Lembaga Adat Ulukanayya Ri Bawakaraeng

Lembaga Adat Ulukanayya Ri Bawakaraeng Lembaga adat pelestari nilai, sejarah, perjuangan spiritual di kawasan Bawakaraeng dan kampung adat dataran tinggi

Malakaji, Riwayatmu DuluKetika Belanda menguasai daerah di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan, mereka banyak melaku...
06/01/2026

Malakaji, Riwayatmu Dulu

Ketika Belanda menguasai daerah di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan, mereka banyak melakukan intimidasi penduduk yang menyebabkan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Penduduk di Kerajaan Bone misalnya, mereka banyak yang lari ke daerah pegunungan Gowa, diantaranya ke Bollangi juga ada yang ke wilayah gunung Lompobattang di Kerajaan Garing dan Datara yang kini masuk dalam wilayah kecamatan Tompobulu.

Warga Bone yang mengungsi itu, akhirnya keenakan tinggal di daerah pengungsian dan mereka menetap di tempat itu. Mereka memanfaatkan sumberdaya alam untuk keperluan hidupnya, seperti bertani, beternak dan berkebun.

Hal tersebut juga didukung oleh kebijakan Pemerintah Kerajaan Gowa yang menerapkan politik pintu terbuka bagi warga di wilayah kerajaan lainnya untuk masuk ke Gowa, demikian p**a sebaliknya.

Apa lagi dilihat dari latar belakang historis, kerajaan Gowa, Bone serta beberapa kerajaan lainnya adalah bersaudara dan mereka menjalin hubungan persahabatan.

Hanya saja, kedatangan tentara belanda sempat mengusik ketenangan warga di berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan.

Beberapa Raja atau pembesar kerajaan di Sulawesi Selatan yang menjadi buronan tentara belanda memilih mengungsi ke daerah pegunungan, seperti halnya Raja Gowa ke 26 Amas Madina yang dikenal dengan julukan Batara Gowa II atau I Sangkilang (1753 - 1767) pernah mengungsi ke daerah pegunungan Lompobattang dan Bawakaraeng.

Demikian halnya dengan Raja Gowa ke 34 I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang (1895 - 1906) pernah bersembunyi di wilayah pegunungan itu, karena dialah Raja yang menentang kebijakan belanda di Kerajaan Gowa, akhirnya memberontak.

Kekejaman tentara belanda di wilayah kerajaan bone, membuat Arung Ponceng, salah seorang bangsawan Bone yang mengungsi ke daerah kerajaan Garing dan Datara dan membawa beberapa warganya. Disanalah beliau mendapat perlindungan dari Raja Garing dan diberi lahan untuk bertani.

​Warga di daerah pedalaman biasanya memasak nasi, sayur mayur maupun makanan lainnya dengan mengunakan kayu bakar. Ketika warga bugis Bone masuk ke hutan mencari kayu untuk dijadikan kayu bakar.

​Ketika tentara belanda pertama mamasuki daerah itu, merekapun bertanya kepada warga setempat yang kebetulan mencari kayu, Tentara belanda itu bertanya dalam bahasa Belanda, menanyakan tentang nama daerah itu.

Warga bugis yang mencari kayu, walau tak mengerti bahasanya, yang disangkanya ditanya "apa yang kau cari", maka secara spontan warga bugis itu menjawab, "MALA AJU" artinya dalam bahasa bugis, mencari Kayu.

Dari jawaban itulah, belanda kemudian memperkenalkan daerah itu dengan nama Mala aju yang kemudian berubah menjadi Malakaji, yang nantinya menjadi Ibokota dari wilayah distrik Tompobulu yang dipimpin oleh seorang landschap.

​Ketika I Makkulau Dg Serang melakukan perlawanan terhadap belanda, maka tempat persembunyiannya di Malakaji kemudian diambil alih oleh tentara belanda pada tahun 1905.

Belanda ingin memperkecil wilayah kekuasaan Raja Gowa.

itulah sebabnya, selama kurang lebih 30 tahun tidak ada pengangkatan somba di Gowa dan kekuasaan diambil alih oleh belanda.

Untuk memperkecil wilayah kekuasaannya, belanda kemudian menggabung distrik Malakaji kedalam Onder Afdeling Bantaeng dan kemudian dialihkan ke Onder afdeling Jeneponto.

​Pada Tgl 30 November 1936, Raja Gowa I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo dilantik menjadi Somba.

dan pada tahun 1937 distrik Malakaji beralih masuk ke wilayah Kerajaan Gowa (onder afdeling Gowa).

​Distrik Malakaji dipimpin oleh Asisten Landschap dan membawahi 7 perkampungan adat yang dipimpin oleh kepala adat berpangkat gallarrang.

Ketujuh kampung adat dimaksud adalah: Datara, Garing, Pa'ladingang, Bontoloe, Lembaya, Sapaya dan Bissoloro.
​Dalam SK Mendagri Bagian Timur No. 21 tahun 1940, menetapkan Onder Afdeling Gowa dibagi menjadi 11 distrik, sehingga wilayah Malakaji juga menjadi 11 perkampungan adat, dengan menambah kampung Malonjo, Lemowa dan Rappoala.

​Adapun Asisten Residen yang pernah memerintah di distrik Malakaji adalah:
​Dg Mattata
​HM Yunus Dg Mannangkasi
​Sonda Dg Mattayang
​Mappasero
​Waworuntu
​Sampara Dg Lili
​Y Silae
​Andi Matteterang
​Dg Mangung
​Sampara Dg Lili (kedua kalinya)
​Muh. Amin Dg Suro
​Sallatu Dg Ngampi
​Andi Paturusi

​Berdasarkan UU nomor 7 tahun 1960 tentang pembentukan daerah Tingkat I, maka daerah swapraja berubah nama menjadi daerah swatantra. Wilayah distrik berubah nama menjadi kecamatan. Distrik Malakaji kemudian berubah nama menjadi Kecamatan Tompobulu dan ibukotanya Malakaji.

Address

Malino
Malino

Telephone

+6288804148199

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Lembaga Adat Ulukanayya Ri Bawakaraeng posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share