21/11/2025
Biogas
Minggu lalu, saya dan Ustad M Rizal Aris ke Pasar Parung. Sampahnya sungguh aduhai. Bau, berceceran di jalan sampai jadi lumpur tebal, dan bisa membuat pengendara motor tergelincir. Padahal, sampah sebanyak itu sebenarnya bisa diolah, dan menjadi sumber energy terbaharukan. Bisa untuk kompor gas, pembangkit listrik, dsb. Limbahnya juga masih bisa untuk pupuk, dengan komposisi nitrogen, fosfat dan mineral yang terkonsentrasi karena karbonnya sudah berubah menjadi biogas.
Teknologi pengolahannya pun sebenarnya tidak sulit. Investasi awal untuk membuat reaktor juga tidak terlalu besar jika dibandingkan ketergantungan membeli gas LPG terus2an. Kalau kesal dengan tetangga yang menghasilkan sampah makanan seabrek, kulit2 buah, atau limbah tahu, biogas ini bahkan bisa dijadikan unit usaha, sambil mengurangi aneka gangguan akibat sampah itu. Olah saja sampahnya, lalu jual gas yang dihasilkan ke si penghasil sampah.
Biogas juga aman bagi lingkungan karenaa tekanan gasnya relatif rendah, sehingga tidak mudah meledak. Apalagi kalau setiap hari dipakai.
Cara membuatnya? Lha ini, yang perlu ilmu supaya sampah yang dihasilkan bisa membentuk gas metana (yang bisa dipakai memasak itu) secara maksimal. Tidak banyak yang melenceng menjadi asam, alkohol, atau gas karbon dioksida. Instalasi reaktornya juga harus kuat dan dirancang khusus supaya air lindi dan endapannya bisa diambil dan dimanfaatkan untuk pupuk di lahan pertanian. Bukan dibiarkan mencemari sumber air minum.
Bagi pengusaha industri pangan (termasuk katering) atau tetangganya yang ingin mengolah sampah menjadi biogas, Pemda yang ingin memperbaiki pengolahan sampah pasar/sanitasi lingkungan di wilayah padat penduduk, NGO yang ingin memberdayakan masyarakat untuk mengolah sampah menjadi biogas, silahkan hubungi kami. Yayasan kami tidak bekerja sendiri, tetapi bekerja sama dengan pakar dan lembaga2 lain yang sudah berpengalaman membangun instalasi biogas. Kami hanya membantu memfasilitasi dan mendukung dengan ilmu bioteknologi yang kami miliki.