Website Contact the organization

FORINA Forum Konservasi Orangutan Indonesia
Sinergi dan Kolaborasi untuk Orangutan di Indonesia

Borneo is burning, and its wildlife is running out of places to hide.Over 800,000 hectares of forest and peatlands have ...
05/10/2026

Borneo is burning, and its wildlife is running out of places to hide.

Over 800,000 hectares of forest and peatlands have been scorched in Indonesia due to the 2026 Super El Niño drought. The IUCN SGA (Section on Great Apes) has issued an urgent call for action: over 52% of Bornean orangutan habitat is currently under threat.

This crisis isn't just about trees—it’s about lives. Thousands of orangutans are suffering from respiratory issues, and 5.5 million people are exposed to hazardous haze. Frontline firefighters are working around the clock with limited resources.

Help us raise awareness! Like, save, and share this post. 💚🦧

(Source: IUCN SSC PSG SGA Position Statement, Sept 2026)

Happy World Animal Day 2026!"See the world through their eyes. What do they see?"Di tengah kerusakan hutan dan ancaman k...
04/10/2026

Happy World Animal Day 2026!
"See the world through their eyes. What do they see?"

Di tengah kerusakan hutan dan ancaman kebakaran yang terus mengintai, mereka harus menyaksikan rumah mereka perlahan lenyap. Ketika habitat semakin menyempit akibat aktivitas manusia, setiap individu satwa menjadi sangat berharga bagi keberlangsungan ekosistem dan masa depan alam Indonesia.

Mari bersama-sama menjaga agar mereka tetap melangkah bebas di alam liar, bukan sekadar menjadi cerita sejarah. Jaga Satwa, Jaga Hutan, Jaga Masa Depan.

Nggak semua konten hewan yang bikin kita berhenti scrolling itu harmless.Setiap hari, jutaan orang scrolling melewati vi...
28/09/2026

Nggak semua konten hewan yang bikin kita berhenti scrolling itu harmless.

Setiap hari, jutaan orang scrolling melewati video satwa lucu di media sosial. Namun, tahukah kamu bahwa tidak sedikit dari konten tersebut yang menyembunyikan eksploitasi dan penganiayaan di balik layar?
Beberapa konten memang sengaja dikemas sebagai sesuatu yang lucu, menggemaskan, atau terlihat seperti rescue—padahal engagement dari penonton justru bisa membantu konten tersebut terus mendapatkan perhatian.

Kreator konten sering memanfaatkan satwa untuk mendapatkan tayangan (views), likes, dan keuntungan finansial. Celakanya, ketika kita menyukai, mengomentari (bahkan komentar marah sekalipun), atau membagikannya, algoritma platform justru mempromosikan video tersebut ke lebih banyak orang.

Dalam rangka kampanye global Report It! Week 2026 (21–27 September 2026) yang diusung oleh Social Media Animal Cruelty Coalition (SMACC) dan Asia for Animals Coalition (AfA), mari kita terapkan prinsip:
BE AWARE: Cermati konten yang tampak tidak alami.
DON’T ENGAGE: Jangan beri like, komentar, atau share.
REPORT IT: Gunakan fitur laporkan pada platform.

Pilihan digital kita menentukan nasib satwa di dunia nyata. Jangan beri “makan” konten penganiayaan satwa!

KETIKA HUTAN TERBAKAR, KE MANA ORANGUTAN PERGI?Karhutla 2026 masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan. Di lapang...
23/09/2026

KETIKA HUTAN TERBAKAR, KE MANA ORANGUTAN PERGI?

Karhutla 2026 masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan. Di lapangan, dampaknya terhadap orangutan mulai terlihat dari berbagai kejadian yang berhasil dijangkau oleh tim penyelamat.

Melalui Orangutan Impact Tracker, FORINA menghimpun informasi dari berbagai lokasi untuk melihat apa yang terjadi ketika habitat orangutan terbakar, mengering, dan semakin sulit menyediakan ruang hidup bagi mereka.

Kementerian Kehutanan mencatat, hingga 22 September 2026, sebanyak 100 individu satwa liar telah diselamatkan selama karhutla 2026. Sebanyak 53 di antaranya adalah orangutan.

Api belum selesai. Jangan tunggu sampai daftar ini bertambah.

Happy World Rhino Day.Indonesia masih menjadi rumah bagi dua spesies badak yang sama-sama berstatus Critically Endangere...
22/09/2026

Happy World Rhino Day.

Indonesia masih menjadi rumah bagi dua spesies badak yang sama-sama berstatus Critically Endangered. Badak Jawa diperkirakan tersisa 87–100 individu dan seluruhnya berada di Taman Nasional Ujung Kulon, sementara Badak Sumatera diperkirakan kurang dari 100 individu, dengan populasi kecil yang masih bertahan di Sumatera dan Kalimantan.

Dengan jumlah yang semakin sedikit dan habitat yang terus menghadapi tekanan, setiap individu benar-benar berarti bagi keberlangsungan spesies ini.

Mari jaga agar badak tetap menjadi bagian dari hutan Indonesia, bukan hanya bagian dari sejarahnya.

Jaga Badak. Jaga Hutan. Jaga Masa Depan

UPDATE DARI ODISHA, INDIALebih dari sepekan setelah ditemukan di sekitar Desa Badapali, Balasore, Odisha, kondisi keseha...
18/09/2026

UPDATE DARI ODISHA, INDIA
Lebih dari sepekan setelah ditemukan di sekitar Desa Badapali, Balasore, Odisha, kondisi kesehatan lima bayi orangutan terus dipantau oleh tim dokter dan ahli di India.
Setelah salah satu bayi mengalami demam, dilakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, termasuk pemeriksaan rontgen dan darah.

Berdasarkan buletin kesehatan yang diterbitkan Nandankanan Zoological Park, tempat kelima bayi saat ini menjalani karantina, analisis hematologi menunjukkan satu bayi mengalami anemia berat dan dua lainnya mengalami anemia ringan.

Kelima bayi saat ini dirawat di ruang karantina dengan suhu terkontrol. Mereka mendapatkan suplemen zat besi untuk membantu meningkatkan kadar hemoglobin serta obat untuk mengatasi demam.

Pengambilan sampel darah harus dilakukan secara terbatas karena usia mereka yang masih sangat muda. Karena itu, tes DNA untuk mengetahui asal-usul kelima bayi tersebut masih belum dapat dilakukan dan harus menunggu hingga kondisi mereka memungkinkan.
Menurut pihak Nandankanan Zoological Park, pemeriksaan lanjutan kemungkinan baru dapat dilakukan setelah kondisi bayi yang mengalami anemia berat membaik.

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan terus melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah India dan mendorong agar kelima bayi orangutan tersebut dapat segera dipulangkan ke Indonesia. Pemeriksaan DNA selanjutnya dapat dilakukan di Indonesia untuk memastikan asal-usul mereka sekaligus mempercepat proses repatriasi.

Kementerian Kehutanan juga menyiapkan tim yang akan segera berangkat ke India, didampingi sejumlah mitra termasuk dokter hewan dan tenaga ahli, untuk melihat dan memeriksa langsung kondisi kelima bayi orangutan serta menindaklanjuti proses repatriasi.

Perjalanan mereka belum selesai. Mari kita kawal bersama proses kepulangan kelima bayi orangutan ini ke Indonesia

Tragedi kembali terjadi di tengah karhutla Kalimantan.BKSDA Kalimantan Selatan mengonfirmasi kematian 12 ekor bekantan a...
15/09/2026

Tragedi kembali terjadi di tengah karhutla Kalimantan.

BKSDA Kalimantan Selatan mengonfirmasi kematian 12 ekor bekantan akibat kebakaran yang melanda habitat mereka. Bangkai satwa dilindungi tersebut ditemukan petugas saat melakukan pemadaman pada Minggu, 13 September 2026.

Bekantan diduga terjebak ketika api mengepung vegetasi tempat mereka berlindung. Warga setempat mengatakan kawasan tersebut memang menjadi habitat puluhan bekantan yang sering terlihat berkumpul. Bangkai yang ditemukan pun berukuran beragam, dari yang kecil hingga besar.

Di tengah kepungan api, satwa-satwa ini tidak punya banyak pilihan untuk menyelamatkan diri.

Bekantan adalah satwa endemik Kalimantan yang di Indonesia hanya ditemukan di Pulau Kalimantan. Habitatnya terus menghadapi tekanan dan penyusutan, sementara bekantan merupakan satwa yang dilindungi dan berstatus Endangered atau terancam punah menurut IUCN Red List.

Kehilangan belasan bekantan dalam satu kejadian seperti ini tentu bukan sesuatu yang bisa kita anggap biasa.

Karhutla tahun ini sudah semakin mengkhawatirkan. Kematian 12 bekantan ini harus menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat koordinasi dan penanggulangan. Jangan sampai kembali ada bekantan dan satwa liar lainnya yang kehilangan nyawa karena terlambat ditangani.

Hingga Rabu, 9 September 2026, kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting tercatat mencapai sekitar 3.105,...
12/09/2026

Hingga Rabu, 9 September 2026, kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting tercatat mencapai sekitar 3.105,47 hektare, termasuk 1.062 hektare di Resor Teluk Pulai, SPTN Wilayah III Tanjung Harapan, dan 929 hektare di Resor Sungai Perlu, SPTN Wilayah II Kuala Pembuang.

Penanganan di lapangan menghadapi kondisi yang tidak mudah. Gambut dan rawa yang mengering membuat api sulit dikendalikan, sementara sumber air terbatas dan sebagian lokasi sulit dijangkau. Sebanyak 114 personel gabungan dari Balai TN Tanjung Puting, PT Kumai Sentosa, Masyarakat Peduli Api, TNI, Polri, dan relawan telah dikerahkan untuk melakukan penanganan.

Namun skala dan kondisi medan membuat dukungan tambahan tetap dibutuhkan. Helikopter water bombing dari BNPB diperlukan untuk membantu menjangkau area yang sulit diakses melalui jalur darat.

Untuk saat ini, kawasan pelayanan wisata Pondok Tanggui dan kawasan Camp Leakey masih dilaporkan aman dan belum terdampak langsung oleh api. Tetapi kondisi di bagian lain kawasan terus membutuhkan perhatian.

Tanjung Puting bukan hanya destinasi wisata.
Kawasan ini merupakan salah satu habitat penting bagi orangutan liar di Kalimantan, sekaligus bentang alam gambut yang menyimpan nilai ekologis yang besar. Karena itu, ketika ribuan hektare kawasan taman nasional terbakar, informasi tentang apa yang sedang terjadi di sana perlu sampai lebih jauh.

Pemerintah daerah telah mengimbau masyarakat, dunia usaha, dan organisasi kemasyarakatan untuk ikut mendukung upaya penanganan. Bagi pihak yang memiliki kapasitas, dukungan sumber daya, logistik, jejaring, maupun bentuk bantuan lain dapat dikoordinasikan dengan para pihak yang sedang bekerja di lapangan.
Dan bagi kita yang tidak berada di sana, ada hal sederhana yang bisa dilakukan sekarang.

Jangan biarkan Tanjung Puting hanya menjadi kabar yang diketahui oleh mereka yang sedang bekerja di sana. Sebarkan informasinya. Dorong perhatian. Bantu membuka ruang bagi dukungan yang dibutuhkan di lapangan.

FORINA mengapresiasi respons dan koordinasi Kementerian Kehutanan dalam menindaklanjuti kasus lima bayi orangutan di Odi...
11/09/2026

FORINA mengapresiasi respons dan koordinasi Kementerian Kehutanan dalam menindaklanjuti kasus lima bayi orangutan di Odisha, termasuk upaya repatriasi ke Indonesia dan penguatan penanganan terhadap perdagangan satwa liar lintas negara.

Kami percaya proses seperti ini membutuhkan keterlibatan banyak pihak, dengan peran dan kapasitas yang berbeda. FORINA siap terus mendukung koordinasi dan kerja bersama dalam proses selanjutnya.

Untuk masyarakat, mari terus ikuti perkembangannya, jaga perhatian kita pada kasus ini, dan dukung upaya agar kelima bayi orangutan tersebut dapat kembali ke Indonesia dengan selamat.

Kelima bayi orangutan ini membutuhkan kita untuk terus memperhatikan prosesnya.Upaya pemulangan satwa lintas negara memb...
11/09/2026

Kelima bayi orangutan ini membutuhkan kita untuk terus memperhatikan prosesnya.

Upaya pemulangan satwa lintas negara membutuhkan koordinasi dan kerja bersama banyak pihak. FORINA telah menyampaikan surat kepada Menteri Kehutanan Republik Indonesia sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemulangan kelima bayi orangutan tersebut ke Indonesia.

Mari terus mengikuti perkembangan kasus ini, mengawal prosesnya, dan mendukung langkah Pemerintah Indonesia dalam mengupayakan kepulangan mereka.

Kita dukung prosesnya, sampai kelima anak orangutan ini kembali ke Indonesia 🫶🏻🦧

Address

South Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when FORINA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to FORINA:

Shortcuts

Share