21/12/2025
Natal dan Duka Masyarakat Adat di Nangahale
Natal sejatinya adalah peristiwa iman yang sarat dengan sukacita dan harapan.
Sukacita karena menyambut datangnya sang juru selamat dan berharap akan ada pembebasan setelahNya. Namun bagi masyarakat adat di Nangahale, Natal kali ini hadir berdampingan dengan duka yang belum usai. Di tengah lantunan kidung kelahiran Sang Juru Selamat, terpatri luka dan duka sosial akibat konflik agraria, ketidakadilan struktural, dan pengabaian hak masyarakat adat yang telah berlangsung lama.
Tanah, bagi masyarakat adat di Nangahale bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan sumber kehidupan, identitas, dan martabat. Ketika tanah itu dirampas/dipersengketakan tanpa proses yang adil dan partisipatif, yang hilang bukan hanya lahan, tetapi juga rasa aman dan kepercayaan pada negara. Natal pun dirayakan dalam situasi batin yang terbelah: iman mengajak bersyukur, tetapi realitas memaksa menahan air mata.
"Tujuh orang masyarakat adat mendekam di ruang tahanan. Ditengah mereka berjuang mempertahankan hak atas tanah; mereka malah dituduh melakukan tindakan pidana".
Ironisnya, "Teologi Terlibat" yang menekankan pada keadilan, pembebasan, dan keberpihakan kepada kaum miskin dan tertindas justru sering bertolak belakang dengan kebijakan dan praktik di lapangan. Negara yang seharusnya hadir melindungi masyarakat adat, sering kali tampak absen atau bahkan berdiri di sisi yang berlawanan. Aparat(TNI/POLRI), hukum, dan kebijakan seolah kehilangan nurani ketika berhadapan dengan jeritan masyarakat adat.
"Di Nangahale ratusan rumah digusur dan aneka tanaman, milik masyarakat adat ditebang secara sepihak oleh PT. Krisrama, korporasi milik keuskupan Maumere".
Hukum tumpul bagai macan ompong. Penggusuran rumah dan penebangan tanaman tersebut dianggap legal. Miris..
Natal di Nangahale seharusnya menjadi cermin bagi semua pihak; pemerintah, aparat, Institusi Keagamaan serta masyarakat luas untuk kembali pada nilai kemanusiaan.
Damai Natal tidak boleh berhenti pada simbol dan ritual saja, tetapi harus terwujud dalam keberanian mengoreksi ketidakadilan dan memulihkan hak-hak yang dirampas.
Selama luka dan duka masyarakat adat masih diabaikan, Natal akan selalu terasa timpang dan rendah nilai: terang lilin bersaing dengan gelap ketidakadilan. Dan selama itu p**a, pesan kelahiran Kristus tentang cinta yang membebaskan belum sungguh-sungguh kita rayakan.
S e l a m a t M e n y a m b u t N a t a l U n t u k K i t a S e m u a