El-Bukhari Institute

El-Bukhari Institute el-Bukhari Institute (eBI) merupakan lembaga non profit yang bergerak di bidang pengkajian hadis, penelitian dan pelatihan ilmu hadis.

El-Bukhari Institute menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya ayah mertua rekan kami, Dr. Saepul Anwar (), Penulis ...
30/04/2026

El-Bukhari Institute menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya ayah mertua rekan kami, Dr. Saepul Anwar (), Penulis Buku Kiat Sukses Ramadan ala Rasulullah dan salah seorang inisiator dan pembina . Semoga beliau dan segenap keluarga yang ditinggalkan dianugerahi ketabahan dan ayah mertua beliau berada di tempat terbaik di sisi-Nya.

📚 BOOK DISCUSSION & OPENING SEKOLAH HADISAssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,Ada kabar baik untuk kamu yang ingi...
15/04/2026

📚 BOOK DISCUSSION & OPENING SEKOLAH HADIS

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada kabar baik untuk kamu yang ingin memperdalam kajian keislaman secara akademik dan relevan dengan isu kontemporer!

✨ Akan hadir Book Discussion spesial membahas buku:
“The Integrity of the Qur’an: Sunni and Shi‘i Historical Narratives (2024)”

🎙 Bersama: Dr. Seyfeddin Kara
(Assistant Professor of Islamic Origins, University of Groningen)

🗓 Senin, 04 Mei 2026
⏰ 16.00 – 17.00 WIB
💻 Via Zoom Meeting
💸 GRATIS (Open for All!)

🔗 Daftar sekarang:
[https://bit.ly/BookDiscussionSekolahHadisEBI]

📞 Info lebih lanjut:
+62 812-8444-8416 (Admin El-Bukhari Institute)

Yuk, jangan lewatkan kesempatan langka ini! Ajak teman-temanmu juga 🤍
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Faith-Based Economics: Jalan (Seharusnya) Menuju Kesejahteraan Ekonomi |   Eps. 2 with Dr. Ibrahim Kholilur Rohman (Acti...
14/04/2026

Faith-Based Economics: Jalan (Seharusnya) Menuju Kesejahteraan Ekonomi | Eps. 2 with Dr. Ibrahim Kholilur Rohman (Acting Director of IFG Progress)

Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube.

40 Menit Memahami Ekonomi Syariah |   Eps. 4 with Prof. Dr. Euis Amalia, M.Aghttps://youtu.be/DrnqsmQdMJY?si=CuqHGC__6F3...
26/03/2026

40 Menit Memahami Ekonomi Syariah | Eps. 4 with Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag

https://youtu.be/DrnqsmQdMJY?si=CuqHGC__6F388MQK

nvestasi Halal vs Haram? Bagaimana membedakannya? Dalam Cuan Halal Episode 4, kami berbincang bersama Prof. Euis Amalia unt...

الله اكبر  لا اله الا الله هو الله اكبرSelamat lebaran idul fitri. Minal 'aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin. S...
20/03/2026

الله اكبر لا اله الا الله هو الله اكبر

Selamat lebaran idul fitri. Minal 'aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin. Semoga puasa, qiyamul lail dan qiraah kita serta seluruh kebaikan yang kita lakukan diterima Allah swt.

📢 PENGUMUMAN HASIL SELEKSI MAGANG EL-BUKHARI INSTITUTE 2026Alhamdulillah, proses seleksi program Magang El-Bukhari Insti...
10/03/2026

📢 PENGUMUMAN HASIL SELEKSI MAGANG EL-BUKHARI INSTITUTE 2026

Alhamdulillah, proses seleksi program Magang El-Bukhari Institute 2026 telah selesai dilaksanakan. Kami mengucapkan selamat kepada para peserta yang telah lolos seleksi tahap ini. Semoga kesempatan ini menjadi langkah awal untuk belajar, bertumbuh, dan berkontribusi bersama dalam dakwah, literasi, dan pengembangan keilmuan.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pendaftar yang telah berpartisipasi dan menunjukkan antusiasme untuk bergabung dalam program magang ini.

Bagi peserta yang belum lolos pada kesempatan kali ini, tetap semangat dan jangan berkecil hati. Setiap proses adalah bagian dari pembelajaran, dan insyaAllah akan selalu ada **kesempatan baik lainnya di waktu yang akan datang.

📌 Informasi lebih lanjut terkait pembagian divisi, jobdesk, serta teknis pelaksanaan magang** akan diumumkan melalui **grup WhatsApp peserta yang lolos seleksi. Mohon kepada peserta yang dinyatakan lolos untuk bergabung dan memantau informasi di grup WA agar tidak tertinggal pengumuman selanjutnya.

Terima kasih atas partisipasi dan perhatian semuanya.

📣 OPEN REKRUTMEN MAGANG EL-BUKHARI INSTITUTE 2026Saatnya naik level dari pengetahuan menuju keterampilan!El-Bukhari Inst...
11/02/2026

📣 OPEN REKRUTMEN MAGANG EL-BUKHARI INSTITUTE 2026

Saatnya naik level dari pengetahuan menuju keterampilan!
El-Bukhari Institute membuka kesempatan magang untuk kamu yang ingin berkembang di bidang:

📸 Content Creator
🖋 Penulis
🔬 Peneliti
📹 Editor

Keuntungan yang didapat:
• Sertifikat magang
• Pengalaman kerja nyata
• Bimbingan mentor profesional
• Relasi & portofolio
• Surat rekomendasi

Kualifikasi:
• Mahasiswa aktif (minimal semester 4)
• Memiliki semangat belajar & tanggung jawab
• Mampu bekerja individu maupun tim
• Bersedia mengikuti program selama 2 bulan

🗓 Deadline pendaftaran: 27 Februari 2026

Daftar sekarang melalui link berikut:
[https://bit.ly/MagangEl-Bukhari2026](https://bit.ly/MagangEl-Bukhari2026)

📞 Info lebih lanjut: 0812-8444-8416
🌐 [www.elbukhariinstitute.or.id](http://www.elbukhariinstitute.or.id)

Yuk, ambil kesempatan berharga ini dan jadi bagian dari gerakan dakwah yang membangun kemanusiaan dan peradaban. ✨

Terima Kasih kepada 150 pembaca pertama yang sudah pre-order 🙏🏼Alhamdulillah, lini penerbitan El-Bukhari Institute , El-...
16/01/2026

Terima Kasih kepada 150 pembaca pertama yang sudah pre-order 🙏🏼

Alhamdulillah, lini penerbitan El-Bukhari Institute , El-Bukhari Publishing kembali menerbitkan buku keislaman-akademik di akhir tahun 2025, tentang Penghulu di Masa Kolonial Belanda. Buku ini awalnya adalah disertasi mendiang Prof. Dr. Muhamad Hisyam (Peneliti Senior LIPI, kini Badan Riset dan Inovasi Nasional RI (BRIN RI) ) saat menempuh studi doktoral di Universiteit Leiden hampir 25 tahun yang lalu.

Jadi yang ke-151 dan seterusnya untuk mendalami perjalanan sejarah profesi Penghulu dan dinamikanya yang sudah berusia lebih dari 500 tahun

Link pemesanan:

Toko: https://lnkd.in/gARWfbtb

Whatsapp: https://lnkd.in/gX3UJ3YX

Shopee: https://lnkd.in/g7Yea-wF

Tokopedia: https://lnkd.in/gXNb6yTA

Ikuti The Roundtable Discussion for Hadith Studies Sesi TerakhirHari/Tanggal: Rabu, 10 December 2025 / 20.00 - 22.00Temp...
10/12/2025

Ikuti The Roundtable Discussion for Hadith Studies Sesi Terakhir

Hari/Tanggal:
Rabu, 10 December 2025 / 20.00 - 22.00

Tempat:
Zoom (link muncul setelah mengisi gform)

Pembicara:
Dr. Nebil Husayn (Associate Professor University of Miami)

Moderator:
Izzah Farhatin Ilmi

Tema:
Opposing the Imam: The Legacy of The Nawasib in Islamic Literature

Bahasa yang Digunakan: Inggris

Nebil Ahmad Husayn menulis disertasi soal bagaimana gambaran Ali bin Abi Thalib dalam perspektif orang Sunni awal. Judul disertasinya, The Memory of Ali b. Abi Talib in Early Sunni Thought (2016).

Nebil sangat mengagumi Patricia Crone dan Shahab Ahmed. Waktu pertama kali ingin nulis proposal disertasi ini, terkait gimana gambaran Ali bin Abi Thalib di kalangan Utsmaniyyah, Patricia berseloroh, "Ya sudah pasti mereka nggak s**a Ali".

Disertasi Nebil di Princeton University ini kemudian diterbitkan Cambridge University Press tahun 2021, dengan judul, "Opposing the Imam: the Legacy of the Nawasib in Islamic Literature.

Ada banyak temuan menarik dalam karya ini. Salah satunya ngeliat gimana kontribusi ahli hadis dalam merehabilitasi narasi buruk tentang Ahli yang digambarkan oleh Utsmaniyyah, kelompok yang tidak mengakui Ali sebagai khalifah, atau Umayyad, atau bisa juga dikatakan kelompok nawasib, kelompok yang tidak terlalu s**a Ali.

Jadi narasi yang kita kenal, tentang urutan 4 Khilafah dalam tradisi sunni: Abu Bakar, Umar. Utsman, dan Ali, sebetulnya baru muncul belakangan. Sebelumnya, otoritas Ali sebagai khilafah keempat masih kabur, banyak ditolak. Sehingga pasca Ali wafat. Khususnya masa dinasti umayyah, gambaran tentang Ali buruk sekali dalam beberapa riwayat.

Ulama hadis sunni termasuk kelompok yang berjasa dalam memperbaiki gambaran buruk ini, dalam bahasa Nebil, merehabilitasi. Nebil menjelaskan metode-metode apa saja yang dilakukan oleh ulama hadis, di antaranya menolak riwayat-riwayat yang menghina dan memburukkan Ali, termasuk juga mengubah, menyamarkan, atau menghapus redaksi hadi2 shahih yang menghina Ali. Sehingga setelah diedit, pembaca tetap paham hadis itu, sehingga tidak tau kalau yang dimaksud dalam hadis itu adalah Ali.

Penerimaan Ali sebagai khalifah keempat, singkatnya tak terlepas dari kontribusi ahli hadis sunni. Tidak hanya, merehabilitasi Ali, ahli hadis juga memperbaiki citra Muawiyah. Sehingga riwayat2 yang menghina Muawiyah, juga diperbaiki dengan metode serupa. Hal ini sebagai bentuk konsekuensi dari pandangan Ulama hadis yang menyatakan kulllu shahabah udul (setiap sahahabat adil), sehingga riwayatnya diterima.

Bagi teman-teman yang tertarik mengikuti diskusi ini silahkan daftar di link ini, dan link zoom akan dikirim melalui email yang didaftarkan. Karena ini sesi diskusi terakhir, dari panitia memutuskan untuk dibuka ke publik dan free.

https://bit.ly/roundtablediscussionsesiakhir

Karena format acaranya tanya jawab, silahkan tonton video berikut ini terlebih dahulu sebelum mengikuti diskusi:

https://www.youtube.com/watch?v=_r8MjntsTsM&authuser=0https://www.youtube.com/watch?v=_r8MjntsTsM&authuser=0

Caught Between Three Fires: Menelusuri Jejak Penghulu dari Masa Kerajaan hingga KolonialPenulis Elvi Farhati -7 Desember...
09/12/2025

Caught Between Three Fires: Menelusuri Jejak Penghulu dari Masa Kerajaan hingga Kolonial
Penulis Elvi Farhati -7 Desember

BincangSyariah.Com– Mengutip buku Caught Between Three Fires; Penghulu di Masa Kolonial Belanda (1882–1942), tradisi Jawa mempercayai bahwa ketaatan beragama adalah benteng yang menjaga rakyat dari ancaman kejahatan, sebuah fondasi spiritual yang memungkinkan umat menjalankan ibadah dengan khusyuk demi terciptanya berkah dan kesejahteraan.

Pada saat berkembangnya awal Islam di Nusantara, khususnya dalam konteks pulau Jawa masih berbentuk sejumlah kerajaan, keyakinan ini menempatkan penghulu sebagai figur sentral dalam merawat harmoni, bukan sekadar pejabat agama, tetapi penjaga keseimbangan antara ajaran, tatanan sosial, dan legitimasi kekuasaan. Bagi raja, stabilitas kerajaan berakar pada keteguhan iman, dan penghulu adalah jembatan yang mempertahankan keseimbangan dalam keseharian rakyat.

Komitmen kerajaan Jawa dalam menjaga keseimbangan antara ketaatan beragama dengan keteraturan tatanan sosial terlihat dari terbentuknya struktur administrasi keagamaan. Hal ini menjadi landasan utama berdirinya Pangulon sebagai lembaga atau kantor sebagai wadah penghulu untuk menjaga harmoni antara makrokosmos dan mikrokosmos.

Performa penghulu dalam struktur administrasi keagamaan didukung dengan hak khusus yang diberikan oleh kerajaan, yakni tanah yang diserahkan kepada pejabat agama tujuannya untuk agar mereka cukup kuat secara finansial, sehingga bisa memaksimalkan pelayanan keagamaan.

Fasilitas seperti tanah yang diberikan oleh kerajaan untuk para pejabat agama bukan keputusan sembarangan. Fasilitas ini memang pantas didapatkan, karena peran penghulu bukan sekedar menjadi alim yang paham ajaran Islam saja. Raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi kala itu, mendelegasikan sebagian kewenangannya kepada patih, adipati, dan penghulu.

Mereka berperan sebagai penasihat dan kerap kali membantu Sultan mengambil keputusan. Maka dari itu, latar belakang penghulu menjadi sangat penting, jabatan penghulu harus diisi oleh kalangan pelajar yang menguasai ilmu agama dan berada di tingkat kesalehan yang tinggi.

Sebagai penghulu penguasaan ilmu keagamaan dan kesalehan tingkat tinggi memang sangat relevan dengan kebutuhan sosial masyarakat kala itu. Di tingkat tatanan sosial masyarakat, penghulu sebagai pengambil keputusan dengan cakupan yang lebih luas. Penghulu merupakan tingkatan tertinggi dari jabatan agama.

Penghulu memiliki tugas-tugas yang langsung bersinggungan dengan masyarakat seperti, warisan (perkara wasiat), memutuskan hukuman mati, ahli astronomi, ahli kitab-kitab agama, imam masjid besar, khatib, dan guru agama.

Layaknya seorang dokter, penghulu memiliki keahlian yang secara langsung memberikan ruang bagi dirinya untuk mendiagnosa dan menjatuhkan vonis terhadap kondisi sosial masyarakat. Dengan demikian, peran penghulu melampaui domain ritual, ia menjadi aktor kunci dalam proses legitimasi politik, stabilitas sosial, dan pemeliharaan tatanan kerajaan.

Apa rahasia stabilitas Kerajaan Jawa? Buku ini menyingkap peran sentral Penghulu sebagai jembatan antara Tuhan, Raja, dan Rakyat. Kupas selengkapnya dalam buku “Caught Between Three Fires: Penghulu di Masa Kolonial Belanda (1882–1942)”.

Bagi pembaca yang ingin menelusuri lebih jauh perjalanan sejarah kepenghuluan dan dilema otoritas Islam di era Hindia Belanda, buku tersebut dapat diperoleh melalui tautan berikut:

https://bit.ly/preordersejarahpenghuluprofhisyam

Dari Qadhi Menjadi Ambtenaar: Ketika Penghulu Masuk ke Birokrasi Kolonial Hindia BelandaPenulis Elvi Farhati -6 Desember...
09/12/2025

Dari Qadhi Menjadi Ambtenaar: Ketika Penghulu Masuk ke Birokrasi Kolonial Hindia Belanda

Penulis Elvi Farhati -6 Desember 2025

BincangSyariah.Com– Pada masa kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, jabatan penghulu pada awalnya berakar dari peran klasik seorang qadhi, yakni ahli fikih yang bertanggung jawab atas peradilan dan hukum agama. Kedudukan ini tumbuh seiring menguatnya pengaruh Islam di Jawa, yang tidak hanya merasuk ke ranah ibadah, tetapi juga mengatur tata kehidupan sosial, politik, hingga perdagangan.

Di tengah perkembangan itu, kerajaan-kerajaan Islam di Jawa membutuhkan struktur administrasi keagamaan yang rapi. Maka lahirlah institusi pangulon, sebuah lembaga yang mengintegrasikan hukum Islam ke dalam sistem pemerintahan kerajaan.

Pangulon tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keagamaan yang mengurusi ritual. Dari sudut pandang politik, penghulu memegang peran yang sangat strategis—mereka menjadi penjaga harmoni sosial sekaligus sumber legitimasi spiritual bagi kekuasaan raja. Dengan otoritas agama yang dihormati masyarakat, posisi penghulu merupakan salah satu tiang penegak stabilitas kerajaan.

Namun situasi itu berubah drastis setelah kolonial Belanda menguasai Jawa. Pemerintah kolonial mengubah status penghulu menjadi ambtenaar—pegawai negeri di bawah kontrol langsung administrasi Belanda. Kebijakan ini bukan sekadar perubahan struktur jabatan, tetapi strategi politik: memutus hubungan erat antara ulama, hukum Islam, dan kekuasaan lokal agar potensi perlawanan dapat ditekan.

Hukum Islam diposisikan sebagai hukum kelas dua dibandingkan hukum kolonial dan hukum adat yang diutamakan oleh pemerintah. Karena harus tunduk pada hukum Hindia Belanda, segala proses hukum Islam dipaksa melewati mekanisme integrasi kolonial.

Hal ini menciptakan “erosi otoritas” bagi penghulu, yang semula merupakan hakim agama yang berdaulat di lingkungan kerajaan. Kolonial Belanda kemudian membatasi yurisdiksi pengadilan Islam hanya pada perkara-perkara tertentu, sementara hukum adat dan hukum kolonial diberi ruang yang lebih luas dan kuat.

Meski demikian, pangulon secara kelembagaan tetap dibiarkan berkembang di seluruh Jawa dan Madura. Sikap ambivalen ini menunjukkan bahwa pemerintah kolonial melihat kepenghuluan sebagai instrumen administratif yang penting.

Penghulu dimanfaatkan untuk mencatat pernikahan, mengurus perceraian, mengelola ritual keagamaan, serta menjalankan urusan administratif lain yang menyangkut umat Islam. Dengan kata lain, penghulu tetap dibutuhkan, tetapi dalam posisi yang sepenuhnya terkendali.

Peneliti hukum Islam, Daniel S. Lev, menegaskan bahwa kebijakan kolonial sengaja membatasi peran politik penghulu dalam formalisasi hukum Islam. Dengan menjadikan mereka bagian dari birokrasi ambtenaar, pemerintah kolonial dapat mengawasi otoritas keagamaan dan mereduksi potensi resistensi ulama yang selama ini memiliki pengaruh luas di masyarakat.

Pada titik inilah muncul pertanyaan penting: apa sebenarnya eksistensi pangulon di mata kolonial Belanda? Apakah penghulu masih dapat disebut sebagai qadhi, hakim agama yang berdaulat, atau sekadar birokrat yang terkungkung dalam aturan kolonial?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dibahas secara mendalam oleh Prof. Muhamad Hisyam dalam karyanya Caught Between Three Fires: Penghulu di Masa Kolonial Belanda (1882–1942), sebuah studi komprehensif mengenai tarik-menarik otoritas, politik hukum, dan posisi sosial penghulu di bawah pemerintahan kolonial.

Buku ini, diterjemahkan oleh Dedi Slamet Riyadi dan dieditori Muhammad Syafaat, menjadi rujukan utama bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana hukum Islam “bertahan” di tengah tekanan kolonial.

Bagi pembaca yang ingin menelusuri lebih jauh perjalanan sejarah kepenghuluan dan dilema otoritas Islam di era Hindia Belanda, buku tersebut dapat diperoleh melalui tautan berikut:

https://bit.ly/preordersejarahpenghuluprofhisyam

Address

Ciputat
Ciputat

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when El-Bukhari Institute posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to El-Bukhari Institute:

Share