08/05/2026
Paul Ehrlich, ahli biologi ternama lewat bukunya "The Population Bomb" (1968). Norman Borlaug, agronom yang dikenal sebagai bapak Revolusi Hijau. Milton Friedman, peraih Nobel Ekonomi 1976. Serta Johan Rockström, ilmuwan lingkungan pencetus konsep "Planetary Boundaries".
Keempat pemikir ini tidak pernah berada dalam satu ruang kerja yang sama. Bahkan, gagasan mereka sering kali bertolak belakang. Namun ketika pandangan mereka tentang krisis global dipertemukan, muncul satu pertanyaan besar di kepala kita: mengapa polikrisis begitu sulit diatasi?
Tidak ada satu kerangka pemikiran pun yang mampu menjelaskan krisis secara utuh. Bahkan saat digabungkan, berbagai pendekatan tersebut sering mengarah pada solusi yang berbeda, bahkan saling bertentangan.
Di tengah berbagai “blind spot” itu, ada satu ranah yang seringkali terabaikan: hutan dan agroforestri.
Padahal, jika dipahami dan dikelola dengan baik, keduanya berpotensi menjawab banyak titik buta dalam perdebatan tentang polikrisis mulai dari pangan, iklim, ekonomi, hingga ketimpangan.
Bagaimana kehutanan dan agroforestri menjawab “blind spot” pemikiran tentang polikrisis?
Temukan jawabannya di: https://s.id/QYdho