24/08/2019
Khotbah, Minggu X Setelah Trinitatis, 25 Agustus 2019
Selamat pagi, Selamat hari minggu, dan salam sejahtera bagi kita semua,
Teks Khotbah:
Lukas 6: 27-36
Topik:
Kasihilah Musuhmu
Saudara yang diberkati Yesus Kristus,
Pada suatu kali presiden Amerika, Abraham Lincoln menyampaikan pidato dalam suatu resepsi. Pada saat itu di Amerika Serikat sedang terjadi perang saudara antara Amerika Utara dan Amerika Selatan. Dalam pidatonya, Lincoln mengatakan bahwa orang-orang yang berasal dari Selatan adalah sahabat mereka yang sedang melakukan kesalahan. Mereka bukanlah musuh yang harus dimusnahkan atau dihancurkan. Sebagai sahabat yang sedang melakukan kesalahan maka mereka patut mendapat pengampuanan dan diselamatkan; bukan dibasmi atau dimusnahkan.
Mendengar pidato tersebut, banyak dari para pendengar yang keberatan dan protes. Bahkan seorang ibu yang keberatan atas pidato presiden Lincoln mengatakan secara langsung bahwa mereka dari Selatan tersebut adalah musuh, bukan sahabat. Oleh karena itu, mereka harus dibasmi dan dihancurkan. Keberadaan mereka dapat mengancam keselamatan dan kehidupan warga yang ada Utara. Lalu Lincoln menjawab protes tersebut dengan senyuman dan berkata, “Bukankah dengan menjadikan mereka sebagai sahabat, maka musuh itu telah dibasmi atau dihancurkan?”
Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus,
Siapakah yang dapat kita katakan musuh? Kita sering mengidentifikasikan musuh sebagai orang-orang berbeda ide dengan kita, mereka yang membenci dan merencanakan segala hal yang buruk terhadap kita. Dengan kata lain, orang-orang yang kita anggap sebagai musuh adalah mereka yang berniat jahat dan merencanakan hal buruk terjadi. Oleh karena itu, mereka layak untuk dimusnahkan dan dihancurkan. Perbuatan jahat dan kesalahan yang diperbuat musuh terhadap diri kita seolah-olah melegalkan tindakan kita untuk menghancurkan mereka. Dengan kata lain, musuh layak dimusnahkan dan dihancrukan.
Yang menjadi pertanyaan: apakah ada musuh yang sebenarnya? Bukankah musuh adalah konstruksi berpikir kita terhadap orang yang membenci dan beniat jahat kepada kita? Musuh itu sebenarnya tidak nyata. Musuh itu ada karena kita menjadikannya sebagai musuh. Akibatnya, energi yang keluar dari diri kita adalah negatif. Segala upaya dan usaha kita selalu diarahkan untuk menghancurkan dan membasmi mereka. Dengan kata lain, energi kita terkuras dan habis hanya untuk memikirkan mereka yang kita anggap musuh.
Saudara/i yang diberkati Yesus Kristus,
Dalam nas ini, Yesus mengajarkan kita, bagaimana hidup sebagai orang yang percaya. Orang-orang percaya adalah orang-orang yang memiliki integritas dan moral yang baik. Integritas yang dimilikinya bukan karena lingkungan yang memengaruhi dirinya melainkan Firman Tuhan yang bekerja dalam dirinya. Pengenalan kepada Kristus dan hidup yang bergantung pada Firman-Nya menjadikan ia sebagai pribadi yang unggul dan berkarakter.
Orang –orang yang berkarakter unggul adalah orang-orang yang mampu menjaga perilakunya dari perbuatan jahat, meskipun orang lain berniat jahat kepadanya. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Melainkan membalas kejahatan dengan kebaikan. Bahkan mereka yang dianggap sebagai musuh selalu mendapat ruang untuk diampuni dan mengasihi mereka tanpa batas. Sikap demikian yang diharapkan Yesus dari para pendengar-Nya dan yang percaya kepada-Nya. Yesus mengharapkan agar orang banyak yang telah mendengar pengajaran-Nya berperilaku berbeda dengan dunia ini.
Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh, berbuat baik kepada orang yang membenci diri kita, meminta berkat dari orang yang mengutuk, dan mendoakan mereka yang mencaci kita. Perilaku ini berada di luar dari nalar manusia. Perilaku ini adalah hal yang ilahi. Pengajaran Yesus tentang sikap hidup orang yang percaya tidak cukup hanya sebatas humanisme sekular melainkan hidup yang digerakkan oleh Roh Tuhan. Hidup yang menjadi berkat kepada semua orang, termasuk kepada orang-orang yang membenci kita.
Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus,
Melalui pengajaran ini, Yesus ingin memperkenalkan kepada kita, bahwa cara yang ampuh untuk menghentikan kejahatan dan menghancurkan musuh adalah dengan cara mengasihi mereka. Musuh yang sebenarnya bukanlah pribadi atau orangnya. Melainkan pola pikir atau paham yang dimilikinya karena ada nilai yang dianutnya. Artinya seseorang menjadi jahat karena ada nilai yang memengaruhi pola pikirnya sehingga ia melakukannya (bnd. Ef. 6:12). Perbuatan jahat harus kita benci dan harus kita hancurkan, tetapi orangnya tetap kita kasihi. Hanya dengan demikianlah kejahatan akan berakhir dan kedamaian akan terwujud.
Oleh karena itu, bagi orang percaya, mengasihi musuh adalah suatu panggilan hidup. Hal itu tidak mudah, tetapi tidak berarti tidak bisa. Orang –orang percaya adalah orang yang telah dipenuhi oleh Roh Kudus. Roh Kudus akan bekerja memampukan mereka untuk dapat melakukannya. Dalam hal ini, orang-orang percaya adalah mitra Tuhan untuk mewujudkan kehidupan damai sejahtera di dunia. Jika bukan Tuhan yang bekerja bersama dengan mereka, dan memberikan kekuatan kepada mereka untuk melakukan hal itu, maka kejahatan akan merajalela untuk menguasai hidup manusia. Oleh karena itu, tujuan Yesus mengajarkan kita mengasihi musuh adalah bukti bahwa musuh bagian dari rancangan keselamatan yang Tuhan berikannkepada semua orang. Yesus memberi ruang kepada semua manusia untuk memperoleh kehidupan dan keselmatan. Dengan kata lain, kasih memberikan kesempatan kepada musuh untuk mendapat kehidupan. Amin
Selamat mengasihi musuh dan membalas kejahatan dengan kebaikan. Selamat beribadah, dan Selamat hari Minggu.
Pdt. Romeo Sinaga.