Yayasan Satipatthana Indonesia

Untuk dana makanan untuk Sayadaw, Sayalay, para Yogi/ dana transport/dana sukarela untuk operasional pelaksanaan dapat disalurkan melalui rekening BCA, Sunter, Jakarta, atas nama Yayasan Satipatthana Indonesia :428.175.9978. (Mohon info ke Sekretariat Yasati +62 877-2002-1755, dimana akan dikeluarkan SPD resmi dari Yasati) . Terima kasih banyak atas dukungan untuk melestarikan Buddha Sasana di Indonesia.

KONSEP “AVIJJĀ NĪVARAṆAṂ, TAṆHĀ SAṂYOJANAṂ” DAN SIKLUS SAṂSĀRA“Kebodohan batin adalah penghalang, dan kehausan (nafsu ke...
11/08/2026

KONSEP “AVIJJĀ NĪVARAṆAṂ, TAṆHĀ SAṂYOJANAṂ” DAN SIKLUS SAṂSĀRA

“Kebodohan batin adalah penghalang, dan kehausan (nafsu keinginan) adalah belenggu.”

Dalam khotbah-khotbah yang diajarkan oleh Buddha, khususnya dalam Anamatagga Saṃyutta dari Saṃyutta Nikāya, penyebab utama yang membuat makhluk terus-menerus mengembara dalam siklus kehidupan (Saṃsāra) dijelaskan secara mendalam melalui ungkapan:

“Avijjā nīvaraṇaṃ, taṇhā saṃyojanaṃ.”
“Kebodohan batin adalah penghalang, dan kehausan adalah belenggu.”

1. Avijjā — Kebodohan Batin sebagai Penghalang

Avijjā bukan sekadar ketidaktahuan terhadap pengetahuan umum, melainkan ketidaktahuan mendasar terhadap Empat Kesunyataan Mulia (Cattāri Ariya Saccāni).

Avijjā diklasifikasikan sebagai Nīvaraṇa, yaitu penghalang atau rintangan, karena menghalangi munculnya cahaya kebijaksanaan.

Avijjā bekerja seperti penutup mata yang tebal atau selubung kegelapan yang menutupi mata batin. Akibatnya, makhluk memiliki pandangan yang keliru terhadap realitas, misalnya:

* menganggap sesuatu yang tidak kekal (anicca) sebagai kekal;
* menganggap sesuatu yang dukkha sebagai kebahagiaan;
* menganggap sesuatu yang tanpa-aku (anatta) sebagai “aku” atau “diriku”.

Dengan demikian, Avijjā menghalangi makhluk untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.

2. Taṇhā — Kehausan sebagai Belenggu

Taṇhā adalah kehausan, nafsu keinginan, atau dorongan yang tidak pernah terpuaskan terhadap kesenangan indria dan keberadaan.

Taṇhā berfungsi sebagai Saṃyojana, yaitu belenggu atau ikatan.

Ia seperti tali yang sangat kuat yang mengikat makhluk erat-erat pada roda Saṃsāra, sehingga mereka terus terikat pada keberadaan dan tidak mampu membebaskan diri.

Selama masih terdapat Taṇhā, terdapat keinginan untuk memperoleh, mempertahankan, mengalami, atau menjadi sesuatu.

3. Mekanisme Siklus Saṃsāra

Kedua unsur ini menjadi akar penting yang menggerakkan roda Paṭiccasamuppāda (Kemunculan Bergantungan) dan mempertahankan kesinambungan kelahiran kembali.

Avijjā Menutupi Cahaya Kebijaksanaan

Karena kebenaran sejati tertutup oleh Avijjā, makhluk tidak mampu melihat sifat dukkha yang melekat pada lima kelompok kemelekatan (Upādānakkhandhā).

Mereka tidak memahami bahwa apa pun yang muncul karena kondisi adalah tidak kekal, mengalami perubahan, dan tidak dapat dijadikan sebagai “aku” atau “milikku”.

Taṇhā Memberikan Tarikan

Karena tidak melihat kebenaran sebagaimana adanya, makhluk menikmati dan melekat pada keberadaan jasmani dan pengalaman indria.

Muncullah kehausan yang terus-menerus:

ingin mendapatkan lebih banyak, ingin mempertahankan yang ada, dan ingin terus mengalami keberadaan.

Dengan demikian, Avijjā menutupi kebenaran, sedangkan Taṇhā menarik makhluk kembali kepada objek-objek kemelekatan.

Perjalanan yang Tidak Berkesudahan

Mekanisme ini dapat diumpamakan seperti seekor sapi yang matanya ditutup dan diikat pada sebuah tiang kayu dengan tali yang kuat.

* Sapi yang matanya ditutup melambangkan Avijjā.
* Tali yang mengikatnya melambangkan Taṇhā.
* Tiang tempat ia terikat melambangkan keterikatan pada Saṃsāra.

Sebagaimana sapi tersebut terus berputar mengelilingi tiang karena tidak dapat melihat jalan keluar, demikian p**a makhluk yang terhalang oleh Avijjā dan terbelenggu oleh Taṇhā terus mengembara dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya:

“Sandhāvataṃ saṃsarataṃ”
“terus berlari dan mengembara dalam Saṃsāra.”

Kesimp**an

Selama Avijjā masih menutupi batin dan Taṇhā masih mengikat makhluk, seseorang tidak dapat terbebas dari penderitaan Saṃsāra.

Siklus tersebut berakhir ketika kedua akar penyebab ini sepenuhnya dicabut melalui realisasi langsung kebijaksanaan Jalan Mulia (Magga Ñāṇa) yang berkembang melalui praktik Vipassanā.

Dengan demikian, pembebasan bukan sekadar memahami bahwa Saṃsāra adalah penderitaan, tetapi melalui penembusan langsung terhadap sebab-sebab yang mempertahankannya.



AKAR PENYEBAB SAṂSĀRA:

KEBODOHAN BATIN DAN KEHAUSAN

Ajaran mendalam:

“Avijjā nīvaraṇaṃ, taṇhā saṃyojanaṃ.”
“Kebodohan batin adalah penghalang, dan kehausan adalah belenggu.”

merangkum dengan sangat tepat mekanisme fundamental Paṭiccasamuppāda (Kemunculan Bergantungan).

Pada intinya, ajaran ini menjelaskan bahwa Avijjā merupakan penghalang, sedangkan Taṇhā merupakan belenggu.

Dalam siklus Saṃsāra yang tanpa awal yang dapat diketahui, Avijjā berfungsi sebagai Nīvaraṇa yang mendalam—seperti penutup mata yang menyembunyikan realitas sejati Empat Kesunyataan Mulia dari pandangan batin.

Pada saat yang sama, Taṇhā, yaitu kehausan atau nafsu keinginan yang tidak pernah terpuaskan, berfungsi sebagai Saṃyojana, suatu belenggu yang mengikat makhluk pada kesenangan indria dan keberadaan yang berulang.

Akibatnya, makhluk yang terhalang oleh Avijjā dan terbelenggu oleh Taṇhā terus mengembara dalam siklus kelahiran kembali, terikat erat pada roda kehidupan.

Selama kedua akar penyebab ini belum sepenuhnya dicabut, roda Saṃsāra akan terus berputar.

Namun ketika Avijjā dihancurkan oleh kebijaksanaan dan Taṇhā ditinggalkan melalui penembusan Empat Kesunyataan Mulia, maka sebab yang mempertahankan siklus tersebut tidak lagi memiliki kekuatan untuk melanjutkan Saṃsāra.

Dhammaratana Sayādaw
Āsabhācāra
12 Agustus 2026

PERUMPAMAAN JEJAK KAKI GAJAH: LUASNYA CAKUPAN EMPAT KESUNYATAAN MULIA(Mahāhatthipādopama Sutta – MN 28)“Hatthipādopama” ...
11/08/2026

PERUMPAMAAN JEJAK KAKI GAJAH: LUASNYA CAKUPAN EMPAT KESUNYATAAN MULIA

(Mahāhatthipādopama Sutta – MN 28)

“Hatthipādopama” (Hatthi = gajah + pāda = jejak kaki + opama = perumpamaan) adalah sebuah khotbah yang menggunakan perumpamaan jejak kaki gajah untuk menjelaskan secara luas Empat Kesunyataan Mulia (Cattāri Ariya Saccāni) dan secara khusus Kesunyataan Mulia tentang Dukkha (Dukkha Sacca).

1. Referensi

Khotbah ini tercatat dalam Majjhima Nikāya, Mūlapaṇṇāsa Pāḷi, Opammavagga, sebagai Mahāhatthipādopama Sutta — Khotbah Agung tentang Perumpamaan Jejak Kaki Gajah (MN 28).

Khotbah ini disampaikan oleh Yang Mulia Sāriputta kepada komunitas para bhikkhu.

2. Perumpamaan Jejak Kaki Gajah

Yang Mulia Sāriputta memulai khotbahnya dengan sebuah perumpamaan yang sangat kuat:

Sebagaimana jejak kaki semua hewan yang berjalan dapat tercakup di dalam jejak kaki seekor gajah, dan jejak kaki gajah dianggap sebagai yang terbesar karena ukurannya yang sangat luas,

demikian p**a semua dhamma yang bajik (kusalā dhammā) tercakup di dalam Empat Kesunyataan Mulia (Ariya Sacca).

Empat Kesunyataan Mulia merupakan kerangka utama yang mencakup dan merangkum keseluruhan ajaran Buddha.

3. Hubungan Mendalam dengan Dukkha Sacca

Setelah menjelaskan luasnya cakupan Empat Kesunyataan Mulia, Yang Mulia Sāriputta kemudian secara khusus menganalisis Kesunyataan Mulia tentang Dukkha (Dukkha Sacca).

Lima Kelompok Kemelekatan

(Upādānakkhandhā)

Beliau menjelaskan bahwa, secara singkat, dukkha adalah lima kelompok kehidupan yang menjadi objek kemelekatan, yaitu:

* Rūpa — jasmani/materi
* Vedanā — perasaan
* Saññā — persepsi/pencerapan
* Saṅkhārā — bentukan-bentukan pikiran
* Viññāṇa — kesadaran

Kelima kelompok ini disebut Upādānakkhandhā, yaitu kelompok-kelompok yang menjadi objek kemelekatan.

Empat Unsur Dasar

(Mahābhūta)

Selanjutnya, Yang Mulia Sāriputta menganalisis kelompok jasmani (Rūpūpādānakkhandha) secara lebih mendalam dengan menguraikannya menjadi Empat Unsur Dasar (Mahābhūta):

* Paṭhavī-dhātu — unsur tanah
* Āpo-dhātu — unsur air
* Tejo-dhātu — unsur api
* Vāyo-dhātu — unsur udara/angin

Dengan demikian, jasmani tidak lagi dipandang sebagai suatu “diri” atau “aku”, melainkan sebagai perpaduan berbagai unsur yang muncul dan lenyap berdasarkan kondisi.

Ketidakkekalan dan Tanpa-Aku

(Anicca dan Anatta)

Yang Mulia Sāriputta kemudian menunjukkan bahwa bahkan Empat Unsur Dasar yang berada di luar tubuh (bahiddhā)—seperti bumi yang sangat luas, api yang besar, atau lautan yang sangat luas—pada akhirnya juga mengalami kehancuran dan perubahan.

Jika unsur-unsur eksternal yang begitu besar dan luas saja bersifat anicca (tidak kekal), maka tidak ada alasan untuk melekat pada tubuh internal yang kecil dan sementara ini dengan taṇhā (kehausan/nafsu keinginan), māna (kesombongan atau keakuan), ataupun diṭṭhi (pandangan salah), dengan berpikir:

“Ini milikku; ini aku; ini adalah diriku.”
(Etaṃ mama, esohamasmi, eso me attā.)

Dengan pengamatan yang benar, seseorang melihat bahwa tubuh ini hanyalah proses alamiah dari unsur-unsur yang terus berubah, bukan suatu diri yang kekal dan dapat dimiliki.

Kesimp**an

Mahāhatthipādopama Sutta menggunakan perumpamaan jejak kaki gajah untuk menunjukkan betapa luas dan menyeluruhnya cakupan Empat Kesunyataan Mulia.

Kemudian, melalui analisis terhadap lima kelompok kemelekatan dan khususnya Empat Unsur Dasar, Sutta ini memberikan landasan yang sangat mendalam bagi praktik Vipassanā.

Seorang meditator diarahkan untuk mengamati jasmani dan batin sebagaimana adanya, memahami sifat anicca (tidak kekal), dukkha (tidak memuaskan), dan anatta (tanpa-aku), sehingga kemelekatan terhadap apa yang dianggap sebagai “milikku”, “aku”, dan “diriku” dapat ditinggalkan.

Dengan demikian, pemahaman terhadap Dukkha Sacca bukan sekadar pemahaman intelektual, tetapi merupakan proses pariññā — pemahaman menyeluruh dan penembusan terhadap apa yang harus dipahami, sebagai bagian dari pelaksanaan tugas terhadap Kesunyataan Mulia.

Dhammaratana Sayādaw
Āsabhācāra
11 Agustus 2026

Selamat siang semua teman-teman seDhamma, sukhi hontu 🙏🏼 saya dari tim Yasati Youth (YY) di Yasati, ingin mengabarkan ba...
06/08/2026

Selamat siang semua teman-teman seDhamma, sukhi hontu 🙏🏼 saya dari tim Yasati Youth (YY) di Yasati, ingin mengabarkan bahwa YY akan mengadakan kegiatan YoGa (Youth Gathering), untuk peserta usia 14-18 tahun, hari Minggu tanggal 9 Agustus pukul 9.00-12.00 WIB, di City Center (Kalideres).

Di kegiatan ini, peserta akan bersama-sama dengan pengurus YY bermeditasi dan berdiskusi/sharing Dhamma. Dan kedepannya kita ingin mengadakan kegiatan ini setiap 2 minggu sekali.

Tujuan YY mengadakan kegiatan ini adalah untuk menyediakan space/wadah bagi remaja-remaja untuk mempraktekkan Dhamma, dan bersama dengan kalyanamitta saling mendukung dalam menjalani kehidupan sesuai ajaran Buddha.

Mungkin koko/cici/teman-teman ada anak atau saudara yang bisa diajak untuk ikut dalam kegiatan ini; silakan mengisi formulir di link ini:

https://forms.gle/fg1kUVv6c5NRzCiK6

nanti kami akan buatkan grup WA terpisah untuk peserta-peserta yg akan ikut baik untuk kali ini atau kali-kali ke depannya.

Terima kasih, Buddha-sāsanam ciraṁ tiṭṭhatu. Sādhu sādhu sādhu 🙏🏼

Selamat siang semua teman-teman seDhamma, sukhi hontu 🙏🏼 saya dari tim Yasati Youth (YY) di Yasati, ingin mengabarkan ba...
06/08/2026

Selamat siang semua teman-teman seDhamma, sukhi hontu 🙏🏼 saya dari tim Yasati Youth (YY) di Yasati, ingin mengabarkan bahwa YY akan mengadakan kegiatan YoGa (Youth Gathering), untuk peserta usia 14-18 tahun, hari Minggu tanggal 9 Agustus pukul 9.00-12.00 WIB, di City Center (Kalideres).

Di kegiatan ini, peserta akan bersama-sama dengan pengurus YY bermeditasi dan berdiskusi/sharing Dhamma. Dan kedepannya kita ingin mengadakan kegiatan ini setiap 2 minggu sekali.

Tujuan YY mengadakan kegiatan ini adalah untuk menyediakan space/wadah bagi remaja-remaja untuk mempraktekkan Dhamma, dan bersama dengan kalyanamitta saling mendukung dalam menjalani kehidupan sesuai ajaran Buddha.

Mungkin koko/cici/teman-teman ada anak atau saudara yang bisa diajak untuk ikut dalam kegiatan ini; silakan mengisi formulir di link ini:

https://forms.gle/fg1kUVv6c5NRzCiK6

nanti kami akan buatkan grup WA terpisah untuk peserta-peserta yg akan ikut baik untuk kali ini atau kali-kali ke depannya.

Terima kasih, Buddha-sāsanam ciraṁ tiṭṭhatu. Sādhu sādhu sādhu 🙏🏼

"Good spiritual friendship, good companionship, and good comradeship are the WHOLE of the holy life." "Pertemanan spiritual yang baik dan persahabatan yang baik adalah KESELURUHAN dari kehidupan suci." - Buddha kepada YM Bhante Ānanda, Upaḍḍha Sutta, Saṁyutta Nikāya 45.2. Halo, kalyanamitta!...

📜🧘🏻‍♂️‍🧘🏻‍♀️‍🪔Yayasan Satipatthana Indonesia akan menyelenggarakan Introduction Satipatthana atau INSATIdi ISMC JakartaG...
06/08/2026

📜🧘🏻‍♂️‍🧘🏻‍♀️‍🪔

Yayasan Satipatthana Indonesia akan menyelenggarakan Introduction Satipatthana atau INSATI
di ISMC Jakarta

Guru Pembimbing:

YM. Bhante Sumanananda

Jadwal INSATI

Sabtu - Minggu, tanggal 15 - 16 dan 29 - 30 Agustus 2026
Hari ke 1 : 08.00 - 21.15 WIB
Hari ke 2 : 04.00 - 16.00 WIB

Pendaftaran Retret melalui :
https://appyasati.cloud/daftar

Syarat dan Ketentuan :

- Peserta memiliki kesehatan mental dan fisik yang baik,
- Batasan usia untuk yogi baru adalah 19 - 60 tahun.

Informasi lebih lanjut di :
0877 2020 9100

Mettacittena,
ISMC - Jakarta
Perum Citra Garden 1 Ext Blok AA 1/1 Kalideres
Jakarta Barat

Partisipasi Dana :
BCA
a.n. Yayasan Satipatthana Indonesia
rek. no. 428 175 9978

Terima kasih

Tiga Jenis Vipassanā* Saṅkhārapariggahaṇa Vipassanā (atau Maggavuṭṭhānagāminī Vipassanā)* Phalasamāpatti Vipassanā* Niro...
05/08/2026

Tiga Jenis Vipassanā

* Saṅkhārapariggahaṇa Vipassanā (atau Maggavuṭṭhānagāminī Vipassanā)
* Phalasamāpatti Vipassanā
* Nirodhasamāpatti Vipassanā

Penjelasan Terperinci

Saṅkhārapariggahaṇa Vipassanā (atau Maggavuṭṭhānagāminī Vipassanā)

Ini adalah praktik Vipassanā yang mendasar, dilakukan sebelum tercapainya Pengetahuan Jalan (Magga Ñāṇa) dan Pengetahuan Buah (Phala Ñāṇa). Praktik ini mencakup pengamatan terhadap bentukan-bentukan jasmani dan batin (rūpa dan nāma saṅkhāra) melalui tiga corak universal, yaitu ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha), dan tanpa diri (anatta).

Karena proses perenungan ini mengarah pada munculnya Jalan Mulia (Ariya Magga), maka praktik ini juga disebut Maggavuṭṭhānagāminī Vipassanā (“Vipassanā yang mengantarkan menuju munculnya Jalan”).

Phalasamāpatti Vipassanā

Ini adalah Vipassanā yang dipraktikkan oleh Para Ariya ketika mereka ingin memasuki Pencapaian Buah (Phala Samāpatti) dan mengalami kebahagiaan Pembebasan melalui Buah tersebut. Untuk memasuki Phala Samāpatti, mereka kembali merenungkan bentukan-bentukan jasmani dan batin melalui tiga corak universal: anicca, dukkha, dan anatta.

Nirodhasamāpatti Vipassanā

Ketika seorang Anāgāmī (Yang-Tidak-Kembali-Lagi) atau Arahat ingin memasuki Pencapaian Lenyapnya Persepsi dan Perasaan (Nirodha Samāpatti), ia terlebih dahulu memasuki jhāna-jhāna materi halus (rūpa jhāna) dan jhāna-jhāna tanpa materi (arūpa jhāna) secara berurutan.

Setelah keluar dari setiap jhāna tersebut, ia merenungkan keadaan jhāna yang baru dialami melalui tiga corak universal: anicca, dukkha, dan anatta. Perenungan khusus inilah yang disebut Nirodhasamāpatti Vipassanā.

Referensi

Proses dan terminologi dari ketiga jenis Vipassanā ini dapat dipelajari dalam kitab-kitab Theravāda berikut:

Visuddhimagga (Jalan Pemurnian)

* Paññābhāvanā Niddesa: Bab yang menjelaskan secara bertahap praktik Vipassanā untuk mencapai Pengetahuan Jalan (Magga Ñāṇa) dan Pengetahuan Buah (Phala Ñāṇa).
* Nirodhasamāpattikathā: Bagian yang secara khusus menguraikan langkah-langkah praktik gabungan Samatha dan Vipassanā yang diperlukan untuk memasuki Nirodha Samāpatti.

Abhidhammattha Saṅgaha (Ringkasan Menyeluruh Abhidhamma)

* Kammaṭṭhānasaṅgaha Vibhāga (Bagian tentang Pokok-Pokok Meditasi): Bab ini menjelaskan secara sistematis tahapan untuk memasuki Phala Samāpatti maupun Nirodha Samāpatti.

Paṭisambhidāmagga

* Ñāṇakathā (Pembahasan tentang Pengetahuan): Bagian ini menguraikan secara mendalam tahapan-tahapan Pengetahuan Pandangan Terang (Vipassanā Ñāṇa), serta proses kesadaran yang berkaitan dengan Jalan (Magga), Buah (Phala), dan berbagai pencapaian meditasi.

Dhammaratana Sayādaw
Āsabhācāra
5 Agustus 2026

Kesempatan mendukung masa Vassa 2026 di ISMC Jakarta & ISMC BakomYasati mengundang Kalyanamitta mendukung kebutuhan poko...
03/08/2026

Kesempatan mendukung masa Vassa 2026 di ISMC Jakarta & ISMC Bakom

Yasati mengundang Kalyanamitta mendukung kebutuhan pokok untuk anggota Sangha selama masa Vassa 2026 . Anggota Sangha yang berdiam di ISMC Jakarta dan di ISMC Bakom .

Dana makanan dan kebutuhan lainnya dapat dipersembahkan di ISMC Jakarta dan Bakom. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kesehatan, transportasi dan akomodasi para anggota Sangha selama menjalani Vassa 2026.

Dana dapat ditransfer ke rekening BCA atas nama
Yayasan Satipatthana Indonesia
No. 428 175 9978
(mohon ditambah angka 3 di belakang jumlah dana yang ditransfer).

Konfirmasi dana ke
Sekretariat Yasati
di WA 0877 2002 1755.

Anumodana atas kedermawanan para Kalyanamitta. 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Semoga parami yang dipupuk ini dapat memberikan kebahagiaan dalam Dhamma dan perlindungan terhindari dari berbagai penyakit serta hal-hal tidak baik.

Sadhu, sadhu, sadhu.

Mettacittena,
ISMC - Jakarta dan Bakom
Yasati

Address

Indonesia Satipatthana Meditation Center (ISMC) Kampung Bakom, Dusun Barulimus, Kelurahan Cikancana, Kecamatan Sukaresmi, Rt 02/Rw. 10, Kabupaten Dati 2, Cianjur
Cianjur
43254

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Satipatthana Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Yayasan Satipatthana Indonesia:

Shortcuts

Share