14/08/2026
Kopi, Agroforestry, dan Harapan Baru dari Batang Toru
Ada cerita tentang kopi yang jauh lebih besar dari secangkir minuman. Di Landscape Batang Toru, Sumatera Utara, kopi sedang tumbuh menjadi bagian dari sebuah gagasan penting: meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa harus mengorbankan hutan.
Melalui program livelihood, PRCF Indonesia mendampingi masyarakat mengembangkan kebun agroforestry, salah satunya di Desa Dolok Saut, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara. Kawasan ini merupakan bagian dari Ekosistem Batang Toru, lanskap penting bagi keanekaragaman hayati dan habitat Tapanuli orangutan.
Di kebun percontohan tersebut, petani menanam kopi Robusta dan Arabika bersama beragam tanaman. Ada alpukat, jengkol, manggis, durian, petai, pepaya, belimbing, pinang, aren, tebu, pisang, nanas, hingga jahe, serai, lengkuas, cabai, buncis, kangkung, sawi, daun bawang, dan kecipir.
Kebun itu juga dilengkapi kolam ikan mas dan lele serta kandang ayam dan bebek. Sekilas tampak seperti kebun biasa. Namun sesungguhnya, ia sedang menunjukkan wajah pertanian masa depan. Satu lahan, banyak sumber pangan. Satu kebun, banyak sumber pendapatan.
Konsepnya bukan sekadar menghasilkan kopi, tetapi membangun sistem pertanian saling mendukung. Kotoran ternak dapat diolah menjadi kompos dan dikembalikan ke tanah. Tanaman menghasilkan pangan dan pendapatan, sementara keberagaman tanaman membantu menjaga produktivitas serta kesuburan lahan.
Di sinilah pelajaran pentingnya. Pertanian berkelanjutan bukan hanya menghasilkan lebih banyak, tetapi menghasilkan dengan cara yang membuat tanah tetap hidup.
PRCF Indonesia mendampingi petani mulai dari budidaya, pengelolaan kebun, peningkatan kualitas tanaman, hingga pascapanen dan pemasaran. Kebun percontohan tersebut bukan milik PRCF, melainkan milik dan dikelola masyarakat. Setelah sekitar tiga tahun pendampingan, hasilnya mulai terlihat dan menarik petani lain untuk ikut mengembangkan kopi.
Perjalanan kopi kemudian bergerak dari kebun menuju pasar.
PRCF bersama kelompok petani meningkatkan kemampuan dalam pemetikan buah matang, pengeringan, sortasi, grading, pengolahan, dan pengendalian mutu. Tim dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) bahkan telah mendapatkan pelatihan untuk menghasilkan Specialty Coffee dan Fine Robusta.
Melalui kerja sama dengan NoFilter, dalam satu tahun terakhir kopi KUB dampingan PRCF telah dipasarkan ke Singapura dan Dubai. Sekitar 1,5 ton kopi Specialty dan 1 ton kopi Premium telah dikirim melalui jaringan tersebut.
Pada Agustus 2026, KUB mempersiapkan sekitar 1 ton kopi Premium untuk Singapura melalui kerja sama dengan NoFilter dan PT BAS. Sekitar 400 kilogram Fine Robusta juga dikirim kepada Coffeenatics untuk memenuhi pasar domestik.
Perkembangan ini melahirkan gagasan Apes for Apes Coffee, yang menghubungkan specialty coffee dengan konservasi Tapanuli orangutan dan penguatan ekonomi masyarakat.
Prinsipnya sederhana. Petani tidak harus membuka lahan lebih luas untuk memperoleh pendapatan lebih tinggi. Nilai ekonomi dapat ditingkatkan dari lahan yang sudah ada.
Dengan meningkatkan kualitas kopi dan menerapkan praktik pertanian berkelanjutan, masyarakat memiliki peluang memperoleh pendapatan lebih baik sekaligus mengurangi tekanan terhadap habitat orangutan.
Bagi Sabaruddin, Program Coordinator PRCF Indonesia untuk Sumatra di Landscape Batang Toru, pendekatan pertanian berkelanjutan dengan prinsip permakultur menjadi salah satu cara mempertemukan konservasi dan kesejahteraan.
Sebab, konservasi tidak cukup hanya mengatakan kepada masyarakat, “Jangan membuka hutan.” Masyarakat juga harus memiliki pilihan ekonomi yang layak.
Itulah sebabnya kebun percontohan dibangun sebagai ruang belajar. Petani belajar dari kebun, kemudian pengetahuan tersebut diharapkan menyebar kepada petani lainnya.
Pada akhirnya, kopi Batang Toru bukan hanya tentang rasa. Ia bercerita tentang petani, keluarga, tanah, pasar, hutan, dan Tapanuli orangutan.
Secangkir kopi mungkin berasal dari sebuah kebun. Namun kebun yang dikelola dengan bijak dapat menjadi awal perubahan yang jauh lebih besar. Bukan sekadar menanam kopi. Melainkan menanam masa depan.
Rosadi