HKBP Resort Diaspora Jakarta

  • Home
  • HKBP Resort Diaspora Jakarta

HKBP Resort Diaspora Jakarta Komunitas ini adalah relogius protestan yang saling menolong dan mendoakan.

Renungan, Kamis, 22 Desember 2021 Tertulis  di 1 Tawarikh 29:9Bangsa itu bers**acita karena kerelaan mereka masing-masin...
21/12/2022

Renungan, Kamis, 22 Desember 2021
Tertulis di 1 Tawarikh 29:9
Bangsa itu bers**acita karena kerelaan mereka masing-masing, sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan s**arela kepada TUHAN; juga raja Daud sangat bers**acita.

Topik:
Hidup Bers**acita

Salah satu harapan dan cita-cita Daud selama hidupnya sebagai raja Israel adalah membangun Bait Allah. Daud merasa tidak enak hati kepada Tuhan karena Daud tinggal di istana yang megah, sementara tempat tabut Tuhan belum ada. Daud berencana membangun Bait Allah, namun Allah tidak menyetujui rencana Daud. Tuhan mengingatkan Daud, bahwa yang akan membangun Bait-Nya adalah Salomo anaknya.

Untuk memenuhi rencana tersebut, Daud mempersiapkan segala keperluan yang akan digunakan oleh Salomo untuk membangun Bait Allah. Semua umat Israel bers**acita dengan rencana pembangunan Bait Allah itu. Di dalam s**acita mereka, mereka mempersembahkan segala keperluan untuk pembangunan Bait Allah dengan s**a rela. Pertanyaannya: mengapa mereka bers**a cita memberikan persembahan itu?

Umat Israel memahami bahwa Bait Allah adalah tempat Allah hadir di tengah-tengah mereka. Tidak hanya di tengah-tengah mereka, bahkan Bait Allah adalah simbol kehadiran Allah di muka bumi. Itu berarti, Allah berkenan kepada umat Israel dan menjadi jaminan kedaulatan mereka sebagai bangsa di muka bumi ini. Umat Israel hidup bers**a cita karena Tuhan hadir dalam hidup mereka.

Saat ini, sebagai orang Kristen kita juga bers**a cita. Perayaan natal yang sebentar lagi kita rayakan adalah bukti kemah Allah (Bait Allah) ada di tengah-tengah kita. Yesus Kristus adalah Bait Allah ditengah-tengah kita. Di dalam Dia, kita dapat bersekutu dengan Allah. Oleh karena itu, jika kita bers**acita, maka itu karena Allah mau tinggal di antara kita di dalam Yesus Kristus. Amin

Selamat hidup bers**a cita dalam menyambut Kristus yang akan lahir. Selamat hari ibu, selamat berakfitas dengan tetap menggunakan masker, rajin mencuci tangan, tetap menjaga jarak, dan menghindari keramaian. Tuhan Yesus memberkati.

Pdt. Romeo RP Sinaga, MTh

Renungan, Senin, 24 Oktober  2022Tertulis di 2 Korintus 13:4" Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan...
23/10/2022

Renungan, Senin, 24 Oktober 2022
Tertulis di 2 Korintus 13:4

" Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah."

Topik:
Hidup Bersama dengan Kristus

Kita percaya bahwa Kristus adalah Allah. Dia adalah inkarnasi adalah dalam daging. Oleh karena itu Kristus memiliki dua tabiat, yaitu tabiat keilahian-Nya dan tabiat kemanusiaan-Nya. Di dalam tabiat kemanusiaan-Nya, dia sama dengan kita, hanya saja Dia tidak berdosa. Selanjutnya di dalam tabiat Keilahian-Nya, Dia adalah Allah yang berkuasa dan kekal.

Penyaliban yang terjadi kepada Yesus adalah penyaliban kepada tabiat kemanusiaan-Nya. Sebagai Allah, Dia tidak dapat disalibkan. Dia tidak bisa mati karena Dia sendiri adalah hidup. Namun sebagai manusia, Dia memiliki kelemahan, dan oleh karena kelemahan itulah Dia dapat disalibkan.

Meskipun di dalam kelemahan sebagai manusia, Dia disalibkan, namun kuasa Allah yang ada pada-Nya berkerja untuk menghidupkan-Nya. Demikian juga halnya, di dalam kedagingan kita, kita akan mati bersama dengan kedangingan Yesus yang disalibkan itu. Selanjutnya, di dalam kuasa-Nya, kita juga akan dihidupkan di dalam kekelan bersama-Nya. Oleh karena itu, beriman kepada Yesus Kristus adalah hidup bersama dengan-Nya di dalam kekekalan. Amin.

Selamat hidup bersama dengan Yesus Kristus di dalam kemulian-Nya. Selamat beraktifitas dengan tetap menggunakan masker, rajin mencuci tangan, tetap menjaga jarak, dan menghindarkan diri dari keramaian. Tuhan Yesus memberkati!
Pdt. Romeo RP Sinaga, MTh

Kami Warga dan Parhalado HKBP Ressort Diaspora mengucapkan, Selamat Hari Natal 25-26 Desember 2019 Dan Tahun Baru 01 Jan...
28/12/2019

Kami Warga dan Parhalado HKBP Ressort Diaspora mengucapkan, Selamat Hari Natal 25-26 Desember 2019 Dan Tahun Baru 01 Januari 2020

16/12/2019

Selamat advent III dari HKBP Salemba.

30/09/2019

Belajar untuk mengiklaskan hanya mungkin terjadi, jika mau belajar untuk mensyukuri....

Melayani adalah panggilan mereka yang percaya. Bukan menguasai, apalagi menindas.
14/09/2019

Melayani adalah panggilan mereka yang percaya. Bukan menguasai, apalagi menindas.

Khotbah, Minggu XI Setelah Trinitatis, 01 September 2019Selamat pagi, Selamat hari minggu, dan salam sejahtera bagi kita...
01/09/2019

Khotbah, Minggu XI Setelah Trinitatis, 01 September 2019
Selamat pagi, Selamat hari minggu, dan salam sejahtera bagi kita semua,

Teks Khotbah:
Yohanes 6: 43-54

Topik:
Yohanes adalah Roti Hidup

Roti adalah makanan pokok bagi umat Israel. Tanpa makanan pokok ini, mereka tidak dapat bertumbuh secara optimal. Pertemuan orang Yahudi dengan Yesus memberikan ruang bagi mereka untuk memperoleh makanan pokok tanpa harus bekerja; Kenyang tanpa bekerja. Hal ini menjadi salah satu motivasi orang-orang Yahudi untuk mengikuti Yesus. Mereka mau mengikuti Yesus selama kebutuhan pokok mereka tercukupi.

Hal itu adalah wajar. Situasi ekonomi sulit dan banyaknya orang miskin pada masa Yesus mendorong mereka mengikuti Yesus. Banyak hal yang sudah mereka alami dan lihat ketika mereka mengikuti Yesus, namun mereka tidak percaya. Yesus berkata kepada mereka, bahwa mereka bekerja untuk makanan yang akan binasa. Makanan yang mereka makan dapat mengenyangkan mereka, tetapi hanya sementara, selanjutnya lapar lagi.

Oleh karena itu, Yesus memotivasi mereka agar bekerja untuk makanan yang tidak dapat binasa, yaitu makanan yang bertahan sampai pada kehidupan yang kekela (ay.27). Yesus mengharapkan orang banyak itu untuk memercayai-Nya sebagai roti kehidupan, roti yang tidak dapat binasa. Dalam hal ini, Yesus adalah Tuhan yang diberikan Tuhan kepada manusia sebagai korban pendamaian manusia dengan Tuhan. Di dalam Yesus, orang-orang yang percaya kepada-Nya akan mendapat keselamatan dan kehidupan kekal.

Namun orang banyak yang telah makan roti yang diberikan Yesus tidak percaya kepada Yesus, bahkan mereka berdebat dengan Yesus. Menurut mereka makanan roti yang mereka makan dari Yesus tidak sebanding dengan roti manna dari sorga. Roti yang diberikan Musa kepada nenek moyang mereka. Hal itu hendak menunjukkan bahwa Musa lebih tinggi dari Yesus Kristus. Yesus hanya dapat memberikan roti biasa yang dimakan orang banyak, sementara Musa dapat memberikan makan dari sorga (roti manna).

Melihat hal itu, Yesus menegaskan bahwa yang memberikan roti manna tersebut bukanlah Musa. Musa sama sekali tidak dapat memberikan manna tersebut jika bukan Tuhan yang memberikannya. Adalah suatu kesalahan besar jika bangsa Israel berpikir, bahwa Musa yang memberikan manna tersebut kepada nenek moyang mereka mereka. Tuhanlah pemberi roti manna tersebut.

Oleh karena itu, Yesus menegaskan identitas-Nya bahwa Ia sendirilah roti dari sorga. Ia turun dari sorga sebagai roti hidup yang memberikan kehidupan kekal kepada orang yang percaya kepada-Nya. Yesus sebagai roti hidup yang turun dari sorga adalah pribadi satu-satunya yang telah melihat Bapa. Orang yang percaya kepada-Nya akan mendapat kehidupan yang kekal. Pemahaman Yesus sebagai roti hidup bukan dalam arti denotasi, tetapi dalam arti teologis. Memakn tubuh Yesus berati ambil bagian dalam iman menikmati pengorbanan Yesus di Kayu Salib, “tubuh-Nya” yang terpecah dan “darah-Nya” yang tercurah.

Sebagai orang yang percaya, kita juga telah menikmati roti hidup. Pada malam, Yesus Kristus disalibkan, Ia menetapkan perjamuan kudus sebagai peringatan akan kematian-Nya. Tubuh-Nya adalah roti yang terpecah untuk keampunan dosa, dan darah-Nya yang tercurah untuk penebusan manusia dari dosa. Identitas Yesus sebaga roti hidup adalah bukti bahwa keselmatan di dalam Yesus itu nyata, dan kematiannya memberikan kepada kita kehidupan. Dalam hal ini, kita mengikut Yesus atau memercayai-Nya bukan karena roti yang bersifat sesaat, melainkan kareana kita percaya bahwa Tuhan adalah kehidupan dan keselamatan kita. Amin

Selamat memercayai Yesus sebagai Roti Hidup. Selamat beribadah, dan Selamat hari Minggu.

Khotbah, Minggu X Setelah Trinitatis, 25 Agustus 2019Selamat pagi, Selamat hari minggu, dan salam sejahtera bagi kita se...
24/08/2019

Khotbah, Minggu X Setelah Trinitatis, 25 Agustus 2019
Selamat pagi, Selamat hari minggu, dan salam sejahtera bagi kita semua,

Teks Khotbah:
Lukas 6: 27-36

Topik:
Kasihilah Musuhmu

Saudara yang diberkati Yesus Kristus,

Pada suatu kali presiden Amerika, Abraham Lincoln menyampaikan pidato dalam suatu resepsi. Pada saat itu di Amerika Serikat sedang terjadi perang saudara antara Amerika Utara dan Amerika Selatan. Dalam pidatonya, Lincoln mengatakan bahwa orang-orang yang berasal dari Selatan adalah sahabat mereka yang sedang melakukan kesalahan. Mereka bukanlah musuh yang harus dimusnahkan atau dihancurkan. Sebagai sahabat yang sedang melakukan kesalahan maka mereka patut mendapat pengampuanan dan diselamatkan; bukan dibasmi atau dimusnahkan.

Mendengar pidato tersebut, banyak dari para pendengar yang keberatan dan protes. Bahkan seorang ibu yang keberatan atas pidato presiden Lincoln mengatakan secara langsung bahwa mereka dari Selatan tersebut adalah musuh, bukan sahabat. Oleh karena itu, mereka harus dibasmi dan dihancurkan. Keberadaan mereka dapat mengancam keselamatan dan kehidupan warga yang ada Utara. Lalu Lincoln menjawab protes tersebut dengan senyuman dan berkata, “Bukankah dengan menjadikan mereka sebagai sahabat, maka musuh itu telah dibasmi atau dihancurkan?”

Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus,

Siapakah yang dapat kita katakan musuh? Kita sering mengidentifikasikan musuh sebagai orang-orang berbeda ide dengan kita, mereka yang membenci dan merencanakan segala hal yang buruk terhadap kita. Dengan kata lain, orang-orang yang kita anggap sebagai musuh adalah mereka yang berniat jahat dan merencanakan hal buruk terjadi. Oleh karena itu, mereka layak untuk dimusnahkan dan dihancurkan. Perbuatan jahat dan kesalahan yang diperbuat musuh terhadap diri kita seolah-olah melegalkan tindakan kita untuk menghancurkan mereka. Dengan kata lain, musuh layak dimusnahkan dan dihancrukan.

Yang menjadi pertanyaan: apakah ada musuh yang sebenarnya? Bukankah musuh adalah konstruksi berpikir kita terhadap orang yang membenci dan beniat jahat kepada kita? Musuh itu sebenarnya tidak nyata. Musuh itu ada karena kita menjadikannya sebagai musuh. Akibatnya, energi yang keluar dari diri kita adalah negatif. Segala upaya dan usaha kita selalu diarahkan untuk menghancurkan dan membasmi mereka. Dengan kata lain, energi kita terkuras dan habis hanya untuk memikirkan mereka yang kita anggap musuh.

Saudara/i yang diberkati Yesus Kristus,
Dalam nas ini, Yesus mengajarkan kita, bagaimana hidup sebagai orang yang percaya. Orang-orang percaya adalah orang-orang yang memiliki integritas dan moral yang baik. Integritas yang dimilikinya bukan karena lingkungan yang memengaruhi dirinya melainkan Firman Tuhan yang bekerja dalam dirinya. Pengenalan kepada Kristus dan hidup yang bergantung pada Firman-Nya menjadikan ia sebagai pribadi yang unggul dan berkarakter.

Orang –orang yang berkarakter unggul adalah orang-orang yang mampu menjaga perilakunya dari perbuatan jahat, meskipun orang lain berniat jahat kepadanya. Ia tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Melainkan membalas kejahatan dengan kebaikan. Bahkan mereka yang dianggap sebagai musuh selalu mendapat ruang untuk diampuni dan mengasihi mereka tanpa batas. Sikap demikian yang diharapkan Yesus dari para pendengar-Nya dan yang percaya kepada-Nya. Yesus mengharapkan agar orang banyak yang telah mendengar pengajaran-Nya berperilaku berbeda dengan dunia ini.

Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh, berbuat baik kepada orang yang membenci diri kita, meminta berkat dari orang yang mengutuk, dan mendoakan mereka yang mencaci kita. Perilaku ini berada di luar dari nalar manusia. Perilaku ini adalah hal yang ilahi. Pengajaran Yesus tentang sikap hidup orang yang percaya tidak cukup hanya sebatas humanisme sekular melainkan hidup yang digerakkan oleh Roh Tuhan. Hidup yang menjadi berkat kepada semua orang, termasuk kepada orang-orang yang membenci kita.

Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus,

Melalui pengajaran ini, Yesus ingin memperkenalkan kepada kita, bahwa cara yang ampuh untuk menghentikan kejahatan dan menghancurkan musuh adalah dengan cara mengasihi mereka. Musuh yang sebenarnya bukanlah pribadi atau orangnya. Melainkan pola pikir atau paham yang dimilikinya karena ada nilai yang dianutnya. Artinya seseorang menjadi jahat karena ada nilai yang memengaruhi pola pikirnya sehingga ia melakukannya (bnd. Ef. 6:12). Perbuatan jahat harus kita benci dan harus kita hancurkan, tetapi orangnya tetap kita kasihi. Hanya dengan demikianlah kejahatan akan berakhir dan kedamaian akan terwujud.

Oleh karena itu, bagi orang percaya, mengasihi musuh adalah suatu panggilan hidup. Hal itu tidak mudah, tetapi tidak berarti tidak bisa. Orang –orang percaya adalah orang yang telah dipenuhi oleh Roh Kudus. Roh Kudus akan bekerja memampukan mereka untuk dapat melakukannya. Dalam hal ini, orang-orang percaya adalah mitra Tuhan untuk mewujudkan kehidupan damai sejahtera di dunia. Jika bukan Tuhan yang bekerja bersama dengan mereka, dan memberikan kekuatan kepada mereka untuk melakukan hal itu, maka kejahatan akan merajalela untuk menguasai hidup manusia. Oleh karena itu, tujuan Yesus mengajarkan kita mengasihi musuh adalah bukti bahwa musuh bagian dari rancangan keselamatan yang Tuhan berikannkepada semua orang. Yesus memberi ruang kepada semua manusia untuk memperoleh kehidupan dan keselmatan. Dengan kata lain, kasih memberikan kesempatan kepada musuh untuk mendapat kehidupan. Amin

Selamat mengasihi musuh dan membalas kejahatan dengan kebaikan. Selamat beribadah, dan Selamat hari Minggu.
Pdt. Romeo Sinaga.

Khotbah, Minggu V Setelah Trinitatis, 21 Juli 2019Selamat pagi, Selamat hari minggu, dan salam sejahtera bagi kita semua...
20/07/2019

Khotbah, Minggu V Setelah Trinitatis, 21 Juli 2019
Selamat pagi, Selamat hari minggu, dan salam sejahtera bagi kita semua,

Teks Khotbah:
Yakobus 1:2-12

Topik:
Hidup Beriman dan Berhikmat

Beriman dan berhikmat adalah dua kata yang berbeda, tetapi tidak terpisahkan. Iman tampak pada hikmat yang dimiliki seseorang dan hikmat dapat diperoleh jika seseorang itu hidup dalam iman. Artinya, iman adalah landasan untuk menerima hikmat yang diberikan oleh Tuhan. Oleh karena itu, orang yang ingin memiliki hikmat, maka ia harus beriman. Tanpa beriman, maka hikmat tidak dapat diperoleh? Mengapa? Karena hikmat itu adalah anugerah pemberian Tuhan kepada orang yang dikasihi Tuhan.

Yakobus dalam nas ini mengajarkan semua orang percaya agar menjadi pribadi yang beriman dan berhikmat. Menurutnya, manusia tidak pernah lepas dari pencobaan atau godaan yang menerpa hidupnya. Di dalam pencobaan ini, manusia sering jatuh. Mereka merasa kecewa dan pesimis menjalani hidupnya. Akibatnya, pencobaan yang terjadi menjadi daya rusak dalam kehidupannya.

Agar manusia tidak menjadi pesimis atau apatis, Yakobus mendorong semua orang untuk beriman dan berhikmat. Dia memperkenalkan pencobaan dari perspektif yang baru, yaitu dari perspektif iman dan hikmat. Orang yang beriman dan berhikmat akan memahami pencobaan sebagai sebuah proses hidup menuju kedewasaan. Yakobus menekankan orang-orang yang mengalami berbagai pencobaan adalah orang-orang yang berbahagia. Menurutnya, pencobaan adalah proses pematangan iman menuju kesempurnaan hidup.

Yakobus mengatakan, ujian terhadap iman mendatangkan ketekunan, dan ketekunan itu akan membuahkan hasil, yaitu hidup dalam kesempurnaan. Artinya, ketekunan seseorang dalam menghadapi pencobaan yang terjadi dalam hidupnya mendorongnya untuk mensyukuri segala hal yang ada dan dialami di dalam hidupnya, sehingga ia merasakan kesempurnaan itu terjadi dalam hidupnya. Dengan kata lain, kesempurnaan hidup adalah hidup yang bersyukur.

Mensyukuri hidup yang dialami, bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi di dalam kehidupan itu terjadi hal-hal yang buruk. Bagi mereka kematian akan lebih baik, daripada kehidupan yang penuh dengan pergumulan atau pencobaan. Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan di dunia ini yang tidak dapat dipahami oleh logika manusia, bahkan peristiwa yang terjadi berada di luar kendalinya. Hal ini membuktikan bahwa kehidupan di dunia ini berjalan dan dikendalikan oleh Tuhan. Oleh karena itu, Yakobus mengingatkan orang-orang percaya agar beriman dan meminta hikmat dari Tuhan dalam proses menjalani hidupnya.

Di dalam Yesus Kristus, hidup itu telah nyata diberikan kepada kita. Bahkan Yesus adalah hikmat Allah itu sendiri. Oleh karena hidup ini adalah anugerah Yesus, maka kita tidak dapat menjalaninya jika kita tidak melibatkan-Nya di dalam hidup kita. Melibatkan Yesus dalam hidup kita adalah menggunakan cara pandang Yesus dalam kehidupan kita. Ia menghargai semua manusia tanpa membeda-bedakannya, Ia mengasihi dan menebus semua orang tanpa terkecuali. Ia mengalami semua penderitaan dan pencobaan itu untuk kemenangan manusia dari dosa dan kematian. Di dalam Yesus pencobaan dan penderitaan telah dikalahkan-Nya.

Oleh karena itu, sebagai orang yang telah ditebus oleh Yesus Kristus, kita terpanggil menjadi orang-orang yang tangguh dan tahan uji terhadap rupa-rupa pencobaan. Menjalani hidup dengan beriman dan berhikmat adalah proses panggilan hidup di dalam keselamatan. Iman dan hikmat adalah alat yang dianugerahkan Tuhan kepada kita untuk dapat menjalani kehidupan kita. Dan jika kita merasa kita kekurangan hikmat, maka kita memintanya dari Tuhan sang sumber hikmat. Amin

Selamat hidup beriman dan berhikmat agar kita mampu memaknai pencobaan yang kita alami. Selamat beribadah, dan Selamat hari Minggu.

Renungan, Kamis, 27 Juni 2019Lukas 6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berb...
26/06/2019

Renungan, Kamis, 27 Juni 2019
Lukas 6:27

"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;"

Topik:
Mengasihi Musuh.

Sudah menjadi hal yang wajar bagi untuk membeci orang-orang yang kita anggap sebagai musuh. Jika sesuatu hal yang buruk terjadi atas musuh kita, maka kita akan merasa puas dan senang. Akibatnya, secara tidak langsung kita telah menghakimi mereka yang kita anggap sebagai musuh atas hal buruk yang sedang terjadi atas mereka.

Yang menjadi pertanyaan: Apakah musuh itu memang ada? Jika ada, siapakah mereka yang kita anggap sebagai musuh dan bagaimana sikap kita kepada mereka? Kita cenderung menganggap seseorang menjadi musuh, jika mereka berbeda dengan kita, menentang ide atau pikiran kita, membenci kita, atau merancang hal jahat terhadap. Akibatnya, energi negatif keluar dari diri kita untuk mempertahankan diri dan berupaya menghancurkan mereka. Pertikaian bahkan peperangan pun dimungkinkan terjadi hanya karena adanya permusuhan. Konflik tertutup dan terbuka yang menelan banyak korban juga tidak dapat terhindarkan.

Melihat dampak negatif dari permusuhan tersebut, Yesus mengajarkan para pengikutnya agar tidak membenci musuh-musuh mereka. Sebaliknya mereka harus mengisihnya, mengapa? Karena kasih itu sendiri adalah kemampuan kita untuk mengampuni segala kesalahan dan kejahatan orang lain. Kasih itu juga menuntut kesediaan kita untuk berkorban dengan mau menerima kekurangan dan kelebihan orang lain. Dengan menempatkan musuh sebagai orang yang dikasihi, maka kita akan dimotivasi untuk mau mengampuni mereka dan berdamai dengan mereka.

Kasih menjadi akses kita untuk memperbarui relasi kita yang terganggu karena kosntruk berpikir kita tentang mereka yang kita anggap musuh. Sebenarnya, musuh adalah hasil konstruksi berpikir kita terhadap orang yang kita anggap sebagai musuh atau mereka yang kita benci. Dengan kata lain, penentuan seseorang menjadi musuh atau tidak, itu adalah buah pikiran kita sendiri (subjektifitas). Artinya, kita yang menentukan siapa yang menajdi musuh kita atau tidak. Pikiran kita yang menempatkan seseorang sebagai musuh, akan mendorong kita membenci dan menghindarinya. Di mana ada kebencian, maka di sana kejahatan dimungkinkan terjadi, dan kedamaian sulit untuk dicapai.

Oleh karena itu, Yesus melarang orang-orang percaya membenci para musuhnya. Sebaliknya mengasihi mereka seperti diri sendiri. Dengan mengasihi para musuh, orang-orang percaya tampil sebagai pioner pendamai. Mereka menampilkan karakter Tuhan dalam hidup mereka melaui tindakan mengasihi para musuh. Dengan mengasihi para musuh, kita sudah menjadikan mereka sebagai sahabat kita. Sebagaimana dikatakan mengasihi musuh adalah kesediaan kita untuk mengampuni orang lain, maka di dalam mengasihi ada mana ada persahabatan, kedamaian, dan kehidupan. Amin.

Selamat mengasihi musuh dan mengampuni mereka di dalam kasih Kristus. Selamat beraktifitas. Tuhan memberkati.

Renungan Pagi, Rabu, 19 Juni 2019Selamat Pagi, dan Damai Sejahtera bagi kita semua.Ayub 17:9“Meskipun begitu orang yang ...
19/06/2019

Renungan Pagi, Rabu, 19 Juni 2019
Selamat Pagi, dan Damai Sejahtera bagi kita semua.

Ayub 17:9
“Meskipun begitu orang yang benar tetap pada jalannya, dan orang yang bersih tangannya bertambah-tambah kuat."

Topik:
Orang yang benar adalah mereka yang tetap setia dan kuat, meskipun di dalam penderitaan.

Penderitaan yang sedang dialami Ayub adalah suatu pencobaan yang diperkenankan Tuhan terjadi atas dirinya. Pencobaan itu terjadi di luar nalarnya sebagai manusia. Ayub sebagai orang yang saleh dan yang hidupnya benar di hadapan Tuhan ternyata ia mengalami pencobaan yang sangat berat dalam hidupnya. Ia harus kehilangan harta benda, anak-anaknya, mengalami penyakit kulit, ditinggalkan istri, dan menjadi objek ejekan sahabat-sahabatnya.

Semua pengalaman ini terjadi hanya karena iblis hendak mencobai sejauh mana kesetiaan iman Ayub kepada Tuhan. Iblis hanya ingin membuktikan bahwa kesetiaan Ayub kepada Tuhan terjadi hanya karena Tuhan memberikan berkat yang berkelimpahan kepada Ayub. Jika Tuhan menarik semua berkat yang telah diberikan-Nya kepada Ayub, maka Ia akan mengutuk Tuhan dan meninggalkan-Nya. Iblis berharap bahwa Ayub akan meninggalkan Tuhannya, jika hal yang buruk dan segala penderitaan terjadi kepada Ayub.

Namun hal yang terjadi justru sebaliknya. Ayub tetap setia kepada Tuhan. Pencobaan yang diberikan iblis kepada Ayub tidak dapat menyurutkan iman-Nya kepada Tuhan. Para sahabat Ayub menyangkakan bahwa hal buruk yang dialaminya adalah konsekuensi dosa yang dilakukannya di hadapan Tuhan. Menurut para sahabatnya, Ayub harus segera bertobat jika ingin mengubah situasi atau kondisi buruk yang dialaminya.

Namun dalam segala hal, Ayub merasa tidak melakukan kesalahan di hadapan Tuhan. Dalam praktik kehidupannya, Ayub selalu hidup saleh dan benar di hadapan Tuhan. Ia selalu setia mengasihi Tuhan dalam kehidupannya. Bahkan jika Ayub dan keluarganya merasa telah melakukan dosa, maka dengan segera Ayub mempersembahkan korban bakaran sebagai korban penghapusan dosa bagi Tuhan.

Sebenarnya, penderitaan yang dihadapi Ayub dapat menjadi alasan baginya untuk kecewa kepada Tuhan. Dengan rasa kecewa ini, ia memiliki alasan untuk meninggalkan Tuhan. Mengapa? Karena sebagai orang yang saleh dan setia kepada Tuhan, seharusnya hidup Ayub diberkati Tuhan. Namun yang terjadi justeru sebaliknya; Ayub mengalami penderitaan yang sangat berat dibandingkan dengan orang-orang yang lain; mereka mengalami penderitaan.

Meskipun penderitaan yang dialami Ayub sangat berat, namun penderitaan itu tidak dapat memisahkan ia dari Tuhan. Penderitaan itu justeru menempah Ayub menjadi orang yang kuat. Penderitaan itu tidak menjadi pembenaran untuk melakukan dosa atau kesalahan. Penderitaan yang dialami Ayub tidak menyurutkannya untuk tetap setia kepada Tuhan, dan berada di jalan yang benar. Bahkan penderitaan berat yang dialaminya membentuk karakter Ayub sebagai orang yang tangguh dan kuat di hadapan Tuhan.

Mencermati pengalaman Ayub, maka kita sebagai orang yang percaya sama sepertinya, tidak lepas dari berbagai pencobaan. Namun pencobaan itu tidak akan merubuhkan iman kita kepada Tuhan. Pencobaan dan penderitaan yang kita jalani adalah cara Tuhan untuk menempah kita menjadi orang-orang yang tangguh, kuat dan berkarakter setia. Mengapa? Karena Roh Kudus adalah Roh yang memberikan kekuatan dalam diri kita masing-masing. Ketika penderitaan atau pencobaan terjadi, Roh Kudus bekerja dalam diri kita untuk memberikan kekuatan kita untuk menghadapinya. Amin

Selamat menjadi orang yang kuat dalam menghadapi penderitaan hidup, selamat beraktifitas. Tuhan memberkati.

Address

Jl. Tanah Tinggi II No. 25
Tanah Tinggi

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when HKBP Resort Diaspora Jakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to HKBP Resort Diaspora Jakarta:

  • Want your organization to be the top-listed Non Profit Organization?

Share