11/06/2026
Matahari baru merangkak naik ketika suara gemericik air mulai terdengar di hamparan sawah seluas puluhan hektare.
Air mengalir melalui pipa-pipa besar menuju petak-petak lahan yang selama puluhan tahun hanya bergantung pada hujan.
Di tengah sawah di Desa Krandegan, deretan panel surya berkilau memantulkan cahaya pagi sudah terlihat dari kejauhan.
Tak ada suara mesin diesel yang meraung seperti dulu. Tak ada p**a aroma solar yang menyengat.
Yang terdengar hanya suara p***a yang bekerja mengangkat air dari sungai menuju lahan pertanian. Empat tahun lalu, pemandangan seperti ini sulit dibayangkan.
Wilayah pertanian seluas sekitar 70 hektare itu merupakan sawah tadah hujan. Petani hanya bisa menanam padi satu kali dalam setahun, atau paling banyak dua kali jika curah hujan cukup baik. "Kami dulu mengairi sawah dengan p***a berbahan bakar solar. Biayanya sangat besar dan hasilnya tidak maksimal," kata Dwinanto, Kepala Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah saat ditemui pada Rabu (10/6/2026).
Ia juga menjadi inisiator program p***a tenaga surya di desa tersebut.
Dulu sebelum adanya p***a air tenaga surya ini, setiap musim tanam, petani harus mengeluarkan biaya hingga Rp 80 juta untuk mengoperasikan p***a berbahan bakar diesel. Sekitar Rp 50 juta digunakan membeli bahan bakar, sementara Rp 30 juta lainnya untuk perawatan dan tenaga kerja. “Dulu beli BBM solar saja semalam habis Rp 500 ribu, dalam sekali musim panen bisa puluhan juta, Mas,” kata Dwinanto. Biaya itu menjadi beban besar bagi petani.
Namun pada 2022, sebuah perubahan dimulai. Melalui bantuan pemerintah provinsi yang kemudian diperkuat dana desa, dukungan CSR, dan investasi swasta, desa tersebut mulai membangun sistem p***a air tenaga surya. Dwinanto mengatakan, keputusan itu lahir bukan sekadar mengikuti tren energi hijau. Ada persoalan nyata yang ingin diselesaikan. Pertama, biaya operasional yang terus membengkak. Kedua, keterbatasan air yang membuat petani sulit meningkatkan produktivitas dan yang ketiga, kesadaran bahwa ketergantungan terhadap energi fosil tidak dapat dipertahankan selamanya.
"Kami berpikir bagaimana mengubah energi fosil menjadi energi yang lebih ramah lingkungan dan lebih ekonomis," ujarnya.
Ketika transisi energi menjawab masalah nyata
Cerita keberhasilan ini menarik karena hadir di tengah berbagai pertanyaan mengenai efektivitas proyek energi terbarukan pemerintah. Data Kementerian ESDM menunjukkan sepanjang 2011-2017 pemerintah pusat membangun sedikitnya 713 pembangkit listrik energi terbarukan dengan total kapasitas 35,46 megawatt. Pada saat yang sama, pemerintah juga mendorong program Desa Mandiri Energi (DME). Pada 2024, pemerintah mengklaim terdapat 17.203 desa mandiri energi, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 11.456 desa.
Secara teoritis, angka tersebut menunjukkan kemajuan besar transisi energi di Indonesia. Namun berbagai penelitian dan penelusuran lapangan menunjukkan tidak semua proyek berjalan sesuai harapan. Sejumlah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dibangun pemerintah dilaporkan mangkrak. Salah satunya PLTS berkapasitas 1 MW di Labangka, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Proyek yang dibangun pada 2012 itu mengalami persoalan pengelolaan dan revitalisasi sehingga tidak berfungsi optimal.
Masalah serupa terjadi di beberapa lokasi lain.
Program Desa Mandiri Energi pun pernah menghadapi tingkat kegagalan yang tinggi.
Pada 2015, sejumlah kajian bahkan menyebut lebih dari 90 persen program tidak berjalan sesuai tujuan karena minimnya keterlibatan masyarakat dan lemahnya pengelolaan pascapembangunan. Di sinilah desa ini menjadi pengecualian yang menarik. Alih-alih berhenti pada bantuan awal pemerintah, masyarakat justru terus mengembangkan program secara mandiri.
“Kami terus gandeng pihak swasta yang bsa kerja sama dengan desa mas, jadi kami tidak mengandalkan bantuan awal saja dan pasrah. Karena alat ini butuh perawatan bahkan di desa kami ini kalau dari bantuan pemerintah masih kurang jadi kami tambah lagi,” katanya.
Dari satu p***a menjadi tujuh titik
Selengkapnya dikolom komentar...
*Sumber: Kompas. com