Matan - Mahasiswa Ahli Thariqoh Ahlussunnah Wal Jamaah

Matan - Mahasiswa Ahli Thariqoh Ahlussunnah Wal Jamaah Cinta NABI Cinta NKRI Bagian / Lajnah Organisasi Jatma Aswaja

Konflik di PBNU: Dinamika Wajar dalam Keluarga BesarPBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) adalah organisasi Islam terbes...
16/12/2025

Konflik di PBNU: Dinamika Wajar dalam Keluarga Besar

PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan puluhan juta anggota. Seperti keluarga besar, di dalamnya pasti ada perbedaan pendapat dan dinamika. Itu hal yang wajar. Konflik di PBNU bukan soal perpecahan, tapi lebih tentang perbedaan strategi dan penekanan dalam menjalankan peran NU.

Akar Konflik Utamanya Sederhana:

1. NU Netral vs. NU Terlibat Politik

· Kubu "Netral": Berpendapat NU harus tetap menjadi penjaga moral bangsa, tidak terikat dengan kekuasaan mana pun, dan kritis terhadap pemerintah jika diperlukan.
· Kubu "Terlibat": Berargumen bahwa untuk mempengaruhi kebijakan dan melindungi umat, NU harus masuk dalam sistem, berkolaborasi dengan penguasa, dan punya akses langsung.

2. NU Tradisional vs. NU Modern
· Kubu "Tradisional": Ingin menjaga warisan keilmuan Islam tradisional (kitab kuning, mazhab) sebagai inti identitas NU.
· Kubu "Modern/Progresif": Ingin NU lebih lincah menjawab masalah kekinian (ekonomi, lingkungan, HAM) dengan tetap berpegang pada nilai dasar, tapi mungkin dengan metode baru.

Bentuk Konflik yang Sering Muncul di Media:

· Dukungan Politik: Saat Pilpres atau Pilkada, tokoh-tokoh NU sering dukung calon yang berbeda. PBNU sebagai institusi berusaha netral, tapi suara internalnya beragam.
· Kedekatan dengan Istana: Pimpinan PBNU yang dianggap terlalu dekat dengan Presiden sering dikritik oleh kubu di internal yang merasa NU kehilangan sikap kritisnya.
· Isu Kontroversial: Respons terhadap isu seperti toleransi, minoritas, atau kebijakan pemerintah seringkali tidak tunggal. Ada spektrum pendapat dari yang konservatif hingga sangat moderat.

PBNU - hasil Muktamar Lampung

Di bawah kepemimpinan Gus Yahya Cholil Staquf (Ketua Umum PBNU sekarang), NU mengambil pendekatan kolaborasi erat dengan pemerintah. Ini menuai dua respons:

· Dukungan: Dianggap strategis untuk membawa aspirasi warga NU langsung ke pusat kebijakan.
· Kritik: Dianggap membuat NU "tunduk" pada penguasa dan mengurangi fungsinya sebagai pengawal moral.

Ini Dinamika, Bukan Perpecahan.

NU punya mekanisme sendiri untuk menyelesaikan "konflik":

1. Musyawarah: Semua dibahas di forum resmi, seperti Syuriah (dewan syariah) dan Tanfidziyah (pelaksana harian).
2. Muktamar: Kongres 5 tahunan adalah puncak demokrasi NU. Di sini, kepemimpinan dan arah organisasi ditentukan melalui pemilihan yang seringkali ketat.
3. Ikatan yang Kuat: Pada akhirnya, ikatan sebagai Ahlussunnah wal Jama'ah dan loyalitas pada pesantren serta kiai lebih kuat daripada perbedaan pendapat.

NU adalah organisasi yang selalu berproses dan responsif dan adaptif terhadap perubahan jaman.

Konflik di PBNU adalah tanda bahwa organisasi ini hidup dan dinamis. Ia berisi orang-orang dengan pemikiran beragam yang sedang memperebutkan arah terbaik untuk organisasi dan umat. Bagi warga NU biasa, ini adalah bagian dari dialektika internal yang sehat. Yang penting, semuanya tetap diselesaikan dengan musyawarah, bukan dengan permusuhan.

Jadi, jika melihat berita tentang "konflik PBNU", lihatlah itu sebagai proses pencarian consensus dalam keluarga besar, bukan sebagai pertanda kehancuran. Justru dengan cara itulah NU, sebagai miniatur Indonesia, terus belajar mengelola keragaman.

Mengenal Tasawuf "Membumi" ala KH Zulfa Musthofa​Banyak orang mengira tasawuf adalah tentang menyendiri di gua atau teru...
15/12/2025

Mengenal Tasawuf "Membumi" ala KH Zulfa Musthofa

​Banyak orang mengira tasawuf adalah tentang menyendiri di gua atau terus-menerus berzikir di tempat sunyi. Namun, bagi Kiai Zulfa, tasawuf adalah tentang bagaimana kita bersikap di dunia nyata.

​Berikut adalah 4 poin utama pemikiran beliau yang mudah dipahami:

​1. Menjadi "Wali" dengan Cara Mengajar (Ngaji)

​Kiai Zulfa sering menekankan bahwa jalan menuju Tuhan tidak harus selalu lewat jalur uzlah (mengasingkan diri). Beliau memperkenalkan konsep bahwa mengajar ilmu agama secara istiqamah adalah "jalan tol" menuju kewalian.
​Intinya: Menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain (seperti guru yang sabar mendidik muridnya) adalah bentuk pengabdian spiritual yang sangat tinggi.

​2. Melembutkan Hati dengan Sastra

​Beliau adalah seorang penyair (sastrawan Arab) yang ulung. Menurutnya, agama tidak boleh disampaikan dengan kaku dan kasar.
​Indah itu Perlu: Beliau menggunakan puisi dan sastra untuk menyentuh hati. Baginya, orang yang mengerti keindahan bahasa biasanya akan memiliki hati yang lebih lembut dan tidak mudah marah dalam beragama.

​3. Tasawuf di Media Sosial (Etika Digital)

​Di zaman sekarang, Kiai Zulfa mengingatkan bahwa tasawuf juga harus dibawa ke dunia digital. Beliau menekankan pentingnya:
- ​Rendah Hati (Tawadhu): Jangan merasa paling benar hanya karena punya banyak pengikut (followers).
- ​Menjaga Lisan (dan Jempol): Tasawuf sejati adalah menahan diri dari menyakiti orang lain, termasuk tidak berkomentar buruk atau menyebarkan hoaks di media sosial.

​4. Beragama karena Cinta, Bukan Terpaksa

​Beliau sering mengisahkan cerita cinta klasik (seperti Laila Majnun) untuk menjelaskan hubungan manusia dengan Allah.
​Filosofinya: Jika kita sudah cinta kepada Allah, maka melakukan perintah-Nya (seperti salat atau berbagi) tidak akan terasa berat. Semuanya dilakukan dengan senang hati, bukan karena takut hukuman semata.

​Bagi KH Zulfa Musthofa, tasawuf adalah akhlak yang dipraktikkan. Tasawuf bukan hanya soal urusan langit, tapi soal bagaimana kita menjadi manusia yang rendah hati, berilmu, dan penuh cinta kasih kepada sesama manusia di bumi.
*​"Jangan hanya sibuk mencari keajaiban (karomah), tapi sibuklah memperbaiki istiqamah dan manfaatmu bagi umat."*

Sang Penyair di Madrasah Fiqh: Menelusuri Jejak KH. Zulfa Mustofa sebagai Santri Mbah Sahal Mahfudz​Dalam peta intelektu...
10/12/2025

Sang Penyair di Madrasah Fiqh: Menelusuri Jejak KH. Zulfa Mustofa sebagai Santri Mbah Sahal Mahfudz

​Dalam peta intelektual Nahdlatul Ulama hari ini, nama KH. Zulfa Mustofa menjulang sebagai sosok yang unik. Ia adalah Wakil Ketua Umum PBNU, yang hari ini didawuhi oleh Rais Amm KH Miftahul Akhyar untuk menjadi PJ Ketum PBNU, beliau adalah seorang orator ulung, dan yang paling menonjol: seorang sastrawan Arab yang mampu menggubah ribuan bait nadhom tentang sejarah NU.

​Namun, untuk memahami kedalaman ilmu Kiai Zulfa, kita harus menarik garis waktu ke belakang. Ke sebuah desa santri bernama Kajen, di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Di sanalah, di bawah naungan keteduhan dan ketegasan KH. MA. Sahal Mahfudz (Mbah Sahal), karakter intelektual Kiai Zulfa ditempa.

Kawah Candradimuka Mathali’ul Falah

​Kiai Zulfa Mustofa adalah alumni Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM), lembaga pendidikan legendaris yang dipimpin oleh Mbah Sahal. Menjadi santri Mbah Sahal bukanlah perkara mudah. Mbah Sahal dikenal sebagai ulama yang sangat disiplin, bervisi jauh ke depan, dan rasional. Beliau tidak hanya mencetak kiai yang bisa membaca kitab kuning, tetapi ulama yang memahami konteks sosial (Fiqh Sosial).

​Di sinilah Kiai Zulfa muda tumbuh. Ia menyerap atmosfer keilmuan Kajen yang kental. Jika Mbah Sahal adalah "gunung" ilmu Ushul Fiqh yang kokoh dan rasional, Kiai Zulfa adalah "mata air" yang mengalirkan ilmu itu dengan keindahan bahasa.

Sintesa Fiqh dan Sastra

​Salah satu warisan terbesar Mbah Sahal kepada para santrinya adalah pentingnya penguasaan alat (gramatika dan logika) untuk membedah hukum.

Kiai Zulfa menangkap ini dengan cara yang istimewa. ​Mbah Sahal dikenal sangat teliti ( tahqiq ) dalam ibarat kitab. Kiai Zulfa mewarisi ketelitian itu namun menyajikannya dalam wadah estetika sastra Arab (Balaghah dan Arudh).

​Ketika Kiai Zulfa menulis kitab "Tuhfatul Qashi wad Dani" (kitab nadhom sejarah NU yang memukau ulama Timur Tengah), kita bisa melihat jejak didikan Mbah Sahal di sana:
* ​Keakuratan Data: Seperti gurunya yang fakih, Kiai Zulfa tidak sembarangan menulis sejarah; ia merisetnya dengan ketat layaknya ahli fiqh menelusuri dalil.
* ​Keindahan Penyampaian: Mbah Sahal mengajarkan bahwa kebenaran harus disampaikan dengan cara yang baik (kontekstual). Kiai Zulfa menerjemahkan "cara yang baik" itu melalui syair yang menyentuh hati.

Mewarisi Nalar Fiqh Sosial

​Mbah Sahal Mahfudz
adalah penggagas Fiqh Sosial—pemahaman bahwa hukum Islam tidak boleh kaku dan harus menjadi solusi bagi problem masyarakat.

​Sebagai santri, Kiai Zulfa menyerap paradigma ini. Dalam berbagai ceramah dan keputusannya di PBNU, Kiai Zulfa sering kali menampilkan wajah Islam yang moderat, solutif, dan tidak tekstualis. Ia tidak hanya berhenti pada "apa hukumnya", tetapi "apa maslahatnya". Kemampuan Kiai Zulfa mengurai masalah keumatan yang rumit dengan bahasa yang jenaka namun berbobot adalah cerminan dari kematangan nalar yang dibangun di Mathali’ul Falah.

​Takzim Sang Murid
​Meskipun kini telah menjadi tokoh besar, sikap tawadhu Kiai Zulfa terhadap gurunya tidak pernah luntur. Dalam berbagai kesempatan, Kiai Zulfa sering mengutip maqolah atau pandangan Mbah Sahal sebagai landasan argumennya.

​Ada sebuah sanad (sambungan) ruhani yang kuat. Kiai Zulfa adalah bukti keberhasilan kaderisasi Mbah Sahal: seorang ulama yang berakar kuat pada tradisi turats (kitab kuning), namun memiliki wawasan luas dan kemampuan komunikasi yang relevan dengan zaman.

​Melihat sosok KH. Zulfa Mustofa hari ini adalah melihat buah yang matang dari pohon yang ditanam oleh guru-guru beliau salah satunya Mbah Sahal Mahfudz. Ia adalah perpaduan antara ketajaman logika hukum (fuqaha) ala Mbah Sahal dan kelembutan rasa bahasa (udaba).

​Sebagai santri, Kiai Zulfa telah menunaikan tugas tertingginya: tidak hanya menjaga ilmu sang guru, tetapi mengembangkannya, mensyairkannya, dan menyebarkannya ke penjuru dunia.

Harapan di Pundak PJ Ketum: Membawa Spirit Kajen ke Pucuk Pimpinan

​Kini, takdir sejarah membawa santri kinasih Mbah Sahal ini pada amanah yang lebih tinggi. Dengan ditunjuknya KH. Zulfa Mustofa sebagai Pejabat (PJ) Ketua Umum PBNU, terbitlah fajar harapan baru di cakrawala perkumpulan para ulama ini.

​Warga Nahdliyin menaruh asa yang besar agar "Spirit Kajen" *yakni perpaduan antara keteguhan prinsip syariah dan kepekaan sosial* dapat mewarnai kepemimpinan PBNU di masa transisi ini.

​Kita berharap, sebagai PJ Ketum, Kiai Zulfa mampu menghadirkan kepemimpinan yang tawasuth (moderat) namun tegas secara manajerial, sebagaimana Mbah Sahal dulu memimpin organisasi dengan disiplin yang tinggi namun tetap mengayomi.

Jika Mbah Sahal dikenal dengan gagasan besar "Maslahah Ammah"-nya, maka kita rindu melihat gagasan tersebut dieksekusi oleh tangan dingin Kiai Zulfa melalui kebijakan-kebijakan organisasi yang menyejukkan.

​Kemampuan retorika dan sastra beliau diharapkan bukan hanya menjadi pemanis mimbar, melainkan menjadi jembatan komunikasi yang efektif. Di tengah situasi keumatan dan kebangsaan yang dinamis, sosok Kiai Zulfa yang luwes diharapkan mampu merangkul berbagai friksi, menyatukan serpihan perbedaan, dan menjahit kembali ukhuwah yang mungkin sempat renggang, baik di internal jam'iyah maupun di kancah nasional.

​Selamat bertugas, Kiai. Kami mendoakan agar Barakah Mbah Hasyim Asy'ari dan Karomah para Masyayikh, serta Himmah dan Semangat Mbah Sahal Mahfudz, senantiasa menaungi setiap langkah Panjenengan dalam menahkodai bahtera besar Nahdlatul Ulama.

​Al-Fatihah...

14/10/2025
14/10/2025
Warisan Ketakutan KolonialMembaca Stigma Pesantren dan Tarekat Pasca-Diponegoro​Trauma Kemenangan yang Menghancurkan​Per...
13/10/2025

Warisan Ketakutan Kolonial
Membaca Stigma Pesantren dan Tarekat Pasca-Diponegoro

Trauma Kemenangan yang Menghancurkan

​Perang Jawa (1825–1830), yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, merupakan momen krusial yang tidak hanya meruntuhkan kekuatan militer, tetapi juga meluluhlantakkan finansial Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Kebangkrutan VOC secara finansial —sebagian besar akibat membengkaknya biaya perang melawan jejaring perlawanan yang dikomandani Diponegoro, yang ditopang oleh pesantren dan tarekat— meninggalkan trauma mendalam bagi kekuasaan kolonial.

Meskipun Diponegoro berhasil ditangkap dan diasingkan, ketakutan akan terulangnya kebangkrutan yang dipicu oleh kekuatan sipil-spiritual ini terus menghantui dan menjadi cetak biru bagi kebijakan kolonial berikutnya.

​Peminggiran Pesantren dan Stigma Sosial

​Ketakutan historis inilah yang hingga hari ini masih bisa kita lihat residunya dalam stigma sosial terhadap lembaga pendidikan bernama pesantren. Pesantren hampir selalu diposisikan sebelah mata oleh lembaga formal maupun sistem sosial.

Stigma ini pernah tercermin jelas dalam kalam senjata era 90-an: "nek nakal tak pondokke" (kalau nakal akan dimasukkan ke pesantren), yang menempatkan pesantren sebagai 'tempat buangan' atau lembaga koreksi terakhir, bukan sebagai pilihan pendidikan utama.

​Padahal, secara unik, pesantren selalu memposisikan dirinya sebagai obat sosial. Ketika anak-anak dianggap tidak layak atau 'tidak stabil' untuk mengikuti pendidikan formal arus utama, pesantren dengan ciri khasnya selalu terbuka.

Prinsip inklusifitas ini menjamin bahwa begitu seorang anak masuk, apapun latar belakangnya, ia setara: anak santri Mbah Kyai. Hak dan kewajiban mereka setara, mewujudkan egalitarianisme sejati yang sulit ditemukan di lembaga pendidikan lain.

​Tarekat : Dari Kekuatan Sosio Kultural menjadi Amalan Senja

​Nasib serupa dan bahkan lebih parah dialami oleh tarekat. Pasca-pemberontakan pemuda petani Banten 1886, kekuasaan kolonial secara sistematis memarginalkan tarekat.

Di masyarakat hari ini, tarekat seolah menjadi hal tabu bagi anak-anak muda, diposisikan sebagai ilmu dan amaliyah yang hanya bisa dipraktikkan bagi orang-orang yang sudah berusia senja.

​Padahal, jamiyyah tarekat memiliki kemiripan filosofis dengan sistem pendidikan pesantren; ia bisa disebut "Pesantren Terbuka". Para murid (ikhwan) secara terus-menerus mengikuti ajaran para guru mursyid, menjadikannya sistem pembelajaran spiritual berkelanjutan yang terbuka bagi siapa saja, tanpa batas usia atau latar belakang pendidikan formal.

​Anti-Klasifikasi: Ancaman terhadap Devide et Impera

​Keunikan karakter egaliter pesantren dan tarekat ini bisa dilihat sebagai racun mematikan bagi agenda kolonial yang s**a mengklasifikasi dan mengkodifikasi sistem sosial.

Jika di Barat, Karl Marx mengklasifikasi sistem sosial menjadi kelas pekerja dan borjuis, di Hindia Belanda, teori kelas ini bermetamorfosa menjadi trikotomi kolonial: santri, priyayi, dan abangan—sebuah upaya sistematis untuk memecah kekuatan bangsa indonesia.

​Pesantren dan tarekat, dengan model sosialnya yang menyamaratakan santri dan ikhwan di bawah satu guru spiritual, secara inheren menolak klasifikasi ini.

​Mengatasi Racun Perpecahan Baru

​Ironisnya, bahaya klasifikasi yang diwariskan kolonial kini termanifestasi dalam bentuk perpecahan internal umat. Belakangan muncul diksi Kyai, Habaib, dan Pribumi, di mana satu dengan yang lainnya "seolah" tidak bersaudara dan harus berkompetisi tentang siapa yang lebih unggul.

​Inilah manifestasi lanjutan dari Devide et Impera (pecah belah dan kuasai). Jika dahulu musuh adalah kolonialisme, kini racun tersebut telah menyebar ke dalam, mengancam kekuatan sosial-spiritual yang pernah meluluhlantakkan VOC.

Mengembalikan posisi terhormat pesantren dan tarekat adalah langkah awal untuk merekatkan kembali tatanan sosial yang terfragmentasi, menyadari bahwa kedua lembaga ini adalah jangkar persatuan dan kesetaraan yang anti-klasifikasi.

Cinta Nabi, Cinta NKRI

Cinta Nabi, Cinta NKRI
29/09/2025

Cinta Nabi, Cinta NKRI

Muhibbin Masayikh Ahlussunnah Wal Jama'ah
15/08/2025

Muhibbin Masayikh Ahlussunnah Wal Jama'ah

TOKOH PRAMUKA INDONESIAAl Habib Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar memiliki nama asli H...
15/08/2025

TOKOH PRAMUKA INDONESIA
Al Habib Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar memiliki nama asli Habib Muhammad bin Husein al Mutahar atau yang dikenal dengan H. Muthahar (5 Agustus 1916 – 9 Juni 2004), adalah tokoh negarawan dalam masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Namanya paling dikenal sebagai pendiri Paskibra dan komponis musik Indonesia, terutama untuk kategori lagu nasional dan kepanduan.
Beliau merupakan tokoh penting dalam sejarah Pramuka Indonesia dan juga dikenal sebagai Bapak Paskibraka. Beliu juga aktif dalam gerakan kepanduan dan berperan dalam peleburan berbagai organisasi kepanduan menjadi Gerakan Pramuka. Selain itu, Al Habib Husein Mutahar juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu kepanduan, termasuk “Hymne Pramuka”.
Beliau juga dikenal sebagai penyelamat Bendera Pusaka saat Agresi Militer Belanda II. Dengan demikian, Al Habib Husein Mutahar memiliki peran ganda, yaitu sebagai tokoh Pramuka dan Bapak Paskibraka, serta pencipta lagu-lagu yang berkaitan dengan gerakan kepanduan dan kemerdekaan. (Disarikan dari beberapa sumber termasuk Wikipedia)
Selamat memperingati Hari Pramuka teman-teman, mari sejenak kita hadiahkan Al-Fatihah untuk Beliau dan seluruh syuhada yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk Indonesia. Lahumul Fatihah


Kredit Gus Zimam Hanif

15/08/2025

Mensyukuri Indonesia

Address

Pekalongan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Matan - Mahasiswa Ahli Thariqoh Ahlussunnah Wal Jamaah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Matan - Mahasiswa Ahli Thariqoh Ahlussunnah Wal Jamaah:

Share