Yayasan Satipatthana Indonesia

Untuk dana makanan untuk Sayadaw, Sayalay, para Yogi/ dana transport/dana s**arela untuk operasional pelaksanaan dapat disalurkan melalui rekening BCA, Sunter, Jakarta, atas nama Yayasan Satipatthana Indonesia :428.175.9978. (Mohon info ke Sekretariat Yasati +62 877-2002-1755, dimana akan dikeluarkan SPD resmi dari Yasati) . Terima kasih banyak atas dukungan untuk melestarikan Buddha Sasana di Indonesia.

Membangkitkan Pikiran Murni: Perhatian Penuh dan Lima Rintangan Batin” (Sangārava Sutta)(Bagian-3)3. Pikiran yang Bercah...
19/05/2026

Membangkitkan Pikiran Murni: Perhatian Penuh dan Lima Rintangan Batin” (Sangārava Sutta)

(Bagian-3)

3. Pikiran yang Bercahaya & Kekotoran yang Datang Bertamu

Jika kita memperhatikan perumpamaan tentang air dengan saksama, air dalam keadaan alaminya tidak memiliki warna, tidak mendidih, tidak beriak, dan jernih. Air hanya menjadi keruh ketika unsur-unsur luar masuk ke dalamnya.

Di dalam Aṅguttara Nikāya, Buddha bersabda:

“Pabhassaramidaṃ, bhikkhave, cittaṃ. Tañca kho āgantukehi upakkilesehi upakkiliṭṭhaṃ.”
(“Wahai para bhikkhu, pikiran ini bercahaya. Namun ia dikotori oleh kekotoran-kekotoran yang datang dari luar.”)

Pokok-Pokok Penting bagi Para Yogi:

* Pikiran Murni:
Sifat dasar pikiran yang murni dan mengetahui (bhavaṅga) pada hakikatnya jernih dan bercahaya.
* Kekotoran Batin Hanyalah Tamu (Āgantuka):
Kemarahan, keserakahan, kantuk, dan kegelisahan bukanlah penghuni tetap. Mereka hanyalah tamu yang datang dan pergi melewati pikiran.
* Jangan Mengidentifikasikan Diri Dengannya:
Kesalahan terbesar seorang yogi adalah melekat dan menganggapnya sebagai diri. Jangan berpikir, “Saya marah” atau “Saya sedang terganggu.” Pikiran bukanlah kekotoran batin itu sendiri. Ketika kita menyadari bahwa semuanya hanyalah tamu yang datang sementara, maka kekuatannya atas diri kita akan berkurang.



**4. Penerapan Praktis:

Bagaimana Menjernihkan Air**
Jika semangkuk air menjadi keruh, kita tidak bisa menjernihkannya dengan mengaduknya menggunakan tangan. Kita harus membiarkannya tenang. Demikian p**a, seorang yogi seharusnya menghadapi rintangan-rintangan batin yang datang bertamu dengan langkah-langkah berikut:

* Jangan Melawan Air:
Jangan menekan secara paksa. Jangan marah terhadap kemarahan, dan jangan mencoba mengusir pikiran yang mengembara dengan kekerasan. Melawan hanya akan menciptakan lebih banyak “riak.”
* Sambut Para Tamu dengan Perhatian Penuh (Sati):
Cukup sinari tamu tersebut dengan kesadaran. Jika pikiran mengembara, catat secara netral: “mengembara, mengembara.” Jika rasa sakit atau frustrasi muncul, catat: “marah, marah.”
* Biarkan Endapan Mengendap:
Dengan mengamati rintangan-rintangan ini secara sabar dan pasif, kita akan melihat sifat alaminya: muncul lalu lenyap. Jika dibiarkan di bawah pengawasan perhatian penuh, “endapan” itu secara alami akan mengendap sendiri.
* Munculnya Pandangan Terang (Insight):
Ketika rintangan-rintangan mereda, pikiran kembali pada keadaan alaminya yang jernih dan bercahaya (Samādhi). Hanya melalui “air” yang sebening kristal inilah seorang yogi dapat mengembangkan Vipassanā (Pandangan Terang) untuk menembus dengan jelas kebenaran tentang ketidakkekalan (Anicca), penderitaan (Dukkha), dan tanpa-inti diri (Anatta) dalam batin dan jasmani.



Dhammaratana Sayādaw
Āsabhācāra
20 Mei 2026

18/05/2026

“Membangkitkan Pikiran Murni: Perhatian Penuh dan Lima Rintangan Batin”

(Saṅgārava Sutta)
(Bagian-2)

* Kemalasan dan Kelambanan Batin (Thīna-middha):
* Perumpamaan: Air yang sepenuhnya tertutup oleh lumut dan tanaman air.
* Bagi Seorang Yogi:
Ketika pikiran menjadi berat, tumpul, atau mengantuk, kewaspadaan mental pun lenyap. Permukaan batin tertutupi sepenuhnya oleh kelesuan dan stagnasi, sehingga hakikat Dhamma yang sejati tersembunyi di bawahnya.
* Kegelisahan dan Penyesalan (Uddhacca-kukkucca):
* Perumpamaan: Air yang terguncang oleh angin, membentuk riak dan gelombang yang terus-menerus.
* Bagi Seorang Yogi:
Ketika pikiran ditiup ke sana kemari oleh pikiran-pikiran yang tercerai-berai, mengembara ke masa lalu, atau mencemaskan masa depan, pantulan mental menjadi tidak stabil dan terpecah-pecah. Pikiran tidak mampu diam menetap pada objek saat ini.
* Keragu-raguan (Vicikicchā):
* Perumpamaan: Air keruh dan berlumpur yang ditempatkan dalam kegelapan total.
* Bagi Seorang Yogi:
Ketika keraguan skeptis muncul (“Apakah ini metode yang benar?”, “Apakah guru ini benar?”, “Apakah saya sungguh bisa mencapai sesuatu?”), pikiran menjadi gelap dan keruh. Hal ini melumpuhkan seorang yogi dan menghalangi kemajuan di jalan praktik.

 #“Membangkitkan Pikiran Murni: Perhatian Penuh dan Lima Rintangan Batin”(Sangārava Sutta)(Bagian-1)1. Asal Mula:Pertany...
18/05/2026

#“Membangkitkan Pikiran Murni: Perhatian Penuh dan Lima Rintangan Batin”
(Sangārava Sutta)
(Bagian-1)

1. Asal Mula:

Pertanyaan Brahmana Saṅgārava

Brahmana Saṅgārava pernah mendatangi Gautama Buddha dan bertanya:

“Bhante, mengapa terkadang saya tidak dapat mengingat teks-teks yang telah saya hafal selama bertahun-tahun, tetapi di waktu lain saya justru dapat dengan mudah mengingat bahkan teks yang belum pernah saya hafalkan?”

Buddha menjelaskan bahwa ketika pikiran diliputi oleh Lima Rintangan Batin (Nīvaraṇa), pikiran menjadi tertutup dan tidak mampu melihat kenyataan sebagaimana adanya ataupun memahami apa yang benar-benar bermanfaat.

Untuk menggambarkan bagaimana rintangan-rintangan ini mengaburkan pikiran, Sang Buddha menggunakan lima perumpamaan yang kuat tentang air.



2. Lima Rintangan Batin & Perumpamaan Air

(Panduan bagi Seorang Yogi)

Sebagaimana seseorang tidak dapat melihat bayangannya sendiri dengan jelas di air yang terganggu, demikian p**a seorang yogi tidak dapat melihat hakikat sejati dari batin dan jasmani ketika rintangan-rintangan ini hadir.



* Nafsu Indriawi (Kāmacchanda):
* Perumpamaan: Air yang dicampur dengan pewarna berwarna-warni yang mencolok.
* Bagi Seorang Yogi: Ketika pikiran terjerat dalam fantasi tentang pemandangan, suara, atau rasa yang menyenangkan—atau bahkan melekat pada keadaan meditasi yang sangat damai dan membahagiakan—“warna” tersebut mendistorsi kenyataan. Pikiran menjadi diwarnai oleh keinginan dan tidak mampu melihat dengan jernih.



* Kebencian / Kemarahan (Vyāpāda):
* Perumpamaan: Air mendidih yang bergolak di atas api.
* Bagi Seorang Yogi: Ketika bereaksi dengan frustrasi terhadap rasa sakit fisik, suara-suara dari luar, atau bahkan marah pada diri sendiri karena kehilangan fokus, pikiran menjadi “mendidih.” Pikiran yang bergolak dan panas sepenuhnya menghancurkan konsentrasi dan menghalangi munculnya kebijaksanaan batin.



Oleh Dhammaratana Sayadaw U Asabhacara

Foto bersama YM Ashin Kusaladhamma bersama para yogi ODM  Jakarta
17/05/2026

Foto bersama YM Ashin Kusaladhamma bersama para yogi ODM Jakarta

Dasar-Dasar Perbuatan Bajik (Puñña-kiriya-vatthu)(Bagian 3)Pelayanan & Berbagi: Keterhubungan dan Welas AsihPraktik-prak...
16/05/2026

Dasar-Dasar Perbuatan Bajik (Puñña-kiriya-vatthu)

(Bagian 3)

Pelayanan & Berbagi: Keterhubungan dan Welas Asih

Praktik-praktik ini memperluas perhatian praktisi ke luar diri, menyadari keterhubungan semua makhluk dan secara aktif berupaya meningkatkan kesejahteraan spiritual maupun material masyarakat.

* Veyyāvacca (Pelayanan):
Ini berarti mempersembahkan tenaga fisik, waktu, dan keterampilan untuk membantu orang lain. Contohnya termasuk menjadi s**arelawan di vihara, merawat orang sakit, membantu tetangga, atau ikut serta dalam pelayanan masyarakat. Praktik ini meruntuhkan batas antara “diri sendiri” dan “orang lain” dengan menempatkan kebutuhan komunitas sejajar dengan kebutuhan pribadi.
* Pattidāna (Pelimpahan Jasa Kebajikan):
Setelah melakukan suatu kebajikan, seorang praktisi secara batin mendedikasikan energi positif (pahala/kebajikan) yang dihasilkan kepada orang lain—termasuk kerabat yang telah meninggal, makhluk tak kasatmata, atau semua makhluk hidup. Praktik ini memastikan bahwa seseorang tidak “menimbun” karma baik demi kepentingan spiritual pribadi, melainkan memperluas kapasitas hati menuju welas asih tanpa batas.
* Pattānumodanā (Bers**acita atas Kebajikan Orang Lain):
Ini adalah praktik Mudita (simpati s**acita). Ketika orang lain melakukan kebajikan atau memperoleh keberhasilan, turut bergembira atas jasa mereka akan menghancurkan keadaan batin yang beracun seperti iri hati, dengki, dan kebencian.

Pandangan & Kerendahan Hati: Memurnikan Ego dan Pikiran

Dua praktik terakhir berkaitan dengan sikap batin yang halus dan mendalam, yang menentukan bagaimana kita berhubungan dengan dunia dan memahami tempat kita di dalamnya.

* Apacāyana (Penghormatan dan Kerendahan Hati):
Ini melibatkan pemberian penghormatan yang pantas kepada orang tua, guru, dan mereka yang memiliki moralitas luhur. Dalam praktiknya, kerendahan hati melawan kekotoran batin berupa kesombongan dan keangkuhan. Ia melembutkan ego sehingga pikiran menjadi lebih terbuka terhadap bimbingan dan tidak mudah terjerumus dalam konflik.
* Diṭṭhijukamma (Meluruskan Pandangan):
Ini sering dianggap sebagai yang paling penting dari sepuluh dasar kebajikan, karena mengarahkan semua praktik lainnya. Artinya adalah menyelaraskan keyakinan pribadi dengan kebenaran hakiki realitas—khususnya memahami hukum Karma (sebab dan akibat) serta Empat Kebenaran Mulia. Ketika pandangan seseorang “lurus,” ia memahami mengapa ia mempraktikkan kemurahan hati, moralitas, dan meditasi, sehingga tindakannya mengarah pada pembebasan, bukan semakin terikat dalam penderitaan.



Ringkasan

Sepuluh Dasar Perbuatan Bajik (Puññakiriyavatthu) adalah sepuluh praktik utama dalam Buddhisme untuk menumbuhkan kebajikan, mengumpulkan kamma baik, dan memurnikan batin. Praktik-praktik ini—meliputi kemurahan hati, moralitas, meditasi, dan pelayanan—dikelompokkan dalam tiga kategori utama: dāna (memberi), sīla (moralitas), dan bhāvanā (pengembangan batin).

Sepuluh Dasar Kebajikan

1. Dāna (Kemurahan Hati/Kedermawanan):
Memberikan harta benda atau dukungan kepada orang lain untuk mengurangi keserakahan.
2. Sīla (Moralitas):
Menjalankan perilaku etis, seperti mematuhi lima atau delapan sila.
3. Bhāvanā (Meditasi/Pengembangan Batin):
Mengembangkan ketenangan dan kebijaksanaan melalui meditasi samatha dan vipassanā.
4. Apacāyana (Penghormatan/Kerendahan Hati):
Menunjukkan rasa hormat dan kerendahan hati kepada orang tua, guru, dan mereka yang berbudi luhur.
5. Veyyāvacca (Pelayanan/Bantuan):
Membantu dalam kegiatan yang bermanfaat dan menolong sesama.
6. Pattidāna (Pelimpahan Jasa Kebajikan):
Melimpahkan jasa dari perbuatan baik kepada makhluk lain.
7. Pattānumodanā (Bers**acita atas Kebajikan Orang Lain):
Turut berbahagia atas kebajikan atau jasa orang lain (“Sādhu” atau “baik sekali”).
8. Dhammasavana (Mendengarkan Dhamma):
Belajar dan mendengarkan ajaran Dhamma.
9. Dhammadesanā (Mengajarkan Dhamma):
Membagikan pengetahuan dan ajaran Dhamma kepada orang lain.
10. Diṭṭhijukamma (Meluruskan Pandangan):
Mengembangkan “Pandangan Benar” dengan memahami kamma dan hasilnya.

Kesepuluh praktik ini menjadi pedoman untuk menjalani kehidupan dengan penderitaan yang berkurang serta kedamaian dan kebahagiaan yang lebih besar, yang pada akhirnya mengarah pada kelahiran kembali yang baik dan jalan menuju pembebasan.

Introduction to Satipatthana (INSATI) ISMC Jakarta 16-17 Mei 2026 yang di bimbing oleh YM. Ashin Kusaladhamma
16/05/2026

Introduction to Satipatthana (INSATI) ISMC Jakarta 16-17 Mei 2026 yang di bimbing oleh YM. Ashin Kusaladhamma

16/05/2026

Dasar Perbuatan Bajik (puñña-kiriya-vatthu)
(Bagian-2)

Pengembangan Batin: Menumbuhkan Kebijaksanaan dan Kedamaian

Kategori ini mengarahkan praktik ke dalam batin. Fokusnya adalah mengembangkan kejernihan, konsentrasi, dan pemahaman mendalam terhadap hakikat kenyataan.

* Bhāvanā (Meditasi dan Pengembangan Batin):
Ini mencakup baik Samatha (menenangkan pikiran dan mengembangkan konsentrasi) maupun Vipassanā (meditasi pandangan terang untuk melihat hakikat sejati dari kenyataan). Dalam kehidupan sehari-hari, bhāvanā adalah usaha berkesinambungan untuk tetap sadar, hadir penuh, dan waspada terhadap pikiran serta emosi diri sendiri, yang secara langsung melawan ketidaktahuan dan delusi.
* Dhammassavana (Mendengarkan Dhamma):
Ini adalah praktik belajar secara aktif dan penuh keterbukaan. Meliputi mendengarkan ajaran, membaca kitab-kitab spiritual, atau berdiskusi tentang kebenaran dengan batin yang terbuka. Praktik ini mencegah kemunduran spiritual dan memberikan bimbingan yang diperlukan untuk meluruskan kembali arah perjalanan di Jalan Dhamma.
* Dhammadesanā (Mengajarkan Dhamma):
Menyebarkan kebenaran spiritual kepada orang lain dianggap sebagai perbuatan yang sangat berjasa. Yang terpenting, “Dhamma dalam tindakan” menekankan bahwa hal ini harus dilakukan dengan welas asih yang tulus dan keinginan murni untuk membantu orang lain mengurangi penderitaan mereka, bukan demi keuntungan pribadi, ketenaran, ataupun memperbesar ego.

15/05/2026

Sepuluh Dasar Perbuatan Bajik (Puñña-kiriya-vatthu)

(Bagian-1)

Sepuluh Dasar Perbuatan Bajik (puñña-kiriya-vatthu) merupakan kerangka praktik yang sangat praktis dalam Buddhisme Theravāda. Ajaran ini mengubah konsep filsafat yang abstrak menjadi “Dhamma dalam tindakan nyata.” Dengan menjalankan sepuluh praktik ini, seseorang secara aktif memurnikan batin, mengurangi keakuan, dan menghasilkan energi kamma baik (puñña) yang membawa kebahagiaan dalam kehidupan ini maupun kehidupan mendatang.
Berikut adalah penjelasan yang jelas dan rinci mengenai sepuluh faktor tersebut, yang dikelompokkan berdasarkan fungsi spiritual utamanya.

Kedermawanan & Moralitas: Landasan Kebajikan

Dua praktik pertama ini menjadi dasar utama kehidupan spiritual. Tanpa keduanya, pengembangan batin yang lebih tinggi akan sulit dipertahankan, karena pikiran masih terguncang oleh keterikatan duniawi dan penyesalan.



* Dāna (Kedermawanan / Berdana):
Ini adalah praktik kemurahan hati dan s**a memberi. Bukan hanya memberi uang atau barang materi, tetapi juga mencakup pemberian waktu, tenaga, pengetahuan, dan pengampunan. Bentuk dāna yang tertinggi adalah pemberian Dhamma (kebenaran spiritual) dan pemberian rasa aman, yaitu membuat makhluk lain merasa tidak perlu takut kepada kita.
Tujuan utama dāna dalam praktik adalah untuk secara aktif mencabut kekotoran batin berupa keserakahan dan keterikatan.



* Sīla (Perilaku Bermoral):
Sīla adalah pengendalian diri secara sadar untuk tidak menimbulkan penderitaan. Bagi umat awam, hal ini dipraktikkan melalui Lima Sila: menghindari membunuh, mencuri, perilaku seksual yang salah, ucapan palsu, dan minuman atau zat yang memabukkan.
Dalam praktik nyata, sīla menjadi perisai yang melindungi makhluk lain dari penderitaan sekaligus melindungi batin pelaku dari beban rasa bersalah dan akibat kamma buruk. Praktik ini mencabut kebencian dan kekejaman.

-----
# Ten Bases of Meritorious Action (puñña-kiriya-vatthu)
(Part-1)

The Ten Bases of Meritorious Action (puñña-kiriya-vatthu) are a highly practical framework in Theravada Buddhism. They transform abstract philosophical concepts into "Dhamma in action." By engaging in these ten practices, individuals actively purify their minds, reduce ego, and generate positive karmic energy (puñña) that leads to happiness in this life and future lives.
Here is a clear, detailed explanation of these ten factors, categorized by their primary spiritual functions.

# # # Generosity & Morality: The Foundations of Virtue
These first two practices form the bedrock of a spiritual life. Without them, higher mental cultivation is difficult to sustain because the mind remains agitated by worldly attachments and regrets.

Dāna (Giving): This is the practice of open-handedness and generosity. It goes beyond merely giving money or material goods; it includes the giving of time, energy, knowledge and forgiveness. The highest form of dāna is the gift of the Dhamma (spiritual truth) and the gift of fearlessness (assuring others they have nothing to fear from you). The primary purpose of dāna in action is to actively uproot the mental defilement of greed and attachment.

*Sīla (Ethical Conduct): Sīla is the deliberate restraint from causing harm. For laypeople, this is practiced through the Five Precepts: abstaining from killing, stealing, sexual misconduct, false speech, and intoxication. In action, sīla is a shield that protects others from suffering and protects the practitioner's own mind from the heavy burden of guilt and karmic consequence. It uproots hatred and cruelty.

Address

Indonesia Satipatthana Meditation Center (ISMC) Kampung Bakom, Dusun Barulimus, Kelurahan Cikancana, Kecamatan Sukaresmi, Rt 02/Rw. 10, Kabupaten Dati 2, Cianjur
Cianjur
43254

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Satipatthana Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Yayasan Satipatthana Indonesia:

Share