09/12/2025
Caught Between Three Fires: Menelusuri Jejak Penghulu dari Masa Kerajaan hingga Kolonial
Penulis Elvi Farhati -7 Desember
BincangSyariah.Com– Mengutip buku Caught Between Three Fires; Penghulu di Masa Kolonial Belanda (1882–1942), tradisi Jawa mempercayai bahwa ketaatan beragama adalah benteng yang menjaga rakyat dari ancaman kejahatan, sebuah fondasi spiritual yang memungkinkan umat menjalankan ibadah dengan khusyuk demi terciptanya berkah dan kesejahteraan.
Pada saat berkembangnya awal Islam di Nusantara, khususnya dalam konteks pulau Jawa masih berbentuk sejumlah kerajaan, keyakinan ini menempatkan penghulu sebagai figur sentral dalam merawat harmoni, bukan sekadar pejabat agama, tetapi penjaga keseimbangan antara ajaran, tatanan sosial, dan legitimasi kekuasaan. Bagi raja, stabilitas kerajaan berakar pada keteguhan iman, dan penghulu adalah jembatan yang mempertahankan keseimbangan dalam keseharian rakyat.
Komitmen kerajaan Jawa dalam menjaga keseimbangan antara ketaatan beragama dengan keteraturan tatanan sosial terlihat dari terbentuknya struktur administrasi keagamaan. Hal ini menjadi landasan utama berdirinya Pangulon sebagai lembaga atau kantor sebagai wadah penghulu untuk menjaga harmoni antara makrokosmos dan mikrokosmos.
Performa penghulu dalam struktur administrasi keagamaan didukung dengan hak khusus yang diberikan oleh kerajaan, yakni tanah yang diserahkan kepada pejabat agama tujuannya untuk agar mereka cukup kuat secara finansial, sehingga bisa memaksimalkan pelayanan keagamaan.
Fasilitas seperti tanah yang diberikan oleh kerajaan untuk para pejabat agama bukan keputusan sembarangan. Fasilitas ini memang pantas didapatkan, karena peran penghulu bukan sekedar menjadi alim yang paham ajaran Islam saja. Raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi kala itu, mendelegasikan sebagian kewenangannya kepada patih, adipati, dan penghulu.
Mereka berperan sebagai penasihat dan kerap kali membantu Sultan mengambil keputusan. Maka dari itu, latar belakang penghulu menjadi sangat penting, jabatan penghulu harus diisi oleh kalangan pelajar yang menguasai ilmu agama dan berada di tingkat kesalehan yang tinggi.
Sebagai penghulu penguasaan ilmu keagamaan dan kesalehan tingkat tinggi memang sangat relevan dengan kebutuhan sosial masyarakat kala itu. Di tingkat tatanan sosial masyarakat, penghulu sebagai pengambil keputusan dengan cakupan yang lebih luas. Penghulu merupakan tingkatan tertinggi dari jabatan agama.
Penghulu memiliki tugas-tugas yang langsung bersinggungan dengan masyarakat seperti, warisan (perkara wasiat), memutuskan hukuman mati, ahli astronomi, ahli kitab-kitab agama, imam masjid besar, khatib, dan guru agama.
Layaknya seorang dokter, penghulu memiliki keahlian yang secara langsung memberikan ruang bagi dirinya untuk mendiagnosa dan menjatuhkan vonis terhadap kondisi sosial masyarakat. Dengan demikian, peran penghulu melampaui domain ritual, ia menjadi aktor kunci dalam proses legitimasi politik, stabilitas sosial, dan pemeliharaan tatanan kerajaan.
Apa rahasia stabilitas Kerajaan Jawa? Buku ini menyingkap peran sentral Penghulu sebagai jembatan antara Tuhan, Raja, dan Rakyat. Kupas selengkapnya dalam buku “Caught Between Three Fires: Penghulu di Masa Kolonial Belanda (1882–1942)”.
Bagi pembaca yang ingin menelusuri lebih jauh perjalanan sejarah kepenghuluan dan dilema otoritas Islam di era Hindia Belanda, buku tersebut dapat diperoleh melalui tautan berikut:
https://bit.ly/preordersejarahpenghuluprofhisyam