26/03/2014
Riwayat Syaikh Abdul Qadir
al- Jailani
Syekh Abdul Qadir al- Jaylani merupakan
tokoh sufi paling masyhur di Indonesia .
Peringatan Haul waliyullah ini pun selalu
dirayakan setiap tahun oleh umat Islam
Indonesia. Tokoh yang diyakini sebagai
cikal bakal berdirinya Tarekat Qadiriyah ini
lebih dikenal masyarakat lewat cerita-
cerita karamahnya dibandingkan ajaran
spiritualnya. Terlepas dari pro dan kontra
atas kebenaran karamahnya, Biografi
(manaqib) tentangnya sering dibacakan
dalam majelis yang dikenal di masyarakat
dengan sebutan manaqiban.
Nama lengkapnya adalah Abdul Qadir ibn
Abi Shalih Abdullah Janki Dusat al -Jaylani .
Al -Jaylani merupakan pen*sbatan pada Jil ,
daerah di belakang Tabaristan. Di tempat
itulah ia dilahirkan. Selain Jil , tempat ini
disebut juga dengan Jaylan dan Kilan .
NASAB
Sayyid Abu Muhammad Abdul Qadir
dilahirkan di Naif , Jailan, Iraq, pada bulan
Ramadhan 470 H , bertepatan dengan th
1077 M . Ayahnya bernama Shahih , seorang
yang taqwa keturunan Hadhrat Imam Hasan,
r.a ., cucu pertama Rasulullah saw, putra
sulung Imam Ali ra dan Fatimah r. a., puteri
tercinta Rasul. Ibu beliau adalah puteri
seorang wali , Abdullah Saumai, yang juga
masih keturunan Imam Husein , r.a ., putera
kedua Ali dan Fatimah. Dengan demikian,
Sayid Abdul Qadir adalah Hasaniyin
sekaligus Huseiniyin.
MASA MUDA
Sejak kecil , ia pendiam, nrimo, bertafakkur
dan sering melakukan agar lebih baik, apa
yang disebut ‘ pengalaman- pengalaman
mistik’. Ketika berusia delapan belas tahun,
kehausan akan ilmu dan keghairahan untuk
bersama para orang saleh, telah
membawanya ke Baghdad, yang kala itu
merupakan pusat ilmu dan peradaban.
Kemudian, beliau digelari orang Ghauts Al -
A’ dzam atau wali Ghauts terbesar.
Dalam terminologi kaum sufi, seorang
Ghauts menduduki jenjang ruhaniah dan
keistimewaan kedua dalam hal memohon
ampunan dan ridha Allah bagi ummat
manusia setelah para nabi. Seorang ulama’
besar di masa kini, telah menggolongkannya
ke dalam Shaddiqin , sebagaimana sebutan
Al Qur’ an bagi orang semacam itu. Ulama
ini mendasarkan pandangannya pada
peristiwa yang terjadi pada perjalanan
pertama Sayyid Abdul Qadir ke Baghdad.
Diriwayatkan bahwa menjelang
keberangkatannya ke Baghdad , ibunya yang
sudah menjanda , membekalinya delapan
puluh keping emas yang dijahitkan pada
bagian dalam mantelnya, persis di bawah
ketiaknya, sebagai bekal. Uang ini adalah
warisan dari almarhum ayahnya,
dimaksudkan untuk menghadapi masa -masa
sulit. Kala hendak berangkat , sang ibu
diantaranya berpesan agar jangan berdusta
dalam segala keadaan . Sang anak berjanji
untuk senantiasa mencamkan pesan tersebut.
Begitu kereta yang ditumpanginya tiba di
Hamadan, menghadanglah segerombolan
perampok. Kala menjarahi , para perampok
sama sekali tak memperhatikannya, karena
ia tampak begitu sederhana dan miskin.
Kebetulan salah seorang perampok
menanyainya apakah ia mempunyai uang
atau tidak. Ingat akan janjinya kepada sang
ibu, si kecil Abdul Qadir segera menjawab :
“Ya , aku punya delapan puluh keping emas
yang dijahitkan di dalam baju oleh ibuku.”
Tentu saja para perampok terperanjat
keheranan. Mereka heran, ada manusia
sejujur ini.
Mereka membawanya kepada pemimpin
mereka, lalu menanyainya, dan jawabannya
pun sama . Begitu jahitan baju Abdul Qadir
dibuka, didapatilah delapan puluh keping
emas sebagaimana dinyatakannya . Sang
kepala perampok terhenyak kagum. Ia
kisahkan segala yang terjadi antara dia dan
ibunya pada saat berangkat , dan
ditambahkannya jika ia berbohong, maka
akan tak bermakna upayanya menimba ilmu
agama.
Mendengar hal ini, menangislah sang kepala
perampok, jatuh terduduk di kali Abdul
Qadir, dan menyesali segala dosa yang
pernah dilakukan . Diriwayatkan , bahwa
kepala perampok ini adalah murid
pertamanya. Peristiwa ini menunjukkan
proses menjadi Shiddiq. Andaikata ia tak
benar, maka keberanian kukuh semacam itu
demi kebenaran, dalam saat -saat kritis, tak
mungkin baginya.
BELAJAR DI BAGHDAD
Selama belajar di Baghdad, karena
sedemikian jujur dan murah hati, ia
terpaksa mesti tabah menderita. Berkat
bakat dan kesalehannya, ia cepat menguasai
semua ilmu pada masa itu. Ia membuktikan
diri sebagai ahli hukum terbesar di
masanya. Tetapi , kerinduan ruhaniahnya
yang lebih dalam gelisah ingin mewujudkan
diri. Bahkan di masa mudanya, kala
tenggelam dalam belajar, ia gemar
musyahadah*) .
Ia sering berpuasa, dan tak mau meminta
makanan dari seseorang, meski harus pergi
berhari- hari tanpa makanan. Di Baghdad ,
ia sering menjumpai orang-orang yang
berfikir serba ruhani, dan berintim dengan
mereka. Dalam masa pencarian inilah, ia
bertemu dengan Hadhrat Hammad , seorang
penjual sirup , yang merupakan wali besar
pada zamannya .
Lambat laun wali ini menjadi pembimbing
ruhani Abdul Qadir . Hadhrat Hammad
adalah seorang wali yang keras, karenanya
diperlakukannya sedemikian keras sufi yang
sedang tumbuh ini. Namun calon ghauts ini
menerima semua ini sebagai koreksi bagi
kecacatan ruhaninya .
LATIHAN- LATIHAN RUHANIAH
Setelah menyelesaikan studinya, ia kian
keras terhadap diri . Ia mulai mematangkan
diri dari semua kebutuhan dan kesenangan
hidup. Waktu dan tenaganya tercurah pada
shalat dan membaca Qur’ an suci . Shalat
sedemikian menyita waktunya , sehingga
sering ia shalat shubuh tanpa berwudhu lagi,
karena belum batal.
Diriwayatkan p**a , beliau kerapkali khatam
membaca Al -Qur ’an dalam satu malam.
Selama latihan ruhaniah ini, dihindarinya
berhubungan dengan manusia, sehingga ia
tak bertemu atau berbicara dengan seorang
pun. Bila ingin berjalan- jalan , ia berkeliling
padang pasir . Akhirnya ia tinggalkan
Baghdad, dan menetap di Syustar , dua
belas hari perjalanan dari Baghdad . Selama
sebelas tahun, ia menutup diri dari dunia.
Akhir masa ini menandai berakhirnya
latihannya. Ia menerima nur yang dicarinya .
Diri- hewaninya kini telah digantikan oleh
wujud mulianya .
DICOBA IBLIS
Suatu peristiwa terjadi pada malam babak
baru ini, yang diriwayatkan dalam bentuk
sebuah kisah. Kisah- kisah serupa
dinisbahkan kepada semua tokoh keagamaan
yang dikenal di dalam sejarah ; yakni
sebuah kisah tentang penggodaan . Semua
kisah semacam itu memaparkan secara
perlambang, suatu peristiwa alamiah dalam
kehidupan.
Misal, tentang bagaimana nabi Isa as digoda
oleh Iblis , yang membawanya ke puncak
bukit dan dari sana memperlihatkan
kepadanya kerajaan -kerajaan duniawi, dan
dimintanya nabi Isa a. s., menyembahnya ,
bila ingin menjadi raja dari kerajaan-
kerajaan itu. Kita tahu jawaban beliau,
sebagai pemimpin ruhaniah. Yang kita tahu ,
hal itu merupakan suatu peristiwa
perjuangan jiwa sang pemimpin dalam
hidupnya.
Demikian p**a yang terjadi pada diri
Rasulullah saw. Kala beliau kukuh berdakwah
menentang praktek-praktek keberhalaan
masyarakat dan musuh-musuh beliau , para
pemimpin Quraisy merayunya dengan
kecantikan, harta dan tahta. Dan tak
seorang Muslim pun bisa melupakan jawaban
beliau: “Aku sama sekali tak menginginkan
harta ataupun tahta. Aku telah diutus oleh
Allah sebagai seorang Nadzir **) bagi umat
manusia, menyampaikan risalah - Nya kepada
kalian. Jika kalian menerimanya, maka kalian
akan bahagia di dunia ini dan di akhirat
kelak. Dan jika kalian menolak, tentu Allah
akan menentukan antara kalian dan aku .”
Begitulah gambaran dari hal ini, dan
merupakan fakta kuat kemaujudan duniawi.
Berkenaan dengan hal ini, ada dua versi
kisah tentang Syaikh Abdul Qadir Jailani.
Versi pertama mengisahkan , bahwa suatu
hari Iblis menghadapnya , memperkenalkan
diri sebagai Jibril , dan berkata bahwa ia
membawa Buraq dari Allah, yang
mengundangnya untuk menghadap -Nya di
langit tertinggi .
Sang Syaikh segera menjawab bahwa si
pembicara tak lain adalah si Iblis , karena
baik Jibril maupun Buraq takkan datang ke
dunia bagi selain Nabi Suci Muhammad saw.
Setan toh masih punya cara lain, katanya:
“Baiklah Abdul Qadir, engkau telah
menyelamatkan diri dengan keluasan
ilmumu. ” “Enyahlah !, bentak sang wali .”
Jangan kau goda aku, bukan karena ilmuku,
tapi karena rahmat Allahlah aku selamat
dari perangkapmu”.
Versi kedua mengisahkan , ketika sang
Syaikh sedang berada di rimba belantara ,
tanpa makanan dan minuman , untuk waktu
yang lama , awan menggumpal di angkasa,
dan turunlah hujan. Sang Syaikh meredakan
dahaganya. Muncullah sosok terang di
cakrawala dan berseru : “Akulah Tuhanmu,
kini Kuhalalkan bagimu segala yang haram .”
Sang Syaikh berucap: “ Aku berlindung
kepada Allah dari godaan setan yang
terkutuk.” Sosok itu pun segera pergi
berubah menjadi awan , dan terdengar
berkata: “ Dengan ilmumu dan rahmat Allah,
engkau selamat dari tipuanku. ”
Lalu setan bertanya tentang kesigapan sang
Syaikh dalam mengenalinya. Sang Syaikh
menyahut bahwa pernyataannya
menghalalkan segala yang haramlah yang
membuatnya tahu , sebab pernyataan
semacam itu tentu bukan dari Allah.
Kedua versi ini benar, yang menyajikan dua
peristiwa berlainan secara perlambang . Satu
peristiwa dikaitkan dengan perjuangannya
melawan kebanggaan akan ilmu . Yang lain
dikaitkan dengan perjuangannya melawan
kesulitan- kesulitan ekonomi, yang
menghalangi seseorang dalam perjalanan
ruhaniahnya.
Kesadaran aka kekuatan dan kecemasan
akan kesenangan merupakan kelemahan
terakhir yang mesti enyah dari benak
seorang salih . Dan setelah berhasil
mengatasi dua musuh abadi ruhani inilah,
maka orang layak menjadi pemimpin sejati
manusia.
PANUTAN MASYARAKAT
Kini sang Syaikh telah lulus dari ujian -ujian
tersebut. Maka semua tutur kata atau
tegurannya, tak lagi berasal dari nalar,
tetapi berasal dari ruhaninya .
Kala ia memperoleh ilham, sebagaimana sang
Syaikh sendiri ingin menyampaikannya,
keyakinan Islami melemah. Sebagian muslim
terlena dalam pemuasan jasmani , dan
sebagian lagi puas dengan ritus - ritus dan
upacara-upacara keagamaan . Semangat
keagamaan tak dapat ditemui lagi.
Pada saat ini, ia mempunyai mimpi penting
tentang masalah ini. Ia melihat dalam mimpi
itu, seolah -olah sedang menelusuri sebuah
jalan di Baghdad, yang di situ seorang
kurus kering sedang berbaring di sisi jalan ,
menyalaminya.
Ketika sang Syaikh menjawab ucapan
salamnya, orang itu memintanya untuk
membantunya duduk . Begitu beliau
membantunya, orang itu duduk dengan
tegap, dan secara menakjubkan tubuhnya
menjadi besar. Melihat sang Syaikh
terperanjat, orang asing itu
menentramkannya dengan kata- kata : ”
Akulah agama kakekmu, aku menjadi sakit
dan sengsara, tetapi Allah telah
menyehatkanku kembali melalui bantuanmu .”
Ini terjadi pada malam penampilannya di
depan umum di masjid, dan menunjukkan
karir mendatang sang wali. Kemudian
masyarakat tercerahkan , menamainya
Muhyiddin, ‘pembangkit keimanan ’, gelar
yang kemudian dipandang sebagai bagian
dari namanya yang termasyhur. Meski telah
ia tinggalkan kesendiriannya ( uzlah), ia tak
jua berkhutbah di depan umum . Selama
sebelas tahun berikutnya, ia mukim di
sebuah sudut kota , dan meneruskan
praktek-praktek peribadatan , yang kian
mempercerah ruhaniyah .
KEHIDUPAN RUMAH TANGGA
Menarik untuk dicatat , bahwa
penampilannya di depan umum selaras
dengan kehidupan perkawinannya . Sampai
tahun 521 H, yakni pada usia kelima puluh
satu, ia tak pernah berpikir tentang
perkawinannya. Bahkan ia menganggapnya
sebagai penghambat upaya ruhaniyahnya.
Tetapi, begitu beliau berhubungan dengan
orang-orang, demi mematuhi perintah Rasul
dan mengikuti Sunnahnya, ia pun menikahi
empat wanita, semuanya saleh dan taat
kepadanya. Ia mempunyai empat puluh
sembilan anak – dua puluh putra, dan yang
lainnya putri .
Empat putranya yang termasyhur akan
kecendekian dan kepakarannya, al:
Syaikh Abdul Wahab , putera tertua adalah
seorang alim besar, dan mengelola madrasah
ayahnya pada tahun 543 H . Sesudah sang
wali wafat, ia juga berkhutbah dan
menyumbangkan buah pikirannya, berkenaan
dengan masalah- masalah syariat Islam. Ia
juga memimpin sebuah kantor negara , dan
demikian termasyhur .
Syaikh Isa, ia adalah seorang guru hadits
dan seorang hakim besar. Dikenal juga
sebagai seorang penyair . Ia adalah seorang
khatib yang baik, dan juga Sufi . Ia mukim
di Mesir, hingga akhir hayatnya.
Syaikh Abdul Razaq. Ia adalah seorang
alim, sekaligus penghafal hadits.
Sebagaimana ayahnya, ia terkenal taqwa. Ia
mewarisi beberapa kecenderungan spiritual
ayahnya, dan sedemikian masyhur di
Baghdad, sebagaimana ayahnya.
Syaikh Musa . Ia adalah seorang alim
terkenal. Ia hijrah ke Damaskus , hingga
wafat.
Tujuh puluh delapan wacana sang wali
sampai kepada kita melalui Syaikh Isa. Dua
wacana terakhir, yang memaparkan saat -
saat terakhir sang wali, diriwayatkan oleh
Syaikh Wahab . Syaikh Musa termaktub pada
wacana ke tujuh puluh sembilan dan delapan
puluh. Pada dua wacana terakhir nanti
disebutkan, pembuatnya adalah Syaikh
Abdul Razaq dan Syaikh Abdul Aziz , dua
putra sang wali, dengan diimlakkan oleh
sang wali pada saat -saat terakhirnya .
KESEHARIANNYA
Sebagaimana telah kita saksikan , sang wali
bertabligh tiga kali dalam seminggu. Di
samping bertabligh setiap hari, pada pagi
dan malam hari , ia mengajar tentang Tafsir
Al Qur’ an , Hadits, Ushul Fiqih, dan mata
pelajaran lain. Sesudah Dhuhur , ia
memberikan fatwa atas masalah-masalah
hukum, yang diajukan kepadanya dari
segenap penjuru dunia. Sore hari , sebelum
sholat Maghrib, ia membagi -bagikan roti
kepada fakir miskin. Sesudah sholat
Maghrib, ia selalu makan malam , karena ia
berpuasa sepanjang tahun. Sebalum berbuka,
ia menyilakan orang-orang yang butuh
makanan di antara tetangga -tetangganya ,
untuk makan malam bersama. Sesudah sholat
Isya’ , sebagaimana kebiasaan para wali , ia
mengaso di kamarnya , dan melakukan
sebagian besar waktu malamnya dengan
beribadah kepada Allah – suatu amalan
yang dianjurkan Qur’an Suci . Sebagai
pengikut sejati Nabi , ia curahkan seluruh
waktunya di siang hari , untuk mengabdi
ummat manusia, dan sebagian besar waktu
malam dihabiskan untuk mengabdi
Penciptanya.
Pengaruh dan Karya
Waktunya banyak diisi dengan meengajar
dan bertausyiah. Hal ini membuat Syekh
tidak memiliki cukup waktu untuk menulis
dan mengarang. Bahkan , bisa jadi beliau
tidak begitu tertarik di bidang ini. Pada
tiap disiplin ilmu , karya -karya Islam sudah
tidak bisa dihitung lagi. Bahkan , sepertinya
perpustakaan tidak butuh lagi diisi buku
baru. Yang dibutuhkan masyarakat justru
saran seorang yang bisa meluruskan yang
bengkok dan membenahi kesalahan
masyarakat saat itu. Inilah yang memanggil
suara hati Syekh. Ini p**a yang menjelaskan
pada kita mengapa tidak banyak karya yang
ditulis Syekh .
Memang ada banyak buku dan artikel yang
diklaim sebagai tulisannya. Namun , yang
disepakati sebagai karya syekh hanya ada
tiga:
1.Al - Ghunyah li Thalibi Thariq al- Haqq
merupakan karyanya yang mengingatkan kita
dengan karya monumental al - Ghazali, Ihya ’
‘Ulum al -Din . Karya ini jelas sekali
terpengaruh, baik tema maupun gaya
bahasanya, dengan karya al -Ghazali itu. Ini
terlihat dengan penggabungan fikih , akhlak,
dan prinsip suluk. Ia memulai dengan
membincangkan aspek ibadah , dilanjutkan
dengan etika Islam, etika doa , keistimewaan
hari dan bulan tertentu . Ia kemudian
membincangkan juga anjuran beribadah
sunah, lalu etika seorang pelajar, tawakal,
dan akhlak yang baik .
2.Al - Fath al - Rabbani wa al -Faydh al-
Rahmani merupakan bentuk tertulis
(transkripsi) dari kump**an tausiah yang
pernah disampaikan Syekh . Tiap satu
pertemuan menjadi satu tema . Semua
pertemuan yang dibukukan ada 62 kali
pertemuan. Pertemuan pertama pada 3
Syawal 545 H . Pertemuan terakhir pada hari
Jumat, awal Rajab 546 H. Jumlah halamannya
mencapai 90 halaman. Format buku ini mirip
dengan format pengajian Syekh dalam
berbagai majelisnya. Sebagiannya bahkan
berisi jawaban atas persoalan yang muncul
pada forum pengajian itu.
3.Futuh al -Ghayb merupakan kompilasi dari
78 artikel yang ditulis Syekh berkaitan
dengan suluk, akhlak, dan yang lain . Tema
dan gaya bahasanya sama dengan al - Fath
al- Rabbani. Keseluruhan halamannya
mencapai 212 halaman. Buku ini sendiri
sebetulnya hanya 129 halaman. Sisa
halamannya diisi dengan himpunan
senandung pujian yang dinisbatkan pada
Syekh. Ibn Taymiyah juga memuji buku ini.
Kesaksian Ulama
Syekh Junaid al -Baghdadi , hidup 200 tahun
sebelum kelahiran Syekh Abdul Qadir.
Namun, pada saat itu ia telah meramalkan
akan kedatangan Syekh Abdul Qadir Jailani.
Suatu ketika Syekh Junaid al - Baghdadi
sedang bertafakur, tiba- tiba dalam
keadaan antara sadar dan tidak, ia berkata,
“Kakinya ada di atas pundakku! Kakinya
ada di atas pundakku!”
Setelah ia tenang kembali, murid- muridnya
menanyakan apa maksud ucapan beliau itu.
Kata Syekh Junaid al -Baghdadi , “ Aku
diberitahukan bahwa kelak akan lahir
seorang wali besar, namanya adalah Abdul
Qadir yang bergelar Muhyiddin . Dan pada
saatnya kelak, atas kehendak Allah, ia akan
mengatakan, ‘Kakiku ada di atas pundak
para Wali .”
Syekh Abu Bakar ibn Hawara , juga hidup
sebelum masa Syekh Abdul Qadir. Ia adalah
salah seorang ulama terkemuka di Baghdad.
Konon, saat ia sedang mengajar di
majelisnya, ia berkata:
“Ada 8 pilar agama (autad ) di Irak ,
mereka itu adalah ; 1) Syekh Ma’ ruf al
Karkhi, 2 ) Imam Ahmad ibn Hanbal , 3)
Syekh Bisri al Hafi , 4) Syekh Mansur ibn
Amar, 5) Syekh Junaid al - Baghdadi , 6)
Syekh Siri as - Saqoti, 7 ) Syekh Abdullah
at- Tustari , dan 8 ) Syekh Abdul Qadir
Jailani.”
Ketika mendengar hal itu, seorang muridnya
yang bernama Syekh Muhammad ash-
Shanbaki bertanya , “Kami telah mendengar
ke tujuh nama itu, tapi yang ke delapan
kami belum mendengarnya. Siapakah Syekh
Abdul Qadir Jailani?”
Maka Syekh Abu Bakar pun menjawab ,
“Abdul Qadir adalah shalihin yang tidak
terlahir di Arab , tetapi di Jaelan ( Persia)
dan akan menetap di Baghdad .”
Qutb al Irsyad Abdullah ibn Alawi al
Haddad ( 1044 -1132 H) , dalam kitabnya
Risalatul Mu’awanah menjelaskan tentang
tawakkal, dan beliau memilih Syekh Abdul
Qadir Jaylani sebagai suri -teladannya .
Seorang yang benar-benar tawakkal
mempunyai 3 tanda. Pertama, ia tidak takut
ataupun mengharapkan sesuatu kepada
selain Allah. Kedua , hatinya tetap tenang
dan bening, baik di saat ia membutuhkan
sesuatu atau pun di saat kebutuhannnya itu
telah terpenuhi . Ketiga , hatinya tak pernah
terganggu meskipun dalam situasi yang
paling mengerikan sekalipun .
Suatu ketika beliau sedang berceramah di
suatu majelis , tiba- tiba saja jatuh seekor
ular berbisa yang sangat besar di atas
tubuhnya sehingga membuat para hadirin
menjadi panik. Ular itu membelit Syekh
Abdul Qadir , lalu masuk ke lengan bajunya
dan keluar lewat lengan baju yang lainnya .
Sedangkan beliau tetap tenang dan tak
gentar sedikit pun, bahkan beliau tak
menghentikan ceramahnya . Ini membuktikan
bahwa Syekh Abdul Qadir Jailani benar-
benar seorang yang tawakkal dan memiliki
karamah.
Ibnu Rajab juga berkata, “ Syekh Abdul
Qadir Al Jailani memiliki pendapat yang
bagus dalam masalah tauhid , sifat -sifat
Allah, takdir , dan ilmu - ilmu makrifat yang
sesuai dengan sunnah . Beliau memiliki kitab
Al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq , kitab
yang terkenal. Beliau juga mempunyai kitab
Futuhul Ghaib . Murid- muridnya
mengumpulkan perkara-perkara yang banyak
berkaitan dengan nasehat dari majelis -
majelis beliau . Dalam masalah-masalah
sifat , takdir dan lainnya , ia berpegang
pada sunnah . “
Al -Dzahabi juga berkata, “Tidak ada
seorangpun para ulama besar yang riwayat
hidup dan karamahnya lebih banyak kisah
hikayat , selain Syekh Abdul Qadir Al
Jailani, dan banyak di antara riwayat -
riwayat itu yang tidak benar bahkan ada
yang mustahil terjadi .”
Wafat
Syekh wafat setelah menderita sakit ringan
dalam waktu tidak lama . Bahkan , ada yang
mengatakan, Syekh sakit hanya sehari —
semalam. Ia wafat pada malam Sabtu , 10
Rabiul Awal 561 H . Saat itu usianya sudah
menginjak 90 tahun. Sepanjang usianya
dihabiskan untuk berbuat baik , mengajar,
dan bertausiah.
Konon, ketika hendak menemui ajal,
putranya yang bernama ‘Abdul Wahhab
memintanya untuk berwasiat . Berikut isi
wasiat itu:
“Bertakwalah kepada Allah. Taati Tuhanmu.
Jangan takut dan jangan berharap pada
selain Allah. Serahkan semua kebutuhanmu
pada Allah Azza wa Jalla . Cari semua yang
kamu butuhkan pada Allah. Jangan terlalu
percaya pada selain Allah. Bergantunglah
hanya pada Allah. Bertauhidlah!
Bertauhidlah! Bertauhidlah ! Semua itu ada
pada tauhid. ”
Demikian manaqib ini kami tulis , semoga
membawa barokah, manfa ,at , dan Ridho
allah swt, syafa’at Rosululloh serta karomah
Auliyaillah khushushon Syekh Abdul Qodir
Jailani selalu terlimpahkan kepada kita,
keluarga dan anak turun kita semua Dunia
– Akhirat. Amien
Diambil dari berbagai sumber
*) Musyahadah : penyaksian langsung . Yang
dimaksud ialah penyaksian akan segala
kekuasaan dan keadilan Allah melalui mata
hati.
**) Nadzir : pembawa ancaman atau pemberi
peringatan. Salah satu tugas terpenting
seorang Rasul adalah membawa beita, baik
berita gembira maupun ancaman.
(Dari berbagai sumber )