PSHT Provinsi JAMBI

Website

PSHT Provinsi JAMBI Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from PSHT Provinsi JAMBI, Jalan Merak No. 10 - Kota Madiun, Madiun.

Kisruh ini dimulai karena nafsu KEKUASAAN ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ
10/10/2026

Kisruh ini dimulai karena nafsu KEKUASAAN ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ

Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat PSHT yang juga Wakil Rektor UGM, sampaikan terima...
06/10/2026

Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat PSHT yang juga Wakil Rektor UGM, sampaikan terima kasih kepada seluruh dulur-dulur di berbagai daerah, dari pengurus pusat hingga ranting, yang telah berproses dan berinteraksi dengan iktikad baik mengembangkan ajaran SH Terate. Sejarah akan membuktikan kita akan bersatu. Ada rahasia Allah yang kelak akan kita dapatkan.

Humas PSHT

https://youtu.be/-1PHHqCy8rQ?si=7sVrf6srlZ_MWlcb

Ketua Bidang Organisasi Pengurus Pusat PSHT menyampaikan terima kas...

DIRGAHAYU TNI KE-81 ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉKeluarga Besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mengucapkan:Selamat HUT ke-81 TNI.โ€œTNI Kuat B...
05/10/2026

DIRGAHAYU TNI KE-81 ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ
Keluarga Besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mengucapkan:
Selamat HUT ke-81 TNI.
โ€œTNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.โ€

Semoga TNI senantiasa kuat, profesional, dan dekat dengan rakyat dalam menjaga keutuhan NKRI.
PSHT bersama TNI, bersama rakyat, untuk Indonesia yang kuat dan berdaulat.
Guyub Rukun dalam Bingkai Persaudaraan. ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿฅ‹

Apa Yang Kita Tinggalkan?
02/10/2026

Apa Yang Kita Tinggalkan?

"Pepacuh, Sumpah, Wasiat, dan Air Jernih?" Sebuah Refleksi Hampir Satu Dekade Dualisme PSHT Bagian 5 : "Apa Yang Kita Tinggalkan?"

๐—ž๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ต? ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐— ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐˜ ๐—๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚? ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ...
02/10/2026

๐—ž๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ต? ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐— ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐˜ ๐—๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚? ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ? Siapa sih PSHT itu?

๐—ž๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ต? ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐— ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐˜ ๐—๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚?๐ท๐‘ข๐‘™๐‘ข๐‘Ÿ ..., ๐‘ก๐‘ข๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘๐‘Ž๐‘›๐‘—๐‘Ž๐‘›๐‘”, ๐‘ ๐‘–๐‘Ž๐‘๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘œ๐‘๐‘– ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ก๐‘’๐‘š๐‘๐‘’ ๐‘š...
01/10/2026

๐—ž๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—›๐—ฎ๐—ฟ๐˜‚๐˜€ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ต? ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐— ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐˜ ๐—๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐˜€๐—ฎ๐˜๐˜‚?
๐ท๐‘ข๐‘™๐‘ข๐‘Ÿ ..., ๐‘ก๐‘ข๐‘™๐‘–๐‘ ๐‘Ž๐‘› ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘๐‘Ž๐‘›๐‘—๐‘Ž๐‘›๐‘”, ๐‘ ๐‘–๐‘Ž๐‘๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘œ๐‘๐‘– ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘ก๐‘’๐‘š๐‘๐‘’ ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘œ๐‘Ž๐‘›๐‘›๐‘ฆ๐‘Ž ....

Pertanyaan pada judul tulisan diatas menyentuh lapisan paling fundamental dalam analisis sosiologi politik dan keamanan nasional. Membedah konflik PSHT tidak bisa lagi sekadar dilihat dari kacamata "siapa ketua umumnya" atau "siapa yang menguasai padepokan".

Secara geopolitik, sosial, politik, dan ekonomi, membelah kekuatan puluhan juta anggota PSHT adalah sebuah keharusan strategis bagi pihak-pihak (elite, oligarki, atau kekuatan asing) yang ingin mempertahankan hegemoni mereka di Indonesia.

๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฒ๐—ฐ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐—ถ๐˜๐˜‚ ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ?

๐—”. ๐——๐—ถ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜€๐—ถ ๐—ฆ๐—ผ๐˜€๐—ถ๐—ฎ๐—น ๐—ฃ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ: ๐— ๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ๐—ฝ๐˜‚๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ๐—ถ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ผ๐˜„๐—ฒ๐—ฟ (๐——๐—ฎ๐˜†๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐—ฟ) ๐—ฆ๐—ถ๐—ฝ๐—ถ๐—น

1. Ancaman Kekuatan Massa Terorganisir: PSHT memiliki struktur komando yang sangat mengakar, dari pusat, cabang, ranting, hingga rayon di tingkat desa (bahkan RT). Jika puluhan juta massa ini bersatu dan satu komando, mereka menjadi kekuatan masyarakat sipil (civil society) terbesar di luar struktur negara. Elite politik dan penguasa sangat takut pada kekuatan massa yang tidak bisa mereka kontrol sepenuhnya. Lebih mudah Alat Negara kontrol melalui pertikaian PSHT yang sudah terpecah jadi kubu-kubu.

2. Komodifikasi Pemilu dan Pilkada: Secara elektoral, puluhan juta suara adalah tambang emas. Jika PSHT bersatu, mereka punya daya tawar (bargaining position) untuk mendikte calon pemimpin (Bupati, Gubernur, Presiden) agar menelurkan kebijakan yang pro-rakyat. Namun, jika PSHT dipecah, suara mereka menjadi murah. Elite politik bisa memainkan taktik devide et impera dengan mendukung salah satu kubu untuk mendapatkan suara, tanpa perlu memberikan konsesi (janji) kebijakan yang berarti.

3. Meredam Potensi Oposisi Jalanan: Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang merugikan rakyat (seperti kenaikan harga, UU yang merugikan buruh/petani, pengerukan sumber daya alam yang timpang oleh elite/pihak asing), PSHT yang bersatu bisa menjadi motor penggerak perlawanan rakyat yang masif. Dengan membuat mereka sibuk bertengkar sesama saudara, energi untuk mengkritisi dan melawan ketidakadilan negara menjadi hilang.

๐—•. ๐——๐—ถ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜€๐—ถ ๐—˜๐—ธ๐—ผ๐—ป๐—ผ๐—บ๐—ถ ๐—ฃ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ: ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฎ๐—ฟ๐—ฝ๐—ฒ๐˜ ๐— ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐—ข๐—น๐—ถ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ธ๐—ถ

1. Melemahkan Benteng Akar Rumput: Basis terbesar PSHT adalah masyarakat akar rumput: petani, buruh, masyarakat adat, dan warga desa. Di wilayah-wilayah inilah sumber daya alam (tambang, hutan, lahan sawit) berada. Jika oligarki atau korporasi raksasa ingin merampas lahan atau mengeksploitasi alam, benteng pertahanan terakhir rakyat adalah paguyuban yang solid. Dengan memecah belah warga PSHT di desa-desa, perlawanan rakyat terhadap korporasi akan hancur karena warga sibuk berkonflik soal perguruan, bukan soal tanah mereka yang dirampas.

2. Menguras Kapital Organisasi: Konflik memakan biaya raksasa. Uang kas organisasi, sumbangan warga, hingga aset-aset produktif PSHT yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun koperasi raksasa, beasiswa pendidikan, atau kemandirian ekonomi warga, justru habis terkuras untuk biaya operasional organisasi/kelompok, biaya "pengamanan", dan ongkos konflik yang tidak ada habisnya. Secara ekonomi, PSHT sengaja dimiskinkan melalui konflik.

๐—–. ๐——๐—ถ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜€๐—ถ ๐—š๐—ฒ๐—ผ๐—ฝ๐—ผ๐—น๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ: ๐— ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—บ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป "๐—•๐—ฒ๐—น๐—ฎ ๐—ก๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ"

1. Menghancurkan Komponen Cadangan Pertahanan: Dalam doktrin Pertahanan Semesta (Sishankamrata) Republik Indonesia, rakyat terlatih adalah komponen cadangan (Komcad). Warga PSHT digembleng fisik, mental, dan kedisiplinannya, menjadikan mereka kekuatan semimiliter/paramiliter organik yang sangat cinta tanah air (PSHT didirikan oleh Pahlawan Perintis Kemerdekaan). Bagi kekuatan asing yang ingin melihat Indonesia lemah, menghancurkan soliditas PSHT sama dengan menghancurkan salah satu pilar pertahanan sipil terkuat di Nusantara.

2. Menciptakan Kerawanan Horizontal (Konflik Sosial): Negara yang rentan adalah negara yang masyarakatnya mudah tersulut konflik horizontal (perang antar saudara). Dengan terus memelihara kubu-kubu di dalam PSHT, pihak eksternal memegang semacam "tombol pemicu". Kapan pun mereka butuh Indonesia dalam keadaan darurat atau kacau (misalnya untuk mengalihkan isu skandal nasional/internasional), mereka tinggal memanaskan konflik di tingkat bawah.

3. Perang Modern Tidak Adu Senjata: Perang zaman sekarang lebih banyak berbentuk adu domba atau devide et impera (politik pecah belah) untuk melemahkan kedaulatan suatu bangsa dari dalam tanpa pertempuran militer terbuka. Karena perang lewat adu domba jauh lebih murah secara finansial dan logistik.

๐——. ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฐ๐—ฒ๐—ด๐—ฎ๐—ต ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ต๐—ถ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ "๐—ž๐—ฒ๐—ธ๐˜‚๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ด๐—ฎ"

Dalam teori hegemoni, elite penguasa hanya menginginkan dua kekuatan: Negara (Pemerintah/Aparat) dan Pemilik Modal (Oligarki). Lahirnya "Kekuatan Ketiga" berupa ormas persaudaraan raksasa yang mandiri, punya ideologi budi luhur, dan berani mati membela kebenaran adalah bencana bagi para koruptor dan mafia hukum. Memecah belah PSHT adalah cara memastikan kekuatan ketiga ini mati sebelum sempat mekar dengan sempurna.

๐—˜. ๐—ž๐—ผ๐—ป๐—ณ๐—น๐—ถ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฆ๐—›๐—ง ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—ฑ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ถ๐—ป

Konflik di PSHT bukanlah kecelakaan sejarah, ada indikasi "kejahatan sistematis" (by design). Publik berhak bertanya: Aparat yang terkesan membiarkan, birokrasi yang tebang pilih, dan narasi yang terus memanaskan akar rumput adalah bagian dari mesin operasi ini dan ajang unjuk kinerja promosi jabatan/profesi.

'Desain' pelemahan ini bekerja secara kasatmata di depan mata kita. Fakta dan logika lapangan membuktikan bagaimana desain pemeliharaan konflik ini bekerja nyata pada kasus PSHT:

1. Logika Hukum Sederhana: Jika negara berniat menyelesaikan konflik ini, mekanismenya sudah selesai di tingkat Mahkamah Agung (Putusan Kasasi No. 1712 jo. PK No. 68). Negara memiliki aparat penegak hukum dan kekuatan pemaksa resmi untuk mengeksekusi putusan perdata/pidana apa pun. Mengapa konflik di PSHT dibiarkan mengambang selama 10 tahun?

2. Fakta Pemeliharaan Masalah: Dengan memosisikan putusan hukum sebagai "masalah kamtibmas", aparat menciptakan panggung pembenaran untuk menggelar operasi keamanan besar-besaran beranggaran negara (seperti pengerahan 2.580 personel). Bagi birokrasi (Forkopimda) dan aparat keamanan, konflik yang tetap ada adalah alasan absah pencairan anggaran pengamanan dan panggung unjuk kinerja.

3. Standar Ganda sebagai Desain Kontrol: Membiarkan kelompok tanpa dasar hukum menguasai fisik padepokan sambil menghalangi pemilik sah secara hukum adalah cara paling efektif memastikan kedua belah pihak tetap saling kunci. Jika salah satu kubu dieksekusi menang mutlak, PSHT akan bersatu dan menjadi entitas raksasa mandiri yang tidak lagi butuh perlindungan aparat. Keadaan "terus berkonflik" membuat kedua kubu selalu bergantung pada restu Forkopimda dan polisi.

4. Motif Elite Eksternal (Panen Suara dan Simpatisan Murah): Tokoh politik, mantan pejabat TNI, Wakil Gubernur, hingga anggota DPR melihat PSHT bukan semata-mata seni bela diri, melainkan kolam elektoral puluhan juta orang yang paling terstruktur di Indonesia. Merangkul PSHT (yang membuka kran politis) memberi mereka citra merakyat, jaringan massa pengaman, dan basis suara instan tanpa perlu repot membangun basis massa dari nol.

5. Menjadikan Pendekar sebagai Konsumen Jinak dan Branding: Sponsorship dari korporasi/tokoh besar (bagian dari oligarki) pada acara-acara kolosal PSHT sepintas terlihat positif secara sosial ekonomi. Namun dalam sosiologi gerakan massa, ini adalah bentuk pacification (penjinakan). Massa pendekar yang seharusnya punya daya kritis sosial dialihkan fokusnya menjadi kerumunan festival, parade deklarasi, dan panggung konsumtif yang viral. Oligarki mendapatkan branding kuat atas acara kolosal ini.

Jika warga PSHT menyadari peta geopolitik dan ekonomi ini, mereka akan paham bahwa musuh sejati mereka bukanlah saudara seperguruan yang berbeda kubu, melainkan sistem oligarki dan elite yang sedang menertawakan mereka dari atas. Kesadaran inilah yang harus terus dibangun agar PSHT kembali Guyup Rukun bersatu dan menjadi perisai bangsa yang sesungguhnya.

Dulur, ingatlah Ajaran Eyang Hardjo: "Siapapun yang mau menegakkan kebenaran itulah saudara kita." Jaman dulu digunakan untuk melawan penjajah. Jaman sekarang gunakanlah melawan kedzaliman penguasa, ketidakadilan politik, sosial, dan ekonomi. Ayo Guyup Rukun merawat sumpah dan wasiat SH Terate, yang terucap di malam itu. Saatnya bergandengan tangan. Salam Persaudaraan, PSHT Jaya!

Dul Kribo

Address

Jalan Merak No. 10 - Kota Madiun
Madiun
63128

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PSHT Provinsi JAMBI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share