Kabar Pekalongan

Kabar Pekalongan Nusantara

Matahari baru merangkak naik ketika suara gemericik air mulai terdengar di hamparan sawah seluas puluhan hektare. Air me...
11/06/2026

Matahari baru merangkak naik ketika suara gemericik air mulai terdengar di hamparan sawah seluas puluhan hektare.

Air mengalir melalui pipa-pipa besar menuju petak-petak lahan yang selama puluhan tahun hanya bergantung pada hujan.

Di tengah sawah di Desa Krandegan, deretan panel surya berkilau memantulkan cahaya pagi sudah terlihat dari kejauhan.

Tak ada suara mesin diesel yang meraung seperti dulu. Tak ada p**a aroma solar yang menyengat.

Yang terdengar hanya suara p***a yang bekerja mengangkat air dari sungai menuju lahan pertanian. Empat tahun lalu, pemandangan seperti ini sulit dibayangkan.

Wilayah pertanian seluas sekitar 70 hektare itu merupakan sawah tadah hujan. Petani hanya bisa menanam padi satu kali dalam setahun, atau paling banyak dua kali jika curah hujan cukup baik. "Kami dulu mengairi sawah dengan p***a berbahan bakar solar. Biayanya sangat besar dan hasilnya tidak maksimal," kata Dwinanto, Kepala Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah saat ditemui pada Rabu (10/6/2026).

Ia juga menjadi inisiator program p***a tenaga surya di desa tersebut.

Dulu sebelum adanya p***a air tenaga surya ini, setiap musim tanam, petani harus mengeluarkan biaya hingga Rp 80 juta untuk mengoperasikan p***a berbahan bakar diesel. Sekitar Rp 50 juta digunakan membeli bahan bakar, sementara Rp 30 juta lainnya untuk perawatan dan tenaga kerja. “Dulu beli BBM solar saja semalam habis Rp 500 ribu, dalam sekali musim panen bisa puluhan juta, Mas,” kata Dwinanto. Biaya itu menjadi beban besar bagi petani.

Namun pada 2022, sebuah perubahan dimulai. Melalui bantuan pemerintah provinsi yang kemudian diperkuat dana desa, dukungan CSR, dan investasi swasta, desa tersebut mulai membangun sistem p***a air tenaga surya. Dwinanto mengatakan, keputusan itu lahir bukan sekadar mengikuti tren energi hijau. Ada persoalan nyata yang ingin diselesaikan. Pertama, biaya operasional yang terus membengkak. Kedua, keterbatasan air yang membuat petani sulit meningkatkan produktivitas dan yang ketiga, kesadaran bahwa ketergantungan terhadap energi fosil tidak dapat dipertahankan selamanya.

"Kami berpikir bagaimana mengubah energi fosil menjadi energi yang lebih ramah lingkungan dan lebih ekonomis," ujarnya.

Ketika transisi energi menjawab masalah nyata

Cerita keberhasilan ini menarik karena hadir di tengah berbagai pertanyaan mengenai efektivitas proyek energi terbarukan pemerintah. Data Kementerian ESDM menunjukkan sepanjang 2011-2017 pemerintah pusat membangun sedikitnya 713 pembangkit listrik energi terbarukan dengan total kapasitas 35,46 megawatt. Pada saat yang sama, pemerintah juga mendorong program Desa Mandiri Energi (DME). Pada 2024, pemerintah mengklaim terdapat 17.203 desa mandiri energi, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 11.456 desa.

Secara teoritis, angka tersebut menunjukkan kemajuan besar transisi energi di Indonesia. Namun berbagai penelitian dan penelusuran lapangan menunjukkan tidak semua proyek berjalan sesuai harapan. Sejumlah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dibangun pemerintah dilaporkan mangkrak. Salah satunya PLTS berkapasitas 1 MW di Labangka, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Proyek yang dibangun pada 2012 itu mengalami persoalan pengelolaan dan revitalisasi sehingga tidak berfungsi optimal.

Masalah serupa terjadi di beberapa lokasi lain.

Program Desa Mandiri Energi pun pernah menghadapi tingkat kegagalan yang tinggi.

Pada 2015, sejumlah kajian bahkan menyebut lebih dari 90 persen program tidak berjalan sesuai tujuan karena minimnya keterlibatan masyarakat dan lemahnya pengelolaan pascapembangunan. Di sinilah desa ini menjadi pengecualian yang menarik. Alih-alih berhenti pada bantuan awal pemerintah, masyarakat justru terus mengembangkan program secara mandiri.

“Kami terus gandeng pihak swasta yang bsa kerja sama dengan desa mas, jadi kami tidak mengandalkan bantuan awal saja dan pasrah. Karena alat ini butuh perawatan bahkan di desa kami ini kalau dari bantuan pemerintah masih kurang jadi kami tambah lagi,” katanya.

Dari satu p***a menjadi tujuh titik

Selengkapnya dikolom komentar...

*Sumber: Kompas. com

Jemaah haji Embarkasi Solo yang meninggal bertambah. Hingga hari ini total sejumlah 39 jemaah. Satu jemaah asal Kota Pek...
10/06/2026

Jemaah haji Embarkasi Solo yang meninggal bertambah. Hingga hari ini total sejumlah 39 jemaah. Satu jemaah asal Kota Pekalongan meninggal dunia di pesawat dalam perjalanan menuju Tanah Air.

"Sampai dengan hari ini jumlah jemaah haji dari Embarkasi Solo yag wafat sejumlah 39 orang. Terdiri 38 jemaah wafat di Tanah Suci dan satu jemaah wafat di pesawat," kata Humas PPIH Embarkasi Solo, Nabiila Azka Amaalia, dimintai konfirmasi detikJateng, Rabu (10/6/2026).

Dijelaskan Nabiila, identitas jemaah yang meninggal dunia di pesawat yakni Nur Janah (68), Kloter 14 dari Kota Pekalongan. Jemaah ini wafat pada Senin (8/6) kemarin, dalam penerbangan dari bandara Jeddah, Arab Saudi menuju bandara Adi Soemarmo, Boyolali.

"Meninggal dunia di pesawat dari Jeddah menuju (KNO) Bandara Kualanamu Medan. Dari Tanah Suci menuju Tanah Air," jelasnya.

Dari riwayat atau catatan medis Nur Janah tidak memiliki riwayat sakit kronis. Namun yang bersangkutan termasuk jemaah risiko tinggi (Risti) karena pengguna kursi roda. Keterangan dari medis, Nur Janah wafat karena serangan jantung.

"Kalau dari riwayatnya tidak ada yang sakit kronis, tapi termasuk Risti karena pengguna kursi roda. Untuk riwayat terakhir dari medis menyatakan serangan jantung," terang Nabiila.

Jenazah almarhumah tetap dibawa dalam penerbangan tersebut menuju Bandara Adi Soemarmo, Boyolali. Sesampainya di Bandara Adi Soemarmo, proses penanganan jemaah wafat dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.

Jenazah diturunkan dan dibawa menuju Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali menggunakan mobil ambulans. PPIH Embarkasi Solo melaksanakan serah terima secara resmi kepada Pemerintah Daerah dan Kementerian Haji dan Umrah Kota Pekalongan di Asrama Haji Donohudan. Selanjutnya dip**angkan ke kampung halamannya di Kota Pekalongan untuk dimakamkan disana.

Ditambahkan Nabiila, almarhumah Nur Janah berangkat ke Tanah Suci bersama putranya, Anis Sudarman (44). Yang sekaligus menjadi pendamping selama pelaksanaan ibadah haji.

Lebih lanjut Nabiila menyampaikan, proses pemulangan jemaah haji, hingga siang hari ini sudah tiba di Tanah Air sebanyak 19 Kloter. Dengan jumlah 6.798 jemaah.

*Sumber: Detik. com

Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kini memiliki mesin pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar bern...
10/06/2026

Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kini memiliki mesin pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar bernama Petrasol yang diklaim memiliki kualitas setara solar.

Mesin pengolahan sampah plastik tersebut dikelola oleh KSM Pilah Sampah di Kedung Buweng, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri.

Teknologi pirolisis Fastpol yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah mitra itu resmi diluncurkan pada Selasa (9/6/2026).

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengapresiasi inovasi yang dinilai mampu menjawab persoalan sampah sekaligus menyediakan bahan bakar alternatif bagi masyarakat tersebut.

"Bahan bakar setara dengan solar dengan kualitas yang bagus. Dan ini akan menjawab masalah sampah yang kita hadapi," ujarnya usai launching Petrasol di Imogiri, Selasa (9/6/2026).

Menurut Halim, inovasi tersebut dapat menjadi solusi atas persoalan sampah yang selama ini dihadapi Kabupaten Bantul. Ia menyebut volume sampah terus meningkat setiap hari, dengan sekitar 31 persen di antaranya merupakan sampah plastik.

"Kalau setiap hari 600 ton sampah yang terproduksi di Kabupaten Bantul, maka sekitar 180 ton sampah plastik tersedia dan ini potensi untuk kita kembangkan menjadi petrasol," katanya lagi,

Selengkapnya dikolom komentar...

*Sumber: Kompas. com

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang, Jawa Tengah, mematangkan persiapan pembangunan Sekolah Rakyat yang berlokasi di De...
10/06/2026

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang, Jawa Tengah, mematangkan persiapan pembangunan Sekolah Rakyat yang berlokasi di Desa Clapar, Kecamatan Subah, dengan menempati lahan seluas 8,37 hektare.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Batang Willopo di Batang, Selasa, mengatakan pembangunan Sekolah Rakyat merupakan program pemerintah pusat yang pelaksanaannya didukung penuh oleh pemerintah daerah melalui penyediaan lahan dan pemenuhan dokumen pendukung.

"Saat ini progres pemenuhan dokumen administrasi dan kesiapan lahan telah mencapai hampir 100 persen," katanya.

Menurut dia, progres kesiapan dokumen lingkungan seperti upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL) dan Detail Engineering Design (DED) hampir selesai.

Setelah itu, kata dia, akan dilanjutkan ke tahap persetujuan bangunan gedung dan analisis dampak lalu lintas.

Ia mengatakan dari sisi tata ruang, proyek tersebut juga telah memenuhi persyaratan seperti dokumen persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang telah terbit dan memastikan lokasi pembangunan berada di kawasan permukiman perkotaan.

"Lahan yang kami siapkan dipastikan tidak berada di kawasan lahan sawah yang dilindungi maupun lahan pertanian pangan berkelanjutan, statusnya sudah bersertifikat, serta telah dinyatakan clean and clear atau bebas sengketa," kata Wilopo.

Ia mengatakan pemerintah daerah menargetkan sejumlah tahapan awal dapat segera dilaksanakan mulai dari proses tender, penghapusan aset, cut and fill, hingga land clearing atau pematangan lahan.

"Harapannya pada Juli 2026 pembangunan fisik atau konstruksi sudah bisa dimulai baik di awal maupun akhir bulan ini," katanya.

Willopo menilai kehadiran Sekolah Rakyat nantinya tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pendidikan, tetapi juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Menurutnya, kebutuhan siswa berasrama, guru, tenaga pendidik, hingga petugas alih daya akan membuka peluang ekonomi baru bagi warga lokal, terutama dalam penyediaan bahan kebutuhan sehari-hari.

“Keberadaan sekolah ini diharapkan memberi dampak berantai terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Selain itu sekolah juga dirancang memiliki fasilitas sosial, seperti lapangan sepak bola dan lapangan basket, yang diharapkan dapat dimanfaatkan bersama masyarakat sekitar sesuai ketentuan yang berlaku,” terangnya.

Willopo mengatakan pembangunan Sekolah Rakyat mendapat dukungan dari berbagai unsur masyarakat dan pemerintah wilayah setempat, termasuk pemerintah desa, kecamatan, serta Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan Subah.

"Masyarakat mendukung dan berharap pembangunan ini bisa segera terealisasi secepatnya. Kami komitmen menyiapkan seluruh kebutuhan yang menjadi kewenangan daerah agar pembangunan Sekolah Rakyat dapat berjalan sesuai rencana," katanya.

*Sumber: Antaranews. com

Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pertanian dan Pangan bekerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) setemp...
10/06/2026

Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pertanian dan Pangan bekerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat melaksanakan penanaman perdana padi biosalin di Kampung Reforma Agraria Clumprit, Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara. Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam upaya mengembalikan fungsi lahan pertanian yang selama bertahun-tahun terdampak banjir rob.

Penyuluh Pertanian Wilayah Pekalongan Utara, Lazim Sofi menjelaskan bahwa penanaman padi biosalin di Clumprit merupakan yang pertama kali dilakukan setelah kurang lebih 17 tahun lahan pertanian di wilayah tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara optimal akibat terendam rob.

“Lahan yang saat ini ditanami seluas kurang lebih 1 hektare dan dijadikan sebagai demplot atau lahan percontohan. Harapannya, apabila budidaya padi biosalin ini berhasil, petani di wilayah Clumprit dan Degayu dapat kembali menanam padi di lahan sawah mereka,” jelasnya saat dikonfirmasi, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, wilayah Clumprit masih memiliki potensi lahan sawah yang cukup besar untuk dikembangkan. Terdapat sekitar 50 hektare lahan sawah yang hingga saat ini belum tergarap karena masih terdampak genangan air dan kondisi infrastruktur pendukung yang belum optimal.

Meski demikian, beberapa kendala masih dihadapi dalam pengembangan lahan tersebut, terutama adanya genangan di sejumlah titik yang menghambat aktivitas pertanian. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan lahan pertanian di kawasan tersebut.

Pihaknya berharap para pemangku kebijakan dapat turut membantu melalui penanganan genangan air, perbaikan saluran irigasi, serta penyediaan sarana dan prasarana pertanian, seperti traktor untuk pengolahan lahan. Dengan dukungan tersebut, lahan sawah yang selama ini tidak produktif diharapkan dapat kembali dimanfaatkan oleh petani.

“Apabila genangan dapat diatasi, saluran irigasi dibenahi, dan petani mendapatkan dukungan sarana prasarana yang memadai, insyaallah sekitar 50 hektare lahan sawah di wilayah Clumprit dapat kembali ditanami,” tambahnya.

Melalui program penanaman padi biosalin ini, Pemerintah Kota Pekalongan bersama BPN Kota Pekalongan berharap dapat mendorong kebangkitan sektor pertanian di wilayah pesisir, sekaligus menjadi bagian dari penguatan Kampung Reforma Agraria dan upaya menjaga ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan lingkungan akibat rob.

*Sumber: pekalongankota

Presenter sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, merespons santa...
10/06/2026

Presenter sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, merespons santai kabar namanya disebut dalam persidangan kasus dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Ia mengaku sudah terbiasa dengan situasi semacam ini dan menegaskan tidak pernah terlibat dalam transaksi apapun dengan pihak yang bersangkutan.

"Saya pernah dibawa nama pencucian uanglah, inilah. Tapi yang pasti kalau ini, saya tidak pernah ada transaksi dan tidak pernah menerima pun enggak," ujar Raffi Ahmad saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (9/6/2026).

Suami Nagita Slavina itu juga menyatakan tidak menyimpan rasa sakit hati meski namanya kembali dikaitkan dengan perkara hukum.

Baginya, tuduhan yang tidak benar justru menjadi berkah tersendiri. "Sudah biasa saya dibilang apa. Ya penting kalau ada yang fitnah, biar jadi pahalanya buat saya," katanya.

Konferensi Pers Kamis Bersama Hotman Paris

Raffi Ahmad memastikan akan memberikan klarifikasi lengkap dalam waktu dekat.

Ia telah menghubungi pengacara kondang Hotman Paris Hutapea untuk mendampinginya secara hukum.

Keduanya akan menggelar konferensi pers pada Kamis (11/6/2026).

"Nanti lebih jelasnya lagi, saya sudah hubungin Bang Hotman untuk minta pendampingan hukum. Nanti hari Kamis kita konferensi pers biar terjabarkan semuanya," tegasnya.

*Sumber: Kompas. com

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menceritakan percakapannya dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Na...
10/06/2026

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menceritakan percakapannya dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang. Dudung menyebut Nanik akan menutup SPPG yang tidak sesuai standar.

"Masalah SPPG, kemarin saya ketemu dengan Kepala BGN bahwa memang akan dicek ulang bahwa yang tidak memenuhi syarat, itu nanti akan disuspen. Kemudian kalau masalah penutupan, pasti ada hal-hal yang memang tidak standar lah ya," ujar Dudung kepada wartawan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (9/6/2026).

Selengkapnya dikolom komentar...

*Sumber: Detik. com

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP Tahun Ajaran 2025/2026 di Kabupaten Pekalongan menunjukkan capaian yang c...
10/06/2026

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP Tahun Ajaran 2025/2026 di Kabupaten Pekalongan menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan.

Nilai rata-rata siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia maupun Matematika tercatat berada di atas rata-rata nasional.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Kholid, dikonfirmasi melalui telepon, Senin, 8 Juni 2026, mengungkapkan, rata-rata nilai Bahasa Indonesia siswa SMP di Kabupaten Pekalongan mencapai 62,57, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di angka 60,17.

"Kalau kita melihat rata-rata nasional Bahasa Indonesia itu 60,17. Tapi di Kabupaten Pekalongan mencapai 62,57, jadi masih di atas rata-rata nasional," kata Kholid.

Tak hanya itu, capaian pada mata pelajaran Matematika juga sedikit melampaui rata-rata nasional. Nilai rata-rata Matematika siswa SMP Kabupaten Pekalongan tercatat 43,95, sementara rata-rata nasional berada di angka 43,44.

"Untuk Matematika, rata-rata nasional 43,44, sedangkan Kabupaten Pekalongan 43,95. Alhamdulillah masih di atas nasional," ujarnya.

Meski berhasil melampaui rata-rata nasional, Kabupaten Pekalongan masih berada di posisi 26 tingkat Jawa Tengah.

Menurut Kholid, hasil tersebut akan menjadi bahan evaluasi penting bagi Dinas Pendidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah.

"Kalau di Jawa Tengah memang masih peringkat 26. Tidak apa-apa, ini justru menjadi pemetaan bagi kami untuk melangkah ke depan agar hasilnya lebih baik lagi," katanya.

Sebagai tindak lanjut, Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan akan melakukan pemetaan terhadap satuan pendidikan yang hasilnya belum optimal.

Kholid mengatakan, pihaknya akan menggandeng Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk memperkuat proses pembelajaran, terutama bagi siswa yang membutuhkan pendampingan tambahan.

"Anak-anak yang belum maksimal akan kita verifikasi sejak awal. Nanti akan kita lakukan pendampingan melalui ekstrakurikuler, tambahan jam belajar maupun program lainnya agar hasilnya meningkat," jelasnya.

Tak hanya siswa, kualitas pembelajaran guru juga akan menjadi perhatian. "Guru-guru yang mengajar kelas IX akan kita fokuskan pada proses pembelajaran. Agenda-agenda rapat yang tidak terlalu penting akan kita kurangi agar guru lebih fokus mengajar," tegas Kholid.

Kholid menilai salah satu faktor yang memengaruhi capaian akademik siswa saat ini adalah penggunaan telepon genggam yang berlebihan.

"Anak-anak sekarang memang sering bermain HP. Kalau digunakan untuk pembelajaran tentu baik, tetapi kalau tidak terkontrol bisa mengganggu konsentrasi belajar," ujarnya.

Selain itu, peran orang tua dinilai sangat menentukan keberhasilan proses pendidikan. "Orang tua harus mendukung ketika anak mengikuti tambahan pembelajaran atau kegiatan ekstrakurikuler. Karena selama tiga tahun, waktu anak lebih banyak bersama keluarga dibanding di sekolah," katanya.

Kholid optimistis dengan pemetaan yang telah dilakukan, kualitas pendidikan di Kabupaten Pekalongan akan terus meningkat pada pelaksanaan TKA berikutnya.

"Saya yakin ke depan akan lebih baik lagi karena sekarang kita sudah punya data dan pemetaan yang jelas untuk melakukan perbaikan," ujarnya.

*Sumber: Radar Pekalonga

Fenomena embun es atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai embun upas kembali muncul di kawasan Dataran Tinggi Dien...
10/06/2026

Fenomena embun es atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai embun upas kembali muncul di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, pada Selasa (9/6/2026). Suhu udara yang turun drastis hingga mencapai minus 1 derajat Celsius menyebabkan lapisan kristal es terlihat menutupi hamparan rumput dan tanaman di sejumlah titik pada Selasa (9/6/2026) pagi.

Kemunculan embun es tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Dieng. Sejak sebelum matahari terbit, sejumlah pengunjung tampak memadati lokasi-lokasi yang dikenal sebagai titik kemunculan bun upas untuk menyaksikan fenomena alam yang hanya terjadi pada musim kemarau tersebut.

Warga lokal Dieng, Hasto Priandono, mengatakan fenomena embun es kali ini telah muncul selama tiga hari berturut-turut. Selama tiga hari, Dieng diselimuti kristal es.

Menurut dia, kemunculan pertama terjadi pada Minggu pagi, meski lapisan es yang terbentuk saat itu masih relatif tipis. Pada hari berikutnya, area yang tertutup embun es semakin luas, dan pada Selasa pagi ketebalannya terlihat lebih jelas dibanding hari-hari sebelumnya. “Sudah tiga hari berturut-turut muncul. Hari Minggu sudah ada walaupun tipis. Hari Senin lebih luas, dan hari ini lebih tebal lagi,” kata Hasto pada Selasa (9/6/2026).

Suhu Drop sejak Malam, Pagi Hari Tembus Minus 1 Derajat Celsius

Hasto menjelaskan, suhu udara di kawasan Dieng mulai turun drastis sejak malam hari. Berdasarkan informasi yang diterimanya, suhu pada Senin malam mencapai 0 derajat Celsius dan menjelang pagi sempat menyentuh minus 1 derajat Celsius. Kondisi dingin ekstrem tersebut menjadi faktor utama terbentuknya kristal-kristal es di permukaan rumput maupun tanaman yang berada di area terbuka.

Hasto menyebut waktu terbaik untuk menyaksikan bun upas adalah antara pukul 05.00 WIB hingga sekira pukul 06.30 WIB. Setelah matahari mulai meninggi, lapisan es perlahan mencair dan menghilang. “Kalau mau lihat yang bagus biasanya antara jam lima sampai setengah tujuh pagi,” ujarnya.

Puncak Kemarau Juli-Agustus, Lapisan Embun Upas Diprediksi Lebih Tebal

Menurut Hasto, fenomena embun es masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan ke depan seiring berlangsungnya musim kemarau di kawasan pegunungan Dieng. Bahkan, ketebalan embun upas diperkirakan masih dapat bertambah apabila suhu udara terus mengalami penurunan.

“Kalau kemungkinan bisa lebih tebal lagi karena sekarang masih awal musim kemarau. Biasanya puncaknya sekitar Juli sampai Agustus,” kata Hasto.

Fenomena bun upas sendiri merupakan peristiwa alam yang rutin terjadi di kawasan Dataran Tinggi Dieng saat musim kemarau. Meski menjadi daya tarik wisata karena keindahannya mirip salju luar negeri, embun es juga dikenal dapat merusak tanaman pertanian milik warga akibat suhu dingin ekstrem yang menyertainya.

Namun bagi para wisatawan, kemunculan bun upas selalu menjadi momen yang dinantikan karena menghadirkan pemandangan langka yang tidak dapat dijumpai setiap hari.

*Sumber: Kompas. com

Sejumlah warga Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, menggelar aksi damai berupa pemasangan tiga s...
09/06/2026

Sejumlah warga Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, menggelar aksi damai berupa pemasangan tiga spanduk di sejumlah titik strategis desa, Senin malam, 8 Juni 2026.

Aksi ini sebagai bentuk dukungan terhadap pengusutan dugaan kasus pelecehan seksual yang saat ini tengah ditangani aparat penegak hukum.

Tiga spanduk berukuran besar dipasang warga di depan gang kampung. Spanduk itu memuat pesan dukungan terhadap proses hukum, solidaritas kepada korban, serta apresiasi kepada pihak-pihak yang dinilai telah membantu mengungkap kasus tersebut.

Adapun isi spanduk yang dipasang antara lain bertuliskan,

"TERIMAKASIH YAKUZA MANEGES YANG TELAH MENGUSUT KASUS PELECEHAN DI SIMBANG KULON",

"KAMI WARGA SIMBANG KULON BERSAMA PARA SAKSI DAN KORBAN. SEHEBAT APAPUN REKAYASAMU, ALLAH PASTI BONGKAR KEBOHONGANMU",

dan "KAMI WARGA SIMBANG KULON MENDUKUNG PENUH KEPADA KEPOLISIAN UNTUK MENGUSUT TUNTAS KASUS PELECEHAN DI SIMBANG KULON".

Salah satu tokoh pemuda Desa Simbang Kulon, M. Musa, mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian warga yang tidak ingin tinggal diam melihat dugaan tindakan yang dianggap merugikan korban.

"Bukti Simbang Kulon tidak diam melihat kebatilan," ujar Musa.

Menurutnya, ada beberapa tujuan utama dari aksi pemasangan spanduk tersebut. Di antaranya sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah berhasil membongkar hijab kebatilan yang selama beberapa tahun tertutup rapat.

"Kedua, memberikan dukungan kepada kepolisian agar kasus ini diusut tuntas," ujar dia.

Selanjutnya, kata dia, untuk memberikan dukungan kepada korban yang sudah berani maju menjadi saksi. Serta keempat, menggugah korban lain yang mungkin pernah mengalami pelecehan tetapi masih takut untuk speak up.

Musa berharap, proses hukum berjalan secara transparan hingga tuntas sehingga memberikan kejelasan bagi seluruh pihak.

Disinggung apakah warga menghendaki Padepokan Padang Ati (PPA) ditutup selamanya atau boleh buka kembali asal ada izin, ia menegaskan warga berharap padepokan itu ditutup selamanya. "Harapannya ditutup selamanya," katanya.

Meski demikian, ia mengaku warga juga memiliki kegelisahan tersendiri terkait dampak yang mungkin dirasakan para santri yang selama ini menimba ilmu di tempat tersebut.

"Tapi kita juga bingung melihat anak-anak santri yang ngaji sore. Konsekuensinya mereka kehilangan tempat untuk mencari ilmu," ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, wacana menghidupkan kembali aktivitas pendidikan di lingkungan Padepokan Padang Ati (PPA) Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, menuai penolakan dari sejumlah tokoh masyarakat setempat.

Dalam rapat koordinasi yang digelar di Aula Kelurahan Simbang Kulon, Jumat, 5 Juni 2026, mayoritas tokoh masyarakat dan tokoh agama sepakat bahwa hak pendidikan santri harus tetap berjalan.

Namun, proses belajar mengajar dinilai lebih tepat dilanjutkan di tempat lain, bukan dengan membuka kembali aktivitas di lingkungan PPA yang saat ini masih menjadi sorotan akibat proses hukum yang sedang berlangsung.

*Sumber: Radar Pekalongan

Address

Pekalongan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kabar Pekalongan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Kabar Pekalongan:

Share