JRS Indonesia

JRS Indonesia Yayasan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia adalah lembaga kemanusiaan dengan misi: menemani, melayani dan membela hak pengungsi http://jrs.or.id

JRS bersama dengan semua pihak yang peduli, menemani, melayani dan membela hak para pengungsi baik mereka yang ada di kamp pengungsian, kawasan perkotaan maupun di rumah-rumah detensi imigrasi. Bersama staf dan sukarelawan dari berbagai latar belakang, Yayasan JRS Indonesia membuka pelayanan bagi para pengungsi mulai dari Timor Barat (1999), Maluku (2000), Aceh dan Sumatera Utara (2001), Jawa Bara

t, Jawa Tengah serta pengungsi korban bencana di Daerah Istimewa Jogjakarta. Sejak tahun 2009 JRS Indonesia mengambil peran untuk mendampingi para pengungsi lintas batas dan pencari suaka sesuai mandat awalnya. Yayasan JRS Indonesia mulai mendampingi para pencari suaka bangsa Rohingya di Aceh dan Sumatera Utara. Pelayanan JRS berkembang menjadi pendampingan bagi pencari suaka di rumah detensi imigrasi Medan (2009), pencari suaka di Cisarua (2010) dan pencari suaka di rumah detensi imigrasi Surabaya (2012). VISI:
Dunia yang bebas dari garis-garis batas, pemisahan dan pengungsian paksa. Dunia tempat orang bisa bepergian dengan bebas dan aman. Dunia yang menghidupi nilai keramahtamahan bagi siapa saja. MISI:

Misi JRS adalah menemani, melayani dan membela hak-hak para pengungsi dan mereka yang terpaksa berpindah tempat. MENEMANI
Yang paling mendasar dari misi JRS adalah memberikan pelayanan kemanusiaan yang menyeluruh bagi mereka yang terpaksa mengungsi. Segala macam bantuan di dunia tak akan mampu menggantikan kehangatan pertolongan yang dilakukan oleh seorang individu kepada sesama yang lain. JRS menghargai martabat kemanusiaan para pengungsi melalui penemanan yang dijalankannya. Interaksi dan kerjasama dengan para pengungsi secara langsung dan personal inilah yang saling menguatkan baik para pengungsi maupun personil JRS sendiri. Melalui kehadiran langsung sebagai teman bagi para pengungsi, dan ikut merasakan kenyataan hidup mereka di tenda pengungsian, di wilayah konflik, di rumah-rumah detensi atau di manapun mereka berada, staf JRS menjadi lebih memahami cara terbaik untuk melayani dan membela mereka. MELAYANI
Berdasarkan kebutuhan pengungsi dan kemampuan JRS, staf JRS memberikan beragam pelayanan kepada lebih dari 500 pengungsi internal, pengungsi lintas batas, dan pencari suaka baik di wilayah urban maupun di rumah detensi. Pelayanan ini meliputi kegiatan rekreasional dan pendidikan serta bantuan untuk menopang dan meningkatkan kehidupan mereka. Pelayanan ini diberikan kepada pengungsi dan orang-orang yang berpindah tempat tanpa memandang ras, etnis maupun agama. ADVOKASI yang dilakukan oleh JRS ditentukan oleh beberapa ciri utama.

- Berakar dari keterlibatan langsung di lapangan
- Dilandasi oleh nilai-nilai Jesuit dan
- Berpusat pada hubungan langsung dengan para pengungsi
- Berbasis riset.

08/06/2026

Membangun organisasi yang inklusif dimulai dari proses belajar yang berkelanjutan.

JRS Indonesia menyelenggarakan Capacity Building on Humanitarian Inclusion Standards bagi para staf di Eco Spirit Center (ESC) Puspanita , Ciawi. Selama dua hari, peserta diajak untuk memperdalam pemahaman tentang pentingnya inklusi dalam kerja-kerja kemanusiaan bersama Ibu Arnice Ajawaila dari Yakkum Emergency Unit (YEU) .

Pelatihan ini menjadi ruang refleksi sekaligus pembelajaran mengenai bagaimana prinsip-prinsip inklusi dapat diterapkan dalam kebijakan, program, dan layanan kemanusiaan. Para staf juga berdiskusi mengenai praktik-praktik yang telah dilakukan serta peluang untuk memperkuat pendekatan yang lebih inklusif di JRS Indonesia.

Bagi JRS Indonesia, setiap orang berhak mendapatkan akses yang setara terhadap layanan dan dukungan yang dibutuhkan. Karena itu, meningkatkan kapasitas tim menjadi langkah penting agar kami dapat terus memberikan pendampingan yang lebih responsif, aman, dan inklusif bagi setiap individu yang kami layani.





30/05/2026

JRS Indonesia mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam pelatihan kerajinan tangan berbahan dasar eceng gondok yang diselenggarakan oleh Talithakum dan Daoer Zenee. Dalam kesempatan ini, JRS mengajak beberapa teman pengungsi dari komunitas Myanmar untuk ikut belajar dan mencoba pengalaman baru bersama.

Melalui pelatihan ini, para peserta diajak mengenal proses pembuatan kerajinan tangan dari eceng gondok, salah satunya berupa tatakan gelas atau cangkir. Dengan sangat antusias, peserta belajar langkah demi langkah, mulai dari mengenal bahan hingga mencoba membuat hasil karya mereka sendiri.

Selain melatih keterampilan baru, kegiatan ini menjadi ruang psikososial untuk belajar, berinteraksi, dan membangun rasa percaya diri melalui pengalaman yang kreatif dan menyenangkan.





26/05/2026

Trekking for Change: Clean-Up Mountain with Refugee Community. A collaborative social event organized by Decathlon Foundation Indonesia and JRS Indonesia.

The activity brought together members of the Refugee Talent Program (RTP), a refugee-led organization, alongside the Chinese community, Indonesia Philanthropy Diary, Decathlon Foundation staff, and the JRS Indonesia team for a connection and environmental action.

Held at Curug Bidadari, Sentul, Bogor Regency, the journey began with participants gathering at the meeting point before heading together to the trekking site. After a short stretching session to prepare, the group started their trek, guided through scenic trails leading to the waterfall.

More than just trekking, participants were invited to care for the environment by collecting trash found along the paths and river streams. Along the way, the beautiful natural surroundings, fresh air, and shared experiences made the activity both enjoyable and meaningful.

At the end of the day, the collected waste was weighed and handed over to the local guide for reuse and recycling purposes.

Through activities like this, we are reminded that meaningful change can begin with small actions.





19/05/2026

JRS Indonesia recently held a Public Awareness session at the Migration Class of the International Relations Department, Faculty of Humanities, Bina Nusantara (BINUS) University, West Jakarta.

The session was led by JRS Indonesia Bogor Project Coordinator, Zainuddin, who shared insights on the differences between asylum seekers, refugees, and internally displaced persons (IDPs), while also providing a broader picture of the refugee situation in Indonesia. Students were introduced to the realities faced by refugees, as well as the work of JRS Indonesia in accompanying, serving, and advocating for refugee communities.

The discussion was lively and interactive, with students actively asking questions and sharing reflections. One student shared that sessions like this are important for International Relations students, as they help broaden perspectives on migration and refugee issues within the Indonesian context. The lecturer of the class also expressed appreciation, highlighting how activities like this can deepen students' understanding of global issues and connect them to local realities.




Relations

Two JRS Indonesia volunteers from the United States, Liam and Elizabeth, spent time with students from the Global Englis...
16/05/2026

Two JRS Indonesia volunteers from the United States, Liam and Elizabeth, spent time with students from the Global English Learning (GEL) Class at the JRS Center through a Fun Day activity.

Through small group discussions, students were encouraged to speak more confidently in English, share their experiences, and interact directly with the volunteers. The class was filled with enthusiasm, laughter, and meaningful conversations.

For the participants, this activity was not only about learning English, but also about building confidence and creating new connections. We hope to see more Fun Day activities like this in the future!

Dua relawan JRS Indonesia dari Amerika Serikat, Liam dan Elizabeth, menghabiskan waktu bersama para siswa Global English Language (GEL) Class di JRS Center melalui kegiatan Fun Day.

Melalui kelompok-kelompok kecil, para siswa diajak untuk lebih berani berbicara dalam Bahasa Inggris, berbagi pengalaman, dan berinteraksi langsung. Suasana kelas dipenuhi antusiasme, tawa, dan cerita-cerita menarik dari para siswa.

Bagi para peserta, kegiatan ini bukan hanya tentang belajar Bahasa Inggris, tetapi juga tentang membangun rasa percaya diri dan koneksi baru. “Kami berharap akan ada lebih banyak Fun Day seperti ini ke depannya!”.





09/05/2026

Di tengah hiruk pikuk dunia yang terus berjalan, ada begitu banyak tempat yang justru terhenti karena perang.

Anak-anak kehilangan keluarga. Rumah-rumah hancur. Jutaan orang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya demi bertahan hidup.

Palestina, Sudan, Yaman, Lebanon, Iran, dan banyak wilayah lain terus dipenuhi kabar duka yang tak kunjung usai. Perang dan konflik terus memaksa jutaan orang menjadi pengungsi, hidup dalam kehilangan dan ketidakpastian.

Hari ini, satu tahun sejak terpilihnya Paus Leo XIV, kami bersyukur atas pelayanannya, kedekatannya dengan mereka yang paling rentan, dan komitmennya yang teguh untuk perdamaian.

Dalam tahun pertama kepemimpinannya, Paus Leo XIV terus mengingatkan bahwa perdamaian bukan sekadar cita-cita untuk diserukan, melainkan panggilan nyata yang harus dihidupi setiap hari oleh kita semua.

Sudah saatnya dunia lebih lantang menyuarakan kemanusiaan daripada kebencian. Sudah saatnya kita berkata bersama: Enough of War!

Karena setiap manusia berhak hidup aman. Berhak memiliki rumah. Berhak tumbuh tanpa rasa takut. Berhak tetap bersama orang-orang yang mereka cintai.

JRS Indonesia berdiri bersama suara perdamaian, bersama Paus Leo XIV, untuk terus menyuarakan harapan: tidak ada lagi perang, tidak ada lagi korban, dan tidak ada lagi pengungsi akibat konflik.

Amid the rush of a world that never stops moving, there are still so many places where life has come to a halt because of war.

Children lose their families. Homes are destroyed. Millions are forced to flee their homes just to survive.

Palestine, Sudan, Yemen, Lebanon, Iran, and many other places continue to be filled with stories of grief that never seem to end. Wars and conflicts continue to force millions of people into displacement, leaving them to live in loss and uncertainty.

Today, one year after the election of Pope Leo XIV, we are grateful for his ministry, his closeness to those who are most vulnerable, and his steadfast commitment to peace.

Throughout the first year of his pontificate, Pope Leo XIV has continued to remind us that peace is not only an ideal to be proclaimed, but a concrete call to be lived out every day by all of us.

It is time for the world to raise its voice louder for humanity than for hatred. It is time for us to say together: *Enough of War.*

Because every person deserves to live safely. To have a home. To grow without fear. To remain with the people they love.

JRS Indonesia stands with the voice of peace, together with Pope Leo XIV, to continue proclaiming hope: no more war, no more victims, and no more refugees forced to flee because of conflict.

Merayakan Kebersamaan di Minggu Panggilan.Menghidupi semangat Ignatian, kami percaya setiap panggilan menemukan maknanya...
07/05/2026

Merayakan Kebersamaan di Minggu Panggilan.

Menghidupi semangat Ignatian, kami percaya setiap panggilan menemukan maknanya saat diwujudkan dengan tujuan yang mulia.

Sebagai salah satu karya Serikat Yesus, JRS Indonesia hadir dalam agenda Minggu Panggilan di Gereja Santa Maria de Fatima Toasebio di penghujung April 2026. Kehadiran tim JRS sekaligus mengenalkan bagaimana sejauh ini karya-karya itu terus hadir melayani sesama manusia, termasuk bagi komunitas pengungsi.

Celebrating Togetherness on Vocational Sunday.

Living out the Jesuit spirit, we believe that every vocation finds its true meaning when it is embodied in a noble purpose.

JRS Indonesia, as one of the ministries of the Jesuits, took part in the Vocational Sunday program at Santa Maria de Fatima Toasebio Church at the end of April 2026. Through its presence, the JRS team also shared how these ministries continue to serve others, particularly within refugee communities.

28/04/2026

🌏 2026 Spring LuceSEA Webinar #4 - Imagining Borders: Nationality, Mobility and Belonging in Southeast Asia

Our last webinar of the 2026 Spring LuceSEA series is almost here! ✨

This timely webinar discusses how Southeast Asian borderlands live, negotiate, and challenge national boundaries. From disputes to statelessness. By discussing Stateless populations, informal crossings, and temporary migrations, this session rethinks nationality and belonging through the lived realities of border communities.

📅 Wednesday, April 29, 2026
⏰ 3:00 - 4:30 PM (HST) / 6:00 - 7:30 PM (PDT) / 9:00 - 10:30 PM (EST)
📍 Online (Zoom)
🔗 https://hawaii.zoom.us/webinar/register/WN_zdapXCvzRieEKqpxLPW87w #/registration

Registration required. Hosted by the UH Center for Southeast Asian Studies with support from the Henry Luce Foundation.

Please join us in celebrating another successful round of LuceSEA webinar! ✨🎉

28/04/2026

Consulting Opportunity

Position Title : Regional Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS) Consultancy

Location : Home-based in either the focused countries (Indonesia, Myanmar, Malaysia, Thailand); preferably based in Bangkok.

Expected Starting Date: 1 June 2026 with one year contract

JRS Indonesia recently welcomed a group of seminarians from the Xaverian Scholasticate (SX)  to the JRS Community Center...
27/04/2026

JRS Indonesia recently welcomed a group of seminarians from the Xaverian Scholasticate (SX) to the JRS Community Center, Cisarua, Bogor.

The visit started with a public awareness session from JRS Indonesia, sharing a general overview of the refugee situation, both in regional and in Indonesia, as well as the work of JRS in accompanying, serving, and advocating for refugees.

After that, the seminarians had the chance to meet directly with around 50 refugees from the Myanmar community, from children to older adults.

The activities were split into two groups. With the children and youth, they spent time playing games, singing, and sharing stories. In the adult group, the conversation became more reflective, as refugees shared their experiences and what life has been like living in Indonesia.

A simple meeting, but a meaningful space to listen and connect with other people.

JRS Indonesia baru saja menyambut kunjungan sekelompok frater dari Skolastikat Xaverian (SX) di JRS Community Center, Cisarua, Bogor.

Kunjungan ini diawali dengan sesi public awareness dari JRS Indonesia yang memberikan gambaran umum mengenai situasi pengungsi, baik secara regional maupun di Indonesia, serta memperkenalkan kerja-kerja JRS dalam menemani, melayani, dan mengadvokasi para pengungsi.

Setelah itu, para frater berkesempatan untuk bertemu langsung dengan sekitar 50 pengungsi dari komunitas Myanmar, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Kegiatan dilanjutkan dalam dua kelompok. Bersama anak-anak dan remaja, mereka menghabiskan waktu dengan bermain, bernyanyi, dan berbagi cerita. Sementara itu, di kelompok dewasa, percakapan berlangsung lebih reflektif, di mana para pengungsi membagikan pengalaman mereka dan kehidupan yang mereka jalani di Indonesia.

Sebuah pertemuan sederhana, namun menjadi ruang yang bermakna untuk saling mendengarkan dan terhubung satu sama lain.





Address

Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia Gang Cabe DP III, No 9 Puren
Pringwulung

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when JRS Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to JRS Indonesia:

Share