16/11/2025
Dalam perdebatan tentang kebebasan tubuh, muncul pertanyaan yang tak pernah sederhana: siapa yang berhak menentukan apa makna kebebasan bagi seorang perempuan? FEMEN, dengan ideologi keras dan seragam, sering mengatakan bahwa jilbab, agama, dan kepercayaan hanyalah bayang-bayang patriarki. Bagi mereka, setiap perempuan yang memilih menutup aurat dianggap tidak benar-benar memilih—seolah-olah suara pribadi selalu lahir dari tekanan, bukan dari kehendak.
Namun di balik slogan-slogan lantang dan aksi tubuh telanjang yang menggemparkan dunia, ada satu ironi besar: bagaimana mungkin sekelompok aktivis dapat mengklaim memahami kebutuhan individu lain? Bagaimana mereka bisa menyimpulkan apa yang ada dalam hati seseorang, apa yang menjadi keyakinannya, atau apa yang membuat seseorang merasa utuh?
Karena pada akhirnya, kebebasan bukanlah satu arah. Ada perempuan yang merasa merdeka ketika membuka seluruh batas tubuhnya, namun ada juga yang merasa tenang, kuat, dan bertuan atas dirinya sendiri justru ketika ia menutup tubuhnya. Jilbab, cadar, atau pakaian apa pun dapat menjadi simbol ketundukan—tetapi bisa p**a menjadi simbol kendali penuh atas diri. Itu tergantung kepada individu, bukan kepada organisasi mana pun.
Di sinilah FEMEN kerap tersandung. Mereka ingin membebaskan perempuan, tetapi melalui cara mereka sendiri. Mereka ingin menghancurkan aturan, namun tanpa sadar menciptakan aturan baru: bahwa kebebasan hanya sah bila mengikuti bentuk yang mereka tentukan. Mereka menolak pengendalian tubuh oleh negara atau agama, namun pada saat yang sama berusaha mendikte pilihan perempuan lain.
Kebebasan yang sejati seharusnya tidak memaksa semua orang berjalan pada arah yang sama. Kebebasan berarti membiarkan setiap manusia—baik yang berjilbab, bertuhan, berpakaian sederhana, atau telanjang dalam protes—menentukan sendiri siapa dirinya tanpa perlu izin dari kelompok mana pun.
Dan pada titik itu, kita belajar satu hal penting:
bahwa perjuangan atas tubuh bukan tentang membuka atau menutup, tetapi tentang hak untuk memilih tanpa diatur oleh siapa pun yang mengatasnamakan pembebasan.