Blitar Tempo Doeloe

Blitar Tempo Doeloe Blitar Tempo Doeloe (BLiTEDO) — Media sejarah Blitar. Menyajikan cerita tempo dulu, foto lawas, dan wisata heritage Blitar.

Bergabunglah & ikut melestarikan sejarah. Blitar Tempo Doeloe ingin mewujudkan terciptanya komunitas yang peduli :

1. Pengembangan generasi muda yang tertarik akan Sejarah dan Budaya Blitar.

2. Pelestarian aset – aset Sejarah dan Budaya Blitar

3. Mengarsipkan dan mendokumentasikan Sejarah dan Budaya Blitar. Harapan kedepan akan muncul ide-ide kreatif berupa :

1. Kegiatan ekstra bagi anak sekolah melalui pendidikan sejarah non formal yang bersifat menyenangkan dan menarik.

2. Penerbitan tulisan dan media kepada masyarakat umum

Keterangan
Blitar Tempo Doeloe (BLiTEDO) adalah media pendorong agar masyarakat memiliki antusiasme terhadap sejarah dan budaya lokal Blitar. Diluncurkan pada tanggal 15 Mei 2017 oleh Prabowo Srg melalui situs sosial Facebook. Komunitas BLiTEDO adalah sebagai tempat saling berbagi dan belajar tentang sejarah dan budaya. Penghubung bagi masyarakat awam agar tertarik akan dunia sejarah dan budaya. Sehingga wujud akhirnya adalah kecintaan dan kepedulian akan kota Blitar terutama aspek sejarah dan budaya.

FKB PERTAMA KABUPATEN BLITAR : 13 ANGGOTA HASIL PEMILU 1999Sebuah catatan menarik dari masa awal Reformasi di Kabupaten ...
24/09/2026

FKB PERTAMA KABUPATEN BLITAR : 13 ANGGOTA HASIL PEMILU 1999

Sebuah catatan menarik dari masa awal Reformasi di Kabupaten Blitar.

Foto dan keterangan yang dibagikan Rochmat Khudlori mencatat susunan Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) pertama DPRD Kabupaten Blitar, yang terbentuk setelah Pemilu 1999. FKB ini berjumlah 13 orang :

KH. Nurhidayatulloh
KH. Masdain Rifa'i
Drs. H. Arif Fuadi, MM.
H. Fathurrohman
H. A. Mujib
Nyai Hj. Masluchi Saifulloh
Hj. Binti Churiyah
H. Marwaji
H. Imam Supardi
H. Mahsun Ismail
H. Masykur, S.Pd.
H. Ahmad Dardiri, SH.
H. Rochmat Khudlori, MH.

Pemilu 7 Juni 1999 merupakan pemilu pertama pada era Reformasi. Setelah sebelumnya selama beberapa pemilu hanya terdapat tiga peserta, Pemilu 1999 diikuti 48 partai politik. KPU mencatat PDI Perjuangan, Golkar, dan PPP sebagai tiga peraih suara/kursi terbesar secara nasional.

Dalam konteks tersebut, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) merupakan salah satu kekuatan politik baru yang lahir pada masa Reformasi. Data KPU mencatat akta pendirian PKB bertanggal 29 Januari 1999 dan kemudian tercatat dalam Berita Negara No. 17 tanggal 26 Februari 1999.

Karena itu, dokumentasi 13 nama anggota FKB Kabupaten Blitar ini menarik bukan sekadar sebagai foto lama, tetapi sebagai bagian dari sejarah politik lokal Kabupaten Blitar setelah Reformasi 1998.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, nama-nama tersebut menjadi bagian dari memori sejarah DPRD Kabupaten Blitar, PKB, dan perjalanan politik lokal Blitar.

Menarik p**a melihat bahwa representasi perempuan sudah terlihat dalam susunan FKB periode awal ini, antara lain Nyai Hj. Masluchi Saifulloh dan Hj. Binti Churiyah.

Dokumentasi seperti ini penting disimpan karena daftar anggota DPRD dari masa awal Reformasi tidak selalu mudah ditemukan dalam sumber daring. Website resmi DPRD Kabupaten Blitar saat ini memang menyediakan data fraksi dan anggota DPRD, tetapi terutama untuk susunan masa kini.

Ada yang masih mengenali para tokoh dalam foto ini?
Atau mungkin ada yang memiliki foto pelantikan, foto rapat DPRD, dokumen FKB, atau arsip DPRD Kabupaten Blitar periode 1999–2004 ?

Sumber :
Kredit foto : Rochmat Khudlori; data Pemilu KPU; situs resmi DPRD Kabupaten Blitar.



PONGKI BARATA vokalis JIKUSTIK saat masih TK.TK SANTA MARIA JL S SUPRIADI  KOTA BLITAR  ca. 1982/1983( rumah dulu di poj...
24/09/2026

PONGKI BARATA vokalis JIKUSTIK saat masih TK.
TK SANTA MARIA JL S SUPRIADI KOTA BLITAR ca. 1982/1983

( rumah dulu di pojokan Lap Tenis Bon Rojo , timur bakso Mas Irul).

Ada yang masih mengenal nya ?

Atau hafal lagu lagu nya ?

Semoga mas Pongki masih mengenang ramah nya kota Blitar

Sumber :
Kredit foto : DR Bezit in love



KELAS 3 B-5 SMA NEGERI 1 BLITAR (1982)Sumber :Kredit Foto : Aryo Ajiyasa , Debby Anggraini Wijaya
23/09/2026

KELAS 3 B-5 SMA NEGERI 1 BLITAR (1982)

Sumber :
Kredit Foto : Aryo Ajiyasa , Debby Anggraini Wijaya



HAL PEMBALAKAN HUTAN.... ABAD 18 akhirKoran De Locomotief edisi 26 Agustus 1885 Surat PembacaEksploitasi HutanKepada Red...
23/09/2026

HAL PEMBALAKAN HUTAN.... ABAD 18 akhir

Koran De Locomotief edisi 26 Agustus 1885

Surat Pembaca

Eksploitasi Hutan

Kepada Redaksi !

Dalam koran De Locomotief tanggal 5 Agustus yang lalu, saya membaca apa yang disampaikan oleh pengusaha kehutanan A. E. J. Bruinsma mengenai eksploitasi hutan oleh pemerintah; sebelumnya sudah sering ada artikel dengan topik yang sama di surat kabar Anda, namun sebagian besar menentang sistem tersebut.

Oleh karena itu, mungkin tidak ada salahnya untuk sekali-kali menyampaikan sesuatu yang mendukung eksploitasi hutan oleh pemerintah, yang tentunya akan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai masalah ini.

Bahwa para pengusaha kehutanan, dari sudut pandang mereka sendiri, telah membawa masalah ini ke perhatian publik, kami mengucapkan terima kasih untuk itu. Izinkan juga seorang yang bertanda tangan di bawah ini untuk menyampaikan pandangannya sekali saja.

Ketika semua cara telah habis digunakan oleh Pemerintah dan jawatan kehutanan untuk membawa perubahan dalam kondisi perdagangan kayu, yang kontrak-kontrak kayunya yang ada saat ini dengan menjatuhkan pemerintah, maka masalah ini sangat layak untuk dibahas secara terbuka di masyarakat, meskipun Tuan Bruinsma meragukannya. Dalam suratnya dinyatakan bahwa ada tiga poin mengapa pengelolaan [hutan] dialihkan dari pihak partikelir (swasta) ke pengelolaan pemerintah.

Pertama: keuntungan finansial yang relatif sangat kecil yang diperoleh negara dari kontrak-kontrak [swasta] tersebut;
Kedua: ketidakmungkinan untuk menebang kayu dalam jumlah yang dibutuhkan oleh luasnya hutan Boesboes melalui perantara kontrak partikelir;

Ketiga: pencurian kayu dalam skala besar, yang sebagian disebabkan oleh kontrak-kontrak tersebut, telah memberikan alasan kuat untuk ini.

Saya tidak dapat menyetujui hal tersebut, setidaknya berdasarkan apa yang saya lihat dari pengelolaan hutan oleh pemerintah. Dari apa yang saya ketahui tentang konsesi hutan di mana pihak swasta mendapatkan haknya, banyak kayu yang terbuang dan tertinggal akibat penjualan massal kayu tersebut oleh mereka.

Secara umum, seseorang dapat berasumsi bahwa per bangunan dibutuhkan 35 hingga 40 meter kubik kayu pertukangan yang dikelola oleh pihak partikelir. Biaya sewa lahan berkisar rata-rata ƒ 10 per meter kubik, atau sekitar ƒ 350 sampai ƒ 400 per bangunan.

Pada tahun 1884, dalam angka bulat di Rembang, sebanyak 3.500 meter kubik kayu telah ditebang, di mana diperoleh keuntungan sebesar ƒ 63.000. Sekarang, anggaplah pemerintah sendiri yang mengambil alih hutan tersebut untuk jumlah kayu yang sama, dan kayu yang diperoleh pihak partikelir dari sana adalah 3.500 meter kubik yang berasal dari 150 bangunan, yang mana pemerintah telah menerima biaya sewa lahan dari...,,==========,,,,,,

Pemerintah memutuskan apakah semuanya akan dieksploitasi di bawah pengelolaan sendiri atau melalui alih daya (kontrak), namun jangan sampai hal ini menghancurkan pria-pria pekerja keras yang selama bertahun-tahun telah berkontribusi signifikan terhadap pengisian kas negara melalui uang sewa yang besar; keadilan harus diutamakan di atas kekuasaan.

Terlebih lagi, saya dapat mengemukakan keberatan terhadap tindakan-tindakan yang mengancam kehancuran saya, sementara saya tetap terpaksa, oleh kontrak saya dengan Pemerintah Hindia Belanda, untuk melanjutkan eksploitasi hutan, sampai tutup kotak uang yang kosong terjatuh (bangkrut).
Bersama ini saya lampirkan salinan surat permohonan saya tertanggal 10 Mei yang lalu, yang ditujukan kepada Yang Mulia Gubernur Jenderal, dengan permohonan yang hormat agar surat tersebut juga dimuat dalam surat kabar Anda.

J. J. Geul
Administrator
Penebangan Kayu Lodoyo, Blitar.
(Houtankap Lodoyo Blitar ) / Houtankap Sekaran Onderneming - Lodoijo - Blitar.

Sumber :
Delpher, map edu nl



Pewira Divisi Narotama di Stasiun Blitar 1948.​BLITAR, JAWA TIMUR – Sebuah dokumen visual penting dari masa Revolusi Nas...
22/09/2026

Pewira Divisi Narotama di Stasiun Blitar 1948.

​BLITAR, JAWA TIMUR – Sebuah dokumen visual penting dari masa Revolusi Nasional Indonesia telah dihidupkan kembali. Menampilkan momen krusial di Stasiun Kereta Api Blitar pada bulan April 1948.

​Terlihat enam perwira Republik Indonesia berpose di peron stasiun dengan latar belakang gerbong kereta.

REKA IDENTIFIKASI TOKOH :
​Mayor Syafii Odin : Berdiri paling kiri dalam balutan seragam PDH putih bersih dan peci hitam, Mayor Syafii Odin mengambil sikap hormat sempurna. Pangkat dan sikapnya menunjukkan kedisiplinan tinggi, kemungkinan sebagai salah satu komandan atau perwira staf senior di wilayah Karesidenan Kediri saat itu.

Letnan Supono : Berdiri di belakang Mayor Syafii, Letnan Supono tampak bersiap dengan perlengkapan lapangan lengkap, termasuk ransel militer yang dikenakannya di atas seragam hijau zaitun dan peci nasional.

​Kapten Subagyo : Menjadi figur sentral dalam foto, Kapten Subagyo berdiri tegap memegang tas kerja kulit. Seragamnya terlihat rapi, menunjukkan perpaduan antara tugas administratif dan kesiapan tempur.

​Letnan Suporo : Berdiri di belakang Kapten Subagyo, Letnan Suporo tampak waspada dalam seragam lapangan hijau zaitun.

​Kapten Sudarto : Berdiri di sebelah kanan Kapten Subagyo, Kapten Sudarto tampil paling siap tempur dengan webbing (perlengkapan dada), topi garrison cap ala Australia, dan sepatu boot yang kokoh.

​Letnan Sutedjo : Paling kanan, Letnan Sutedjo bersandar santai namun tetap waspada pada gerbong kereta api tua yang berwarna gelap.

​Konteks Sejarah : April 1948 di Blitar

​Pengambilan gambar pada bulan April 1948 bukanlah momen biasa. Ini adalah masa genting pasca-Penandatanganan Perjanjian Renville pada Januari 1948. Perjanjian ini memaksa TNI untuk mundur dari kantong-kantong gerilya di wilayah pendudukan Belanda, menyebabkan konsentrasi pasukan besar-besaran di wilayah Republik yang tersisa, termasuk Blitar dan Karesidenan Kediri.

​Blitar, sebagai bagian dari wilayah komando Divisi VIII/Narotama (yang kemudian dilebur ke dalam Divisi Brawijaya pada akhir 1948), menjadi pusat logistik dan komando strategis. Para perwira ini adalah bagian dari struktur komando yang dipimpin oleh Kolonel Soengkono, yang bertugas mengonsolidasikan pasukan, menjaga moral prajurit di tengah tekanan politik, dan bersiap menghadapi ancaman "Dua Belanda" (Agresi Militer II) yang akan terjadi beberapa bulan kemudian, serta potensi konflik internal seperti Peristiwa Madiun.

​Keragaman pakaian yang dikenakan—dari seragam putih resmi hingga seragam lapangan—mencerminkan realitas logistik TNI saat itu, sementara penggunaan peci menegaskan identitas nasional mereka. Restorasi tajam ini tidak sekadar "mewarnai" sejarah, tetapi memberikan wajah dan nama kepada para pahlawan yang berjuang mempertahankan kemerdekaan di Jawa Timur.

Sumber :
Kredit foto : Ronny Widayanto ( repro)



Warisan Sejarah dan Kenangan di Istana Gebang, Blitar: Simbol Penghormatan untuk B**g Karno​Istana Gebang di Blitar tida...
20/09/2026

Warisan Sejarah dan Kenangan di Istana Gebang, Blitar: Simbol Penghormatan untuk B**g Karno

​Istana Gebang di Blitar tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan hidup B**g Karno, tetapi juga menyimpan berbagai cinderamata serta kenang-kenangan bernilai sejarah tinggi dari berbagai pihak. Keempat benda koleksi yang terpajang di tempat ini merepresentasikan bentuk penghormatan dan dedikasi mendalam dari masyarakat maupun tokoh nasional terhadap sang Proklamator.

​Tokoh dan Yayasan :
​Haji Masagung: Seorang pengusaha buku nasional dan pendiri Toko Buku Gunung Agung yang memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian sejarah perjuangan bangsa.

​Yayasan Idayu : Lembaga dokumentasi dan perpustakaan yang didirikan pada tahun 1966 untuk mengumpulkan serta merawat arsip, buku, dan literatur penting, termasuk yang berkaitan dengan B**g Karno.

​Yayasan Masagung : Yayasan sosial dan keagamaan yang didirikan oleh Haji Masagung pada tahun 1984 untuk kegiatan amal serta pendidikan umat.

​Deskripsi Empat Koleksi Benda.

​Jam Dinding Yayasan Idayu: Jam dinding gantung antik berlatar belakang biru yang memuat logo serta tulisan "Yayasan Idayu", sebagai simbol dedikasi lembaga dokumentasi dalam menjaga arsip sejarah.

​Jam Dinding Kaligrafi Yayasan Masagung: Jam dinding bernuansa Islami yang dilengkapi ornamen kaligrafi bertuliskan Allah dan Muhammad, serta lambang bola dunia dan bintang bertuliskan "Yayasan Masagung".

​Vas Keramik Gerakan Pemuda Marhaenis (1979): Vas keramik berwarna cokelat kemerahan yang memuat tulisan kenang-kenangan dari Gerakan Pemuda Marhaenis Cabang Banyumas 1979.

​Vas Keramik Lambang Banteng dalam Bintang: Vas keramik dekoratif berwarna cokelat yang menampilkan lambang kepala banteng di dalam simbol bintang putih besar, sebagai representasi dari perjuangan kaum Marhaenis.

​Menjaga Warisan Bangsa.

​Mengingat tingginya nilai sejarah yang terkandung di dalamnya, mari kita bersama-sama menjaga keutuhan dan kelestarian benda-benda peninggalan ini. Hindari menyentuh atau merusak artefak agar generasi mendatang tetap dapat menyaksikan jejak penghormatan kepada B**g Karno di Istana Gebang Blitar.
​
Sumber :
Foto BliTEDO

​ **gKarno

KAYU BLITAR DI MUSEUM KOLONIAL HAARLEM : NJAMPOEH, BAROS, DAN JATI JAWAJauh sebelum kayu jati Blitar dikenal sebagai bag...
19/09/2026

KAYU BLITAR DI MUSEUM KOLONIAL HAARLEM : NJAMPOEH, BAROS, DAN JATI JAWA

Jauh sebelum kayu jati Blitar dikenal sebagai bagian penting dari industri kehutanan Jawa Timur, beberapa contoh kayu dari Blitar, Jawa, Hindia Belanda ternyata telah dibawa ke Belanda dan menjadi bagian dari koleksi pendidikan kolonial.

Pada label salah satu spesimen tercatat:
“Malangsche Houthandel – Njampoeh – Blitar – a ƒ60.- per m³.”
Nama Njampoeh bukan sekadar tulisan pada label. Literatur botani Jawa lama memang mencatat Njampoeh sebagai salah satu nama lokal untuk jenis pohon tertentu, meskipun identifikasi spesies pada spesimen ini masih perlu dicocokkan dengan katalog asli koleksi. Literatur botani juga mencatat pemanfaatan kayunya untuk kebutuhan bangunan.

Spesimen lainnya diberi label:
“Malangsche Houthandel – Baros – R.W. Burgemeestre – Blitar – a ƒ90.- per m³.”
Angka harga ini menarik karena menunjukkan bahwa kayu dari Blitar tidak hanya dipandang sebagai bahan lokal, tetapi telah ditempatkan dalam sistem perdagangan kayu berdasarkan jenis dan nilai ekonominya. Harga ƒ90 per m³ yang tercantum pada label Baros bahkan lebih tinggi daripada Njampoeh yang dicatat ƒ60 per m³.

Yang paling mudah dikenali adalah spesimen:
“SCHOOLVERZAMELING – Djati-hout – Java teak – KOLONIAAL MUSEUM, HAARLEM.”
Jati Jawa atau Tectona grandis merupakan salah satu hasil hutan paling bernilai dari Jawa. Bahkan pada akhir abad ke-19, pemerintah dan kalangan industri di Belanda secara khusus mendorong penggunaan jati dan jenis kayu kolonial lainnya untuk konstruksi. Arsip Nationaal Archief mencatat rekomendasi penggunaan djati dan kayu kolonial lainnya untuk bangunan pemerintah pada 1892.

Lebih menarik lagi, koleksi seperti ini memang memiliki fungsi pendidikan. Koloniaal Museum Haarlem tidak hanya memamerkan benda dari Hindia Belanda, tetapi sejak perkembangannya juga diarahkan untuk memberikan pengetahuan mengenai tanaman, bahan mentah, hasil bumi, perdagangan dan industri kolonial.

Mulai 1892, Schoolverzamelingen atau koleksi sekolah mulai disebarkan untuk keperluan pendidikan. Murid-murid dapat melihat, menyentuh bahkan mengenali berbagai bahan mentah dan hasil produksi dari koloni. Setelah Koloniaal Museum Haarlem menjadi bagian dari lembaga kolonial di Amsterdam, sistem ini terus berkembang; hingga 1925 tercatat lebih dari 3.000 schoolverzamelingen telah disediakan.

Dengan demikian, balok-balok kayu berlabel Blitar ini mempunyai nilai sejarah yang jauh lebih besar daripada sekadar benda koleksi.

Ia menjadi bukti bahwa pada masa Hindia Belanda, Blitar sudah masuk dalam jaringan pengetahuan, perdagangan dan komoditas kehutanan yang terhubung dengan pasar regional Malang dan bahkan lembaga pendidikan-museum di Belanda.
Kayu yang tumbuh di hutan Blitar dipotong, diperdagangkan, diberi nilai dalam satuan gulden per meter kubik, kemudian sebagian kecilnya menempuh perjalanan sangat jauh hingga Haarlem.

Dari hutan Blitar menuju Malangsche Houthandel, lalu menjadi spesimen di Koloniaal Museum Haarlem.
Sebuah balok kayu ternyata dapat menceritakan sejarah tentang hutan, perdagangan, ilmu botani, pendidikan kolonial dan posisi Blitar dalam ekonomi Hindia Belanda.

Sumber :
Nationaal Archief Nederland, Inventaris van het archief van het Ministerie van Binnenlandse Zaken: Afdeling Kunsten en Wetenschappen, 1875–1918, bagian Koloniaal Museum Haarlem dan dokumentasi djati-hout.
Nationaal Archief Nederland, Inventaris van het archief van het Koninklijk Instituut voor de Tropen, bagian Schoolverzamelingen en andere leermiddelen.
Bijdrage no. 1–13 tot de kennis der boomsoorten op Java, literatur botani mengenai nama lokal Njampoeh dan pemanfaatan kayunya.
Mijn Gelderland/Museum Nijkerk, sejarah penyebaran Schoolverzamelingen Koloniaal Museum sejak 1892.



Memori Industri Kayu Jati Sekaran, Lodoyo: Dari Jalur Kayu ke Hutan NegaraSekitar 1880, Sekaran di wilayah Lodoyo, Blita...
19/09/2026

Memori Industri Kayu Jati Sekaran, Lodoyo: Dari Jalur Kayu ke Hutan Negara

Sekitar 1880, Sekaran di wilayah Lodoyo, Blitar, sudah menjadi salah satu kawasan penting dalam kegiatan pengusahaan kayu jati. Letaknya di sekitar Kali Brantas membuat hasil tebangan dari kawasan hutan dapat dikumpulkan dan kemudian diangkut melalui jalur darat maupun sungai.

Terlihat bagaimana kawasan ini dahulu bekerja. Terlihat tumpukan kayu, jalur lori, jembatan, serta jalur luncur kayu yang dibangun di lereng perbukitan. Infrastruktur tersebut digunakan untuk membawa batang-batang kayu dari kawasan hutan menuju tempat pengump**an di dekat Kali Brantas.

Tempat pengump**an kayu di Sekaran

Salah satu yang didokumentasikan H. Salzwedel sekitar 1880 memperlihatkan tempat pengump**an kayu di Sekaran. Dalam keterangan koleksi KITLV, lokasi ini berada di sisi utara Kali Brantas, dekat rumah administrator perusahaan kayu.
Di kawasan tersebut tampak tumpukan kayu, rakit, gerobak atau lori pengangkut, jalur rel, serta bangunan yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan kayu.

Dengan kata lain, tempat ini bukan sekadar tempat menyimpan kayu. Ia merupakan bagian dari sistem kerja yang menghubungkan hutan → jalur pengangkutan → tempat penumpukan → Kali Brantas.
Kayu diturunkan melalui jalur luncur

Foto lainnya memperlihatkan jalur lori dan dua jalur luncur kayu yang dibuat di lereng bukit.

Menurut keterangan foto, kedua jalur luncur tersebut masing-masing memiliki panjang sekitar 400 meter. Dari bagian atas menuju titik pengump**an terdapat perbedaan ketinggian sekitar 83 meter.

Batang kayu yang sudah disiapkan dari atas kemudian diluncurkan melalui jalur tersebut. Keterangan sezaman menyebut kayu dapat menempuh jarak sekitar 400 meter hanya dalam 25 detik.

Bayangkan pekerjaan di kawasan ini pada masa itu: batang-batang jati dari hutan harus ditebang, dipindahkan, kemudian diarahkan menuju jalur lori atau jalur luncur sebelum akhirnya dikumpulkan di dekat Kali Brantas.

J.J. Geul dan kawasan Sekaran
Nama J.J. Geul juga muncul dalam sejarah kawasan Sekaran dan Lodoyo. Dari Hutan Jati (1873) Langkah awal Geul di Blitar dimulai dari sektor yang sangat "kolonial": eksploitasi sumber daya alam. Pada tahun 1873, ia menjadi Administrateur di Houtaankap Lodoijo Onderneming, sebuah perusahaan penebangan kayu jati. Di masa itu, kayu jati adalah komoditas super penting-dipakai untuk kapal, rel kereta, hingga bangunan pemerintah. Juga tercatat dalam kegiatan perkump**an pertanian dan perkebunan di Blitar serta berkaitan dengan pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut, termasuk jembatan gantung di Sekaran.

Keterlibatan tokoh seperti Geul menunjukkan bahwa kegiatan kehutanan di wilayah ini tidak berdiri sendiri. Di sekitarnya berkembang jaringan perkebunan, transportasi, tenaga kerja, bangunan perusahaan, serta berbagai sarana pendukung kegiatan ekonomi kolonial.

Sekaran hari ini
Lanskap Sekaran tentu telah berubah.
Kawasan yang dahulu menjadi bagian dari sistem pengusahaan kayu pada masa Hindia Belanda kini berada dalam pengelolaan Perum Perhutani KPH Blitar, termasuk RPH Sekaran, BKPH Lodoyo Barat.

Wilayah RPH Sekaran yang mencakup kawasan Gunung Betet tercatat sekitar 607,50 hektare, dengan kawasan hutan yang didominasi tanaman jati dan mahoni.

Dari jalur kayu, tempat penumpukan, lori dan Kali Brantas pada akhir abad ke-19, kawasan ini kemudian berkembang menjadi bagian dari sistem pengelolaan hutan negara.

Foto-foto lama tersebut menjadi pengingat bahwa kawasan Sekaran pernah memiliki infrastruktur industri kayu yang cukup kompleks—jauh sebelum jalan raya dan kendaraan bermotor menjadi sarana utama pengangkutan hasil hutan.

Sekaran hari ini mungkin tampak sebagai kawasan hutan biasa. Namun sekitar 140 tahun lalu, lereng-lerengnya merupakan bagian dari sebuah sistem besar pengangkutan kayu jati yang terhubung langsung dengan Kali Brantas.

Sumber :
KITLV Digital Collections, Leiden University Libraries, KITLV 113954, dokumentasi H. Salzwedel, ca. 1880.
Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië, data perkump**an pertanian/perkebunan dan administrasi wilayah Blitar–Kediri.
Catalogus der tentoonstelling van landbouw, veeteelt en nijverheid, keterangan terkait jembatan gantung Sekaran dan J.J. Geul.



INDUSTRI KAYU JATI BLITAR 1860–1880 : DITEBANG, DIPOTONG, DIANGKUTPada 1860–1880, Blitar sudah memiliki industri kayu ja...
18/09/2026

INDUSTRI KAYU JATI BLITAR 1860–1880 : DITEBANG, DIPOTONG, DIANGKUT

Pada 1860–1880, Blitar sudah memiliki industri kayu jati berskala besar. Dokumen pemerintah mencatat onderneming milik W. B. Loudon dengan luas sekitar 20 p***n dan kemampuan tebangan 4.500 kubieke Nederlandsche ellen per tahun. Kontraknya berlangsung 1 Juli 1858–30 Juni 1873, dengan retribusi f 34.000 per tahun.

Kayu yang ditebang bukan sekadar dikumpulkan di hutan. Foto koleksi Tropenmuseum memperlihatkan houten spoorweg, yaitu jalur rel kayu untuk membawa kayu jati dari kawasan onderneming menuju tempat penumpukan. Bahkan terdapat permukiman para houtvlotters, pekerja yang menangani pengangkutan kayu.

Secara teknis, batang jati setelah ditebang harus dipotong menjadi bagian-bagian yang dapat ditangani dan diangkut, kemudian dibawa melalui jalur darat menggunakan sistem angkutan hutan—termasuk jalur rel kayu yang terlihat dalam dokumentasi Blitar. Sebagian kayu juga dapat diarahkan menuju sungai untuk dihanyutkan atau dirakit menjadi rakit kayu (houtvlot). Bukti mengenai aktivitas houtvlotters di kawasan Blitar menunjukkan bahwa transportasi melalui sungai juga menjadi bagian dari rantai distribusi kayu.

Yang menarik, setelah kontrak Loudon berakhir, muncul Tan Kok Siam, yang dalam laporan pemerintah disebut sebelumnya bernama Sie Bang Soeij. Mulai 13 Januari 1874, ia memperoleh kontrak penjarangan hutan jati (uitdunning) di Blitar.

Jadi, industri kayu Blitar abad ke-19 sudah memiliki sebuah rantai produksi yang cukup lengkap: hutan jati → penebangan → pemotongan → pengump**an → angkutan darat/rel kayu → pengangkutan sungai → distribusi kayu.

Sumber pustaka:
Koloniaal Verslag 1866
Tropenmuseum/Wereldmuseum



Pendopo dan Macan di halaman Kawedanan Lodoyo 1979.Lodoyo dahulu bukan sekadar nama kawasan. Ia merupakan pusat pemerint...
15/09/2026

Pendopo dan Macan di halaman Kawedanan Lodoyo 1979.

Lodoyo dahulu bukan sekadar nama kawasan. Ia merupakan pusat pemerintahan Kawedanan Lodoyo, wilayah administratif di bawah Kabupaten Blitar yang mengoordinasikan pemerintahan di kawasan selatan Brantas. Dalam perkembangannya, wilayah kawedanan ini mencakup kawasan seperti Sutojayan, Kademangan, Bakung, Panggungrejo, Wates dan Binangun.

Foto sekitar 1979 di atas memperlihatkan halaman Pendopo eks Kawedanan Lodoyo. Bangunan pendopo bukan hanya tempat administratif, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kegiatan masyarakat dan kebudayaan Lodoyo. Dalam tradisi Siraman Gong Kyai Pradah, pendopo kawedanan digunakan untuk menerima undangan, selamatan dan berbagai kegiatan pendukung upacara.

Menariknya, nama Lodoyo tetap bertahan sebagai identitas budaya, meskipun sistem kawedanan kemudian dihapus. Pemerintah Kabupaten Blitar bahkan masih mencatat aset eks Kawedanan Lodoyo–Sutojayan dalam dokumen resmi daerah.

Jadi, foto ini bukan sekadar kenangan sebuah bangunan—tetapi gambaran dari salah satu pusat pemerintahan dan kebudayaan Blitar Selatan pada masanya.

Sumber :
Kredit foto : Imampurwantoawin



Address

Jalan Simping
Hong Kong

Telephone

+85293529648

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Blitar Tempo Doeloe posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Blitar Tempo Doeloe:

Shortcuts

Share