30/07/2025
In the heart of Tuva Village, Central Sulawesi, a young farmer named Abdul Muzakir, or Zakir as he’s fondly called, is rewriting the narrative of rural youth through resilience, hard work, and the right knowledge. At just 25 years old, Zakir has not only improved his agricultural productivity—but also achieved what once seemed out of reach: returning to school.
As the second of three siblings, Zakir grew up in a family with limited economic resources. After graduating from high school, financial constraints forced him to give up his dream of going to university. Instead, he took over his family’s corn farming business. Guided only by his father’s experience and local traditions, Zakir struggled to achieve satisfying results from his efforts. At one point, he harvested just 800 kg of corn from 6 kg of seeds—a yield far below expectations.
“I’ve been farming corn for years, but the results were always disappointing. I knew I had to learn more if I wanted to improve,” Zakir shared.
That opportunity came in late 2023, when ADRA Indonesia launched the REAF II program in Tuva Village. One of its key initiatives was the Corn Farmer Field School, which focused on equipping local farmers with Good Agricultural Practices (GAP). Eager to improve his outcomes, Zakir registered as a participant and completed all seven sessions.
Through the program, he learned essential techniques like:
Using certified hybrid seeds (F1) instead of lower-quality generational seeds (F2),
Implementing proper spacing methods such as the legowo 2:1:2 pattern,
Practicing timely and efficient fertilization using the tugal method, and
Adjusting farming decisions based on weather conditions and soil needs.
Applying this knowledge to his own field, Zakir experienced a remarkable turnaround. By the end of 2024, he harvested 2.5 tons of corn from 9 kg of seeds—a personal record and a source of renewed hope.
“Even though my harvest still falls short of the national standard, I’m already grateful. Alhamdulillah, I’ve been able to save more toward my college fund. I plan to keep applying what I’ve learned to further improve my yields.”
Thanks to his improved income, Zakir is now a student once again. In 2025, he officially enrolled in Universitas Terbuka (Open University) to study agriculture—turning his experience in the field into a foundation for long-term growth and professional development.
Zakir also benefited from the marketing training provided through REAF II, where he learned how to:
Create a simple financial record system,
Set priorities before making purchases, and
Manage his income for future investments.
“The marketing training helped me understand how to track my spending and prioritize what matters. It’s been a huge support in helping me prepare for university.”
Now back in the classroom, Zakir hopes to one day become a model of success for other young farmers in his community.
“Thank you, ADRA. The training changed my perspective—not only on farming, but on what’s possible for my life. I hope one day I can become a successful farmer and share this knowledge with others.”
Zakir’s story is more than just a farming success. It’s a story of determination, learning, and dreams rekindled—proof that with the right support, even a small seed can grow into something life-changing.
--------------------------------------------------------------
Di jantung Desa Tuva, Sulawesi Tengah, seorang petani muda bernama Abdul Muzakir—akrab disapa Zakir—sedang menulis ulang kisah anak muda pedesaan melalui ketekunan, kerja keras, dan pengetahuan yang tepat. Di usianya yang baru 25 tahun, Zakir tidak hanya berhasil meningkatkan produktivitas pertaniannya—tetapi juga meraih hal yang dulu terasa mustahil: kembali bersekolah.
Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Zakir tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Setelah lulus dari SMA, kondisi keuangan memaksanya untuk mengubur impian kuliah. Ia pun mengambil alih usaha tani jagung keluarganya. Hanya bermodal pengalaman sang ayah dan tradisi lokal, Zakir mengalami kesulitan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Pada satu masa, ia hanya berhasil panen 800 kg jagung dari 6 kg benih—jauh di bawah harapan.
"Aku sudah bertani jagung selama bertahun-tahun, tapi hasilnya selalu mengecewakan. Aku tahu, kalau mau maju, aku harus belajar lebih banyak," ungkap Zakir.
Kesempatan itu datang di akhir tahun 2023, saat ADRA Indonesia meluncurkan program REAF II di Desa Tuva. Salah satu inisiatif utamanya adalah Sekolah Lapang Petani Jagung, yang bertujuan membekali para petani lokal dengan Praktik Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices/GAP). Ingin memperbaiki hasil panennya, Zakir pun mendaftar dan menyelesaikan ketujuh sesi pelatihan.
Melalui program ini, ia mempelajari teknik-teknik penting seperti:
Menggunakan benih hibrida bersertifikat (F1) alih-alih benih turunan (F2) yang kualitasnya lebih rendah,
Menerapkan pola tanam yang tepat seperti pola legowo 2:1:2,
Melakukan pemupukan tepat waktu dan efisien dengan metode tugal, dan
Menyesuaikan keputusan pertanian berdasarkan kondisi cuaca dan kebutuhan tanah.
Dengan menerapkan pengetahuan ini di lahannya sendiri, Zakir mengalami perubahan besar. Di akhir tahun 2024, ia berhasil panen 2,5 ton jagung dari 9 kg benih—rekor pribadinya, sekaligus sumber harapan baru.
"Walaupun hasil panen saya belum mencapai standar nasional, saya sudah sangat bersyukur. Alhamdulillah, saya bisa lebih banyak menabung untuk biaya kuliah. Saya berencana terus menerapkan ilmu ini agar hasil panen saya makin baik.”
Berkat peningkatan pendapatannya, Zakir kini kembali menjadi seorang mahasiswa. Pada tahun 2025, ia resmi terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Terbuka untuk jurusan pertanian—mengubah pengalamannya di ladang menjadi fondasi pertumbuhan jangka panjang dan pengembangan profesional.
Zakir juga mendapat manfaat dari pelatihan pemasaran yang diberikan melalui REAF II, di mana ia belajar cara:
Membuat sistem pencatatan keuangan sederhana,
Menentukan prioritas sebelum membeli sesuatu, dan
Mengelola pendapatan untuk investasi masa depan.
“Pelatihan pemasaran membantu saya memahami cara melacak pengeluaran dan menentukan skala prioritas. Ini sangat membantu saya dalam mempersiapkan diri kuliah.”
Kini kembali duduk di bangku kuliah, Zakir berharap suatu hari nanti bisa menjadi contoh keberhasilan bagi petani muda lain di komunitasnya.
"Terima kasih, ADRA. Pelatihannya mengubah cara pandang saya—bukan hanya soal bertani, tapi juga tentang apa yang mungkin saya capai dalam hidup. Saya berharap suatu hari bisa menjadi petani sukses dan membagikan ilmu ini kepada yang lain.”
Kisah Zakir bukan hanya tentang keberhasilan bertani. Ini adalah kisah tentang ketekunan, pembelajaran, dan mimpi yang menyala kembali—bukti bahwa dengan dukungan yang tepat, bahkan benih kecil pun bisa tumbuh menjadi sesuatu yang mengubah hidup.