Suara kaum bawah

  • Home
  • Suara kaum bawah
Call Website Contact the organization

Suara kaum bawah Buruh nonformal bisa juga disebut buruh serabutan, yang mana kerjanya

Motto
" Berani berjuang pasti menang "

Buruh secara umum dibagi menjadi 2, yaitu buruh formal yang ditunjukan dengan adanya ikatan kerja, dan buruh informal tanpa ikatan kerja.

13/10/2026

Gejolak yang tak nampak

Selamat sore dan salam kepada seluruh kawan
Kali ini mungkin akan mengulas tentang keseharian buruh informal yang sedikit banyak dirasakan oleh kawan2.

Mulai dari kehilangan diri karena dituntut oleh kebutuhan hidup sehari - hari , iya jika masa bodoh dengan segala hal dan bagaimana menjalaninya

Tetapi ada beberapa orang yang terpaksa kehilangan dirinya yang asli, senyumnya mulai berkurang serta rasa kemurungan yang ada karena kehidupan yang sebelumnya telah tergadai

Salam hormat untuk para pekerja informal yang terkadang dipandang sebelah mata karena upah yang tidak terjamin dan kerjaan yang tidak tetap serta jaminan sosial yang belum ada

Ini adalah keseharian yang mungkin sulit diutarakan bagi para pekerja informal yang diseluruh pelosok negri ini

Tetap kepada kewarasan adalah hal yang utama dan mengingat terus akan kebutuhan yang selalu menjadi tanggung jawab sehati-hari

Mungkin hanya niatan akan persatuan yang luas terhadap pekerja informal
Menulis segala sesuatu problematika atau keseharian yang sering dialami

13/06/2026
05/06/2026

Puisi berjudul " Oh dunia gerakan "

Oh dunia gerakan

Dunia gerakan adalah dunianya perlawanan
Melawan ketidak Adilan, penindasan atau penghisapan

Oh dunia gerakan

Yang baik adalah yang melarat
Yang baik adalah yang tanpa kompromi
Yang baik adalah yang versi gue
Yang baik adalah yang sesuai gue fikirin

Oh dunia gerakan

Begitu abstrak dan abu-abu sekali
Mau yang katanya paling kiri
Paling revolusioner atau progresif
Paling anti dengan dengan klas borjuasi

Oh dunia gerakan

Sungguh naif mereka - mereka itu
Melibatkan konflik individu menjadi konflik umum
Mencela mereka yang ada hasil
Mengklaim atau menyerobot hasil kerja kelompok yang dikritik

Oh dunia gerakan

Bukanlah lagi soal inti dari gerakan
Cukup katakan mereka mendapat kursi
Cukup katakan mereka sudah menjadi borjuasi
Cukup katakan mereka sudah berkecukupan

Oh dunia gerakan

Apakah intropeksi diri tidak ada
Evaluasi tentang gerakan sang idealisme yang tak berkembang
Tak dapat mempengaruhi suatu kaum
Dan belum menciptakan perubahan apapun

Oh dunia gerakan

Dimana letak persatuan
Dimana letak kelas dan keberpihakan
Dimana konsolidasi Akbar proletariat
Dimana letak substansi perjuangan

oh dunia gerakan

Kebenaran bukanlah bersumber dari pengetahuan
Keadilan bukan bersumber dari kebajikan
Kebenaran adalah milik sang mlarat
Dan keadilan Milik sang kolot

Oh dunia gerakan

Bijaklah dalam menganalisa
Substansi perjuangan harus dikembalikan
Lepas kebencian individual
Satukan dalam nuansa kita adalah kelas pekerja

05/06/2026

“Kalau mau menghancurkan suatu negara maka hancurkanlah mata uangnya.”

Mata uang bukan sekadar kertas yang dicetak dengan lambang negara dan tanda tangan pejabat. Ia adalah simpul kepercayaan rakyat kepada sistem yang mengatur hidupnya. Di atas lembaran itu berdiri janji: bahwa kerja memiliki nilai, bahwa upah dapat ditukar dengan roti, bahwa hari esok masih dapat direncanakan. Hancurnya mata uang berarti runtuhnya janji itu.

Negara borjuis memahami dengan sangat baik bahwa kekuasaan tidak hanya dijaga dengan senjata, tetapi dengan kendali atas alat-alat ekonomi. Mereka mencetak uang, mengatur bank, menentukan bunga, dan mengendalikan kredit. Selama rakyat percaya pada stabilitas mata uang, selama itu p**a mereka percaya pada stabilitas negara. Tetapi ketika nilai uang merosot, ketika harga roti melonjak dan upah tak lagi cukup, rakyat mulai melihat bahwa sistem yang diagungkan itu ternyata rapuh.

Inflasi bukanlah sekadar gejala ekonomi; ia adalah gejala politik. Ia menggerogoti kepercayaan, memperlebar jurang antara kelas yang memiliki aset dan kelas pekerja yang hidup dari upah hari ke hari. Kaum pemilik modal dapat melindungi diri mereka melalui tanah, emas, dan spekulasi. Tetapi buruh dan tani, yang menerima bayaran tetap, menyaksikan nilai keringatnya menyusut setiap hari. Dalam keadaan demikian, ketidakadilan menjadi nyata dan tak dapat disembunyikan oleh retorika patriotik.

Sejarah menunjukkan bahwa krisis moneter sering menjadi pendahulu krisis kekuasaan. Ketika uang kehilangan nilainya, otoritas negara ikut dipertanyakan. Aparat boleh saja memaksa ketertiban, tetapi tidak dapat memaksa kepercayaan. Kepercayaan hanya dapat dipertahankan oleh sistem yang adil dan produksi yang nyata, bukan oleh percetakan uang atau propaganda.

Namun, penghancuran mata uang bukanlah tujuan revolusi; ia adalah gejala pembusukan sistem lama. Tugas kaum revolusioner bukan menciptakan kekacauan demi kekacauan, melainkan memperlihatkan kepada massa bahwa kekacauan itu bersumber dari kontradiksi dalam struktur ekonomi yang menindas. Ketika mata uang hancur karena spekulasi, korupsi, atau perang imperialis, yang terungkap bukan kelemahan rakyat, melainkan kebangkrutan kelas penguasa.

Negara yang sehat berdiri di atas produksi yang kuat dan distribusi yang adil. Jika ekonomi dikuasai segelintir elite yang memanip**asi kredit dan pasar demi keuntungan pribadi, maka mata uang hanyalah bayangan dari keserakahan mereka. Dan ketika bayangan itu runtuh, yang runtuh sesungguhnya adalah legitimasi kekuasaan.

Karena itu, menghancurkan mata uang berarti mengguncang fondasi kepercayaan yang menopang negara. Tetapi lebih dari itu, ia memperlihatkan bahwa tanpa keadilan ekonomi, tidak ada stabilitas yang abadi. Mata uang yang kuat bukanlah hasil tipuan finansial, melainkan hasil dari tatanan sosial yang berpihak kepada mayoritas pekerja.

Di situlah letak pelajaran sejarah: kekuatan negara tidak ditentukan oleh simbol pada uangnya, melainkan oleh hubungan produksi yang mendasarinya. Jika fondasi itu rapuh dan eksploitatif, maka secantik apa pun desain mata uangnya, ia hanya menunggu waktu untuk kehilangan makna.

Salam Kato

Solidaritas: Kekuatan Kaum TertindasSolidaritas bukan sekadar rasa simpati, melainkan alat perjuangan untuk membebaskan ...
05/06/2026

Solidaritas: Kekuatan Kaum Tertindas

Solidaritas bukan sekadar rasa simpati, melainkan alat perjuangan untuk membebaskan kaum tertindas dari kehidupan yang terpecah, lemah, dan individualistis. Buruh informal, pekerja konstruksi, pedagang kaki lima, tukang becak, tukang parkir, kenek bus, ibu jamu gendong, dan seluruh pekerja rakyat adalah bagian dari kelas pekerja yang sering menghadapi ketidakpastian hidup, upah rendah, serta minim perlindungan sosial.

Sendiri-sendiri, kita mudah diabaikan. Jumlah kita memang banyak, tetapi tanpa persatuan, kekuatan itu tercerai-berai. Karena itulah penting untuk bersatu dalam wadah organisasi seperti Serikat Buruh Serabutan, tempat kita belajar, mendidik diri, membangun kesadaran, dan memperkuat solidaritas antarsesama pekerja.

Solidaritas juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita membeli dagangan pedagang kecil, menggunakan jasa tukang becak, berbelanja di warung rakyat, atau memakai jasa sesama pekerja, maka roda ekonomi berputar di kalangan rakyat pekerja.
Persatuan dan solidaritas adalah jalan untuk memperkuat posisi kaum pekerja, memperjuangkan hak-hak yang layak, serta membangun kehidupan yang lebih adil. Sebab hanya dengan bergandengan tangan, kaum pekerja dapat menghadapi kesulitan hidup dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik.

"Yang lemah akan kuat bila bersatu. Yang tertindas akan bangkit bila berorganisasi. Solidaritas adalah senjata kaum pekerja."

10/05/2026

Kecerdasan buatan generatif dengan cepat mengubah tempat kerja di seluruh dunia, meningkatkan produktivitas dan membentuk kembali tugas-tugas di banyak pekerjaan. Namun, dampaknya tidak netral gender. Sebuah laporan baru dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) menemukan bahwa perempuan lebih rentan daripada laki-laki terhadap risiko yang terkait dengan teknologi ini.

Dalam episode podcast ILO Future of Work ini,
Anam Butt, spesialis teknis tentang kesetaraan gender dan
non-diskriminasi di ILO dan salah satu penulis laporan tersebut, mengeksplorasi mengapa perempuan lebih banyak diwakili dalam pekerjaan di mana tugas-tugas dapat diotomatisasi, mengapa mereka tetap kurang terwakili dalam pekerjaan AI dan STEM, dan bagaimana sistem AI dapat mereproduksi bias dan stereotip yang ada.

Ia juga membahas bagaimana para pembuat kebijakan dapat memastikan bahwa transformasi digital memajukan, bukan melemahkan, kesetaraan gender di tempat kerja.

18/04/2026

KAUM MARXIS yang TAKUT dengan MARXISME
---
Ada seorang Marxis,
dan ada banyak lainnya.

Dia seorang Marxis.
Tetapi sejujurnya,
dia sekarang sangat takut pada Marxisme.

Ketika itu, dia adalah seorang Marxis sejati.
Pada waktu itu, dia tidak seperti saat ini.
Dia penuh semangat dan bergelora:
Merah total!

Dulu, ia berbicara tentang Manifesto Komunis,
tentang Das Kapital,
tentang Perjuangan Kelas,
tentang Partai Pelopor,
tentang Massa Rakyat Pekerja,
tentang Negara dan Revolusi.

Dulu, ia berbicara tentang Analisis Kelas,
tentang Program Perjuangan Kelas,
tentang Strategi Perlawanan Kelas,
tentang Revolusi Oktober Rusia,
tentang Revolusi Kebudayaan China,
tentang Revolusi Kuba.

Pada suatu ketika, ia berbicara tentang
Marx,
tentang Engels,
tentang Lenin,
tentang Stalin,
tentang Muso,
tentang Mao,
tentang Kim Il Sung,
tentang Ho Chi Minh,
tentang Che Guevara,
tentang Fidel Castro.

Dulu, semua itu diucapkan penuh semangat,
penuh gelora,
penuh tenaga.
Bagai suara letusan gunung,
bagai suara guntur,
bagai deru ombak lautan.
Diucapkan sepenuh hati,
keluar dari lubuk nurani paling dalam.

Saat ini dia,
kurang menyukai Marx,
kurang menyukai Engels,
kurang menyukai Lenin,
kurang menyukai Stalin,
kurang menyukai Muso,
kurang menyukai Mao,
kurang menyukai Kim Il Sung,
kurang menyukai Ho Chi Minh,
kurang menyukai Che Guevara,
kurang menyukai Fidel Castro.
Sekarang ini, dia menyukai semua hal yang sebelumnya dibenci dan dicaci.

Saat ini dia,
alergi ketika mendengar kata Gerakan Massa,
alergi ketika mendengar kata Revolusi,
alergi ketika mendengar kata Perjuangan Bersenjata,
alergi ketika mendengar kata Kediktatoran Massa Rakyat Pekerja,
alergi ketika mendengar kata Sosialisme,
alergi ketika mendengar kata Komunisme.

Saat ini dia,
senang mendengar kata Pejabat,
senang mendengar kata Pengusaha,
senang mendengar kata Proyek,
senang mendengar kata Modal,
senang mendengar kata Penghisapan dan Penindasan.

Ironinya adalah
ia masih menyebut dirinya seorang Marxis,
dan dunia masih mengenalnya sebagai seorang Marxis.

A luta continua ✊
---
Foto tahun 1995 saat demonstrasi dengan massa buruh di Surabaya.

***
puisi ini ditulis oleh pejuang demokrasi, VA Safi'i.

Puisi lentera merah.
berat


15/04/2026

Selamat pagi para pembaca
Selamat beraktifitas seperti biasa yang terkadang jenuh dalam keadaan itu

Kali ini saya akan bercerita
Tentang bagaimana mengulang sejarah
Mengulang masa - masa yang sudah lali
Mengingat memory kita dalam kehidupan ini

Dulu dalam masa kecil kita
Kita bersuka ria, walau terkadang bermusuhan tetapi itu cepat berlalu dan kembali bersama
Dalam naungan sanubari keterbatasan dini

Teringat sosok dulu yang pertama kali mengajarkan aku masuk didalam dunia ini
Dunia dengan penuh simpati
Dunia dengan penuh empati

Merajut tentang kepedulian terhadap sesama
Menguatkanku ketika aku tak tau harus mengapa
Atau menyesali apa yang aku lakukan
Hanya apa, menulis, menulislah katanya

Menulislah dan sampaikan yang tak dapat kau ungkapkan
Menulislah apa yang tak dapat kau ceritakan
Menulislah yang tak dapat kau pikul dan jalankan
Menulislah, dalam lembaran kosong dan sebagai pengingat

Dulu kau hadir dalam keterpurukan
Penuh dengan senyum dan nada halus
Jawaban yang apa adanya tanpa trik
Serta sambutan hangat tanpa kesombongan

Kuingat pesanmu ini
Meskipun engkau telah tenang dialam sana
Membawa nafas tentang ketulusan
Akan kepedulian terhadap sesama

Kini belum kutemukan sosok sepertimu
Membimbingku, mengalah dalam setiap perdebatan
Mencoba mempengaruhiku dengan kepedulian
Dan sabar tanpa tendensi apapun

Bulan ini aku spesialkan untuk mu
Seorang yang diam - diam aku kagumi
Yang mampu memberikan saran
Diatas rasa sakit dan kehampaan yang kau rasa

Do'a selalu untukmu
Cyndi.

*Skandal di Proyek Batang: Kontraktor Terbesar Dunia Diduga Biarkan Sub-kon Terlantarkan Pekerja dan Gunakan TKA Visa Wi...
18/03/2026

*Skandal di Proyek Batang: Kontraktor Terbesar Dunia Diduga Biarkan Sub-kon Terlantarkan Pekerja dan Gunakan TKA Visa Wisata*

*BATANG, 18 Maret 2026* – Sebuah fakta mengejutkan terungkap dari salah satu proyek pembangunan vital di wilayah Batang. Praktik kerja yang jauh dari standar kemanusiaan dan dugaan pelanggaran hukum serius ditemukan dalam operasional yang melibatkan PT Jyabo, sebuah perusahaan sub-kontraktor yang berafiliasi dengan raksasa konstruksi asal Cina, China State Construction (CSCEC).

*Raksasa Global, Masalah Lokal*
CSCEC, yang dikenal secara global sebagai China State Construction, adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Cina dan tercatat sebagai kontraktor terbesar di dunia berdasarkan pendapatan. Namun, reputasi mentereng tersebut berbanding terbalik dengan kondisi yang dialami para pekerja borongan di proyek mereka di Batang.

_Ironisnya, di bawah payung proyek raksasa ini, ditemukan laporan mengerikan mengenai penindasan terhadap hak-hak dasar buruh lokal._

*Buruh Dikerjai: Kontrak Menyimpang, Upah Tak Dibayar*
Data lapangan menunjukkan adanya penyimpangan kontrak yang sistematis. Pekerja yang awalnya disewa hanya untuk pekerjaan pengecoran, begesting, dan pembesian, dipaksa mengerjakan tugas tambahan (non-kontrak) seperti pembersihan lahan dan pembongkaran material tanpa kompensasi tambahan yang jelas.

Yang paling memprihatinkan, dari total 87 pekerja yang tergabung dalam Serikat Buruh Serabutan Sektor Kontruksi - F-SB SEMAR, kini hanya tersisa 30 orang. Sebanyak 50 pekerja borongan dilaporkan sama sekali belum menerima pembayaran atas keringat yang mereka keluarkan. Hak upah mereka diabaikan, sementara proyek terus berjalan.

*Sistem "kerja fleksibel"* diterapkan untuk memeras tenaga pekerja hingga malam hari, namun tanpa hitungan upah lembur yang sah. Selain itu, jaminan keselamatan sosial paling dasar, seperti BPJS Ketenagakerjaan, sama sekali tidak diberikan kepada para buruh borongan ini.

Pemerasan Biaya Tempat Tinggal
Kekejaman operasional di lapangan juga terlihat dari kebijakan tempat tinggal pekerja. Para buruh diharuskan membangun barak atau bedeng tinggal secara mandiri dengan biaya mencapai kurang lebih Rp16 juta yang ditanggung oleh pemborong terlebih dahulu.
Namun sampai bangunan berdiri, belum ada kepastian kapan biaya akan diganti, dan lebih parahnya bangunan tersebut berdiri, mereka justru dilarang menempatinya.

*Skandal TKA: Dugaan Kuat Visa Wisata dan Perlakuan Kasar*
Menambah panjang daftar pelanggaran, terdapat indikasi kuat bahwa Tenaga Kerja Asing (TKA) dari Cina yang bertindak sebagai pengawas di lapangan hanya menggunakan visa wisata, bukan visa kerja (KITAS) yang sah. Ini merupakan pelanggaran telak terhadap Undang-Undang Keimigrasian Republik Indonesia.

Selain dugaan penyalahgunaan dokumen, para TKA ini dilaporkan sering bertindak sewenang-wenang di lokasi proyek, dengan memberikan perlakuan buruk dan menggunakan kata-kata kasar terhadap pekerja lokal.

*Proyek Strategis Nasional Taruhannya*
Lokasi proyek di Batang, yang merupakan salah satu Kawasan Industri strategis di Jawa Tengah, menjadikan temuan ini sangat sensitif. Fakta bahwa sebuah BUMN raksasa dunia membiarkan, atau bahkan menggunakan, sub-kontraktor yang mempraktikkan eksploitasi buruh dan pelanggaran imigrasian, mencoreng iklim investasi dan kedaulatan hukum Indonesia.

_Pihak manajemen PT Jyabo maupun perwakilan CSCEC di Indonesia hingga kini belum dapat dimintai keterangan resmi terkait rentetan pelanggaran yang terdokumentasi ini._

18/03/2026

THR ASN tidak dipotong pajak. Sementara THR pekerja swasta justru dipotong pajak. Di sinilah letak ketidakadilannya.

Bagi banyak pekerja, THR adalah harapan untuk mudik, membeli kebutuhan keluarga, membayar utang, atau sekadar membuat anak-anak bahagia saat hari raya.

Namun ketika THR pekerja swasta dipotong pajak, nilai yang diterima menjadi berkurang. Sementara ASN menerima THR penuh karena pajaknya ditanggung negara.

Mengapa negara memperlakukan pekerja secara berbeda? Padahal pekerja swasta adalah tulang punggung produksi, industri, dan ekonomi nasional. Mereka juga membayar pajak, berkontribusi pada negara, dan bekerja keras setiap hari.

Jika pajak THR ASN bisa ditanggung negara, maka seharusnya keadilan yang sama juga diberikan kepada pekerja swasta.

THR seharusnya diterima utuh oleh semua pekerja.

Negara tidak boleh menciptakan ketimpangan di antara rakyat yang sama-sama bekerja.

Address

Jalan Gajahmada, No. 6b Lingkungan Majenang, RT. 02, RW. 19, Kuripan, Purwodadi

5811

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Suara kaum bawah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Suara kaum bawah:

Shortcuts

  • Want your organization to be the top-listed non profit organization?

Share