16/03/2026
Jika hidup kita diibaratkan sebuah buku, maka setiap hari adalah halaman yang terus ditulis oleh amal kita sendiri.
Hari ini, ketika tanggal baru dimulai, seolah Allah memberi kita satu halaman kosong lagi.
Sebuah kesempatan untuk menulis sesuatu yang kelak akan kita baca kembali.
Bayangkan suatu saat nanti, ketika seluruh halaman hidup ini terbuka di hadapan Sang Pencipta.
Apakah kita akan bangga membacanya?
Ataukah justru merasa malu karena terlalu banyak bab yang dipenuhi kelalaian, penundaan, dan kesempatan yang disia-siakan?
Dalam kehidupan ini ada satu hukum yang tidak pernah berubah: hukum menanam dan memanen.
Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita panen nanti.
Kebaikan yang ditanam, sekecil apa pun, tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.
Begitu p**a kelalaian yang terus dibiarkan, perlahan akan menjadi bagian dari catatan hidup kita.
Tidak ada hasil yang mengkhianati prosesnya.
Dalam perjalanan waktu—dalam pergantian hilal demi hilal—setiap amal yang kita tanam sedang tumbuh, menunggu hari panennya.
Di dunia ini kita sedang menanam.
Di akhirat kelak kita akan memanen.
Maka sebelum halaman hidup ini semakin banyak ditulis oleh waktu, mari kita perbaiki niat, memperbanyak amal, dan menanam lebih banyak kebaikan.
Karena pada akhirnya, apa yang kita tanam di dunia inilah yang akan kita tuai di akhirat nanti. 🤍