20/06/2026
Lambang Sarekat Islam : Simbol Perjuangan, Persatuan, dan Kebangkitan Bangsa
Lambang Sarekat Islam (SI) bukan sekadar identitas organisasi. Setiap unsur di dalamnya mengandung filosofi yang mencerminkan cita-cita besar SI sebagai gerakan kebangkitan umat, perjuangan ekonomi rakyat, dan perlawanan terhadap penjajahan.
Di bagian atas terdapat matahari dengan sinar yang memancar dan bulan sabit, disertai kaligrafi "Innamal Mu'minuna Ikhwatun" (Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara) serta "Billahi Sabilil Haq" (Dengan pertolongan Allah di jalan kebenaran).
Pesan ini menegaskan bahwa perjuangan Sarekat Islam dilandasi persaudaraan, keimanan, dan perjuangan menegakkan kebenaran.
Bagian tengah berbentuk perisai hati melambangkan persatuan dan kecintaan kepada umat serta tanah air. Di dalamnya tampak seekor banteng, bukan burung sebagaimana sering disalahartikan.
Makna Banteng dalam Lambang Sarekat Islam
Banteng resmi digunakan sebagai lambang politik Sarekat Islam sejak 23 Oktober 1917.
Menurut sejarawan Anhar Gonggong Suryanegara (Api Sejarah, 1995: 205–206), banteng melambangkan semangat perjuangan, keberanian, kekuatan, dan tekad keras bangsa Indonesia dalam menuntut kemerdekaan.
Banteng dipilih karena dikenal sebagai hewan yang kuat, pantang mundur, dan berani menghadapi lawan. Simbol ini kemudian menjadi salah satu ikon politik paling awal dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.
Di belakang banteng tampak matahari terbit, yang melambangkan lahirnya zaman baru dan harapan akan kebangkitan bangsa dari belenggu kolonialisme.
Di sekeliling perisai terdapat berbagai simbol :
Roda bergigi melambangkan perdagangan, industri, dan kerja keras.
Timbangan melambangkan keadilan dan hukum.
Pedang, tombak, serta senjata tradisional melambangkan keberanian membela kebenaran dan tanah air.
Padi melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Pita bertuliskan Arab berisi semboyan perjuangan yang menegaskan bahwa seluruh gerakan SI berlandaskan ajaran Islam.
Di bagian bawah terdapat potret H.O.S. Tjokroaminoto, tokoh besar Sarekat Islam yang dikenal sebagai "Raja Jawa Tanpa Mahkota".
Kepemimpinannya menjadikan Sarekat Islam berkembang sebagai organisasi massa terbesar di Hindia Belanda dan melahirkan banyak tokoh pergerakan nasional.
Lambang ini memperlihatkan bahwa Sarekat Islam sejak awal bukan hanya gerakan keagamaan, tetapi juga gerakan sosial, ekonomi, pendidikan, dan politik yang memperjuangkan persatuan umat serta kemerdekaan Indonesia.
Setiap elemen pada lambang tersebut merupakan representasi dari cita-cita besar membangun bangsa yang merdeka, adil, makmur, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.