20/05/2026
Tangis Maria di Bulan Maria, Melki pun Tak Rela
"Gubernur Melki tampaknya berusaha mengambil posisi sebagai penengah, tidak serta-merta menyalahkan bawahan yang menjalankan proses birokrasi, tetapi juga tidak menutup mata terhadap kesedihan Maria."
Di balik ketegasan sebuah keputusan birokrasi, selalu ada sisi kemanusiaan yang berdegup. Itulah yang kini tengah ditunjukkan oleh Gubernur NTT, Melki Laka Lena. Ketika publik menyoroti pemberhentian Maria Goreti Kara dan tiga rekannya dari kepegawaian KONI NTT, Gubernur Melki justru tampil mengambil posisi yang menenangkan.
Ia tidak menutup mata terhadap kesedihan mereka. Bahkan, terbersit pesan kuat bahwa sang Gubernur sejatinya tak rela melihat Maria menangis, dan mengisyaratkan bahwa mereka masih mungkin diakomodir pada posisi lain agar tetap bisa menyambung hidup.
Rakyat NTT tentu perlu memahami bahwa dalam sebuah roda organisasi—terlebih institusi olahraga sekelas KONI—penyegaran adalah sebuah keniscayaan. Keputusan administratif ini memang harus dijalankan oleh Gubernur Melki.
KONI NTT membutuhkan energi baru, napas yang lebih panjang, serta ruang bagi anak-anak muda berbakat dan profesional untuk membawa prestasi olahraga NTT melesat lebih jauh. Ketegasan dalam evaluasi dan pembaruan birokrasi adalah langkah mutlak demi cita-cita besar membangun NTT yang maju.
Namun, ketegasan itu tidak lantas mengebiri rasa kemanusiaan seorang Melki. Baginya, menyelamatkan organisasi memang penting, tetapi menyelamatkan manusia di dalamnya jauh lebih mulia.
Butir Rosario dan Air Mata di Ujung Telepon
Senin malam, kira-kira pukul 18.30 WITA, saya mencoba menelpon Maria Goreti Kara. Suaranya berat. Pelan. Seperti orang yang sudah menangis seharian. Ketika saya meminta untuk bertemu, ia menjawab singkat, “Selepas doa rosario dulu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat dalam. Di Bulan Maria yang biasanya dipenuhi doa, lilin, dan harapan, saya menangkap ada air mata yang sedang dititipkan diam-diam kepada Tuhan.
Bersama tiga rekannya—Yasinta Sanggu Doa, Suryani Sinlae, dan David Hadjoh—Maria baru saja menerima kenyataan pahit diberhentikan sebagai pegawai sementara KONI NTT. Maria sadar kontraknya hanya diperbarui setiap tahun. Ia tidak sedang menuntut sesuatu yang muluk. Namun bagi pegawai biasa, kehilangan pekerjaan berarti hilangnya pegangan hidup. Ada cicilan, ada dapur yang harus tetap berasap, dan ada keluarga yang menunggu.
Karena itu Maria menangis. Dan mungkin, malam itu, butir-butir rosario di tangannya menjadi tempat ia menggantungkan kecewa yang tak sanggup dijelaskan dengan kata-kata.
Dalam tradisi iman Katolik, Bulan Maria bukan hanya bulan penghormatan, tetapi juga permenungan tentang ketabahan hati seorang ibu yang berjalan bersama kehendak Tuhan, bahkan ketika hidup terasa berat.
Barangkali itulah yang sedang dilakukan Maria dan kawan-kawannya hari ini: belajar menerima kenyataan pahit sambil berharap Tuhan, melalui tangan para pemimpin, masih membuka jalan baru.
Tanggung Jawab Moral dan Pesan untuk Lingkaran Kekuasaan
Filsuf Emmanuel Levinas pernah mengingatkan bahwa wajah manusia lain selalu menghadirkan tanggung jawab moral. Artinya, sebelum melihat seseorang sebagai angka administrasi, kita harus lebih dahulu melihatnya sebagai manusia.
Karakter Gubernur Melki yang selama ini dikenal santun dan memiliki sentuhan personal yang baik, membuktikan bahwa ia memahami filosofi tersebut. Pernyataannya yang membuka peluang untuk memosisikan Maria dan kawan-kawannya di tempat lain adalah bentuk tanggung jawab moral itu. Kepemimpinannya tidak terjebak dalam jarak dingin birokrasi.
Di sisi lain, sikap humanis ini harus menjadi pengingat keras bagi para bawahan dan organ politik di sekitar kekuasaan. Jangan sampai ada yang terserang “sindrom kekuasaan,” merasa paling berhak mengatur birokrasi, menentukan siapa yang ditendang dan siapa yang dipasang hanya karena merasa dekat dengan pusat kuasa.
Kekuasaan selalu menggoda manusia untuk lupa bahwa jabatan hanyalah titipan. Penyegaran KONI harus murni didorong oleh semangat profesionalisme, bukan hasrat berkuasa dari oknum-oknum tertentu. Jika organ-organ politik tidak menahan diri, hal ini bisa merusak reputasi Melki sebagai gubernur yang dekat dengan rakyat dan mengaburkan cita-cita luhur membangun NTT yang bermartabat.
Sebuah Harapan Baru
Hidup, seperti doa rosario, selalu bergerak dari peristiwa sedih menuju peristiwa mulia. Ada luka, tetapi selalu ada harapan.
Keputusan meregenerasi KONI dengan tenaga muda berbakat adalah ketegasan Melki untuk memajukan olahraga NTT. Namun, empatinya terhadap nasib Maria adalah bukti bahwa kepekaan terhadap nasib orang kecil tidak pernah hilang dari dadanya. Publik dapat melihat sisi lain seorang Melki: pemimpin yang menyadari bahwa roda administrasi boleh berputar cepat, tetapi air mata rakyat tidak boleh diabaikan.
Semoga air mata Maria di Bulan Maria tidak menjadi akhir dari segalanya, melainkan jalan menuju kehidupan baru. Dan semoga kepedulian Gubernur Melki segera mewujud dalam tindakan nyata, memberi mereka ruang yang layak untuk kembali menjalani hidup secara bermartabat. Sebab pada akhirnya, kepekaan terhadap nasib manusialah yang akan selalu dikenang oleh sejarah.