KakiAbu

KakiAbu Tidak Kemana mana
tapi Ada dimana mana

22/05/2022

𝐩𝐞𝐦𝐮𝐝𝐚" 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐧𝐣𝐚𝐣𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐣𝐞𝐩𝐚𝐧𝐠. 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐩𝐞𝐤𝐚𝐧𝐛𝐚𝐫𝐮
𝐦𝐞𝐫𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐬𝐞𝐧𝐣𝐚𝐭𝐚 𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐣𝐞𝐩𝐚𝐧𝐠
𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 1944

== PON, dan Abusurdnya Budaya Papua ==Pembukaan PON telah berlalu beberapa jam yang lalu. Banyak yang bangga, bahagia de...
02/10/2021

== PON, dan Abusurdnya Budaya Papua ==

Pembukaan PON telah berlalu beberapa jam yang lalu. Banyak yang bangga, bahagia dengan perayaan pon yang baru pertama diadakan di Papua tahun 2021, dari rencana PON ke 6 tahun 1968 akan diadakan di Papua.

Sebagai provinsi yang baru melaksanakan event nasional, maka jangan kaget kalau banyak hal yang diluar dugaan. Terlebih lagi, banyak masalah politik dan sosial yang belum terselesaikan di Papua. Ini menyebabkan ada provinsi yang tidak mengirim atlitnya untuk ikut dalam PON (Pekan Olehraga Nasional) di Papua.

Begitulah Papua, meskipun telah dikumandangkan oleh presiden agar Papua terbuka bagi media nasional dan internasional, namun dalam dunia nyata, Papua masih tertutup. Seperti juga Belanda pada tahun 1700-1800-an memperlakukan Papua.

PON 2001, muncul sebuah gerakan untuk melindungi burung Cenderawasih, menjadi hewan yang diindungi secara hukum. Kampanye dan pendekatan kepada semua elemen dilakukan, agar cenderawasih yang asli tidak digunakan dalam perhelatan nasional ini. Maka yang anda tonton hanyalah adalah bulu mitasi dari cenderawasih yang di jadikan aksesori pemanis tiap orang yang tampil dalam pembukaan PON.

Dalam adat Papua (bukan budaya), tidak semua orang dapat memakai bulu cenderawasih dengan sembarangan, ada aturan adat yang mengatur penggunaan bulu cenderawasih tersebut, misalnya panglima perang (Jazirah Onim di Bomberai) dan pemimpin wilayah (dalam keodofoloan Sentai). Di luar Papua, bulu cenderawasih digunakan dalam penobatan panegran di Nepal, atau dalam prosesi ngaben (kremasi) di Bali.

Keindahan cenderawasih membuat semua aturan adat dan tatanannya kehilangan nilai dengan munculnya fashion yang menggunakan cenderawasih sebagai bahan pemanis. Eropa menjadi pemasok pemanis terbesar di tahun 1800-an dengan menerima jutaan bulu cenderawasih.

Fashion aturan adat pun tak ada artinya, semua dibungkus dengan budaya, hingga mereka yang pernah menggunakan bulu cenderawasih mengatakan bahwa penggunaan bulu cenderawasih adalah bagian dari budaya, perilaku yang dinamis mengikuti perkembangan dunia.

Beruntunglah dalam perhelatan pembukaan PON, tidak nampak penggunaan bangkai cenderawasih yang asli, remah-remah cenderawasih yang tersisa dari jutaan bangkai yang telah dijual ke berbagai wilayah di muka bumi. Padahal di pasar aksesori Papua di Hamadi, pajangan bangkai cenderawaih yang dibuat sebagai cenderawasih semakin meningkat.

Cenderawasih selain menjadi ikon Papua, namun dapat juga menjadi media untuk menjelaskan kemajemukan Papua, seperti cenderawasih yang memiliki 39 geneologi keluarga. Laser bird of paradise yang banyak di gunakan, hanya salah satu dari 39 jenis keluarga cenderawasih.

Dalam perayaan PON 2021 di Papua, ada yang terlewatkan, ini terjadi pada penjelasan wilayah kebudayaan yang disebutkan sebagai wilayah adat.

Tampilan para penari kontemporer ini tidak diikuti dengan narasi penjelasan penampilan paa penarinya. Penonton dianggap memahami Papua, seingga tak ada penjelasannya.

Moment ini (PON), menjadi media untuk menjelaskan kemajemukan kehidupan di Papua. Tiap tarian yang dikontemporerkan membawa sebuah nilai, sebuah pesan dari para pemilik cerita tarian yang di pertontonkan.

Misalnya, menara pengintai dalam suku Hubula berfungsi sebagai apa? Bukan hanya tangan yang lembai-lambai yang di shoot, atau munculnya penari dengan menggunakan aksesori pesta roh dari Asmat. Apakah makna dari aksesori pesta roh Asmat dalam PON? Sebuah ritual sakral yang hanya dipertontonkan dalam ritual di Asmat.

Dalam konteks pemaknaan nilai inilah, tontonan PON hanyalah sebuah seremoni yang absurd, tidak memiliki nilai, terjebak dalam harus ada perwakilan masyarakat, tanpa melihat nilai, filosofi dalam adat, kebudayaan suku di Papua.

Selamat berbahagia menjadi tuan rumah PON di Papua. Dalam absurdnya budaya yang di tonton. 🤭


Kapan KNPB menyeruhkan Tindakan kekerasan?Setiap insiden yang terus menerus berdarah-darah di seluruh teritori west Papu...
06/09/2021

Kapan KNPB menyeruhkan Tindakan kekerasan?

Setiap insiden yang terus menerus berdarah-darah di seluruh teritori west Papua. Militer Indonesia selalu memberitakan informasinya kepada seluruh rakyat Indonesia dan West Papua. Aktor intelektual kekerasan di seluruh teritori west Papua adalah organisasi KNPB. Ini adalah kekeliruan Indonesia melalui Militer Indonesia, dengan memanfaatkan setiap peristiwa.

Indonesia melalui Polda Papua dan Papua Barat terus pelihara metode lama Kepolisian yang selalu digunakan untuk kriminalisasi ini dan itu. Apalagi menggunakan media Nasional untuk menggiring opini publik. Memanip**asi kesadaran masyarakat untuk membenarkan upaya kriminalisasi organisasi KNPB. Sejak komite Nasional Papua Barat (KNPB) didirikan, setia peristiwa di seluruh teritori West Papua dialamatkan KNPB. Jadi, yang menjadi pertanyaan; Kapan komite Nasional Papua Barat (KNPB) menyeruhkan tindakan kekerasan?

KNPB tidak pernah menyerukan melakukan tindakan kekerasaan, selain mendidik rakyat dengan perlawanan yang damai, bermartabat dan adil. KNPB bersama rakyat west Papua menuntut melakukan referendum secara damai melalui mekanisme Internasional yang adil, damai dan bermartabat. Sejak KNPB didirikan rakyat west Papua berjuang secara bermartabat dan damai. Indonesia melalui Militer dalam penyelidikan dapat mengutamakan prinsip-prinsip HAM untuk suatu keadilan dan kebenaran.

Indonesia melalui Militer mustik hentikan segala upaya untuk kriminalisasi organisasi KNPB, apalagi memanfaatkan media Nasional Indonesia untuk mengiring Opini publik. Hentikan Segala upaya pembenaran mencari legitimasi rakyat, rakyat lebih dahulu sudah mengetahui. Karena rakyat west Papua hari ini sedang berjuang secara bermartabat dan damai.
https://www.facebook.com/100061855804111/posts/228314555907070/

Surat Untuk Kamerad Victor YeimoOleh Muhammad Yasir Kamerad, aku pernah menyaksikan kesaksian Pramoedya Ananta Toer dala...
22/08/2021

Surat Untuk Kamerad Victor Yeimo
Oleh Muhammad Yasir

Kamerad, aku pernah menyaksikan kesaksian Pramoedya Ananta Toer dalam sebuah film dokumenter “Jalan Raya Pos (2000)”. Jika aku tidak keliru, Pram berkata: “Berhari-hari saya duduk menghadap dinding penjara. Pada suatu titik, saya melihat macan muncul dari balik dinding itu. Kemudian saya katakan: “Jika engkau ingin memakanku, makanlah!” Sungguh, bagaimana pun aku memiliki waktu untuk sekadar berkontemplasi berada di posisi yang sama, aku tidak akan memiliki kekuatan seperti itu. Bagaimana denganmu? Apakah engkau juga melihat macan yang sama seperti yang dilihat Pram? Atau, karena engkau sedang berjuang untuk tetap sehat di penjara sebagai seorang Tahanan Politik, engkau justru melihat iblis merah-putih keluar dari dinding penjara?! Jika iya, kita sepakat bahwa macan dan iblis merah-putih itu adalah Indonesia. Indonesia telah melampaui batasnya sebagai negara yang mengklaim diri sebagai negara hukum dan demokratis. Indonesia telah mencincang Bintang Kejora menjadi potongan-potongan halus dan memasaknya, kemudian menyuguhkannya kepada anak-anak kandung Bintang Kejora.

Kamerad, kita tidak pernah bertemu bahkan sedetikpun! Namun, semangat pembebasan yang hidup menjadi darah menjadi dagingmu memanggilku. Dan, melalui surat yang tidak mungkin engkau baca ini, bahwa aku mendukung setiap hembus nafas perjuangan dan perlawanan yang engkau dan Orang Papua lakukan untuk melawan dekolonialisasi yang dilancarkan Indonesia demi mengamankan pekerjaan mereka merampas kekayaan alam milik leluhurmu, membunuh rakyatmu, mengejek warna kulit bangsamu, dan memperkosa anak-anakmu melalui media massa, serdadu, investasi, hukum, dan seterusnya. Dan, melalui surat ini aku ingin mengatakan bahwa aku senantiasa menceritakan bagaimana Bintang Kejora adalah bintang yang begitu besar di langit, bintang yang hidup di hati orang-orang pembebas, dan bahwa aku telah terbuang dari tanah-airku dan tidak memiliki kemampuan seperti engkau.

Kamerad, anak pertamaku, Lun Dayun Tingang Haratim menatap fotomu di teleponku. Dia berkata “Papa”, kemudian tenggelam dalam dekapanku. Aku merasakan riak Sungai Warswei begitu dekat denganku. Aku merasakan Bintang Kejora adalah sosok Mama yang muncul di kaca jendela ruang kerja kreatifku. Aku mendengar begitu jelas derap kaki orang-orang Nduga di jalan setapak menuju Wamena dan maut satu kaki di belakang mereka. Aku melihat segerombolan macan dan iblis merah-putih mengintai mereka di ujung jalan. Oh! Aku merasakan engkau berada di hadapanku. Wajahmu pucat. Matamu pijar. Tanganmu yang kokoh merengkuh tanganku. Dan, oh! Bibirmu yang berat sakan-akan berucap: “Sa adalah Bintang Kejora. Sa akan hidup sebagai Bintang Kejora dan mati sebagai itu!” Aku mencoba mengendalikan. Akan tetapi, di jalan gang itu, kibar bendera merah-putih adalah macan dan iblis bagi akal sehat dan nuraniku. Aku menangis untukmu, untuk Bintang Kejora.

Gresik, 2021

18/08/2021

*Tentang ‘Rencana Besar Jakarta untuk Papua’ dan ‘Aktor Inti’*

_Dinamika keberlanjutan Otsus di Papua Ada beberapa catatan penting yang ingin saya bagikan dalam tulisan ini._

Pertama, soal keberlanjutan Otsus. Para pemimpin negara Indonesia, dari Presiden dan para pembantunya, militernya, para pemimpin partai politik, para tokoh, telah memiliki kata sepakat untuk satu hal yang harus terjadi di Papua: Otsus harus tetap dilanjutkan, dengan membungkam suara orang Papua yang tolak Otsus. Itulah mengapa suara Petisi Rakyat Papua (PRP) yang didalamnya 112 organisasi dan 714.066 orang yang menolak Otsus itu tidak didengar. Bahkan Victor Yeimo, juru bicara PRP, justru ditangkap hingga saat ini.

Kedua, soal dinamika yang terjadi di Jakarta tentang keberlanjutan Otsus. Ada kelompok yang menjadi sumur yang memproduksi kajian dan data tentang Papua, dan mungkin telah menjadi otak di balik semua hal yang terjadi akhir-akhir ini. Dua kelompok yang ingin saya sebutkan adalah, CSIS dibawah pimpinan Philip Fermonte dan Pokja Papua UGM pimpinan Bambang Purwoko. Selain dua kelompok dengan latar belakang intelektual, ada kelompok lain yang bermain, yakni BIN. CSIS berkontribusi juga dalam lahirnya UU No 21 tahun 2001 tentang Otsus. Untuk keberlanjutan Otsus mereka juga berjasa dalam banyak hal. Pokja Papua UGM telah menjadi basis yang sejak lima-eman tahun yang lalu bekerja demi ‘masa depan Papua’, melibatkan akademisi, para tokoh terkemuka, termasuk beberapa mahasiswa (kini ada yang sudah sarjana, ada yang belum) orang asli Papua yang dilatih, direkrut, lalu disebarkan lagi ke beberapa posisi yang penting: gerakan/organisasi kemerdekaan Papua, beberapa lembaga, dan seterusnya. Kita sebut mereka ini “Aktor Inti” yang berhasil memastikan keberlanjutan Otsus. Kalaupun dalam proses ini ada orang asli Papua, percayalah, mereka hanyalah bidak catur yang dimainkan. Tidak lebih.

Ketiga, jadi kalau dicermati, ada pihak-pihak, baik akademisi dan BIN, dan dengan bantuan anggaran dan perhatian dari negera melalui berbagai institusinya, telah merancang dan meloloskan rencana keberlanjutan Otsus. Rencana ini, tidak main-main, terlihat telah dipersiapkan 6-5 tahun yang lalu dan terus berjalan untuk target-target selanjutnya. Saya sebut “Rencana Besar Jakarta untuk Papua” bagi semua perencanaan para Aktor Inti tadi.

Keempat, rupanya Gubernur Lukas Enembe dan Klemen Tinal dilihat sebagai dua pilar yang mampu menjadi penentang Para Aktor Inti dengan Rencana Besar Jakarta untuk Papua. Jadi, secara umum, telah dipetakan bahwa Provinsi Papua lebih berbahaya daripada Papua Barat. Dan orang Papua dari gunung lebih berbahaya daripada orang Papua pesisir pantai. Karena itulah, ibarat catur, perlu ada prajurit yang ditempatkan di garis depan untuk mengeksekusi. Untuk posisi inilah, FORSEMI Papua sudah terbentuk: isinya para intelektual orang asli Papua, yang, hampir semua adalah orang asli Papua dari provinsi Papua Barat dan orang asli Papua dari pesisir pantai. Itulah mengapa mayoritas tokoh yang tampil dalam proses keberlanjutan Otsus adalah OAP pesisir dan Papua Barat. Sehingga dikotomi “gunung” versus “pantai” bukanlah muncul tanpa desain. Hal ini bagian dari “Rencana Besar Jakarta untuk Papua” yang dirancang para “Aktor Inti” tadi. Nah, seperti kalian sendiri bisa amati saat ini, jadilah terlihat perang terbuka antara orang Papua gunung vs orang Papua pantai. Perpecahan orang Papua di depan mata. Itulah yang diinginkan Aktor Inti, yang, ke depan akan digunakan untuk menyukseskan rencana selanjutnya: pemilihan gubernur dan wakil gubernur Papua ke depan.

Kelima, sebagaimana biasanya untuk rencana-rencana besar, selain Plan A, perlu ada Plan B. Gubernur, DPRP, MRP harus dibuat ompong supaya tidak bisa banyak bacot. Kongres dan pertemuan LMA pusat-daerah di Papua yang terjadi pra pengesahan keberlanjutan Otsus sebagai pembanding Dewan Adat Papua yang sudah menggagas PRP, tetapi karena PRP menguat maka perlu ada penangkapan Jubir PRP, Victor Yeimo. Sebelumnya, soal ‘kehilangan uang

miliaran rupiah dari PRP’ juga berhasil mengombangambingkan oknum-oknum dalam PRP yang datang dari latar belakang banyak gerakan. Saya amati ini permainan juga. Lukas Enembe dan Klemen Tinal yang harus sakit bersamaan sehingga Klemen Tinal meninggal dan Gubernur Papua hingga kini masih sakit. Dance Flassy harus masuk dan berusaha mencari posisi tapi gagal, sehingga harus ada yang masuk di posisi wakil gubernur setelah Wagub Tinal meninggal. Nah, siapa wagub selanjutnya? Fredi Numberi? Paulus Paterpauw? Yang pasti dia mungkin akan datang dari kalangan FORSEMI Papua. Bila tidak? Kita tunggu Plan B bekerja. Ini semua permainan Aktor Inti lewat ‘prajurit-prajuritnya’ di garis depan.

Keenam, soal mengapa orang Papua yang ‘nama naik’ dalam proses keberlanjutan Otsus ini lebih banyak dari pantai dan orang gunung lebih banyak jadi penentangnya. Itu sudah menjadi bagian dari Rencana Besar Jakarta untuk Papua. Oleh karena itu, ke depan, saya prediksi dikotomi gunung-pantai akan semakin menguat, dan memuncak pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur provinsi Papua mendatang. Fredi Numberi, Paulus Waterpauw, dan anggota lain dari FORSEMI Papua akan menguat. Kekuatan ini akan sengaja diperhadapkan dengan Lukas Enembe dan ‘barisan gunung’nya yang sudah kuat. Terjadilah papua hantam papua,kalian sendiri akan diadu seperti ayam yang diadu di arena sabung ayam, tepat seperti ‘Rencana Besar Jakarta untuk Papua’.

Ketujuh, soal masa depan. Isu Papua merdeka direncanakan untuk dilokalisir menjadi isu orang Papua gunung saja. Kelahiran FORSEMI dan sepak terjangnya yang melibatkan kalangan milenial Papua yang cerdas, sudah mengarah kesana. ‘Kekuasaan Gunung’ di Papua harus dihancurkan. Bila tidak dengan merebut kedudukan gubernur dan wakil gubernur Papua, maka pilihan lainnya adalah percepatan pemekaran di Papua menjadi 5-7 provinsi. Pemecahan Papua model ini akan mengurai terpusatnya kekuasaan dan kekuatan yang selama ini dinilai ‘berseberangan lebih banyak’ dengan Jakarta. Hal-hal ini juga menjadi bagian dari Rencana Besar Jakarta untuk Papua yang dirancang para Aktor Inti. Bila hal ini terjadi, diplomasi kemerdekaan Papua dengan sendirinya akan keok oleh karena basisnya di dalam negeri telah dipecah belah dan ditaklukkan. Susah membangun isu nasional Papua di tengah dikotomi ‘gunung’ vs ‘pantai’, 5-7 provinsi yang berbeda pendapat, di tengah aktivitas ekspansi kapitalisme global bagi pengerukan kekayaan SDA Papua, dan seterusnya. Akhirnya perhatian akan tergerus kepada persoalan-persoalan sektoral yang tak kunjung usai dan menghancurkan gerakan perjuangan rakyat Papua untuk menentukan nasib sendiri. Apakah ini strategi baru para Aktor Inti guna mematahkan perjuangan politik Papua? Kalian orang Papua, katanya orang dengan akalbudi dan marifat luhur. Kalian bisa amati sendiri.

Soal masa depan. Pelanggaran-pelanggaran HAM di Papua adalah catatan buruk negara. Proses pergerakan rakyat Papua untuk menentukan nasib politiknya sendiri adalah luka bernanah di tubuh negara Indonesia. Dua hal ini akan jadi usaha serius Aktor Inti melalui Rencana Besar Jakarta untuk Papua. Mungkin FORSEMI Papua akan menjadi eksekutor lapangan dalam hal penyelesaian kasus-kasus HAM menurut rencana Aktor Inti alias Jakarta. Akan ada semacam ‘Dialog Nasional’ yang dalam implementasinya sangat jauh dari semangat yang digagas pastor Alm. Dr. Neles Tebay. LIPI mungkin akan jadi aktornya p**a bersama FORSEMI. Sehingga, akan terjadi dialog nasional Papua, yang menghasilkan kesepakatan tertentu, yang menjadi final bagi ditutup rapatnya isu ‘Papua merdeka’ dan “pelanggaran HAM di Papua’ lagi di Tanah Papua. Sebagai tahapan, setelah kursi gubernur dan wakil gubernur diamankan oleh ‘para prajurit’nya Aktor Inti tadi, dan atau terjadi pemekaran provinsi, mungkin akan ada dialog nasional perempuan Papua, dialog nasional pemuda Papua, dialog nasional masyarakat adat Papua, dialog nasional LSM-NGO se Papua, dan seterusnya, dibawah arahan bidak-bidak Aktor Inti tadi di dalam masa Otsus lanjutan ini.

Masukan bagi organ perjuangan PM

Pertama bersihkan keanggotaan

nggotaan dalam organisasi-organisasi pergerakan perjuangankalian untuk kemerdekaan Papua dari orang-orang ‘tidak jelas’ yang kalian masukkan tidak melalui tahapan yang seharusnya. Terutama bagi mereka anggota kalian yang pernah terlibat dengan organisasi-organisasi yang terlihat sipil dan intelektual seperti CSIS dan Pokja Papua UGM, perlu ditanyai sejauh mana hubungannya. Perlu ada prosedur seleksi yang ketat bagi anggota aktif organisasi perjuangan. Dan bagi dua organisasi yang eksis dan masih sulit ditembus Aktor Inti, yakni KNPB dan AMP. Termasuk ULMWP dan kelompok pengelola PRP Pusat: Organisasimu mungkin sudah disusupi. Kenali kawan-kawanmu, cari tahu latarbelakang pendidikan, pelatihan, pekerjaan, dan keterlibatannya dengan semua. Masukan kedua ini janganlah dipandang sebagai provokasi untuk memecahbelah kalian. Melainkan saran untuk organisasi pergerakan kalian lebih maju tanpa musuh dalam selimut sehingga ke depan stratakmu aman dan kerja-kerja organisasimu sukses, terutama di masa depan nanti.

Kedua, bagi para aktivis perjuangan dari daerah pesisir dan Papua Barat, kalian sedang menjadi pemegang kunci persatuan dan kesatuan bagi semua sebagai Papua. Mungkin target yang paling mendesak hari ini adalah, melawan dikotomi ‘gunung vs pantai’ yang diprediksi akan menguat hingga pemilihan gubernur-wakil gubernur Papua mendatang. Kalian harus tetap jadi satu sebagai Papua. Kalian bisa ka?

Ketiga, mungkin ini saatnya kalian menanggalkan stratak organisasi dan bergabung dalam dua isu bersama yang bisa kalian ubah jadi momok yang menggagalkan Rencana Besar Jakarta Bagi Papua, yakni Mogok Sipil Nasional (MSN) dan Perang Revolusi. Bagaimana kalian semua di dalam organisasi-organisasi perjuangan saat ini mau dengan rendah hati mengambil bagiannya dalam ‘Dua Rencana Besar Bangsa Papua’ ini?

Keempat, waktu terus berlalu, situasi dengan cepat semakin berubah. Mengapa PON Papua ngotot ingin dibuat di Papua di tengah pandemi Covid? Bagaimana dengan ekskalasi politik di Papua setelah misalnya Paulus Waterpauw atau Fredi Numberi jadi Gubernur Papua? Waktu yang terus berlalu sepertinya semakin kuat mengajak kalian dan gerakan untuk mengambil sikap.

Sekianlah catatan ini untuk saat ini. Sebagai pendatang di Papua yang makan dan minum di atas tanah airmu, maafkan saya karena tidak bisa berbuat lebih.

Salam dari saya,


Holandia, 19/08/2021

|| KNPBNwes||Kobakma, 16 Agustus 2021 - Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Mamberamo Tengah Bersama Rakyat Papua...
16/08/2021

|| KNPBNwes||
Kobakma, 16 Agustus 2021 - Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Mamberamo Tengah Bersama Rakyat Papua; Lawan Rasisme, Tolak New York Agreement dan Minta bebaskan Victor F. Yeimo dan kawan-kawan tahanan politik lainnya.

Perlakuan Diskriminasi Rasial terhadap orang Papua telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia semenjak orang Papua kontak langsung dengan orang Indonesia. Perlakuan tersebut yang sangat menonjol dan masih menjadi sebuah sumber diskriminasi rasial di tingkat Internasional terhadap ialah Perjanjian New York ( New York Agreement), yang dengan alasan pandangan rasialisnya bahwa Orang asli Papua (OAP) pada saat itu adalah manusia kelas-II, tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1962 di New York, United State Of America (USA).

Perlakuan Rasisme yang telah berurat berakar sejak dahulu kembali dimuntahkan secara gamblang oleh pemerintah Indonesia melalui sayap militernya. Ada dua perlakuan yang isunya go Internasional yaitu; pertama, terhadap mahasiswa Papua, 15 Agustus 2019 di Surabaya, Jawa Timur dan kedua, terhadap tunawicara, Steven pada 26 Juli 2021 di Merauke, Papua.

Kita semua tahu bahwa Victor F. Yeimo dan seluruh tahanan rasisme yang sedang mendekam di jeruji besi kolonial Indonesia adalah korban kriminalisasi Kapolda pada saat itu, Tito Katnavian. Yang mana sebenarnya mereka (kita) rakyat Papua adalah murni korban Rasisme. Terlepas dari itu, yang lebih urgen lagi bahwa, kondisi Tn. Victor saat ini sangat memprihatinkan dan telah mengalami penurunan berat badan yang sangat drastis serta terancam kematian, jika Tn. Victor masih tetap di tahanan Mako Brimob.

Oleh sebab situasi di atas BPW-KNPB Mamberamo Tengah menyikapinya dalam bentuk Jumpa Pers pada 16 Agustus 2021 dengan menggunakan isu :
1. Memperingati tiga tahun rasisme terhadap orang papua, " NEGARA SEGERA HAPUS PERLAKUAN RASIS TERHADAP BANGSA PAPUA".
2. Pembebasan Victor F. Yeimo tanpa syarat.
3. Pembebasan seluruh tahanan rasisme yang masih di tahan di seluruh jeruji besi kolonial Indonesia tanpa syarat.
4. Memperingati 59 Tahun New York Agreement.
5. West Papua menyatakan rasa solidaritas dan kemanusiaan terhadap Diplomat asal Nigeria yang menerima perlakuan rasis oleh negara Indonesia pada 7 Agustus 2021 lalu, dan menyerukan persatuan terhadap seluruh rakyat dunia untuk mengutuk tindakan rasis yang telah dilakukan oleh Indonesia yang semakin masif dan tidak terkontrol serta menyuarakan ketertindasan yang sama; yakni, Black Lives Matter!
6. Segera tarik militer organik dan non-organik dari tanah Papua.
7. Segera buka akses jurnalis asing independen ke tanah Papua untuk memantau situasi terkini dan mendesak di Tanah Papua.
8. Tutup semua investasi asing yang merupakan dalang kejahatan kemanusiaan dan perampasan lahan di Tanah Papua.
9. Menyelesaikan semua bentuk kejahatan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat di Tanah Papua.
10. Menolak produk hukum rasis otonomi khusus jilid II, yang dipaksa lanjutkan di Tanah Papua tanpa melihat aspirasi rakyat Papua dan berikan hak penentuan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi Rakyat Papua.

Kobakma, 16 Agustus 2021

Badan Pengurus Wilayah Mamberamo Tengah Komite Nasional Papua Barat ( BPW-KNPB)

Ketua Umum Masogon Endambia Sekretars Leris Elabi

16/08/2021

MAHASISWA PAPUA KORBAN RASISME DI KURUNG ASRAMA KAMASAN DI SURABAYA 16 AGUSTUS 2019

MAHASISWA PAPUA KORBAN RASISME DI KURUNG ASRAMA YAHUKIMO DI HOLANDIA JAYAPURA WEST PAPUA 16 AGUSTUS 2021


✊🔥🔥

Address

Jayapura

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KakiAbu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share