17/06/2026
*Seni Al-Qur'an Menghadapi Perkataan Buruk dan Kemenangan Psikologis Seorang Mukmin....*
Tidak semua pertarungan harus dimenangkan dengan jawaban. Tidak semua tuduhan harus dibantah dengan penjelasan. Tidak semua suara yang menyakitkan harus dibalas dengan suara yang lebih keras.
Dalam perjalanan hidup, seseorang akan berjumpa dengan berbagai macam perkataan manusia; pujian yang mengangkat, celaan yang menjatuhkan, fitnah yang menyakitkan, dan prasangka yang melelahkan.
Sebagian orang menghabiskan usia mereka untuk menjawab setiap tuduhan, membela diri dari setiap prasangka, dan mengejar penerimaan manusia yang tidak pernah berujung.
Namun Al-Qur'an mengajarkan jalan yang lebih tinggi. Jalan yang tidak dibangun di atas kegaduhan, melainkan ketenangan. Jalan yang tidak bertumpu pada pembelaan diri yang tak berkesudahan, melainkan pada kemuliaan jiwa yang mampu memilih diam ketika diam lebih bernilai, dan mampu pergi ketika pergi lebih menjaga kehormatan.
Di antara tanda kedewasaan seseorang adalah kemampuannya membedakan mana yang layak diperjuangkan dan mana yang cukup ditinggalkan. Sebab tidak semua medan layak dijadikan arena pertempuran, dan tidak semua suara layak diberi panggung.
Al-Qur'an Mengajarkan Sikap Ini, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا﴾
"Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik."
(QS. Al-Muzzammil: 10)
Ayat ini turun ketika Nabi menghadapi berbagai ejekan, hinaan, dan tuduhan dari kaum musyrikin. Mereka menyebut beliau penyair, tukang sihir, orang gila, dan berbagai julukan buruk lainnya. Namun Allah tidak memerintahkan beliau untuk sibuk membalas satu demi satu tuduhan tersebut.
Sebaliknya, Allah memerintahkan dua hal:
1. Bersabar terhadap perkataan mereka.
2. Meninggalkan mereka dengan cara yang indah.
Inilah kemenangan yang sering tidak dipahami banyak orang. Bahwa tidak setiap serangan harus dihadapi dengan serangan balasan.
Apa Makna "Hijran Jamilan" (Meninggalkan dengan Cara yang Baik)?
Imam Al-Baghawi رحمه الله berkata,
﴿وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا﴾ أَيْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ إِعْرَاضًا لَا جَزَعَ فِيهِ وَلَا عِتَابَ.
"Tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik, yaitu berpaling dari mereka dengan sikap yang tidak disertai kegelisahan, kemarahan, dan celaan." (Tafsir Al-Baghawi, 8/246)
Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan,
أَيْ لَا تُكَافِئْهُمْ عَلَى أَذَاهُمْ وَدَعْ أَمْرَهُمْ إِلَى اللَّهِ.
"Jangan membalas gangguan mereka. Serahkan urusan mereka kepada Allah." (Tafsir Ibn Katsiir, 8/248)
Maka "meninggalkan" dalam Al-Qur'an bukanlah bentuk kelemahan, bukan p**a ketidakmampuan menjawab. Akan tetapi, meninggalkan adalah kemampuan mengendalikan diri ketika seseorang mampu membalas namun memilih sesuatu yang lebih mulia.
Mengapa Diam dan Meninggalkan Menjadi Bentuk Kemenangan?
Karena banyak konflik hidup tidak bertahan oleh kekuatan pelakunya, tetapi oleh perhatian yang diberikan kepadanya.
Ketika seseorang mencela lalu kita sibuk membalas, sering kali tanpa sadar kita sedang memberinya panggung. Kita memberikan ruang bagi perkataannya untuk terus hidup.
Sebaliknya, ketika seseorang tidak mendapatkan respons yang ia harapkan, maka pengaruh yang ia cari perlahan memudar.
Imam Asy-Syafi'i رحمه الله pernah berkata,
إِذَا نَطَقَ السَّفِيهُ فَلَا تُجِبْهُ
فَخَيْرٌ مِنْ إِجَابَتِهِ السُّكُوتُ
"Apabila orang bodoh berbicara kepadamu, janganlah engkau menjawabnya. Karena diam lebih baik daripada meladeninya." (Diwan Al-Imam Asy-Syafi'ii, hlm. 88)
Diam dalam keadaan seperti ini bukan kekalahan. Justru sering kali ia merupakan bentuk kemenangan atas hawa nafsu, kemenangan atas emosi, dan kemenangan atas keinginan untuk selalu dianggap benar oleh manusia.
Kesibukan Terbaik adalah Memperbaiki Diri.
Seorang mukmin tidak diberi waktu yang panjang untuk mengurusi setiap perkataan manusia. Umurnya terlalu berharga untuk dihabiskan mengejar penilaian yang selalu berubah.
Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata,
أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانُوا عَلَى أَوْقَاتِهِمْ أَشَحَّ مِنْكُمْ عَلَى دَرَاهِمِكُمْ وَدَنَانِيرِكُمْ
"Aku mendapati suatu kaum yang lebih menjaga waktu mereka daripada kalian menjaga dirham dan dinar kalian." (Hilyatul Auliya', 2/148)
Karena itu, energi yang tersisa lebih baik digunakan untuk:
- Memperbaiki akhlak.
- Menambah ilmu.
- Memperbanyak amal saleh.
- Mengembangkan potensi diri.
- Mendekatkan diri kepada Allah.
Kesuksesan yang lahir dari kesungguhan sering kali menjadi jawaban yang lebih kuat daripada ribuan pembelaan.
Teladan dari Rosulullah shalallahu alaihi wa salam, sebagaimana Allah berfirman,
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا..
"Sungguh telah didustakan para rasul sebelum engkau, lalu mereka bersabar atas pendustaan dan gangguan yang mereka alami." (QS. Al-An'am: 34)
Jika para nabi yang merupakan manusia terbaik tidak selamat dari hinaan manusia, maka tidak ada alasan bagi kita untuk berharap seluruh manusia akan selalu berbicara baik tentang kita.
Maka ukuran keberhasilan bukanlah terbebas dari kritikan, melainkan bagaimana kita menyikapi kritikan tersebut dengan cara yang diridhai Allah.
Ketenangan yang Tidak Bisa Dibeli...
Pada akhirnya, hidup bukan tentang menjelaskan diri kepada semua orang. Hidup adalah tentang menjaga hubungan dengan Allah dan memperbaiki diri dari hari ke hari.
Akan selalu ada orang yang salah paham. Akan selalu ada yang meremehkan. Akan selalu ada yang menilai tanpa mengenal.
Namun ketenangan sejati bukan lahir ketika semua orang memahami kita, melainkan ketika hati kita ridha bahwa Allah mengetahui siapa diri kita yang sebenarnya.
Maka jika suatu hari kita mendengar perkataan yang menyakitkan, jangan tergesa-gesa menjawab semuanya. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kepada kita satu pelajaran yang sangat mahal: *bahwa tidak semua suara harus didengar, tidak semua tuduhan harus dijawab, dan tidak semua jalan harus ditempuh.*
- Biarkan sebagian urusan selesai dengan diam.
- Biarkan sebagian orang berlalu dengan ditinggalkan.
- Dan teruslah berjalan memperbaiki diri.
Sebab pada akhirnya, manusia hanya melihat apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui seluruh kenyataan. Dan ketika Allah telah mencukupi seorang hamba, maka penilaian manusia tidak lagi menjadi beban yang memberatkan langkahnya.
> "Jangan habiskan hidupmu untuk menjawab setiap suara yang datang dari luar. Gunakanlah waktumu untuk membangun dirimu di hadapan Allah. Karena pada hari manusia tidak lagi mampu menolong manusia, yang tersisa hanyalah amal, keikhlasan, dan rahmat-Nya."
.