian doktrin Islam sambil melawan kesalahpahaman, seperti asosiasi Islam dengan terorisme—tantangan yang diatasi melalui pengajarannya.
Kaori adalah pelopor bagi wanita Muslim di Jepang, di mana keilmuan wanita secara historis langka. Pada 1980-an, ia mendirikan surat kabar Muslim yang berfungsi sebagai pusat komunikasi vital, menghubungkan umat Muslim Jepang yang tersebar sebelum era platform digital ada. Ia membangun jaringan pendidikan untuk wanita, menawarkan kelas tentang fiqh, hadis, dan devosional harian, sering diadakan di masjid seperti Tokyo Camii atau pusat komunitas.
Sebagai pendidik, ia berdakwah secara luas, fokus pada peran wanita dalam keluarga dan masyarakat dalam kerangka Islam. Suaminya mencatat "kemampuan luar biasa"-nya dalam membuat Islam mudah didekati, sementara rekan sezamannya menggambarkannya sebagai perwujudan "keanggunan intelektual" dan kerendahan hati. Upayanya membantu pertumbuhan komunitas Muslim Jepang dari sekitar 110.000 pada 2010 menjadi lebih dari 230.000 pada 2019, termasuk jumlah muallaf Jepang yang meningkat.
Wafatnya Kaori pada 2008 menciptakan kekosongan signifikan dalam keilmuan wanita di Jepang. Namun, terjemahan dan tulisannya tetap bertahan, membentuk dasar studi Islam di negara itu. Murid-murid seperti Mujahid Matsuyama Yohei memberinya kredit karena menggeser fokus dari sekadar terjemahan ke penerapan kontekstual Islam di masyarakat non-Muslim.
Hari ini, di tengah populasi Muslim Jepang yang berkembang (diperkirakan lebih dari 250.000), karyanya menginspirasi generasi baru.
Rahimahallahu wa askanaha fasiha jannatih....