PRCF - Indonesia

PRCF - Indonesia Tujuan PRCF tertanam dalam Pernyataan Misi tersebut; ‘Untuk memperkuat partisipasi lokal dalam konservasi keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem.

Kopi, Agroforestry, dan Harapan Baru dari Batang ToruAda cerita tentang kopi yang jauh lebih besar dari secangkir minuma...
14/08/2026

Kopi, Agroforestry, dan Harapan Baru dari Batang Toru

Ada cerita tentang kopi yang jauh lebih besar dari secangkir minuman. Di Landscape Batang Toru, Sumatera Utara, kopi sedang tumbuh menjadi bagian dari sebuah gagasan penting: meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa harus mengorbankan hutan.

Melalui program livelihood, PRCF Indonesia mendampingi masyarakat mengembangkan kebun agroforestry, salah satunya di Desa Dolok Saut, Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara. Kawasan ini merupakan bagian dari Ekosistem Batang Toru, lanskap penting bagi keanekaragaman hayati dan habitat Tapanuli orangutan.

Di kebun percontohan tersebut, petani menanam kopi Robusta dan Arabika bersama beragam tanaman. Ada alpukat, jengkol, manggis, durian, petai, pepaya, belimbing, pinang, aren, tebu, pisang, nanas, hingga jahe, serai, lengkuas, cabai, buncis, kangkung, sawi, daun bawang, dan kecipir.

Kebun itu juga dilengkapi kolam ikan mas dan lele serta kandang ayam dan bebek. Sekilas tampak seperti kebun biasa. Namun sesungguhnya, ia sedang menunjukkan wajah pertanian masa depan. Satu lahan, banyak sumber pangan. Satu kebun, banyak sumber pendapatan.

Konsepnya bukan sekadar menghasilkan kopi, tetapi membangun sistem pertanian saling mendukung. Kotoran ternak dapat diolah menjadi kompos dan dikembalikan ke tanah. Tanaman menghasilkan pangan dan pendapatan, sementara keberagaman tanaman membantu menjaga produktivitas serta kesuburan lahan.

Di sinilah pelajaran pentingnya. Pertanian berkelanjutan bukan hanya menghasilkan lebih banyak, tetapi menghasilkan dengan cara yang membuat tanah tetap hidup.

PRCF Indonesia mendampingi petani mulai dari budidaya, pengelolaan kebun, peningkatan kualitas tanaman, hingga pascapanen dan pemasaran. Kebun percontohan tersebut bukan milik PRCF, melainkan milik dan dikelola masyarakat. Setelah sekitar tiga tahun pendampingan, hasilnya mulai terlihat dan menarik petani lain untuk ikut mengembangkan kopi.

Perjalanan kopi kemudian bergerak dari kebun menuju pasar.

PRCF bersama kelompok petani meningkatkan kemampuan dalam pemetikan buah matang, pengeringan, sortasi, grading, pengolahan, dan pengendalian mutu. Tim dan Kelompok Usaha Bersama (KUB) bahkan telah mendapatkan pelatihan untuk menghasilkan Specialty Coffee dan Fine Robusta.

Melalui kerja sama dengan NoFilter, dalam satu tahun terakhir kopi KUB dampingan PRCF telah dipasarkan ke Singapura dan Dubai. Sekitar 1,5 ton kopi Specialty dan 1 ton kopi Premium telah dikirim melalui jaringan tersebut.

Pada Agustus 2026, KUB mempersiapkan sekitar 1 ton kopi Premium untuk Singapura melalui kerja sama dengan NoFilter dan PT BAS. Sekitar 400 kilogram Fine Robusta juga dikirim kepada Coffeenatics untuk memenuhi pasar domestik.

Perkembangan ini melahirkan gagasan Apes for Apes Coffee, yang menghubungkan specialty coffee dengan konservasi Tapanuli orangutan dan penguatan ekonomi masyarakat.

Prinsipnya sederhana. Petani tidak harus membuka lahan lebih luas untuk memperoleh pendapatan lebih tinggi. Nilai ekonomi dapat ditingkatkan dari lahan yang sudah ada.

Dengan meningkatkan kualitas kopi dan menerapkan praktik pertanian berkelanjutan, masyarakat memiliki peluang memperoleh pendapatan lebih baik sekaligus mengurangi tekanan terhadap habitat orangutan.

Bagi Sabaruddin, Program Coordinator PRCF Indonesia untuk Sumatra di Landscape Batang Toru, pendekatan pertanian berkelanjutan dengan prinsip permakultur menjadi salah satu cara mempertemukan konservasi dan kesejahteraan.

Sebab, konservasi tidak cukup hanya mengatakan kepada masyarakat, “Jangan membuka hutan.” Masyarakat juga harus memiliki pilihan ekonomi yang layak.

Itulah sebabnya kebun percontohan dibangun sebagai ruang belajar. Petani belajar dari kebun, kemudian pengetahuan tersebut diharapkan menyebar kepada petani lainnya.

Pada akhirnya, kopi Batang Toru bukan hanya tentang rasa. Ia bercerita tentang petani, keluarga, tanah, pasar, hutan, dan Tapanuli orangutan.

Secangkir kopi mungkin berasal dari sebuah kebun. Namun kebun yang dikelola dengan bijak dapat menjadi awal perubahan yang jauh lebih besar. Bukan sekadar menanam kopi. Melainkan menanam masa depan.

Rosadi

Sungai Desa Nanga Lauk Mengalami KekeringanMusim kemarau sedang melanda hampir di seluruh wilayah Kalbar. Termasuk juga ...
13/08/2026

Sungai Desa Nanga Lauk Mengalami Kekeringan

Musim kemarau sedang melanda hampir di seluruh wilayah Kalbar. Termasuk juga Kapuas Hulu. Di Desa Nanga Lauk sungainya juga mengalami kekeringan yang parah. Kondisi ini biasanya dimanfaatkan warga untuk mencari ikan.

12/08/2026

LPHD Nyuai Peningun menghadiri apel siaga karhutla di kantor Kecamatan Boyan Tanjung

Madu Hutan Nanga Lauk Menembus Pasar Jawa TimurMisi Dagang dan Investasi antara Jawa Timur dan Kalimantan Barat yang dig...
11/08/2026

Madu Hutan Nanga Lauk Menembus Pasar Jawa Timur

Misi Dagang dan Investasi antara Jawa Timur dan Kalimantan Barat yang digelar pada 10–11 Agustus 2026 bukan sekadar pertemuan bisnis. Di balik angka transaksi yang mencapai Rp2,3 triliun, terselip kabar membanggakan tentang potensi produk masyarakat desa mulai membuka jalan menuju pasar lebih luas.

PRCF Indonesia turut menghadiri kegiatan tersebut dengan mengutus Suhartian Fajru. Dalam pertemuan itu, PRCF Indonesia berhasil membangun kesepakatan dengan salah satu buyer asal Jawa Timur. Buyer itu tertarik madu hutan Nanga Lauk, yang dikenal dengan merek Denala.

Kesepakatan tersebut tentu belum menjadi akhir. Akan ada tindak lanjut untuk memastikan kebutuhan pasar, kapasitas produksi, standar kualitas, hingga mekanisme kerja sama dapat berjalan dengan baik. Namun, langkah kecil ini menjadi sinyal penting, produk hutan desa memiliki peluang untuk naik kelas ketika dikelola secara serius dan berkelanjutan.

Madu Denala merupakan madu hutan yang berasal dari Hutan Desa Nanga Lauk dan dikelola oleh LPHD Lauk Bersatu, sebuah lembaga yang mendapatkan pendampingan dari PRCF Indonesia. Di dalam LPHD Lauk Bersatu terdapat Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Madu yang secara khusus mengelola madu hutan dengan memperhatikan standar pengelolaan dan kualitas produk.

Inilah wajah lain dari ekonomi berbasis hutan. Hutan tidak harus ditebang untuk menghasilkan nilai ekonomi. Dengan tata kelola yang baik, lebah dapat bekerja, masyarakat mendapatkan penghasilan, dan hutan tetap berdiri.

Potensi tersebut semakin berarti ketika ditempatkan dalam skala perdagangan antardaerah. Misi Dagang Jawa Timur–Kalimantan Barat berhasil membukukan komitmen transaksi senilai Rp2,3 triliun, mencakup komoditas dan investasi. Salah satu komitmen terbesar datang dari sektor peternakan. PT Phalosari Unggul Jaya dari Jombang berkomitmen memasok daging, susu, telur, DOC, dan produk peternakan lainnya ke Kalbar senilai Rp1,001 triliun per tahun. Jawa Timur juga menawarkan peningkatan kapasitas SDM bidang inseminasi buatan melalui Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari.

Kadin kedua provinsi turut menandatangani MoU untuk memperkuat kerja sama perdagangan, investasi, pengembangan SDM, dan pembinaan UMKM. Transaksi juga mencakup rokok, kopi, pakan ikan, arang batok kelapa, serta komoditas lainnya. Kalbar sendiri memiliki potensi besar berupa cangkang sawit, CPO, dan garam produksi lokal.

Di tengah derasnya arus perdagangan, madu Denala mengingatkan kita, kekayaan Kalbar bukan hanya soal tambang, sawit, atau komoditas berskala besar. Ada madu dari hutan desa, ada masyarakat yang menjaga hutan, dan ada produk lokal yang perlahan mengetuk pintu pasar nasional.

Ketika madu Nanga Lauk mulai dilirik pasar Jawa Timur, sesungguhnya sedang bergerak bukan hanya sebotol madu. Ada ekonomi desa, ada kerja keras masyarakat, ada hutan yang dijaga, dan ada harapan, kesejahteraan dapat tumbuh tanpa harus mengorbankan alam.

Itulah alasan mengapa madu Denala layak dibanggakan, manis produknya, kuat ceritanya, dan hijau masa depannya.

Rosadi

PRCF Indonesia Ikut Menanam Mangrove Pada saat Peringatan Hari Mangrove Sedunia di Sumatera Utara, PRCF Indonesia juga a...
07/08/2026

PRCF Indonesia Ikut Menanam Mangrove

Pada saat Peringatan Hari Mangrove Sedunia di Sumatera Utara, PRCF Indonesia juga andil menanam. Lokasi penanaman Pantai Merdeka, Desa Bagan Kuala, Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

PRCF Indonesia Ambil Bagian di Non-Timber Forest Products/NTFP Sarawak MalaysiaAda cara lain membuat hutan bernilai ekon...
05/08/2026

PRCF Indonesia Ambil Bagian di Non-Timber Forest Products/NTFP Sarawak Malaysia

Ada cara lain membuat hutan bernilai ekonomi tanpa menebang pohonnya, menjaga hutannya, memanfaatkan hasilnya secara lestari, lalu mengubahnya menjadi produk bernilai tinggi.

Pesan itulah yang dibawa Kalimantan Barat dalam Ekspo Hasil Hutan Bukan Kayu (Non-Timber Forest Products/NTFP) Zon Selatan di Plaza Merdeka, Kuching, Sarawak, Malaysia, 31 Juli hingga 9 Agustus 2026.

Menariknya, PRCF Indonesia ikut ambil bagian dalam ekspo tersebut. PRCF Indonesia tergabung dalam delegasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang mendapat undangan resmi dari Sarawak.

“Kita promosikan Madu Hutan dari Desa Nanga Lauk dan kain tenun tradisional dari komunitas Dayak Iban di Kapuas Hulu dan Sintang,” kata Direktur PRCF Indonesia, Imanul Huda, S.Hut., M.Hut.

Sekilas, yang dibawa hanyalah madu dan kain. Namun, sesungguhnya kedua produk itu membawa cerita besar tentang hutan, masyarakat, budaya, dan masa depan ekonomi desa.

Madu hutan yang dipamerkan merupakan hasil Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) dari Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) dampingan PRCF Indonesia di Kapuas Hulu. Sementara kain tenun merupakan karya komunitas Dayak Iban di Sintang yang terus menjaga warisan budaya leluhur.

Inilah wajah ekonomi hijau yang sering kali terlupakan. Hutan tetap berdiri. Masyarakat tetap memperoleh penghasilan. Kebudayaan tetap hidup. Bahkan, produk desa tersebut kini menyeberangi batas negara.

Imanul Huda menyebut hasil partisipasi Kalbar cukup menggembirakan. Produk HHBK tidak hanya dikenal masyarakat Sarawak, tetapi juga menarik perhatian sejumlah pengusaha setempat.

Beberapa pengusaha bahkan memborong produk yang dipamerkan dan melanjutkan komunikasi untuk pemesanan berkelanjutan setelah pameran, baik tenun tradisional maupun madu hutan dari Nanga Lauk.

Dengan demikian, ekspo bukan lagi sekadar tempat memajang produk. Ia berubah menjadi jembatan antara desa dan pasar, antara pelestarian alam dan kesejahteraan, sekaligus antara Indonesia dan Malaysia.

Ekspo tersebut diselenggarakan Jabatan Hutan Sarawak dengan tema “Support Local Hands, Sustain Natural Lands”, yang menekankan pentingnya mendukung masyarakat lokal sekaligus menjaga kelestarian alam.

Tema itu sangat relevan bagi Kalbar. Sebab hutan bukan hanya kayu. Hutan juga menghasilkan madu, tanaman herbal, kerajinan, pangan, serta berbagai produk inovatif yang dapat menggerakkan ekonomi masyarakat.

Pemerintah Provinsi Kalbar mendapat kesempatan menampilkan berbagai produk HHBK tersebut. Namun, panitia menetapkan batasan tegas; produk berbahan plastik, minuman beralkohol, satwa liar, dan spesies yang dilindungi tidak diperkenankan dipamerkan.

Pesannya jelas: ekonomi boleh tumbuh, tetapi alam tidak boleh menjadi korban.

Panitia menyediakan dua ruang pameran untuk hingga delapan peserta dari Kalbar, lengkap dengan meja, kursi, listrik, akomodasi, dan kupon makan. Pameran dan penjualan berlangsung setiap hari pukul 10.00–22.00 waktu setempat. Persiapan stan dilakukan 30 Juli, penutupan 9 Agustus, dan peserta kembali ke daerah masing-masing pada 10 Agustus 2026.

Undangan tersebut disampaikan Jabatan Hutan Sarawak melalui Konsulat Malaysia di Pontianak kepada Kepala DLHK Kalbar. Dalam surat tertanggal 5 Juli 2026, Konsul Malaysia di Pontianak, Azizul Zekri bin Abd Rahim, meneruskan undangan Pengarah Hutan Sarawak, Datu Haji Hamden bin Haji Mohammad.

Bagi Kalbar, kesempatan ini bukan sekadar tampil di negeri jiran. Ini adalah panggung untuk menunjukkan bahwa desa-desa di pedalaman memiliki produk, budaya, dan pengetahuan yang layak dihargai dunia.

Madu dari Nanga Lauk dan tenun Dayak Iban membawa pesan sederhana. Hutan yang dijaga bisa menghasilkan. Tradisi yang dirawat bisa bernilai. Dan masyarakat tidak harus meninggalkan hutannya untuk membangun masa depan.

Inilah ekonomi hijau yang sesungguhnya: ketika hutan tetap berdiri, budaya tetap hidup, dan kesejahteraan masyarakat ikut tumbuh.

Rosadi

Menjaga Hutan, Menyejahterakan MasyarakatDi jantung Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Nanga Lauk, Kabupaten Kapuas Hulu...
04/08/2026

Menjaga Hutan, Menyejahterakan Masyarakat

Di jantung Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Nanga Lauk, Kabupaten Kapuas Hulu, masyarakat membuktikan, hutan bukan hanya paru-paru dunia, tetapi juga sumber kehidupan yang nyata. LPHD Lauk Bersatu diberikan mandat untuk mengelola hutan desa seluas 1.430 hektar. Hak mendapatkan hak kelola sejak 2017. LPHD mendapat dampingan langsung dari PRCF Indonesia.

Dalam pengelolaan hutan desa, warga diajak secara bijak memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. Itu menjadi tulang punggung ekonomi sekaligus menjaga kelestarian alam. Sebanyak 95 persen penduduk menggantungkan hidup dari sumber daya hutan, baik melalui panen alam maupun budidaya, menjadikan desa ini contoh nyata bagaimana konservasi dan kesejahteraan dapat berjalan beriringan.

Hasil analisis partisipatif bersama masyarakat menunjukkan tiga komoditas prioritas dengan potensi luar biasa. Kratom menjadi primadona dengan 174 kepala keluarga atau 70,7 persen penduduk yang membudidayakan tanaman ini sejak 2015, membuka akses pasar ekspor dengan permintaan yang stabil meskipun masih dalam perjalanan menuju pengakuan legal penuh.

Perikanan menopang kehidupan 142 kepala keluarga dengan ketersediaan ikan melimpah sepanjang tahun, mencapai 10 hingga 15 ton per musim panen raya, yang diolah menjadi ikan asin, asap, atau fillet sebagai lumbung pangan dan ekonomi desa yang tangguh.

Madu hutan dari lebah Apis dorsata menjadi komoditas bernilai tinggi dengan 132 kepala keluarga terlibat, dua kali panen per tahun dengan produksi mencapai 10 hingga 12 ton, yang telah mengantongi sertifikasi halal dan ICS sehingga membuka peluang pasar yang lebih luas dan kompetitif.

Program Rimbak Pakai Pengidup yang dijalankan bersama masyarakat melalui mekanisme Plan Vivo menjadi jembatan antara kebutuhan ekonomi dan konservasi, dengan pendekatan Market Systems Development untuk mengidentifikasi akar masalah dalam rantai pasok dan merancang intervensi strategis. Dalam usaha madu, fokus diberikan pada peningkatan keselamatan panen melalui alat pelindung diri, standarisasi higienitas pascapanen, serta penguatan kelembagaan KUPS untuk stabilitas harga. Untuk perikanan, intervensi mencakup pembangunan rumah pengering modern, pelatihan pengolahan, dan pendampingan legalitas produk. Sementara kratom dikembangkan melalui sekolah lapang budidaya berkelanjutan, standarisasi mutu, dan pembentukan kelembagaan kolektif yang memperkuat posisi tawar petani.

Keunikan pengelolaan sumber daya di Nanga Lauk terlihat dari pembagian peran yang setara antara laki-laki dan perempuan. Dalam usaha madu, laki-laki memimpin kegiatan ekstraksi di hutan dengan risiko tinggi, sementara perempuan memegang kendali penuh atas pengelolaan keuangan dan strategi penjualan. Pada sektor perikanan, meskipun penangkapan didominasi laki-laki, pengolahan dan penjualan berlangsung seimbang. Keterlibatan 70,7 persen kepala keluarga dalam usaha kratom juga menunjukkan bahwa seluruh anggota keluarga bahu-membahu dari persiapan lahan hingga pascapanen, menciptakan harmoni dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Kisah Nanga Lauk adalah inspirasi bahwa hutan desa yang dikelola secara lestari dapat menjadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan. Dengan intervensi yang tepat dari hulu hingga hilir, mulai dari peningkatan kapasitas teknis, pemenuhan standar mutu, hingga penguatan kelembagaan, masyarakat tidak hanya menjadi produsen tangguh tetapi juga pengelola hutan yang bertanggung jawab. Pengembangan kemitraan strategis dengan pembeli dan eksportir, penerapan sistem resi gudang, serta perluasan akses pasar akan semakin memperkuat posisi tawar masyarakat. Hutan Desa Nanga Lauk bukan sekadar kawasan lindung, melainkan masa depan yang hijau, adil, dan sejahtera bagi generasi mendatang.

Rosadi

Menjadi Rimbawan di Zaman Hutan dan AlgoritmaAda ratusan mahasiswa baru yang hari ini mungkin masih sibuk menghafal leta...
03/08/2026

Menjadi Rimbawan di Zaman Hutan dan Algoritma

Ada ratusan mahasiswa baru yang hari ini mungkin masih sibuk menghafal letak gedung fakultas, mencari kantin termurah, atau bertanya dalam hati, “Kuliah kehutanan nanti kerjaannya jadi apa?”

Pertanyaan itu wajar. Sebab hutan hari ini tidak hanya membutuhkan orang yang bisa membedakan meranti dan tekam. Hutan membutuhkan manusia yang mampu membaca perubahan zaman.

Pesan itu disampaikan Fasilitator Konservasi PRCF Indonesia, Yadi Purwanto, S.Hut., saat menjadi pembicara dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Pontianak, 3 Agustus 2026. Di hadapan ratusan mahasiswa baru, Yadi mengangkat tema “Beyond the Forest: Menyiapkan Rimbawan Unggul untuk Dunia Kerja Global.”

Pesannya sederhana, tetapi nusuk: ijazah saja tidak cukup.

Dunia kerja punya hukum rimba sendiri. Yang tidak mau belajar akan tersisih. Yang tidak mau beradaptasi akan tertinggal. Yang hanya mengandalkan teori di ruang kuliah bisa saja kalah dengan mereka yang rajin mengamati, bertanya, berorganisasi, magang, mengikuti pelatihan, bahkan rela turun ke lapangan.

Yadi mengingatkan pentingnya kemampuan teknis sekaligus nonteknis, konsistensi, tanggung jawab, dan keberanian bertanya kepada orang yang lebih ahli.

Menariknya, masa depan kehutanan ternyata semakin luas. Ada perubahan iklim, perhutanan sosial, restorasi ekosistem, kredit karbon, biodiversity credit, sertifikasi, MRV, MEL, kebijakan seperti EUDR, RSPO, ISPO, imbal jasa ekosistem, hingga nature-based solution.

Jadi, mahasiswa kehutanan jangan sampai hanya mengenal hutan dari foto Instagram. Hutan harus dipahami, dicintai, dijaga, dan yang paling penting, diperjuangkan keberadaannya.

Caranya? Aktif berorganisasi, ikut pelatihan dan sertifikasi, magang, serta menjadi relawan konservasi.

Sebab hutan tidak pernah meminta kita menjadi pahlawan super. Hutan hanya membutuhkan manusia yang mau belajar, mau turun tangan, dan tidak tega melihat pohon berdiri sendirian sementara manusia sibuk menghitung keuntungan.

Selamat datang, para calon rimbawan. Kuliah boleh dimulai dari ruang kelas. Tetapi perjalanan menjadi penjaga hutan dimulai ketika kalian berani keluar dari kelas.

Rosadi

PRCF Indonesia Diundang Menjadi Pemateri di Rakorda MUI se-KalimantanUndangan itu bukan sekadar sebuah surat. Bagi PRCF ...
27/07/2026

PRCF Indonesia Diundang Menjadi Pemateri di Rakorda MUI se-Kalimantan

Undangan itu bukan sekadar sebuah surat. Bagi PRCF Indonesia, kepercayaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat merupakan amanah besar untuk berbagi gagasan tentang bagaimana menjaga bumi adalah bagian dari menjaga kehidupan. MUI Kalbar secara resmi mengundang PRCF Indonesia menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Daerah (RAKORDA) MUI Wilayah V se-Kalimantan Tahun 2026 yang akan digelar pada Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 19.30–21.30 WIB di Grand Mahkota Hotel Pontianak. Dalam forum strategis tersebut, PRCF Indonesia akan menyampaikan materi bertajuk "Esensi Kelestarian Lingkungan Bagi Keberlangsungan Hidup."

Direktur PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hum menyatakan kesiapannya untuk berdiri di hadapan para ulama dari seluruh Kalimantan. Baginya, pelestarian lingkungan bukan sekadar isu ekologis, melainkan ikhtiar bersama untuk memastikan generasi mendatang tetap memiliki hutan, air bersih, udara yang sehat, dan sumber kehidupan yang berkelanjutan.

Dalam pemaparannya nanti, Imanul Huda akan berbagi pengalaman nyata PRCF Indonesia mendampingi pengelolaan hutan desa di enam desa di Kabupaten Kapuas Hulu. Pendekatan yang dijalankan tidak hanya berorientasi pada konservasi, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan hutan yang lestari, partisipatif, dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar.

Kehadiran PRCF Indonesia dalam forum yang mempertemukan sekitar 250 peserta dari MUI lima provinsi di Kalimantan menjadi bukti, isu lingkungan kini menjadi perhatian bersama, sejajar dengan isu ekonomi dan sosial-keagamaan. RAKORDA MUI Wilayah V se-Kalimantan memang mengusung tema besar tentang peran strategis MUI dalam merespons persoalan ekonomi, ekologi, dan sosial-keagamaan di tengah perubahan zaman.

Momentum ini mengajarkan, menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau pegiat lingkungan. Ketika ulama, masyarakat, dan lembaga seperti PRCF Indonesia berjalan bersama, lahirlah harapan baru, pembangunan dan pelestarian alam dapat saling menguatkan. Sebab, hutan lestari bukan hanya warisan alam, tetapi juga warisan moral bagi generasi akan datang.

Rosadi

Address

Yayasan PRCF – Indonesia Jalan Drive Wahidin Gang Sepakat 6 Komplek Mitra Utama 6 No. 5B Pontianak
Pontianak
78116

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 17:00

Telephone

+62 561 6590021

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PRCF - Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to PRCF - Indonesia:

Shortcuts

Share