Blitar Tempo Doeloe

Blitar Tempo Doeloe Blitar Tempo Doeloe (BLiTEDO) — Media sejarah Blitar modern. Menyajikan cerita tempo dulu, foto lawas, dan wisata heritage Blitar.

Bergabungoah & ikut melestarikan sejarah. Blitar Tempo Doeloe ingin mewujudkan terciptanya komunitas yang peduli :

1. Pengembangan generasi muda yang tertarik akan Sejarah dan Budaya Blitar.

2. Pelestarian aset – aset Sejarah dan Budaya Blitar

3. Mengarsipkan dan mendokumentasikan Sejarah dan Budaya Blitar. Harapan kedepan akan muncul ide-ide kreatif berupa :

1. Kegiatan ekstra bagi anak sekol

ah melalui pendidikan sejarah non formal yang bersifat menyenangkan dan menarik.

2. Penerbitan tulisan dan media kepada masyarakat umum

Keterangan
Blitar Tempo Doeloe (BLiTEDO) adalah media pendorong agar masyarakat memiliki antusiasme terhadap sejarah dan budaya lokal Blitar. Diluncurkan pada tanggal 15 Mei 2017 oleh Prabowo Srg melalui situs sosial Facebook. Komunitas BLiTEDO adalah sebagai tempat saling berbagi dan belajar tentang sejarah dan budaya. Penghubung bagi masyarakat awam agar tertarik akan dunia sejarah dan budaya. Sehingga wujud akhirnya adalah kecintaan dan kepedulian akan kota Blitar terutama aspek sejarah dan budaya.

Menyambut Blitar Djadoel 2026.. Tersedia kaos dengan tema Rokok  Tjap Mentjo, Aseli Buatan dr Blitar pada masa Kolonial....
22/06/2026

Menyambut Blitar Djadoel 2026.. Tersedia kaos dengan tema Rokok Tjap Mentjo, Aseli Buatan dr Blitar pada masa Kolonial.
Open Pre Order.
Silakan.

21 Juni 1970 – 21 Juni 2026Hari ini, tepat 56 tahun lalu, Soekarno wafat di RSPAD Gatot Soebroto pada usia 69 tahun.Bagi...
21/06/2026

21 Juni 1970 – 21 Juni 2026

Hari ini, tepat 56 tahun lalu, Soekarno wafat di RSPAD Gatot Soebroto pada usia 69 tahun.

Bagi bangsa Indonesia, kepergian B**g Karno menjadi akhir perjalanan sang Proklamator. Namun bagi Blitar, kota tempat beliau dimakamkan, semangat dan warisannya terus hidup, menjadi pengingat akan perjuangan untuk kemerdekaan dan persatuan bangsa.

Jas Merah — Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.

Sumber :
Kredit foto : id fb Cindhy

**gKarno **gKarno

NAPAK TILAS GURU BANGSABLITAR, 20 JUNI 2026DALAM RANGKAIAN GAMBAR BERCERITA.Terimakasih untuk semua pihak atas dukungan ...
21/06/2026

NAPAK TILAS GURU BANGSA
BLITAR, 20 JUNI 2026
DALAM RANGKAIAN GAMBAR BERCERITA.

Terimakasih untuk semua pihak atas dukungan dan kerjasamanya.

Sampai ketemu di Napak Tilas edisi ke - 5 mendatang.

SEJARAH ITU PENTING BROWWW.
( Itulah mengapa Opening Pildun 2026 memaksi nuansa Suku Inca).


Lambang Sarekat Islam : Simbol Perjuangan, Persatuan, dan Kebangkitan BangsaLambang Sarekat Islam (SI) bukan sekadar ide...
20/06/2026

Lambang Sarekat Islam : Simbol Perjuangan, Persatuan, dan Kebangkitan Bangsa

Lambang Sarekat Islam (SI) bukan sekadar identitas organisasi. Setiap unsur di dalamnya mengandung filosofi yang mencerminkan cita-cita besar SI sebagai gerakan kebangkitan umat, perjuangan ekonomi rakyat, dan perlawanan terhadap penjajahan.

Di bagian atas terdapat matahari dengan sinar yang memancar dan bulan sabit, disertai kaligrafi "Innamal Mu'minuna Ikhwatun" (Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara) serta "Billahi Sabilil Haq" (Dengan pertolongan Allah di jalan kebenaran).

Pesan ini menegaskan bahwa perjuangan Sarekat Islam dilandasi persaudaraan, keimanan, dan perjuangan menegakkan kebenaran.

Bagian tengah berbentuk perisai hati melambangkan persatuan dan kecintaan kepada umat serta tanah air. Di dalamnya tampak seekor banteng, bukan burung sebagaimana sering disalahartikan.

Makna Banteng dalam Lambang Sarekat Islam
Banteng resmi digunakan sebagai lambang politik Sarekat Islam sejak 23 Oktober 1917.

Menurut sejarawan Anhar Gonggong Suryanegara (Api Sejarah, 1995: 205–206), banteng melambangkan semangat perjuangan, keberanian, kekuatan, dan tekad keras bangsa Indonesia dalam menuntut kemerdekaan.

Banteng dipilih karena dikenal sebagai hewan yang kuat, pantang mundur, dan berani menghadapi lawan. Simbol ini kemudian menjadi salah satu ikon politik paling awal dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.

Di belakang banteng tampak matahari terbit, yang melambangkan lahirnya zaman baru dan harapan akan kebangkitan bangsa dari belenggu kolonialisme.

Di sekeliling perisai terdapat berbagai simbol :

Roda bergigi melambangkan perdagangan, industri, dan kerja keras.

Timbangan melambangkan keadilan dan hukum.

Pedang, tombak, serta senjata tradisional melambangkan keberanian membela kebenaran dan tanah air.

Padi melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Pita bertuliskan Arab berisi semboyan perjuangan yang menegaskan bahwa seluruh gerakan SI berlandaskan ajaran Islam.

Di bagian bawah terdapat potret H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh besar Sarekat Islam yang dikenal sebagai "Raja Jawa Tanpa Mahkota".

Kepemimpinannya menjadikan Sarekat Islam berkembang sebagai organisasi massa terbesar di Hindia Belanda dan melahirkan banyak tokoh pergerakan nasional.

Lambang ini memperlihatkan bahwa Sarekat Islam sejak awal bukan hanya gerakan keagamaan, tetapi juga gerakan sosial, ekonomi, pendidikan, dan politik yang memperjuangkan persatuan umat serta kemerdekaan Indonesia.

Setiap elemen pada lambang tersebut merupakan representasi dari cita-cita besar membangun bangsa yang merdeka, adil, makmur, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.



SAREKAT ISLAM BLITAR : DARI LANGGAR DAN PESANTREN, LAHIR ULAMA YANG DIASINGKAN KE BANDA NEIRASejarah Sarekat Islam (SI) ...
20/06/2026

SAREKAT ISLAM BLITAR : DARI LANGGAR DAN PESANTREN, LAHIR ULAMA YANG DIASINGKAN KE BANDA NEIRA

Sejarah Sarekat Islam (SI) Blitar tidak hanya tercatat dalam Kongres Besar SI di Alun-alun Blitar pada 5 Juni 1914, tetapi juga pada jejak para ulama yang kemudian menjadi sasaran pemerintah kolonial Belanda karena keberanian mereka memperjuangkan kemerdekaan.

Nama dari Blitar yang diabadikan dalam Monumen Tahanan Politik Banda Neira adalah KH Muhammad Imam Bukhori dan putranya, KH Shofwan (Safwan). Selain nama KH Mohamad Faqih. Menjadi bukti bahwa Sarekat Islam Blitar bukan sekadar organisasi, melainkan pusat lahirnya tokoh-tokoh yang berani menentang kolonialisme.

KH Muhammad Imam Bukhori merupakan tokoh penting Sarekat Islam Blitar sekaligus pendiri Pondok Pesantren Jatinom. Pada Kongres Sarekat Islam tahun 1914 yang dihadiri H.O.S. Tjokroaminoto, Pesantren Jatinom menjadi salah satu tempat pendukung logistik acara. Dari pesantren inilah semangat perjuangan, dakwah, dan kebangkitan umat terus disebarkan.

Setelah pemerintah kolonial meningkatkan pengawasan terhadap tokoh-tokoh Sarekat Islam, KH Muhammad Imam Bukhori ditangkap dan diasingkan ke Banda Neira pada 1928. Putranya, KH Shofwan (Safwan), turut mendampingi sang ayah selama masa pengasingan dan turut serta sang ketua SI Blitar KH Muhamad Faqih dari Plosokerep. Karena itulah nama lkini tercantum dalam prasasti para tahanan politik di Banda Neira.

Jika selama ini masyarakat mengenal KH Abdullah Faqih sebagai Ketua Sarekat Islam Blitar pada Kongres 5 Juni 1914, maka nama KH Muhammad Imam Bukhori dan KH Shofwan melengkapi mata rantai perjuangan Sarekat Islam Blitar. Mereka adalah bagian dari generasi ulama pejuang yang membayar mahal perjuangan melawan penjajahan Belanda dengan pengasingan jauh dari tanah kelahiran.

Inilah warisan sejarah yang layak terus diangkat : Sarekat Islam Blitar bukan hanya menyelenggarakan kongres besar, tetapi juga melahirkan tokoh-tokoh yang rela kehilangan kebebasan demi kemerdekaan Indonesia.


Langgar Gantung Plosokerep Kota Blitar, Titik Awal Pesta Besar Sarekat Islam Blitar 1914Tak banyak yang mengetahui bahwa...
20/06/2026

Langgar Gantung Plosokerep Kota Blitar, Titik Awal Pesta Besar Sarekat Islam Blitar 1914

Tak banyak yang mengetahui bahwa Langgar Gantung Plosokerep menjadi titik awal salah satu peristiwa penting dalam sejarah Sarekat Islam di Blitar.

Pada 5 Juni 1914, Ketua Sarekat Islam Blitar, KH. Abdullah Faqih, dijemput dari kediamannya di sekitar Langgar Gantung Plosokerep. Dengan iringan musik dan ratusan anggota, beliau diarak menuju Alun-Alun Blitar untuk menghadiri Pesta Besar Sarekat Islam setelah organisasi tersebut resmi memperoleh status badan hukum.

Peristiwa yang diberitakan surat kabar De Expres (10 Juni 1914) ini menunjukkan bahwa Langgar Gantung bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi saksi lahirnya semangat kebangkitan dan pergerakan masyarakat Blitar pada awal abad ke-20.

Sumber: De Expres, 10 Juni 1914.
Kredit foto: KITLV.


20/06/2026
20/06/2026

Address

Jalan Simping
Hong Kong

Telephone

+85293529648

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Blitar Tempo Doeloe posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Blitar Tempo Doeloe:

Share