GNC Network

GNC Network Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from GNC Network, Non-Governmental Organization (NGO), Pekanbaru.

Harimau Sumatera Teror Warga Indragiri Hilir, Sekolah Terpaksa Diliburkan Demi KeselamatanKemunculan seekor Harimau Suma...
30/07/2026

Harimau Sumatera Teror Warga Indragiri Hilir, Sekolah Terpaksa Diliburkan Demi Keselamatan

Kemunculan seekor Harimau Sumatera di Desa Sungai Danai, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Satwa dilindungi tersebut diduga telah memangsa dan melukai ternak warga. Jejak kaki berukuran besar yang ditemukan di sekitar permukiman semakin memperkuat dugaan bahwa harimau masih berkeliaran di kawasan tersebut, sehingga aktivitas masyarakat menjadi sangat terbatas.

Demi mengutamakan keselamatan warga, khususnya para pelajar dan tenaga pendidik, pemerintah setempat memutuskan menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di wilayah terdampak. Seluruh proses pembelajaran dialihkan ke rumah hingga kondisi dinyatakan aman oleh pihak berwenang. Aparat kepolisian bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau juga terus melakukan pemantauan untuk mencegah terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konflik antara manusia dan satwa liar masih menjadi tantangan besar di berbagai wilayah Indonesia. Menyusutnya habitat alami, perubahan bentang alam, serta meningkatnya aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan dapat memperbesar potensi perjumpaan dengan satwa liar. Karena itu, penanganan harus mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus memastikan perlindungan terhadap Harimau Sumatera yang berstatus satwa dilindungi dan terancam punah.

Kehadiran Harimau Sumatera di sekitar permukiman bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga menjadi cerminan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Menurut Anda, langkah apa yang paling efektif agar keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengancam kelestarian Harimau Sumatera di habitat alaminya?

Sumber: Kompascom

GREEN NUSANTARA CONSERVATION NETWORK

Jaringan kampanye publik untuk perlindungan hutan, satwa dan ekosistem

Menjaga Kehidupan Nusantara Sebelum Terlambat

Mengenal Taipan Papua, Spesies Eksotis yang Menjadi Salah Satu Ular Paling Berbisa di DuniaSelama ini, kita mungkin lebi...
12/07/2026

Mengenal Taipan Papua, Spesies Eksotis yang Menjadi Salah Satu Ular Paling Berbisa di Dunia

Selama ini, kita mungkin lebih sering mendengar ketenaran King Cobra sebagai salah satu ular paling berbahaya. Namun, tahukah Anda bahwa di dalam ekosistem Tanah Papua, hidup salah satu spesies ular darat berbisa paling mematikan ketiga di dunia? Satwa tersebut adalah Taipan Papua (Oxyuranus scutellatus), reptil eksotis yang bisa tumbuh hingga sepanjang tiga meter.

Sebagai bagian penting dari keseimbangan alam, Taipan Papua sebenarnya memilih habitat yang spesifik seperti hutan monsoon, padang rumput savana, hingga wilayah pesisir tropis yang hangat dan basah. Di lingkungan alaminya, ular ini s**a berlindung di liang hewan yang sudah tidak terawat, batang kayu berongga, serta tumpukan dedaunan. Keberadaan mereka di alam liar berfungsi penting untuk mengontrol pop**asi mangsanya agar ekosistem tetap stabil.

Namun, kedekatan ruang hidup antara aktivitas manusia dan habitat satwa ini kerap memicu interaksi yang tidak diinginkan. Berdasarkan catatan data kesehatan, gigitan ular berbisa seperti Taipan Papua dan Death Adder menjadi salah satu tantangan lingkungan dan kesehatan di Pulau New Guinea, di mana diperkirakan hingga 1.000 kematian terjadi setiap tahunnya akibat gigitan ular. Menjaga kelestarian habitat hutan dan memahami cara memitigasi konflik dengan satwa berbisa menjadi kunci agar manusia dan margasatwa bisa hidup berdampingan dengan aman.

Menurut Anda, langkah edukasi apa yang paling efektif agar masyarakat bisa tetap aman tanpa harus merusak habitat asli satwa liar seperti Taipan Papua ini? Mari berbagi pendapat di kolom komentar!

Sumber: Jubi

GREEN NUSANTARA CONSERVATION NETWORK

Jaringan kampanye publik untuk perlindungan hutan, satwa dan ekosistem

Menjaga Kehidupan Nusantara Sebelum Terlambat

Kabar Baik untuk Satwa Nusantara: Presiden Terbitkan Inpres Khusus Penyelamatan Gajah Sumatera dan KalimantanSebuah lang...
12/07/2026

Kabar Baik untuk Satwa Nusantara: Presiden Terbitkan Inpres Khusus Penyelamatan Gajah Sumatera dan Kalimantan

Sebuah langkah besar diambil pemerintah dalam upaya memperkuat perlindungan satwa endemik Indonesia yang kini kian terancam. Presiden Prabowo Subianto secara resmi menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) yang berfokus pada penyelamatan pop**asi dan habitat Gajah Sumatera serta Gajah Kalimantan. Kebijakan ini menjadi angin segar bagi pelestarian ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati secara jangka panjang.

Inpres strategis ini mengatur komitmen dan keterlibatan lintas sektor secara ketat agar pembangunan infrastruktur nasional tidak lagi mengorbankan kelestarian satwa liar. Sebagai contoh konkret, jika terdapat pembangunan jalan oleh kementerian terkait yang memotong wilayah jelajah (home range) gajah, maka pembangunan tersebut wajib menyediakan koridor khusus satwa. Begitu p**a dengan sektor perkebunan yang areanya bersinggungan dengan jalur jelajah gajah, mereka diwajibkan mengosongkan dan memperkaya ruang tersebut menjadi area preservasi agar pasokan makanan gajah tetap terpenuhi.

Guna memastikan implementasinya berjalan efektif di lapangan, kebijakan penyelamatan rumah mamalia besar ini mengamanatkan tugas kepada 9 menteri. Kementerian tersebut meliputi Kementerian Kehutanan, Pertanian, Dalam Negeri, ATR/BPN, ESDM, Pekerjaan Umum, Lingkungan Hidup, Keuangan, hingga Kementerian Investasi dan Hilirisasi. Selain jajaran kementerian, pihak Kepolisian Republik Indonesia beserta para Gubernur, Bupati, dan Wali Kota di wilayah Sumatera serta Kalimantan Utara turut memegang kewajiban penuh untuk mengeksekusi aturan ini demi keharmonisan ekosistem di daerah masing-masing.

Melalui sinergi berskala besar ini, diharapkan konflik antara manusia dan gajah akibat fragmentasi lahan dapat diminimalisir secara signifikan. Perlindungan habitat alami gajah bukan sekadar menyelamatkan satu spesies semata, melainkan juga menjaga keutuhan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan dan penyeimbang iklim mikro yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup lainnya.

Menurut Anda bagaimana? Bagaimana cara terbaik bagi kita sebagai masyarakat untuk ikut mengawal pelaksanaan Inpres ini agar penyelamatan gajah di lapangan benar-benar berjalan maksimal?

Sumber: Kompascom

GREEN NUSANTARA CONSERVATION NETWORK

Jaringan kampanye publik untuk perlindungan hutan, satwa dan ekosistem

Menjaga Kehidupan Nusantara Sebelum Terlambat

Habitat Alami di Tepian Aliran Sungai, Buaya Sepanjang 4 Meter Muncul di TembilahanWarga Tembilahan, khususnya yang berm...
12/07/2026

Habitat Alami di Tepian Aliran Sungai, Buaya Sepanjang 4 Meter Muncul di Tembilahan

Warga Tembilahan, khususnya yang bermukim dan beraktivitas di tepian Sungai Indragiri, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Seekor buaya yang diperkirakan berukuran tiga hingga empat meter dilaporkan muncul beberapa kali di sekitaran Pos Polairud parit 19. Selain di kawasan tersebut, satwa predator ini juga sempat terlihat oleh warga di sekitar tepian aliran sungai dekat pelabuhan parit 21 Tembilahan.

Merespons laporan tersebut, sebanyak delapan petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil diturunkan ke lokasi untuk melakukan penyisiran bersama personil Polairud. Meski penyisiran telah dilakukan selama kurang lebih dua jam mengitari areal pelabuhan, keberadaan buaya tersebut belum berhasil ditemukan kembali. Pihak berwenang mengingatkan bahwa buaya merupakan satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang konservasi sumber daya alam hayati, sehingga penanganannya harus dilakukan oleh dinas terkait agar aman bagi masyarakat maupun satwa itu sendiri.

Kemunculan buaya di wilayah Indragiri Hilir ini sebenarnya bukanlah hal baru bagi ekosistem lokal. Kondisi geografis Kabupaten Inhil yang didominasi oleh kawasan rawa dan jaringan aliran sungai yang luas menjadikan wilayah ini sebagai habitat alami bagi pop**asi buaya. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pihak berwenang untuk saling menjaga jarak aman serta melakukan mitigasi konflik guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di ruang hidup yang berdampingan ini.

Sebagai langkah antisipasi lanjutan, petugas akan memasang spanduk imbauan di sepanjang aliran sungai agar warga yang beraktivitas di perairan tetap berhati-hati. Masyarakat juga diminta untuk segera menghubungi petugas DPKP jika kembali melihat penampakan satwa tersebut agar dapat dipantau secara berkala. Kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian habitat alami sangat diperlukan demi terciptanya keseimbangan ekosistem dan keselamatan warga.

Menurut Anda bagaimana? Langkah edukasi apa yang paling efektif bagi masyarakat tepian sungai agar bisa beraktivitas dengan aman di sekitar habitat alami satwa dilindungi ini?

Sumber: Media Center Riau

GREEN NUSANTARA CONSERVATION NETWORK

Jaringan kampanye publik untuk perlindungan hutan, satwa dan ekosistem

Menjaga Kehidupan Nusantara Sebelum Terlambat

Mahakarya Seni 400 Tahun Lalu Berhasil Ungkap Rahasia Perilaku Kelelawar PurbaSebuah penemuan luar biasa dari dunia seni...
12/07/2026

Mahakarya Seni 400 Tahun Lalu Berhasil Ungkap Rahasia Perilaku Kelelawar Purba

Sebuah penemuan luar biasa dari dunia seni zaman Renaissance berhasil membuka mata para ilmuwan tentang sejarah alam masa lalu. Lukisan legendaris berjudul Air yang diselesaikan oleh pelukis Flemish, Jan Brueghel the Elder, pada tahun 1611 kedapatan merekam detail ekologis yang sangat berharga. Lukisan kuno yang awalnya berfokus pada penggambaran Urania sang Dewi Astronomi di antara sekump**an burung indah ini, ternyata menyimpan catatan visual tentang interaksi satwa yang selama ini luput dari perhatian.

Ketika diamati lebih teliti, sudut kanan atas lukisan tersebut memperlihatkan pemandangan samar namun jelas: seekor kelelawar sedang terbang di udara sambil membawa seekor burung di dalam mulutnya. Bagi seorang ahli ekologi bernama Pedro Romero-Vidal, visual ini menjadi temuan yang sangat mengejutkan. Hal ini membuktikan bahwa pengamatan manusia terhadap interaksi satwa di alam liar sudah terdokumentasi dengan sangat baik jauh sebelum metode penelitian sains modern berkembang.

Hal yang membuat temuan ini begitu istimewa bagi dunia konservasi adalah fakta sains di baliknya. Perilaku predator kelelawar yang berburu dan memangsa burung di tengah penerbangan baru secara resmi divalidasi dan dicatat oleh sains modern pada tahun 2025 lalu. Kehadiran lukisan berusia empat abad ini menjadi bukti otentik bahwa perilaku tersebut merupakan bagian alami dari keseimbangan ekosistem masa lampau yang sudah berlangsung sejak lama.

Melalui penemuan ini, kita disadarkan bahwa setiap spesies memiliki peran unik dan kompleks dalam menjaga rantai makanan di habitatnya. Menjaga kelestarian satwa liar seperti kelelawar beserta ekosistemnya menjadi sangat penting agar dinamika alam yang telah berjalan ratusan tahun ini tidak terputus akibat perubahan lingkungan yang masif.

Menurut Anda bagaimana? Apakah dokumentasi sejarah seperti lukisan kuno ini bisa menjadi kunci tambahan bagi kita untuk lebih memahami dan melindungi satwa liar di masa depan?

Sumber: Kompascom

GREEN NUSANTARA CONSERVATION NETWORK

Jaringan kampanye publik untuk perlindungan hutan, satwa dan ekosistem

Menjaga Kehidupan Nusantara Sebelum Terlambat

Dampak Nyata Perubahan Iklim: Pop**asi Orangutan Tapanuli Menyusut 7 Persen Akibat Cuaca EkstremSebuah kabar duka datang...
12/07/2026

Dampak Nyata Perubahan Iklim: Pop**asi Orangutan Tapanuli Menyusut 7 Persen Akibat Cuaca Ekstrem

Sebuah kabar duka datang dari bentang alam kita yang menuntut perhatian bersama demi kelestarian ekosistem. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology memperkirakan sedikitnya 58 individu orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) mati akibat bencana banjir dan tanah longsor yang dipicu oleh Siklon Senyar pada akhir November 2025 lalu. Kehilangan ini menjadi hantaman yang sangat berat bagi dunia konservasi karena spesies ini merupakan primata kera besar paling langka di dunia.

Angka kematian tersebut setara dengan sekitar 7 persen dari total pop**asi orangutan tapanuli yang tersisa di alam liar, yang saat ini diperkirakan kurang dari 800 individu. Karakteristik spesies endemik ini sangat sensitif terhadap berkurangnya pop**asi karena memiliki laju reproduksi yang lambat, sehingga mereka tidak akan mampu pulih jika kehilangan lebih dari satu persen pop**asinya setiap tahun. Bencana ekologis ini melanda wilayah inti mereka di bentang Ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara, setelah wilayah tersebut diguyur curah hujan ekstrem hingga lebih dari 1.000 mm hanya dalam waktu empat hari.

Kondisi habitat penopang kehidupan ini kian rapuh akibat tekanan yang terus meningkat. Data dari WALHI Sumatera Utara mengidentifikasi alih fungsi lahan di habitat orangutan tapanuli telah terjadi seluas 10.795,31 hektare, yang berarti hilangnya sekitar 5,4 juta pohon penyerap air. Padahal, Ekosistem Batang Toru merupakan infrastruktur alam yang vital untuk menjaga keseimbangan tata air dan mencegah longsor bagi warga sekitar, sementara orangutan tapanuli bertindak sebagai pelindung dan penanam pohon sejati yang merawat keberlanjutan hutan tropis tersebut.

Menurut Anda bagaimana? Langkah konkret apa yang harus segera diperkuat untuk memulihkan lanskap Batang Toru agar satwa langka kebanggaan Nusantara ini memiliki ruang hidup yang aman dan lestari?

Sumber: Garda Animalia

GREEN NUSANTARA CONSERVATION NETWORK

Jaringan kampanye publik untuk perlindungan hutan, satwa dan ekosistem

Menjaga Kehidupan Nusantara Sebelum Terlambat

Lebih dari Rumah Ribuan Satwa: Mengapa Ekosistem Mangrove Jadi Perisai Utama Pesisir Kita?Hutan mangrove atau bakau meru...
11/07/2026

Lebih dari Rumah Ribuan Satwa: Mengapa Ekosistem Mangrove Jadi Perisai Utama Pesisir Kita?

Hutan mangrove atau bakau merupakan salah satu ekosistem paling krusial di dunia karena menjalankan fungsi ganda yang luar biasa bagi planet kita. Keberadaan vegetasi ini tidak hanya menjadi benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari ancaman abrasi, tetapi juga menjadi oase kehidupan bagi keanekaragaman hayati. Organisasi lingkungan Sea Soldier mencatat ada lebih dari 3.000 spesies flora dan fauna yang hidupnya bergantung penuh pada ekosistem bakau ini, menjadikannya sebuah rumah besar bagi ribuan satwa liar sekaligus penopang sektor perikanan.

Indonesia sendiri memegang posisi sebagai kekuatan utama dunia dalam pelestarian ekosistem pesisir ini dengan memiliki sekitar 23 persen dari total luas mangrove global, yang merupakan kepemilikan terbesar di dunia. Dalam mitigasi perubahan iklim, peranan bakau sangatlah sentral karena akarnya mampu menyaring nutrien serta polutan sebelum mencapai laut, sekaligus meredam energi gelombang hingga 60–80 persen dalam bentang sekitar 100 meter. Lebih hebatnya lagi, hutan mangrove berjasa menjadi penyerap karbon alami yang mampu menyimpan emisi hingga 174 juta ton karbon per hektar.

Kehadiran oase hijau ini bahkan masih bisa ditemukan di tengah hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta, tepatnya di Suaka Margasatwa Muara Angke yang dihuni lebih dari 40 spesies satwa. Mulai dari biawak, monyet ekor panjang, hingga berbagai jenis burung seperti cangak abu dan bubut Jawa yang berstatus terancam menurut Daftar Merah IUCN, menjadikan rimbunnya bakau sebagai ruang hidup mereka. Jalinan akar mangrove yang menjulur ke perairan juga menjadi tempat berlindung bagi organisme kecil seperti kepiting dan ubur-ubur, yang membentuk rantai makanan esensial demi menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.

Menurut Anda bagaimana? Langkah nyata apa yang bisa kita lakukan bersama untuk memastikan kelestarian hutan mangrove di sekitar kita tetap terjaga dari tekanan pembangunan?

Sumber: Garda Animalia

GREEN NUSANTARA CONSERVATION NETWORK

Jaringan kampanye publik untuk perlindungan hutan, satwa dan ekosistem

Menjaga Kehidupan Nusantara Sebelum Terlambat

Mengenal Uncal Enggano: Si Burung 'Petani' Penyebar Benih dan Penjaga Regenerasi HutanDi balik penampilannya yang sederh...
11/07/2026

Mengenal Uncal Enggano: Si Burung 'Petani' Penyebar Benih dan Penjaga Regenerasi Hutan

Di balik penampilannya yang sederhana dengan bulu cokelat keabu-abuan dan kicauan yang tidak terlalu memikat, burung uncal enggano (Macropygia cinnamomaea) ternyata memegang peran sentral dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Avifauna unik ini merupakan spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di Pulau Enggano, sebuah p**au terluar seluas sekitar 40 ribu hektar di Kabupaten Bengkulu Utara. Sebagai kawasan yang diakui secara internasional sebagai daerah penting bagi burung (IBAs), Pulau Enggano sangat bergantung pada kehadiran satwa ini untuk merawat keberlangsungan vegetasi alaminya.

Sebagai bagian dari keluarga merpati (Columbidae), uncal enggano memiliki peran ekologis yang sangat vital sebagai agen penebar benih alami. Burung ini memiliki kebiasaan menelan buah-buahan hutan berukuran kecil secara utuh, bukan memecah bijinya. Ditambah dengan daya jelajah yang luas untuk berpindah mengikuti musim buah, biji-biji yang ikut tertelan sering kali keluar bersama kotorannya dalam kondisi utuh di lokasi yang jauh dari pohon induk. Proses alami inilah yang tanpa disadari membantu menanam kembali dan meregenerasi hutan terisolasi tersebut agar tetap lestari.

Meskipun uncal enggano dikenal mampu beradaptasi dan sesekali terlihat mencari pakan seperti jagung atau pisang di kebun warga, kelangsungan hidupnya tetap bergantung penuh pada ekosistem hutan yang sehat. Lembaga konservasi internasional BirdLife mengelompokkannya sebagai spesies yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap hutan (forest dependent species), dengan status konservasi saat ini berada pada kategori Hampir Terancam (Near Threatened). Para peneliti menekankan pentingnya studi lebih mendalam untuk memahami hubungan erat antara uncal dan tumbuhan lokal demi memaksimalkan upaya perlindungan kawasan ini.

Menurut Anda bagaimana? Langkah pelestarian apa yang paling mendesak dilakukan agar burung endemik pelindung hutan ini terhindar dari ancaman kepunahan?

Sumber: Mongabay Indonesia

GREEN NUSANTARA CONSERVATION NETWORK

Jaringan kampanye publik untuk perlindungan hutan, satwa dan ekosistem

Menjaga Kehidupan Nusantara Sebelum Terlambat

Kisah Haru Bulan: Mantan Korban Perdagangan Ilegal yang Kini Melahirkan di Alam LiarKabar bahagia datang dari C***r Alam...
11/07/2026

Kisah Haru Bulan: Mantan Korban Perdagangan Ilegal yang Kini Melahirkan di Alam Liar

Kabar bahagia datang dari C***r Alam Jantho, Aceh. Seekor orangutan sumatera (Pongo abelii) betina bernama Bulan, terpantau telah melahirkan seorang bayi jantan di habitat aslinya. Kehadiran bayi yang diberi nama Badar ini menjadi simbol harapan baru bagi konservasi satwa endemik Indonesia. Kisah Bulan sangat menyentuh, mengingat ia diselamatkan dari perdagangan satwa ilegal saat baru berusia dua tahun, menjalani rehabilitasi intensif selama empat tahun di SOCP Sibolangit, hingga akhirnya dilepasliarkan pada tahun 2018 lalu.

Kelahiran Badar merupakan kelahiran ke-10 yang berhasil terkonfirmasi di kawasan pelepasliaran Jantho sejak program ini dimulai pada tahun 2011. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa program rehabilitasi dan reintroduksi mampu berjalan efektif. Orangutan yang pernah mengalami trauma akibat konflik maupun kepemilikan ilegal terbukti bisa beradaptasi kembali, bertahan hidup, hingga menjalankan fungsi reproduksi alami mereka untuk mendukung pemulihan pop**asi di alam liar.

Meski menjadi indikator positif bagi masa depan ekosistem, tantangan nyata masih membayangi di lapangan. Tekanan aktivitas manusia selama sedekade terakhir memicu fragmentasi lahan yang mengisolasi pop**asi orangutan, ditambah lagi perubahan iklim yang mengganggu ketersediaan buah-buahan hutan sebagai makanan pokok mereka. Oleh karena itu, keberhasilan rehabilitasi ini wajib diimbangi dengan penguatan perlindungan habitat secara menyeluruh, pemulihan koridor ekologi, serta keterlibatan aktif masyarakat di sekitar zona penyangga hutan.

Menurut Anda bagaimana? Langkah apa yang paling efektif untuk melindungi habitat luar kawasan konservasi agar ruang hidup orangutan yang telah kembali ke alam liar ini tetap aman?

Sumber: Mongabay Indonesia

GREEN NUSANTARA CONSERVATION NETWORK

Jaringan kampanye publik untuk perlindungan hutan, satwa dan ekosistem

Menjaga Kehidupan Nusantara Sebelum Terlambat

Lima Tahun Dikurung hingga Stres dan Bulu Rontok, Kakatua Jambul Kuning Berstatus Kritis Akhirnya DievakuasiSeekor kakat...
10/07/2026

Lima Tahun Dikurung hingga Stres dan Bulu Rontok, Kakatua Jambul Kuning Berstatus Kritis Akhirnya Dievakuasi

Seekor kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea) ditemukan dalam kondisi memprihatinkan setelah dipelihara selama lima tahun di dalam rumah kawasan Kalijaten, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo. Satwa yang menyandang status kritis (Critically Endangered) atau terancam punah ini berhasil dievakuasi oleh Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III Surabaya setelah pemiliknya secara sadar melaporkan dan menyerahkan burung tersebut. Penyerahan didasari oleh kesadaran pihak keluarga bahwa satwa liar membutuhkan penanganan yang tepat sesuai dengan kaidah konservasi agar tidak semakin memperburuk kondisi fisiknya.

Saat dievakuasi, burung paruh bengkok ini berada dalam kondisi kurus dan mengalami kerontokan bulu yang parah akibat stres berkepanjangan serta kesalahan pola pakan selama hidup dalam kekangan ruang terbatas. Pengendali Ekosistem Hutan Muda BBKSDA Jawa Timur, Fajar Dwi Nur Aji, menjelaskan bahwa burung kakatua yang terisolasi dari habitat alaminya sering kali mencabuti bulunya sendiri karena tidak dapat mengekspresikan perilaku alami mereka seperti terbang jauh dan bersosialisasi. Saat ini, burung tersebut telah dipindahkan ke Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, pemulihan fisik, serta rehabilitasi perilaku demi mempersiapkan peluang pelepasliaran di masa depan.

Kondisi memprihatinkan satwa ini menjadi alarm keras bagi kelestarian ekosistem, mengingat pop**asi kakatua kecil jambul kuning di alam liar terus merosot tajam akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Sebagai gambaran, salah satu anak jenisnya yang endemik di Pulau Masakambing, Sumenep, yaitu Cacatua sulphurea abbotti, merupakan salah satu burung paling langka di dunia yang jumlahnya di alam liar diperkirakan hanya tersisa sekitar 32 ekor berdasarkan pemantauan tahun 2025. Penyelamatan satu individu ini memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi, sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa bentuk kepedulian terbaik terhadap satwa liar adalah dengan menjaga mereka tetap hidup bebas di habitat aslinya, bukan dengan mengurungnya di dalam kandang rumah.

Menurut Anda, bagaimana cara efektif meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar agar tidak lagi membeli atau memelihara burung langka yang dilindungi undang-undang?

Sumber: Garda Animalia

GREEN NUSANTARA CONSERVATION NETWORK

Jaringan kampanye publik untuk perlindungan hutan, satwa dan ekosistem

Menjaga Kehidupan Nusantara Sebelum Terlambat

Address

Pekanbaru

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GNC Network posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share