27/08/2026
Banjir bandang dahsyat yang bersumber dari wilayah Tibet menerjang kawasan perbatasan Nepal-China, tepatnya di Distrik Rasuwa, Nepal, pada Rabu pagi, 26 Agustus 2026. Bencana besar ini dipicu oleh gempa bumi berkekuatan 4,4 SR di wilayah Tibet yang kemudian meruntuhkan material es dan batuan gletser (longsoran glasial) ke Sungai Lhende (dikenal sebagai Sungai Bhote Koshi di Nepal), menyebabkan luapan air lumpur yang masif secara mendadak.
Hingga saat ini, laporan resmi mencatat sedikitnya 157 orang tewas di Nepal dan 3 orang tewas di China, dengan hampir 1.000 orang dilaporkan masih hilang.
Dampak dan Kerusakan Utama
Banjir membawa material lumpur tebal dengan kecepatan tinggi dan menghancurkan berbagai infrastruktur penting di sepanjang jalur aliran sungai:
Destruksi Pemukiman dan Pasar: Wilayah perdagangan utama seperti Syabrubesi dan kawasan Timure tersapu bersih oleh banjir lumpur.
Ratusan Wisatawan Hilang: Sebanyak 384 pelancong dan peziarah mancanegara (termasuk dari India, AS, dan Inggris) yang sedang menempuh rute suci Kailash Mansarovar dilaporkan hilang kontak.
Gerbang Perbatasan Lumpuh: Rekaman CCTV menunjukkan terjangan air merusak pos pemeriksaan imigrasi dan fasilitas Pelabuhan Gyirong di sisi China. Jembatan Miteri (Friendship Bridge) yang menghubungkan kedua negara hancur total.
Krisis Energi: Sektor kelistrikan Nepal kehilangan pasokan sekitar 430 megawatt (lebih dari 12% kapasitas hidro nasional) akibat kerusakan pada proyek PLTA Rasuwagadhi, Chilime, dan Trishuli.
Status Operasi Darurat
Pemerintah Nepal di bawah instruksi Perdana Menteri Balendra Shah telah mengerahkan helikopter militer, Tentara Nepal, kepolisian, dan tim penyelamat gabungan untuk menyisir area pegunungan. Di seberang perbatasan, Presiden China Xi Jinping juga menyerukan pencarian skala besar serta memperketat sistem pemantauan dini di wilayah Shigatse, Tibet.
Otoritas setempat saat ini memberlakukan status siaga tinggi di sepanjang koridor Sungai Trishuli hingga Mugling dan menutup akses jalan utama demi menghindari risiko banjir susulan.