09/12/2019
SUMPAH KERAJAAN ACEH (1)
Raja bisa berganti dan kabinetnya bisa dirombak, tapi keteguhan sikap Kerjaan Aceh terhadap Belanda tidak pernah berubah. Aceh benar-benar seperti karang yang kekar dihantam gelombang. Hempasannya boleh saja membasahi, tetapi ombak itu akan pecah menjadi buih dan terseret kembali ke tempatnya, tanpa mampu mengoyahkan kekokohan karang.
Begitulah Aceh yang dulu berubah damai dalam diplomainya dengan Belanda, kini Belanda datang sebagai gelombang yang ingin menghempas dan membuat Aceh basah kuyup dengan hempasannya. Tapi bagi orang Aceh yang sudah kepalang mengambil sikap menentang terhadap Belanda, akan menghadapinya dengan jantan. Gelombang tak akan mampu menakut-nakuti orang yang sudah kuyup basah.
Gelombang itu adalah Belanda yang akan siap-siap masuk ke Aceh dengan angkatan perangnya. Namun sebelum serangan itu dilakukan Belanda beberapa kali menggertak Aceh dengan surat-surat ancamannya. Surat yang kemudian dijawab dengan santun namun dinyatakan oleh Sulthan Aceh, Alaiddin Mahmud Syah. Surat-surat itu mungkin disimpan rapi di arsip lama surat menyurat Gubernemen Hindia Belanda, itu mungkin disimpan di Leiden atau bisa jadi di pusat dokumen nasional Belanda.
Pada 1 April 1873, orang-orang Aceh telah mengasah pedang dan rencong, mereka berjaga-jaga di sepanjang pantai mulai dari Ulee Lheue sampai Kuala Tari. Sementara di kejauhan di tengah Selat Malaka, beberapa kapal berbendera Belanda melepaskan jangkar. Namun mereka tak berani merapat ke daratan. Hanya setengah lusin pria berseragam militer yang turun ke darat dengan sekoci dayung. Mereka membawa bendera putih, dan terus mendayung hingga sekocinya mencium pasir di Pante Ceureumen.
Sekelompok pemuda Aceh dengan bertelanjang dada dan hanya menggenakan celana panjang hitam yang berbalut kain selutut, menghampirinya. Mereka tampak sangar dengan pedang dan siwah di tangan. Mereka bertemu sekoci dan penumpangnya. Mendapat perlakukan seperti itu, si Belanda hanya mengangkat tangan sambil mengangkat tinggi-tinggi bendera putih seukuran kain sarung. Selembar kertas tebal dan kasar bergulung.
Melihat gelagat seperti itu, seorang pemuda keluar dari bawah rimbun pohon cemara dan menghampiri mereka.
“ Mereka mau berdamai, tanya sama si Belanda itu maksudnya? ” Kata pemuda itu. Belum disetujui, si Belanda menerima kertas berbalut yang dibawanya. Ia hanya mengatakan singkat. ' Sulthaan ..., Sulthaann ..., Sulthaann ... , " katanya dengan logat sengaunya.
Para pemuda itu mengerti bahwa itu adalah surat untuk Sulthan Aceh. Keenam Belanda itu diteduh di bawah pohon kelapa dan cemara. Mereka diawasi dengan senjata terhunus oleh pemuda-pemuda Aceh di pantai itu. Seorang pria lebih tua kemudian menerima surat itu. Ia menghancurkan menunggangi kuda, membelah semak dan jalan setapak. Dua pria lain yang juga menunggang kuda mengikutinya dari belakang.
Penduduk di sepanjang pantai itu memperhatikan laju kuda yang tak biasa itu. Kalau pun ada patroli, tentara kerajaan derap, kuda, jangan sekencang itu. Pasti ada yang tidak beres. Penduduk sepanjang panta mulai cemas, apa lagi setelah desas-desus datang dari Belanda sehingga berbicara sejak sepekan sebelumnya. Melihat tingkah para pemuda yang siap-siap dengan pedang terhunus menuju pantai, warga sudah mahfum, itu petaka yang sudah datang, dan perang akan berkecamuk.
Ketiga kuda itu terus melaju kencang, ditarik keluar dari debu yang diterima di jalan masuk ke pusat kerajaan. Sampai di gerbang istana Darud Donya mereka memarkirkan kudanya dan dengan langkah cepat masuk ke alun-alun kerajaan. Surat itu diberikan kepada seorang wanita bertubuh tegap. Ia Laksamana dari divisi keumala cahaya yang dikirim sebagai komandan pasukan perempuan penjaga istana.
Ketiga pemuda dari pantai itu istirahat di balai-balai di bawah pohon rindang di perkarangan istana sambil menikmati suguhan air kelapa dan buah-buahan segar dari pengawal istana. Mereka benar-benar mengatur, butir-butir peluh mengalir di dahinya. Sementara perempuan pengawal istana hilir mudik di sudut-sudut taman, mereka tampak banyak diam dan berada di cincin pertama istana, sementara pria-wanita populer berbadan kekar ada di cincin kedua di alun-alun istana terus sampai cincin tiga di gerbang. Begitulah melanjutkan pengamanan yang dilakukan untuk melewati tantangan yang terburuk dari kedatangan Belanda.
Sementara di dalam istana, Sultan Alaiddin Mahmud Syah memimpin rapat bersama para wazirnya (menteri). Melihat kedatangan laksamana divisi keumala cahaya itu, ia meninggalkan pertemuannya. Setelah membungkuk memberi salam dan hormat, laksamana mengirimkan surat yang dikirim dari pantai setelah oleh tiga pria berkuda kepada Sultan.
Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menggangam erat-erat surat ujung surat itu dan membacanya dalam hati. Ia kemudian meremasnya. Para wazir penasaran DENGAN SIKAP Sulthan, mereka bertanya-tanya APA gerangan Yang Terjadi. “ Holanda Kembali mengancam kitd, ” Katanya Singkat. Orang Aceh menyebut Belanda dengan sebutan Holanda.
Sulthan bangun dan berdiri di hadapan para wazirnya itu.
“ Mereka terlalu congkak, sebelum Holanda sampai ke Pesisir, siapkan penyambutan dengan meriam dan kelewang. Biarlah mereka tahu bahwa kita tidak sama dengan Jawa yang bisa dipermainkannya. Atas nama Allah dan nabi-Nya kita akan hadapi Holanda itu. ”Tegas Sultan.
Sulthan Alaiddin Mahmud Syah benar-benar marah dengan surat jaminan Belanda itu, tetapi seorang wazir yang bijaksana kemudian meminta Sulthan agar menjawab surat itu dengan santun. Sulthan menerima saran wazirnya itu. Ia pun meminta Wazir Rama Setia selaku Sekretaris Kerajaan untuk menulis konsep balasan kepada Belanda. Setelah beberapa kali memperbaiki naskah, Sulthan bisa meminta dan menerakan cap stempel kerajaan di surat itu atas namanya.
Di bagian akhir surat balasan itu Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menulis. “ … Kita hanya miskin dan muda, dan juga kita sebagai orang Afrika Selatan Belanda berada di bawah perlindungan Tuhan yang maha berkuasa . (Sulthan Alaiddin Mahmud Syah — 1 Safar 1290 Hijriah / 1 April 1873 Masehi)
Surat itu dikirim kembali ke Laksamana selaku kepala divisi keumala cahaya, yang kemudian diteruskan ke tiga pemuda berkuda untuk meminta pantai untuk dikembalikan ke Belanda. Tiga pemuda itu terus memacu kudanya menuju pantai. Sepanjang jalan terdengar terikan " Allahu Akbar .. " dari para penduduk yang dilewatinya.
Surat itu kemudian diberikan kepada seorang panglima yang memenangkan perdebatan di pantai itu. Ia menentang setengah lusin Belanda yang menantang di bawah pohon cemara. Setelah diberikan surat itu, kawanan Belanda itu kembali dengan sekoci dayungnya kembali ke kapal yang berlabuh jauh di lepas pantai.
Surat menyurat antara Belanda dan Sultah Aceh sudah berulang kali terjadi. Pihak Aceh tetap menolak untuk menyetujui pada Belanda dengan segala risikonya. Bahkan dalam surat yang dipertanyakan, Sulthan Alaiddin Mahmud Syah menyetujui bahwa Aceh statusnya sebagai kerajaan berdaulat sama juga dengan Gubernemen Hindia Belanda, yang sama-sama berada di bawah perlindungan tuhan.
Penolakan halus Sulthan Aceh itu membuat Belanda berang dan merencanakan untuk melancarkan serangannya ke Aceh. Jika bahaya semakin dekat, Sultan Alaiddin Mahmud Syah menggelar musyawarah kerajaan pada 10 Zulkaidah 1288 Hijriah (1872 Masehi) di Mesjid Baiturrahim Darud Dunia. Dalam musyawarah itu hadir para ulama besar, menteri dan uleebalang seluruh Aceh.
Kepada para wazir, ulama dan uleebalang, Sulthan Alauddin Mahmud Syah menjelaskan tentang bahaya yang sedang dihadapi Aceh, armada militer Belanda yang sudah ada di Selat Malaka. " Holanda, imperialis akan datang menyerang kita, maka hari ini saya permaklumkan pertemuan kerajaan membahas sikap menantang kita dan mengatur siasat untuk menghadapinya, " kata Sulthan.
Rapat itu berjalan banyak, para ulama dengan tegas mendukung sikap sulthan yang akan melawan Belanda, sikap yang sama juga disetujui pada wazir selaku menteri kerajaan. Hanya kelompok uleebalang yang agak ragu, namun karena ulama bersama wazir sudah sependapatan, mereka akhirnya juga berjuang untuk berperang melawan Belanda. Namun, kelak para uleebalang itu ada yang ingkar dengan membuka pintu dialog dengan Belanda, tentang itu cucuku Keumalahayati, akan kuceritakan nanti kompilasi pada kisah pengkhianatan yang baru sekarang mau mau dilakukan oleh sejarawan langsung. Hasymi mengaku tahu tentang itu, tetapi ia juga tak berani mengungkapkan pengkhianatan tersebut.
Cucuku, pertemuan kerajaan yang dipimpin Sulthan Alaiddin Mahmud Syah yang membuat keputusan akan melakukan perang total jika Belanda menyerang Aceh. Sebagai tanda persetujuan tekat tersebut, mereka yang mengikuti rapat kerajaan itu menuntut sumpah. Sumpah itu dipimpin oleh seorang ulama besar, Kadli Mu'adhham M***i Besar Kerajaan Aceh, Syekh Marhabab bin Haji Muhammad Saleh Lambhuk dan disaksikan oleh para ulama alim.
Para wazir kerajaan bersama uleebalang dan petinggi kerajaan berbaris dalam aula kerjaan, mereka berdiri sejajar dalam beberapa barisan. Syeh Marhaban berdiri agak ke depan di ujung kanan menghadap mereka sambil mengangkat kitab suci Al-Quran dengan kedua berpindah melewati kepala. Sumpah kerjaaan Aceh pun diucapkannya dan diikuti dengan suara gemuruh oleh para wazir dan uleebalang. Sumpah itu berbunyi:
-------------------------------------------------- -------------------------------------------------- -----------------
" Demi Allah ...., kami sekalian hulubalang khadam Negeri Aceh, dan sekalian kami yang ada masing-masing kadar mertabat, besar kecil, timur barat, tunong baroh, sekalian kami ini semuanya, kami tha'at setia kepada Allah dan Rasul , dan kami semua ini setia kepada Agama Islam, mengikuti Syariat Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi Wasallam.
Dan kami semua ini percaya kepada raja kami dengan mengikuti permintaannya atas yang hak, dan kami semua cinta pada Negeri Aceh, mempertahankan dari pada serangan musuh, kecuali ada masyakkah, dan kami semua ini cinta pada sekalian rakyat dengan memegang amanah dipercayakan oleh empunya milik.
Maka jika semua kami yang telah bersumpah ini berkhianat dengan mengubah janji seperti yang telah kami ikral dalam sumpah kami semua ini, demi Allah kami semua dapat kutuk Allah dan Rasul, mulai dari kami semua sampai pada anak-anak cucu kami dan meminta kami turun temurun, dapat cerai berai berkelahi, bantah dakwa-dakwi dan dicari oleh senjata mana-mana yang mengandung apa-apa. Wassalam .. . ”
-------------------------------------------------- -------------------------------------------------- ------------------
Cucuku, isi sumpah ini kemudian dimasukkan dan dimasukkan dalam sarakata Baiat Kerajaan, bertulis tangan dengan huruf Arab. Dokumen sumpah itu kemudian dipindahkan oleh Wazir Rama Setia selaku Sekretaris Kerajaan Aceh, Said Abdullah Di Meuleuk, yang kemudian dipindahkan oleh temanya. Cucuku, jika kamu ingin melihat foto kopi naskah sumpah kerajaan Aceh itu, pulanglah kamu ke Aceh sayang, kakek akan membawamu ke Pustaka Hasjmy, karena ada foto kopinya. Tapi sebelumnya, kusarankan padamu untuk belajar bahasa Arab, karena naskahnya ditulis dengan aksara Arab.
Cucuku, Keumalahayati, begitu menegaskannya sumpah kerajaan Aceh itu. Dari isi sumpah itu, kakek bisa melihat benih-benih pengkhianatan terhadap Kerajaan Aceh dari pihak dalam yang sudah tumbuh. Coba kamu baca kembali penegasan dari sumpah itu. Sulthan Aceh menyadari akan ada pembelot di jajarannya, maka ia mengikat sumpah itu, jika ada yang berkhianat terhadap sumpah tersebut, mereka akan dikutuk oleh Allah dan Rasul sampai ke cucunya turun temurun. Dan terjadi yang kemudian terjadi hingga hari ini di Aceh. Karena segolongan orang mengkhianati sumpah itu, generasi mereka di Aceh tercerai berai.(bersambung)
#