24/04/2026
Menyusuri Jejak Sembilan Dekade: Evolusi Kongres Ansor dari Surabaya 1936 hingga Samudra
NUOKe – Menelusuri sejarah Gerakan Pemuda (GP) Ansor serupa dengan membaca kembali lembaran perjuangan kemerdekaan dan konsolidasi demokrasi di Indonesia. Sejak resmi berdiri pada tahun 1934 hingga Kongres terbaru di tahun 2024, organisasi kepemudaan terbesar di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) ini telah menyelenggarakan lebih dari 20 kali Kongres yang menjadi saksi bisu dinamika sosial-politik tanah air.
Perjalanan panjang ini terbagi dalam dua era besar: era Ansoru Nahdlatil Oelama (ANO) (1934–1949) dan era Gerakan Pemuda (GP) Ansor (1949–sekarang).
Era ANO: Fondasi dan Cikal Bakal Banser
Lahir pada 24 April 1934 atas restu dan istikharah Rais Akbar PBNU KH Hasyim Asy’ari, ANO memulai debut organisasinya melalui Kongres I di Surabaya pada tahun 1936. Di bawah kepemimpinan perdana H.M. Thohir Bakri, fokus awal organisasi adalah konsolidasi cabang.
Namun, momen krusial terjadi pada Kongres II di Malang (1937). Di tengah kemeriahan atraksi pencak silat dan olahraga, lahirlah Barisan ANO, yang kelak bertransformasi menjadi Barisan Ansor Serbaguna (Banser) benteng ulama dan penjaga keutuhan NKRI hingga hari ini.
Dinamika internal pun tak luput dari catatan sejarah. Pada Kongres IV di Magelang (1939), ANO berhasil menyelesaikan perselisihan internal terkait penggunaan seragam dan alat musik yang sebelumnya sempat menjadi perdebatan hangat di kalangan pengurus NU karena dianggap menyerupai tradisi luar.
Pasca Kemerdekaan: Reuni dan Transformasi Menjadi GP Ansor
Setelah sempat vakum akibat Perang Dunia II dan agresi militer di mana para pemudanya terjun langsung ke medan laga melalui laskar Hizbullah dan Sabilillah titik balik organisasi terjadi pada 14 Desember 1949.
Bertempat di kantor PB ANO Surabaya, menteri agama saat itu, KH A Wahid Hasyim, menginisiasi pertemuan bersejarah yang melahirkan nama baru: Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Sejak saat itu, GP Ansor resmi menjadi badan otonom NU yang bertugas membentengi umat dan mempersiapkan kader penerus.
Arungi Badai Politik Orde Lama hingga Orde Baru
Memasuki dekade 50-an dan 60-an, GP Ansor menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan. Di bawah kepemimpinan tokoh seperti A. Chamid Widjaja dan Imron Rosjadi, Ansor terlibat aktif dalam pemenangan NU pada Pemilu 1955 hingga memberikan dukungan penuh terhadap konfrontasi nasional di era B**g Karno.
Namun, masa sulit menghadang pasca-peristiwa 1965. Tekanan politik Orde Baru membuat organisasi ini sempat meredup. Bahkan, antara tahun 1967 hingga 1980, Ansor mengalami kemunduran signifikan hingga banyak cabang yang vakum. Kebangkitan baru terasa pada Kongres VIII di Jakarta (1980), yang juga menjadi momentum terakhir kehadiran Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri sebelum beliau wafat.
Menuju Modernitas: Dari Donohudan ke Atas Kapal Kelud
Memasuki era reformasi, GP Ansor mulai berbenah menjadi organisasi yang lebih modern dan inklusif. Nama-nama seperti Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Nusron Wahid, hingga Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) membawa Ansor menjadi organisasi yang vokal dalam isu pluralisme dan kebangsaan.
Uniknya, tradisi pemilihan pemimpin di Ansor selalu memiliki cerita tersendiri. Jika Kongres XII di Boyolali (2000) dilaksanakan dalam suasana transisi demokrasi, maka Kongres XVI (2024) mencatatkan sejarah baru dengan dilaksanakan di atas Kapal Pelni KM Kelud yang berlayar dari Jakarta menuju Semarang.
Peta Jalan NU Masa Depan
Dalam Kongres di tengah samudra tersebut, Addin Jauharuddin terpilih secara aklamasi untuk memimpin GP Ansor masa khidmat 2024-2029. Dengan tema "GP Ansor: Peta Jalan Nahdlatul Ulama (NU) Masa Depan", organisasi ini kini memantapkan visinya bukan sekadar sebagai organisasi penjaga gerbang, melainkan garda terdepan pembangunan spiritual, sosial, dan peradaban Indonesia.
Dari Surabaya 1936 hingga KM Kelud 2024, Ansor membuktikan bahwa meski zaman berganti dan tantangan politik kian rumit, marwah organisasi sebagai "penolong" (Ansor) tetap tegak lurus pada komitmen keislaman dan kebangsaan.
Sumber: Berbagai Sumber Content Curator NUOKe