Blitar Tempo Doeloe

Blitar Tempo Doeloe Blitar Tempo Doeloe (BLiTEDO) — Media sejarah Blitar. Menyajikan cerita tempo dulu, foto lawas, dan wisata heritage Blitar.

Bergabunglah & ikut melestarikan sejarah. Blitar Tempo Doeloe ingin mewujudkan terciptanya komunitas yang peduli :

1. Pengembangan generasi muda yang tertarik akan Sejarah dan Budaya Blitar.

2. Pelestarian aset – aset Sejarah dan Budaya Blitar

3. Mengarsipkan dan mendokumentasikan Sejarah dan Budaya Blitar. Harapan kedepan akan muncul ide-ide kreatif berupa :

1. Kegiatan ekstra bagi anak sekol

ah melalui pendidikan sejarah non formal yang bersifat menyenangkan dan menarik.

2. Penerbitan tulisan dan media kepada masyarakat umum

Keterangan
Blitar Tempo Doeloe (BLiTEDO) adalah media pendorong agar masyarakat memiliki antusiasme terhadap sejarah dan budaya lokal Blitar. Diluncurkan pada tanggal 15 Mei 2017 oleh Prabowo Srg melalui situs sosial Facebook. Komunitas BLiTEDO adalah sebagai tempat saling berbagi dan belajar tentang sejarah dan budaya. Penghubung bagi masyarakat awam agar tertarik akan dunia sejarah dan budaya. Sehingga wujud akhirnya adalah kecintaan dan kepedulian akan kota Blitar terutama aspek sejarah dan budaya.

Jejak Peninggalan Industri Rokok Kretek Klembak di Blitar Sejak 1909 (Bagian ###III)Pada bagian ke-33 ini ditampilkan et...
22/08/2026

Jejak Peninggalan Industri Rokok Kretek Klembak di Blitar Sejak 1909 (Bagian ###III)

Pada bagian ke-33 ini ditampilkan etiket rokok Tjap Andong No 33293 dari Perusahaan Rokok Rukun Selamet di Blitar
Kredit foto : Kolektor Si*****te Bezit

===========
Pelaku Industri Tembakau, Kretek, Kretek Klobot, dan Klembak di Blitar (Urut Abjad)
============

B
Bokor Mas — Tjap Bokor Mas. Sumber: belum diketahui.

F
Firma Siong Liong (Liem Liang Tjay) — Produk rokok kretek. Sumber: Sampul surat 1927 (Fb : Rudi Nurdiansyah).

G
Gondoroso — Orang Mantjing Ikan (GDP 14648), Boeroeng Betet (GDP 14945). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.

K
K.R.M. — Tjap Sinar Balon (NP 3727). Sumber: Fb Sugiono Gondokusumo.
Kasan Mustar — Royal Djaring (NP 216). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.
Kho Djing Han — Bendera, Ontoredjo, Mendjangan. Sumber: Javasche Courant (1930).
Kwee S*k Liem — Tjap Sojie. Sumber: Javasche Courant (1930).

L
Lauw Thwan Gie — Tjap Obor Geni, Jalan Cemara 31. Sumber: Dokumen merek.
Liem Khing Tjian - PR OEMPLING, Djl. R. A. Kartini 11 - Tilp. 22 BLITAR. Sumber : Fb Rudi Nurdiansyah
Liem Djam Gwan — Gangsa (GDP 12189). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.
Liem Han Bing — Tjap Kuda (GDP 5120). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.
Liem Liang Djwan — Dua Burung . Sumber: Javasche Courant (1930).
Liem Poo Ing — Adoean Sapi. Sumber: Dokumen merek.
Liem Tjien Jam — Mekka Medina (Kopijah), Tjap Ketoe, Tjap Kalde, Djedah-Hedjaz, Esel. Sumber: Javasche Courant (1930).

N
NV Bumbung — Ngilon Kotjo, Bumbung, Rail (GDP 60007), Bumbung (GDP 56048), GDP 423310. Jl Raya 154 / Jl Merdeka Barat 154. Sumber : Dokumen pendaftaran merek.

O
Oei Ting Liang — Dewa, Nerodo Bodrojono. Sumber: Tommy Hutomo; Javasche Courant (1930).
Oei Tjoe Tien — Petroek, Baji Soetji, Soetji (GDP 16994). Sumber: Sampul surat (Facebook: Anggoro Solo).
Ong Kiem Hwa Nio / Ong Kim Hwa — Boeto, Kembang Mas, Praoe. Sumber: Fb Agila Zalfa Nuryadi, Tommy Hutomo, Sin Jit Po.
Ong Liang Boen (Podo Moro) — Soejoet Islam, Djangkar (GDP 33342). Sumber: Sampul surat 1927 (Fb : Rudi Nurdiansyah).
O.S.K. (Ong Siang Kie) — Bendera Merah Putih (NP 657), Ondo (GDP 33502). Sumber: Fb Sugiono Gondokusumo.

P
Perusahaan Rokok Kretek Empat Serangkai, Kepanjen Kidul (1945) — Andong, Djam, Blimbing. Sumber: Fb Rudi Nurdiansyah.
Poono — Sumber (GDP 48401). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.
P. Redjomulyo — Tjap Leo (GDP 11648). Sumber: Sugiono Gondokusumo.
PR Baji Sutji — Tjap Baji (GDP 50524). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.
PR Gadis India — Gadis India (Daft. 66463). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.
PR Gayor Mas — Gayor Mas. Sumber: Dokumen merek.
PR Gita Widjaya — 66. Sumber: Dokumen merek.
PR Mulia — Harun (GDP 69466). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.
PR Sutji — Oreng. Sumber: Dokumen merek.
PR S.Y.M. (Wlingi) — Djago. Sumber: Dokumen merek.
PT Ongkowidjojo — Oepet. Sumber: Kalender 1982 (Fb: Rudi Nurdiansyah).

R
PR. Rukun Selamet - Tjap Andong No. 33293

S
Sie Swie Tjay — Petjikrak Tladoeng, Arabia, Soerban. Sumber: Dokumen merek.
Sie Tjwie Khong — Tjap Saringan (GDP 64268 & 43555), Ikan, Sapit (GDP 32678 & 43694), Lesung (GDP 39936). Sumber: Sugiono Gondokusumo; Tommy Hutomo. PR Saringan : Tjap Tjandi. Sumber : Anton Art
Sie Wie Khong dan Sie Wie Bo — Tjap Ikan (GEDEP 13926), Mentjoo (GED 16838), Boeroeng (GED 13024). Sumber: Berbagai etiket dan iklan.
Sinar Terang — Dukun (GEDEP 42664). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.
Soponjono — Tjap Kerekan. Sumber: Dokumen merek.
S.S. — Tjap Kopi. Sumber: Dokumen merek.
Strootjes Fabriek Blitar — Tjap Orang Poekoel Bedoek. Sumber: Sugiono Gondokusumo.
SWK — Tjap Lim (GEDEP 22450 & 28027). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.

T
Tan Bing Sier — Produk rokok kretek. Sumber: Kartu pos kuno.
Tan Bing Siet — Boeroeng Betet, Orang Mantjing Ikan. Sumber: Dokumen merek.
Tan Bo Hok — Tjap Djempol. Sumber: Dokumen merek.
Tan Kiem Tjay — Tjap Manjing. Sumber: Dokumen merek.
Tan Kiet Tjhiang — Tjap Sorot. Sumber: Dokumen merek.
Tan Ping Djian — Pajoeng, Senter, Cangklon. Sumber: eBay.
Tjan Thiam Seng (1939–1942) — Sampul surat dan kartu pos. Sumber: eBay.
The Long Song Binangun — Tjap Djangkar (NP 8). Sumber: Dokumen pendaftaran merek.
Tjap Bedali — Pemilik belum teridentifikasi.
Tjap Betet — Pemilik belum teridentifikasi.
Tjap Srikaya — Pemilik belum teridentifikasi.
Tjap Tjarum — Pemilik belum teridentifikasi.
Tjap Tjengkeh — Pemilik belum teridentifikasi.
Tjanhoksioe — Pemilik belum teridentifikasi.
Tjap Tjokro — Pemilik belum teridentifikasi.

Sedikit demi sedikit berbagai etiket, iklan, sampul surat, kartu pos, kalender, serta dokumen pendaftaran merek dagang berhasil dihimpun. Kump**an data ini memperlihatkan bahwa Blitar pernah menjadi salah satu sentra penting industri kretek, kretek klobot, klembak, strootjes, dan tembakau di Jawa Timur sejak awal abad ke-20. Daftar ini akan terus diperbarui seiring ditemukannya dokumen-dokumen baru.



Makam Leluhur 1890 : Nisan Kuno Sie Song Ien & Go He Niang.Makam Boro - Tuliskriyo - Sanan kulon - Kab Blitar========​Ap...
22/08/2026

Makam Leluhur 1890 : Nisan Kuno Sie Song Ien & Go He Niang.
Makam Boro - Tuliskriyo - Sanan kulon - Kab Blitar

========
​Apakah ada yang lebih tua dari ini ?
=========

​Batu nisan bersejarah ini merupakan sebuah artefak berharga yang berasal dari tahun 1890, tepatnya pada bulan April tahun tersebut. Penanggalan ini bersesuaian dengan tahun ke-16 masa pemerintahan Kaisar Guangxu (Kuang Sue) dari Dinasti Qing, sebagaimana yang terbaca jelas pada salah satu sisi prasasti yang bertuliskan "光緒十六 庚寅年 四月" (Guangxu tahun ke-16, siklus Gengyin, bulan April).

​Nisan ini didedikasikan untuk tempat peristirahatan terakhir pasangan suami istri dari keluarga Sie dan Go. Nama mendiang pria diukir di tengah sisi kanan dengan aksara emas, terbaca "顯考 詒雙 英 傅" (Xiankao Yi Shuang Ying Fu), yang diidentifikasi sebagai Sie Song Ien. Di sebelunya, di sisi kiri, bersemayam mendiang istri, "顯妣 詒河 娘 施" (Xianbi Yi He Niang Shi), yang diidentifikasi sebagai Go He Niang.

​Lebih dari sekadar penanda makam, nisan ini sarat akan nilai silsilah dan budaya kekeluargaan masyarakat Tionghoa. Pada bagian sisi nisan, terukir daftar keturunan yang berbakti sebagai bentuk penghormatan abadi dari lintas generasi.

​Silsilah tersebut mencakup anak laki-laki (孝男) seperti Yen, anak perempuan (孝女) seperti Jien dan Niang, hingga para cucu (孝孫) seperti Wei dan Kung. Menariknya, terdapat juga penyebutan marga pendiri nisan—kemungkinan besar kerabat—dari marga B**g (seperti B**g Pao) atau Ming (seperti Wei Ming).

​Kombinasi nama marga yang terlibat dalam pembangunan nisan ini menunjukkan jaringan kekerabatan yang luas, yang mungkin mencakup nama-nama dari marga terkait seperti Chen atau Chiang (seperti terlihat dalam catatan "Chang" dan "Chen").

​Sumber :
​Kredit foto : Chandra Otto

​ **g

TEKA - TEKI RESTORASI FOTO TUA.SUDAH TUA. SUDAH LAMA. TERMAKAN USIA.ADA JAMUR, ADA NODA, ADA RAYAP, ADA TERKELUPAS.INI F...
20/08/2026

TEKA - TEKI RESTORASI FOTO TUA.

SUDAH TUA. SUDAH LAMA. TERMAKAN USIA.
ADA JAMUR, ADA NODA, ADA RAYAP, ADA TERKELUPAS.

INI FOTO NYA Mas Rudi N Bezit .

Seperti biasa, kami, coba perjelas, supaya lebih bisa di nikmati, di sukai oleh segala kalangan dan usia. Sederhana saja.

Tapi kali ini, foto nya lebih menantang.
Angka 23 dan Blitar yg agak bisa terlihat. BARIS 1 DAN KE 2, kami masih mengarang sendiri ( sebagai mana tampil di foto berwarna 1).

Sila pembaca Blitar Tempo Doeloe temukan hal lain, kata tulisan lain yang ada di foto itu. Foto 2 dan 3.

Post saja di komentar.

Terima kasih.



Jongen Normal School Blitar 1935 — Potret Pendidikan Guru di Kota BlitarSatu foto. Puluhan wajah. Dan sebuah kisah penti...
19/08/2026

Jongen Normal School Blitar 1935 — Potret Pendidikan Guru di Kota Blitar

Satu foto. Puluhan wajah. Dan sebuah kisah penting tentang pendidikan di Blitar hampir satu abad yang lalu.
Foto ini memperlihatkan peserta Jongen Normal School (JNS) Blitar pada tahun 1935. Sekolah ini berada di Jl. A. Yani, Blitar, yang saat ini menjadi lokasi SMA Negeri 1 Blitar.

Di tengah foto terdapat papan bertuliskan:
“Eind examen JNS Blitar 1935, canditaten voor examinatoren”
Tulisan tersebut merujuk pada ujian akhir JNS Blitar tahun 1935, dengan para kandidat yang berkaitan dengan proses ujian/penguji.

Ada dua sosok yang diberi tanda merah dan memiliki arti khusus bagi sejarah keluarga:
🔴 R. Soekeni Kartodihardjo, ayahanda B**g Karno.
🔴🔴 R. Soepari Kartowibowo, kakek Budi Juwono.

Foto ini memperlihatkan bagaimana Jongen Normal School Blitar menjadi bagian dari sejarah pendidikan dan pembentukan tenaga guru di Blitar pada masa Hindia Belanda. Sebuah dokumentasi tahun 1935 yang kini menjadi sumber berharga untuk mengenal wajah-wajah pendidikan Blitar pada masa lalu.

📍 Jongen Normal School (JNS) Blitar
📅 1935
🏫 Kini menjadi SMA Negeri 1 Blitar

Sumber :
Kredit foto : Budi Juwono

November 1978 — Napak Tilas Banteng Blorok dan Jejak Perjuangan TRIPNovember 1978, dilaksanakan napak tilas rute Banteng...
19/08/2026

November 1978 — Napak Tilas Banteng Blorok dan Jejak Perjuangan TRIP

November 1978, dilaksanakan napak tilas rute Banteng Blorok dari Rejotangan hingga Desa Gabru, yang kemudian ditandai dengan peresmian Monumen TRIP dan Balai Desa Gabru.

Namun, secara sejarah, perjalanan ini tidak berarti bahwa seluruh rombongan Banteng Blorok menempuh satu jalur yang sama hingga Gabru. Ada beberapa jejak perjalanan TRIP yang berbeda, tetapi saling berkaitan.

Pertama, jalur Kompi 1 dan Kompi 2 TRIP.
Setelah bergerak dari kawasan Rejotangan dan menyeberangi Brantas, kedua kompi bergerak ke arah Srengat – Ponggok – Menjangan Kalung – Gabru. Dari Gabru mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju basis gerilya masing-masing. Gabru menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kedua kompi tersebut dan kemudian dikenal sebagai Markas Komando TRIP Jawa Timur.

Kedua, jalur Pasukan Pengawal Meriam Banteng Blorok.
Karena Banteng Blorok merupakan meriam yang berat dan memperlambat gerakan pasukan, pengawalannya kemudian dipercayakan kepada Kompi 4/Widarbo. Dibentuklah pasukan khusus pengawal meriam yang dipimpin Duriatmojo.

Pasukan inilah yang kemudian menempuh jalur berbeda, terutama di sebelah selatan Brantas, melalui wilayah Rejotangan – Kademangan – Sutojayan/Lodoyo dan kawasan sekitarnya. Dalam perjalanan tersebut mereka menghadapi pengejaran dan pertempuran dengan pasukan Belanda.

Karena itu, napak tilas November 1978 dapat dipahami sebagai upaya mengenang beberapa mata rantai perjuangan TRIP, bukan sebagai satu rute militer tunggal.

Rejotangan – Kademangan – Sutojayan/Lodoyo mengingatkan kita pada perjalanan dan perjuangan Pasukan Pengawal Banteng Blorok.

Sementara Rejotangan – Srengat – Ponggok – Menjangan Kalung – Gabru merupakan salah satu jejak perjalanan Kompi 1 dan Kompi 2 TRIP menuju basis perjuangan mereka.

Dan di Gabru, yang kini dikenal sebagai Desa Tegalasri, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, perjalanan napak tilas itu mencapai titik akhirnya. Di tempat inilah pada November 1978 diresmikan Monumen TRIP dan Balai Desa Gabru, sebagai penghormatan kepada para pelajar pejuang yang pernah menjadikan kawasan tersebut bagian penting dari perjuangan mempertahankan Republik.

Jadi, foto yang dibagikan bukan sekadar dokumentasi sebuah acara tahun 1978. Ia merekam usaha generasi setelah perang untuk menyusuri kembali jejak para pejuang TRIP—dari medan pertempuran, jalur pengungsian, hingga markas perjuangan.

Sumber :
Kredit foto : Ghowied Hidayat



NAPAK TILAS BANTENG BLOROK 1987. KAPAN LAGI BISA DI ULANG ?Tanda Penghargaan Koordinator Ex Brigade – 17 TRIP Jawa Timur...
18/08/2026

NAPAK TILAS BANTENG BLOROK 1987. KAPAN LAGI BISA DI ULANG ?

Tanda Penghargaan Koordinator Ex Brigade – 17 TRIP Jawa Timur

KOORDINATOR EX BRIGADE – 17 TRIP JAWA TIMUR
TANDA PENGHARGAAN
Nomor: 001/NT/TRIP/VI/1987

Dengan tulus dan ikhlas disertai motto :

“AMANKAN DAN LESTARIKAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
BERDASARKAN PANCASILA DAN UUD 1945
YANG TELAH BERHASIL DIREBUT DAN DITEGAKKAN OLEH PARA PAHLAWAN PEJUANG KEMERDEKAAN
DENGAN MENGORBANKAN HARTA BENDA, DARAH DAN NYAWA.”

Memberikan Tanda Penghargaan dan Terima Kasih yang sebesar-besarnya kepada para peserta per-orangan/be-regu yang telah ikut serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan :

“NAPAK TILAS ROUTE PERJALANAN PELAJAR PEJUANG/TRIP BERSAMA
MERIAM GEMPU[R] BANTENG BLOROK DALAM PERANG GERILYA”

yang diselenggarakan

mulai tanggal: 21 JUNI 1987 sampai dengan tanggal: 23 JUNI 1987

23 Juni 1987

Koordinator,
Drs. HARTAWAN
May. Jen. Pol. Pur.

Sumber :
id fb Budi Sarwoko

Meeuwis Knoop : Prajurit Prinses Irene Brigade yang Terluka di Jalan Blitar–KediriMeppel – Blitar, 1947–1992.Kisah Meeuw...
17/08/2026

Meeuwis Knoop : Prajurit Prinses Irene Brigade yang Terluka di Jalan Blitar–Kediri

Meppel – Blitar, 1947–1992.
Kisah Meeuwis Knoop merupakan salah satu jejak personal dari para prajurit Belanda yang pernah bertugas di Indonesia setelah Perang Dunia II. Penelusuran mengenai dirinya bermula dari sebuah foto berharga yang diperoleh melalui Opa Richard, beserta medali, piagam, dan potongan surat kabar yang pernah diterima dari salah seorang putra Meeuwis Knoop.

Meeuwis Knoop lahir di Meppel pada 18 Juni 1926 dan tercatat tinggal di Jufferenpad 10, Meppel. Ia adalah putra Lambert Knoop, yang lahir di Steenwijk pada 20 Juli 1895 dan bekerja sebagai pembuat cerutu, serta Antonia Reinhoud, lahir di Bruinisse pada 26 Desember 1898.

Dalam dinas militernya, Meeuwis bergabung dengan 2-4 Compagnie, Prinses Irene Brigade, dengan nomor registrasi militer 26.06.18.064. Perjalanannya menuju Hindia Belanda dimulai pada 4 Juni 1947, ketika ia berangkat dari Arnhem menggunakan kereta api menuju Amsterdam. Sekitar pukul 16.00, ia melanjutkan perjalanan dari Sumatrakade dengan kapal Tabinta menuju Hindia Belanda. Kapal tersebut tiba di Tandjong Priok pada 2 Juli 1947.

Terluka di Jalan Blitar–Kediri
Salah satu bagian paling penting dari riwayat militernya terjadi pada 14 Januari 1949, ketika Meeuwis Knoop terluka dalam sebuah operasi pembersihan di jalan raya Blitar–Kediri, sekitar Srengat, Jawa Timur.

Patroli yang diikutinya tiba-tiba mendapat serangan tembakan. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari pengalaman tempur Meeuwis selama bertugas di Jawa dan kelak menjadi alasan ia menerima penghargaan khusus bagi personel militer yang mengalami luka dalam tugas.

Setelah menyelesaikan masa tugasnya, Meeuwis kembali dari Indonesia pada 27 Maret 1950 dengan kapal Georgic.
Penghargaan Draaginsigne Gewonden

Puluhan tahun setelah peristiwa di Jawa tersebut, pengalaman perang Meeuwis kembali dikenang. Pada 22 Juli 1992, ia menerima Draaginsigne Gewonden (DIG), sebuah tanda penghargaan bagi personel militer yang mengalami luka akibat tugas kedinasan.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Burgemeester Tjaberings. Bagi Meeuwis, penghargaan itu menjadi pengakuan resmi atas luka yang dialaminya selama menjalankan tugas militer.
Kesaksian dari Rekan Satu Kesatuan

Pada 2018, penelusuran keluarga memperoleh tambahan informasi penting ketika Bapak Colenbrander menghubungi pihak keluarga. Ia pernah bertugas dalam kesatuan yang sama dengan Meeuwis Knoop.

Ia juga mengenang kehidupan para prajurit pada masa tersebut, termasuk pembagian uang kepada anggota kompi:
“Saya harus membagikan uang sebesar 330 gulden kepada semua anggota kompi saya sebagai SMA. Sepuluh gulden untuk setiap bulan. Semua mendapat jumlah yang sama, tanpa memandang pangkat.”

Kesaksian semacam ini memberikan gambaran lain mengenai kehidupan para prajurit di luar medan operasi—bukan hanya tentang pertempuran, tetapi juga tentang keseharian, hubungan antarprajurit, dan pengalaman mereka selama berada di Hindia Belanda.

Mencari Keluarga dan Foto Meeuwis Knoop
Kini, penelusuran terhadap Meeuwis Knoop masih berlanjut. Informasi mengenai perjalanan militernya sudah mulai tersusun: dari kelahirannya di Meppel, keberangkatannya bersama Prinses Irene Brigade pada 1947, kedatangannya di Hindia Belanda, pengalaman tempurnya di sekitar Srengat pada Januari 1949, hingga kep**angannya ke Belanda pada 1950 dan penerimaan Draaginsigne Gewonden pada 1992.

Namun masih ada bagian yang belum lengkap—terutama foto-foto Meeuwis Knoop, kisah pribadinya selama berada di Indonesia, serta informasi mengenai keluarganya dan keturunannya.

Karena itu, setiap foto, surat, dokumen militer, potongan koran, atau kenangan keluarga yang berkaitan dengan Meeuwis Knoop memiliki nilai sejarah yang sangat besar.
Barangkali masih ada keluarga Knoop di Meppel atau di tempat lain yang menyimpan foto dan dokumen tentang dirinya.

Barangkali ada p**a rekan seperjuangan atau keturunan mantan anggota Prinses Irene Brigade yang pernah mengenalnya.
Satu foto dapat menjadi awal dari sebuah pencarian panjang.
Dan dari satu nama—Meeuwis Knoop—kita berusaha mengembalikan sebuah kisah manusia yang pernah berada di jalan-jalan Jawa pada masa yang penuh konflik.

Sumber:
Richard Spraakman, Meppeler Courant, Delpher, Herman van Oosten, serta kesaksian H.w. Colenbrander.



Jalan Blitar–Wlingi, “Jalan Kematian” di Tengah Agresi Militer Belanda IIBlitar–Wlingi, Desember 1948–1949.Pada 19 Desem...
17/08/2026

Jalan Blitar–Wlingi, “Jalan Kematian” di Tengah Agresi Militer Belanda II

Blitar–Wlingi, Desember 1948–1949.
Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II. Di Jawa Timur, pasukan Belanda mulai bergerak memasuki wilayah Republik. Dalam gerakan menuju Blitar, kawasan Wlingi menjadi salah satu titik penting yang harus mereka kuasai.

Catatan sejarah 4e Bataljon Garderegiment Prinses Irene (4 GRPI) menyebut bahwa Kompi 1 (1e Compagnie) menjadi bagian dari stootgroep yang bergerak menuju Blitar. Dalam rangkaian gerakan tersebut, Wlingi kemudian dikuasai dan menjadi salah satu posisi penting di jalur antara Blitar dan Malang. Sumber lain mencatat Wlingi telah diduduki pada 21 Desember 1948.

Di sinilah kesaksian H.W. Colenbrander menjadi menarik. Colenbrander adalah anggota 2e Compagnie, 4e Bataljon Garderegiment Prinses Irene, satuan Belanda yang bertugas di Jawa Timur. Arsip dan publikasi veteran 4 GRPI juga menempatkan batalion ini dalam operasi di kawasan Blitar dan Wlingi.

Menurut kesaksian Colenbrander, jalan Blitar–Wlingi merupakan jalur yang sangat berbahaya. Pada malam hari, para peloppers—istilah yang digunakan pihak Belanda untuk menyebut pejuang Republik—sering melakukan sabotase terhadap jembatan dan berbagai fasilitas di sepanjang jalan.
Ledakan dan bahan peledak bahkan secara sinis disebut sebagai “kembang api”.

Akibatnya, setiap perjalanan konvoi Belanda harus dilakukan dengan kewaspadaan tinggi. Sebuah truk 3 ton kadang ditempatkan paling depan membawa material untuk membangun atau memperbaiki jembatan yang dirusak. Setelah seluruh konvoi berhasil melewati jembatan tersebut, jembatan darurat itu kembali dibongkar dan materialnya dibawa bersama rombongan.

Ketika perjalanan dilakukan kembali melalui jalur yang sama, pekerjaan tersebut harus dilakukan lagi.
Perang seperti ini berlangsung berulang-ulang.
Bagi pasukan Belanda, jalan Blitar–Wlingi bahkan kemudian dikenal sebagai “dodenweg” — jalan kematian. Catatan sejarah 4 GRPI menyebut banyak anggota mereka menjadi korban di jalan tersebut akibat ranjau, bom tarik (trekbommen), dan berbagai bentuk sabotase.

Kesaksian Colenbrander juga menyebut bahwa beberapa pemuda dari batalion mereka tewas dalam kejadian-kejadian semacam itu.

Dengan demikian, foto-foto yang disertai kesaksian H.W. Colenbrander dapat ditempatkan dalam konteks perang yang lebih luas: gerak maju pasukan Belanda ke Blitar dan Wlingi setelah 19 Desember 1948, perebutan serta pengamanan jalur Blitar–Wlingi, dan perang gerilya Republik yang terus mengganggu pergerakan pasukan Belanda.

Perkiraan waktu masuknya pasukan Belanda ke Wlingi: sekitar 20–21 Desember 1948, sedangkan pengamanan jalur Blitar–Wlingi berlangsung terus setelahnya.

Sebuah jalan raya pada masa itu berubah menjadi medan perang—jembatan dirusak, diperbaiki, lalu dirusak kembali. Di antara suara mesin konvoi dan ledakan bahan peledak, Blitar–Wlingi menjadi salah satu saksi kerasnya perang mempertahankan Republik.

Sumber:
H.W. Colenbrander; dokumentasi dan publikasi sejarah 4e Bataljon Garderegiment Prinses Irene; Nationaal Archief.



Jembatan Wlingi Dihancurkan, TRIP Tetap Berdiri.Wlingi, 1949. Ketika jembatan dirusak untuk menghambat laju pasukan Bela...
17/08/2026

Jembatan Wlingi Dihancurkan, TRIP Tetap Berdiri.

Wlingi, 1949. Ketika jembatan dirusak untuk menghambat laju pasukan Belanda, para pejuang TRIP tidak mundur. Di atas dan di sekitar jembatan yang telah porak-poranda, mereka tetap bertahan menghadapi kerasnya perang gerilya.

Rangka jembatan yang menjulang, kabel-kabel yang berserakan, serta para pejuang yang berdiri di antara puing menjadi saksi keberanian mereka. Dengan perlengkapan sederhana, Mas TRIP turut mengambil bagian dalam mempertahankan Republik.
Jembatan boleh diputus, jalan perjuangan tidak pernah terhenti.

Sumber:
Buku Perjuangan Bersenjata Pelajar TRIP Jawa Timur — Priyono Bitles Combat.



Bengkel Senjata TRIP di Sirahkencong, Wlingi — 1948-1949Di tengah situasi perjuangan yang serba terbatas, para anggota T...
17/08/2026

Bengkel Senjata TRIP di Sirahkencong, Wlingi — 1948-1949

Di tengah situasi perjuangan yang serba terbatas, para anggota TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) tidak hanya bertempur di garis depan. Mereka juga harus mampu merawat, memperbaiki, dan menyiapkan persenjataan sendiri.

Foto ini merekam aktivitas di bengkel senjata TRIP di bekas perkebunan Sirahkencong, Wlingi, tahun 1947. Terlihat beberapa pemuda sedang bekerja mengoperasikan mesin bubut. Seorang pemuda tampak teliti mengatur benda kerja pada mesin, sementara rekannya mengawasi dan membantu proses pengerjaan.

Suasana bengkel terlihat sederhana dan penuh kesibukan. Mesin-mesin tua, peralatan kerja, serta lingkungan perkebunan menjadi bagian dari kehidupan mereka. Di tempat seperti inilah kemampuan teknis para pejuang pelajar dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan persenjataan Republik.

Bagi TRIP, perjuangan bukan hanya soal keberanian memegang senjata. Keterampilan, ketekunan, dan kemampuan memperbaiki perlengkapan perang juga menjadi bagian penting dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Sumber :
Priyono Bitles Combat

📷 Dok. Almanak TRIP II
📍 Sirahkencong, Wlingi
📅 1948-1949

Address

Jalan Simping
Hong Kong

Telephone

+85293529648

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Blitar Tempo Doeloe posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Blitar Tempo Doeloe:

Shortcuts

Share