01/03/2023
KH Ali Yafie, Ulama Multidimensi, dari Birokrasi, Politisi, sampai Akademisi
Nama KH Ali Yafie sudah santer terdengar digadang-gadang menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar Ke-28 NU di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta pada akhir tahun 1989. Sosoknya menjadi salah satu alternatif selain sosok KH Achmad Siddiq dan KH MA Sahal Mahfudh. Tokoh asal Sulawesi Selatan tersebut pada saat itu sudah dikenal sebagai salah satu intelektual NU dan ahli fiqih.
“Nama lain yang disebut sebagai calon rais aam adalah Kiai Ali Yafie, 63 tahun, santri asal Donggala, Sulawesi Selatan. Ali Yafie kini dosen Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) dan Universitas As-Syafi'iyah Jakarta yang pada kepengurusan lalu membantu Kiai Siddiq di lembaga syuriyah. Kendati tak punya basis Pesantren, mantan anggota DPR dari F-PP itu dikenal sebagai intelektual NU dan ahli fiqih.” (Primadona dengan Sepatu Sandal, dalam Tempo Nomor 40 Tahun XIX Edisi 2 Desember 1989, h.30)
Kiai Ali Yafie pun, menurut Tempo, didorong oleh KH Idham Chalid untuk meneruskan perjuangan Kiai Achmad Siddiq, memimpin NU. Hal ini tidak lain karena kedekatan kedua tokoh NU tersebut.
“Idham yang baru terpilih kembali menjadi ketua umum Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah, perkump**an tarekat NU, di Mranggen, Demak, Jawa Tengah 24 November lalu, sudah menegaskan tak ingin dipilih di Muktamar NU ini. Hanya saja, menurut sumber Tempo, ia ingin memperjuangkan KH Ali Yafie untuk pengganti Kiai Siddiq. (Kenduri Besar Setelah Presiden Memulul Beduk, Tempo Nomor 40 Tahun XIX, Edisi 2 Desember 1989, h.25-26)
Namun, Muktamar Ke-28 NU di Krapyak tetap memilih duet pasangan KH Achmad Siddiq dan KH Abdurrahman Wahid. Sementara itu, sosok KH Ali Yafie yang seusia dengan Kiai Achmad dipilih sebagai Wakil Rais Aam PBNU. Manakala KH Achmad Siddiq wafat pada 23 Januari 1991, ia pun tampil meneruskan kepemimpinan tertinggi di tubuh organisasi yang didirikan pada 16 Rajab 1344 H itu.
Kiai Ali Yafie merupakan sosok yang teguh dalam memegang prinsip. Ia pun memilih mengundurkan diri dari Rais Aam PBNU saat terjadi peristiwa kasus SDSB. Setahun setelah mengemban amanah tersebut, posisinya diteruskan oleh KH Moh Ilyas Ruhiat yang ditetapkan pada Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU di Lampung pada Januari 1992. Ulama yang dikenal sebagai ahli fiqih itu sudah aktif di NU sejak mudanya, saat masih tinggal di Sulawesi. Ia terpilih sebagai perwakilan rakyat di DPRD mewakili Fraksi NU pada Pemilu tahun 1955. Ia juga pernah menjadi Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Parepare. Keaktifannya di tingkat provinsi membuat sosoknya kemudian diangkat menjadi Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan.
Kemudian, ia juga terpilih sebagai anggota DPR RI melalui Fraksi NU pada Pemilu tahun 1971. Saat itu, NU masih menjadi partai sebelum kemudian fusi pada Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 1973. Di partai berlambang Ka’bah itu p**a, Kiai Ali Yafie pernah duduk sebagai salah satu Rais Majelis Syura. Setelah menjadi anggota DPR, Kiai Ali Yafie pun mulai aktif di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai salah satu Rais Syuriyah sejak tahun 1971. Keterpilihannya di jajaran syuriyah tentu tidak lain karena kemampuan dan intelektualitasnya yang tidak diragukan lagi.
Sumber: https://www.nu.or.id/tokoh/kh-ali-yafie-ulama-multidimensi-dari-birokrasi-politisi-sampai-akademisi-BMQwn